Gejolak Politik di Kanada
Ottawa -
Perdana Menteri Paul Martin diharapkan akan bertanya
kepada kepala negara de facto Kanada, Gubernur Jendral
Michaelle Jean, untuk membubarkan parlemen dan mengatur
tanggal pemilihan Selasa (29/11) kemarin. Hal ini
dilakukan sehari setelah pihak oposisi memecat
pemerintahan kecilnya.
Partai Liberal pimpinan Martin kalah dalam sebuah
pemilihan dengan 171 suara berbanding 133 suara pada
Majelis Perwakilan Rendah. Kekalahan ini terjadi di
tengah-tengah banyaknya tuduhan mengenai isu korupsi.
Sebuah pemilihan akan digelar pada 23 Januari, menurut
beberapa laporan.
"Ini
merupakan sebuah malam bersejarah dalam parlemen di
negara ini," kata pemimpin Konservatif Stephen Harper,
pemimpin rival Martin. "Ini bukan berakhirnya sebuah
pemerintahan lelah yang dipenuhi skandal. Ini adalah
awal dari sebuah masa depan cerah di negara hebat ini."
Sementara Martin dengan penuh percaya diri memberi tahu
kepada anggota parlemen, "Kita akan memenangkan pemilu.''
"Kita ikut dalam kampanye ini dengan sebuah kekuatan
nyata dan kita bisa berbangga dengannya. Jalur
perekonomian kita merupakan yang terkuat dengan jumlah
pengangguran yang paling rendah selama 30 tahun di
Kanada," katanya.
Pemilihan ini dilakukan setelah Martin menolak ultimatum
oposisi untuk berjanji membubarkan parlemen pada Januari.
Ia malah menawarkan digelarnya pemilu pada Maret atau
April, setelah dikeluarkannya laporan akhir mengenai
skandal dana yang menguncang pihak Liberal.
Pemimpin Partai Demokratik Baru Jack Layton menarik
dukungannya kepada Liberal beberapa saat setelah
dikeluarkannya sebuah laporan awal yang mengejutkan pada
November lalu.
Pihak Liberal dituduh menerima keuntungan jutaan dolar
dari perusahaan iklan dalam kontrak pemerintah dari 1995
hingga 2002, saat Jean Chretien menjadi perdana menteri.
(ton/afp)