kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Umanis, 30 Nopember 2005

 Bali

 

Dari Warung Global Interaktif Bali Post
Flu Burung Ada di Bali?---

Pemda
dan Jajarannya Perlu Menjelaskan

DI tengah perekonomian sekarang Bali memang benar-benar terpuruk, tidak saja dalam sektor pariwisata tetapi juga merambah ke sektor peternakan. Dengan adanya kasus flu burung menyebabkan rasa cemas muncul tanpa adanya satu penjelasan dari pihak terkait tentang kebenarannya atau seakan-akan ada hal-hal yang ditutupi. Padahal semua berawal dari pemerintah untuk mendengarkan laporan dari masyarakat peternak. Kalau dikatakan pemerintah lambat memang sangat lambat karena sampai saat ini pihak pemerintah daerah bersama jajarannya terasa tiada gema, kalaupun ada itu pun setelah ada kasus dan akhirnya korban. Kini dunia peternakan tidak bisa diharapkan lagi menjadi tumpuan bagi peternak kita apalagi setelah ratusan itik milik peternak di wilayah Banjar Penasan, Tihingan, Banjarangkan, Klungkung mati mendadak, serta puluhan babi milik peternak di Banjar Tumpek, Abian Jero, Sudimara dan Kuwum, Desa Ababi, Karangasem sakit dan mati. Kemanakah peternak harus beralih, dan langkah apa yang seharusnya diambil? Berikut opini yang muncul dalam acara  Warung Global di Radio Global FM 96,5 Selasa (29/11) kemarin, yang direlai Radio Genta Bali dan Radio Singaraja FM.

 

--------------------------------------------

Tut De di Tabanan bertanya, bagaimana antisisipasinya padahal setiap hari masyarakat mengkonsumsi daging tersebut, apakah ada gejala flu burung di Bali? Semua ini tergantung antisispasi kita dan kita harus yakin pada diri dan Tuhan, jangan latah, jangan sampai dipakai proyek-proyek, kita keblinger.

Sudana di Denpasar berharap mudah-mudahan di Bali tidak kena flu burung karena was-was juga kepada yang berwenang apakah sudah ditangani atau belum agar jangan sampai merambat di Pulau Bali tercinta ini. Diharapkan pemerintah turun tangan agar peternak-peternak tidak terlalu banyak yang rugi. Sehingga diharapkan agar segera diteliti apa penyebabnya.

Nang Tyson di Denpasar menyatakan rasa prihatinnya kepada para peternak itik karena bagaimanapun mereka merasa sangat terpukul apalagi dalam kondisi ekonomi kita di Bali belum pulih. Di samping itu membuktikan Dinas Kesehatan di Klungkung khususnya dan Bali umumnya kurang tanggap terhadap penyakit-penyakit yang belakangan ini banyak menyerang ternak-ternak kita. Misalnya kejadian lalu di Kabupaten Badung ratusan babi mati, dan sekarang di Semarapura. Ini menandakan bahwa Dinas Kesehatan belum bekerja begitu maksimal untuk antisipasi, pencegahan-pencegahan dan pengobatan lanjut terhadap peternak kita. Kalau sampai ini diespos media nasional, apalagi internasional, ini akan berdampak pada pariwisata sehingga terpuruk. Harapan lain, agar masalah ini jangan ditutup-tutupi, kita harus tahu apakah benar flu burung, dan apa gejalanya? Karena sampai saat ini sosialisasinya sangat minim.

Nang Lojor di Padangsambian mengharapkan masing-masing kabupaten benar-benar mawas diri dalam artian semua peternak harus dicek apakah ternak mereka sudah divaksin. Kalau sudah divakisn tetapi ada kematian yang banyak maka kita harus curiga ada hubungannya dengan flu burung. Jangan sampai karena penyakit ND masyarakat ramai-ramai tidak membeli ayam. Diharapkan pemerintah/Dinas Peternakanan berkoordinasi dengan pemerintah daerah memberikan informasi yang jelas agar masyarakat tidak was-was.

