Meningkatkan
Fungsi
Pura
Jagatnatha
Isyavasyam
idam
sarvam
Jagat
yat
kimca
Jagatya
jagat.
(Yajurveda XXX, 1).
Maksudnya:
Tuhan Yang
Mahakuasa
itu
berada dan
berstana
di
seluruh alam
semesta,
baik di
tempat yang
bergerak
maupun
di tempat yang
tetap
atau tidak
bergerak.
TUHAN
sesungguhnya
bukan
hanya berada
di pura.
Tuhan
itu ada
di
mana-mana.
Tidak
ada
bagian alam
semesta
ini tanpa
kehadiran
Tuhan.
Tuhan
Yang Mahaesa
itu ada
di
dalam alam
dan di
luar
alam.
Dalam
Mantra Rgveda X.90.4
dinyatakan
bahwa
eksistensi Tuhan
hanya
seperempat bagian
ada di
alam
semesta ini
dan
tiga perempat
bagian
eksistensinya ada
di luar
alam
semesta.
Jadi,
Tuhan
bukan hanya
berstana
di pura.
Tentunya
timbul
pertanyaan untuk
apa
membuat
pura dengan
menghabis-habiskan
biaya
saja?
Keberadaan
pura
sangatlah penting.
Sama
halnya
dengan upacara
penghormatan
bendera
untuk membangun
sikap
bakti dan
hormat
kepada bangsa
dan
negara. Upacara
bendera
hanya salah
satu
cara
untuk
membangun sikap
hormat
pada bangsa
dan
negara.
Demikian
juga
halnya dengan
keberadaan
pura
sebagai sarana
kehidupan
beragama Hindu
sangat
dibutuhkan sebagai
media beragama
untuk
memuja Tuhan.
Lewat
pura
umat dapat
mendayagunakan
keyakinannya
pada
Tuhan untuk
meningkatkan
kualitas
hidup
lahir batin.
Di
Bali setelah
terbentuknya
Parisada Dharma Hindu Bali
pada 23
Februari 1959 (sekarang
PHDI Pusat),
timbullah
gagasan
untuk mendirikan
Pura
Jagatnatha di
tengah Kota
Denpasar
sebagai
ibu
kota
Propinsi Bali. Hal
ini
didasarkan oleh
kenyataan
bahwa
umat Hindu yang bermukim
di Kota
Denpasar banyak
berasal
dari berbagai
kota
dan
kabupaten di Bali.
Mereka
tidak
memiliki pura
sebagai
sarana pemujaan
umum.
Sebab,
di
setiap desa
pakraman
di
Denpasar hanya
ada
pura kahyangan
tiga
dan merajan
keluarga
serta
pura swagina
seperti
Pura Melanting,
Pura
Ulun Carik
dan yang
sejenisnya.
Setelah
melalui berbagai
proses yang
cukup
rumit dicapailah
kesepakatan
untuk
menjadikan areal
tugu
pahlawan di
sebelah
utara Museum Bali sebagai
Pura
Agung Jagatnatha.
Proses
pendirian pura
itu
cukup lambat
karena
semuanya serba
swadaya.
Makna
Filosofi
Pura
Agung
Jagatnatha ini
tergolong
Pura
Kahyangan Jagat
atau
pura untuk
persembahyangan
umum.
Pura
Kahyangan
Jagat
ini berbeda
dengan
Pura Kahyangan
Desa,
Pura Swagina
dan
jenis Pura
Kawitan.
Di
Pura
Kahyangan Jagat
ini
umat bersembahyang
dengan
tidak membeda-bedakan
asal
desanya, asal
keluarga
atau
wangsanya dan
juga
profesinya.
Mengapa
disebut
Pura Jagatnatha?
Di
pura
ini Tuhan
Siwa
dipuja sebagai
rajanya
alam semesta
tempat
lahir, hidup
dan
matinya makhluk
hidup,
terutama manusia.
Tuhan
Yang Mahasuci
dan
tidak terbatas
itu
dipuja oleh
manusia yang
serba
terbatas.
Tuhan
menurut
kitab suci Veda
adalah
Maha Esa.
Tetapi
orang-orang suci yang
disebut
Vipra itu
menyebutnya
dengan
ribuan
nama.
Sebagai
jiwa
agung tiga
alam
atau Tri Loka
disebut Sang
Hyang Tri
Purusa
yaitu Parama
Siwa,
Sada Siwa
dan
Siwa.
Sebagai
Raja alam
semesta,
Tuhan
disebut Sang Hyang
Jagat
Natha.
Tuhan
sebagai Sang
Hyang
Jagat Natha
inilah yang
dipuja
di Pura
Agung
Jagatnatha.
Kata
natha
dalam bahasa
Sansekerta
di
samping berarti raja
juga
berarti pertolongan
dan
perlindungan. Umat
manusia yang
hidup
di
kota
memiliki
risiko
godaan hidup yang
jauh
lebih tinggi
daripada
hidup
di desa.
Individualisme,
materialisme
maupun
gaya
hidup
hedonistis semakin
kuat
merasuki kehidupan
umat
manusia di
kota.
Kehidupan
saling
menolong dalam
suasana
kekeluargaan tidak
begitu
mudah mendapatkannya
di
kota-kota besar.
Rasa ketuhanan yang
dalam
dan kuat
akan
dapat
berfungsi sebagai
penolong,
pelindung
dan
penuntun kehidupan
manusia
di
kota.
Di
Pura
Jagatnatha inilah
yang patut
lebih
ditonjolkan peran
dan
fungsinya untuk
menanamkan
rasa
ketuhanan yang dalam.
Karena
itu
menajemen kehidupan
beragama Hindu
di Pura
Jagatnatha
perlu
ditingkatkan.
Tujuannya
agar umat yang
datang
ke Pura
Jagatnatha
lebih
banyak mendapatkan
pelayanan
untuk
menguatkan daya
spiritualitasnya.
Di
samping
itu, untuk
mengembangkan
wawasan
beragama yang baik
dan
benar menurut
ketentuan
kitab
suci.
Lembaga
yang mengurus
Pura
Jagatnatha hendaknya
memiliki program yang
aktual
dan kontekstual
dengan
masalah kehidupan
yang dihadapi
oleh
masyarakat di
zaman postmodern
ini.
Idealisme
agama dalam
kitab
suci harus
dirumuskan
lebih
nyata untuk
membenahi
kehidupan
umat
manusia yang semakin
dinamis
ini.
Pura
Jagatnatha
hendaknya
tidak
berhenti dalam
kegiatan ritual
semata.
Ritual yang
sakral itu
hendaknya
lebih
diaktualkan untuk
membantu
umat
memecahkan berbagai
persoalan
hidup yang
dihadapinya
terutama
dari
perspektif spiritualnya.
* Ketut
Gobyah