kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Umanis, 30 Nopember 2005

 Mancanegara


Gejolak Politik di Kanada
 

Ottawa -
Perdana Menteri Paul Martin diharapkan akan bertanya kepada kepala negara de facto Kanada, Gubernur Jendral Michaelle Jean, untuk membubarkan parlemen dan mengatur tanggal pemilihan Selasa (29/11) kemarin. Hal ini dilakukan sehari setelah pihak oposisi memecat pemerintahan kecilnya. 

Partai Liberal pimpinan Martin kalah dalam sebuah pemilihan dengan 171 suara berbanding 133 suara pada Majelis Perwakilan Rendah. Kekalahan ini terjadi di tengah-tengah banyaknya tuduhan mengenai isu korupsi.    

Sebuah pemilihan akan digelar pada 23 Januari, menurut beberapa laporan.

"Ini merupakan sebuah malam bersejarah dalam parlemen di negara ini," kata pemimpin Konservatif Stephen Harper, pemimpin rival Martin. "Ini bukan berakhirnya sebuah pemerintahan lelah yang dipenuhi skandal. Ini adalah awal dari sebuah masa depan cerah di negara hebat ini."

Sementara Martin dengan penuh percaya diri memberi tahu kepada anggota parlemen, "Kita akan memenangkan pemilu.''

"Kita ikut dalam kampanye ini dengan sebuah kekuatan nyata dan kita bisa berbangga dengannya. Jalur perekonomian kita merupakan yang terkuat dengan jumlah pengangguran yang paling rendah selama 30 tahun di Kanada," katanya.

Pemilihan ini dilakukan setelah Martin menolak ultimatum oposisi untuk berjanji membubarkan parlemen pada Januari.

Ia malah menawarkan digelarnya pemilu pada Maret atau April, setelah dikeluarkannya laporan akhir mengenai skandal dana yang menguncang pihak Liberal.

Pemimpin Partai Demokratik Baru Jack Layton menarik dukungannya kepada Liberal beberapa saat setelah dikeluarkannya sebuah laporan awal yang mengejutkan pada November lalu.

Pihak Liberal dituduh menerima keuntungan jutaan dolar dari perusahaan iklan dalam kontrak pemerintah dari 1995 hingga 2002, saat Jean Chretien menjadi perdana menteri. (ton/afp)

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)