Adnyana di Pedungan mengharapkan penjelasan pemerintah agar jujur dan transparan sehingga kalaupun ternaknya harus dimusnahkan, pemerintah harus membayar agar peternak tidak rugi.

Sementara Sugata di Bangli mengharapkan agar Dinas Peternakan segera turun tangan mengecek bagaimana kejadiannya. Jangan sedikit-sedikit flu burung sehingga kita takut dan banyak hal yang dirugikan karena ekonomi akan lesu. Kasihan peternak karena selalu menjadi korban. Dinas Kesehatan tingkat satu dan di bawahnya perlu melakukan koordinasi apa penyebabnya sehingga ternaknya kena penyakit.

Made Sadi di Denpasar sebagai peternak meyakini bahwa penyebab matinya ternak tersebut bukan karena penyakit tetapi dari sentrat atau makanan. Keyakinan ini muncul karena itiknya sakit ketika diberi sentrat kemudian selama dua minggu diberikan padi gabah, akhirnya tambah sehat, kemudian diulang lagi 5 ekor diberi sentrat ternyata mati. Kejadian ini sejak satu bulan lalu. Sehingga dengan merebaknya flu burung peternak tidak perlu cemas.

I.B Rai di Renon menambahkan semestinya hal ini mendapat  perhatian khusus dari pihak pemerintah. Ini merupakan data kasar dari masyarakat dan belum diketahui penyebabnya. Ada yang mengatakan karena sentrat sehingga seharusnya dilakukan pemeriksaan terhadap sempel-sempel sentrat. Juga penyakit tersebut harus diteliti lewat gejala-gejala tersebut, dicermati sesegera mungkin, setelah diketahui secara pasti barulah dibasmi dan berkoordinasi di kabupaten seawal mungkin untuk memberikan pencegahan sehingga bisa mengurangi kerugian peternak.

Dewa Winaya di Tabanan menyatakan dalam situas seperti ini yang terpenting yang dilakukan Dinas Peternakan adalah menyelidiki penyebab kematian itik-itik tersebut apalagi terdengar ada indikasi karena makanan sehingga jelas kita tahu. Umpamanya kalau disebabkan makanan maka makanannya dicermati, kalau sudah dipastikan bukan karena flu burung maka peternak-peternak di Bali akan lebih tenang dan serentak dilakukan vaksinasi.

De Runa di Denpasar menjelaskan sekarang informasi sudah tidak ada batas baik media cetak dan elektronik. Kita sebagai masyarakat Bali sudah sering disajikan tayangan mengenai flu burung di Jawa, seharusnya kita waspada. Di sini juga peran pemerintah sebagai penyuluhnya mestinya setiap minggu sekali mendekati sentra-sentra ternak untuk memberikan penyuluhan mengenai penyakit-penyakit ternak secara gencar baik di desa atau di kota-kota. Demikian juga masalah transportasi mengenai masuknya ternak dari luar Bali agar diperketat.

Natri Udiani di Denpasar mengharapkan agar para peternak sebelum menjadi seorang peternak apalagi besar-besaran perlu juga membekali diri dengan ilmu memelihara unggas, banyak buku-bukunya untuk mengetahui teori-teorinya.

Komang Arta di Pengeragoan menilai hal ini sebenarnya sudah biasa terjadi karena dia sudah mengalami sejak tahun 80-an ketika musim pengghujan beginilah keadannya. Bukannya karena ilmuan kita yang kurang profesional, walau ada teori di buku tetapi berbeda sekali dengan di lapangan. Karena pada musim hujan penyakit sangat gampang merebak, bahkan seorang dokter hewan pun tidak bisa memberikan obat tepat atau masih coba-coba. Sehingga seharusnya sebagai orang Bali beternak saat menjelang upacara saja, kalau beternak untuk petelor sangat tidak mungkin karena untungnya sangat tipis, berbeda dengan di luar Bali.

* panca

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)