Dari
Warung Global
Interaktif Bali Post
Flu Burung
Ada di
Bali?---
Pemda
dan
Jajarannya Perlu
Menjelaskan
DI
tengah
perekonomian sekarang
Bali memang
benar-benar
terpuruk,
tidak
saja dalam
sektor
pariwisata tetapi
juga
merambah ke
sektor
peternakan. Dengan
adanya
kasus flu burung
menyebabkan
rasa
cemas muncul
tanpa
adanya satu
penjelasan
dari
pihak terkait
tentang
kebenarannya atau
seakan-akan
ada
hal-hal yang ditutupi.
Padahal
semua berawal
dari
pemerintah untuk
mendengarkan
laporan
dari masyarakat
peternak.
Kalau
dikatakan pemerintah
lambat
memang sangat
lambat
karena sampai
saat
ini pihak
pemerintah
daerah
bersama jajarannya
terasa
tiada gema,
kalaupun
ada itu
pun setelah
ada
kasus dan
akhirnya
korban.
Kini dunia
peternakan
tidak
bisa diharapkan
lagi
menjadi tumpuan
bagi
peternak kita
apalagi
setelah ratusan
itik
milik peternak
di
wilayah Banjar
Penasan,
Tihingan,
Banjarangkan,
Klungkung
mati
mendadak, serta
puluhan
babi milik
peternak
di
Banjar Tumpek,
Abian
Jero, Sudimara
dan
Kuwum, Desa
Ababi,
Karangasem sakit
dan
mati. Kemanakah
peternak
harus
beralih, dan
langkah
apa yang seharusnya
diambil?
Berikut
opini yang muncul
dalam
acara Warung
Global di Radio Global FM
96,5 Selasa (29/11)
kemarin, yang
direlai Radio
Genta Bali
dan Radio
Singaraja FM.
--------------------------------------------
Tut
De di
Tabanan bertanya,
bagaimana
antisisipasinya
padahal
setiap hari
masyarakat
mengkonsumsi
daging
tersebut, apakah
ada
gejala flu burung
di Bali?
Semua
ini tergantung
antisispasi
kita
dan kita
harus
yakin pada
diri
dan Tuhan,
jangan
latah, jangan
sampai
dipakai proyek-proyek,
kita
keblinger.
Sudana
di
Denpasar berharap
mudah-mudahan
di Bali
tidak kena flu
burung
karena was-was juga
kepada yang
berwenang
apakah
sudah ditangani
atau
belum agar jangan
sampai
merambat di
Pulau Bali
tercinta
ini.
Diharapkan pemerintah
turun
tangan agar
peternak-peternak tidak
terlalu
banyak yang rugi.
Sehingga
diharapkan agar
segera
diteliti apa
penyebabnya.
Nang
Tyson di
Denpasar
menyatakan
rasa
prihatinnya kepada
para
peternak itik
karena
bagaimanapun mereka
merasa
sangat terpukul
apalagi
dalam kondisi
ekonomi
kita di Bali
belum
pulih. Di
samping
itu membuktikan
Dinas
Kesehatan di
Klungkung
khususnya
dan Bali
umumnya
kurang tanggap
terhadap
penyakit-penyakit yang
belakangan
ini
banyak menyerang
ternak-ternak
kita.
Misalnya kejadian
lalu di
Kabupaten
Badung
ratusan babi
mati,
dan sekarang
di
Semarapura. Ini
menandakan
bahwa
Dinas Kesehatan
belum
bekerja begitu
maksimal
untuk
antisipasi,
pencegahan-pencegahan dan
pengobatan
lanjut
terhadap peternak
kita.
Kalau sampai
ini
diespos media nasional,
apalagi
internasional, ini
akan
berdampak pada
pariwisata
sehingga
terpuruk.
Harapan lain, agar
masalah
ini jangan
ditutup-tutupi,
kita
harus tahu
apakah
benar flu burung,
dan apa
gejalanya?
Karena
sampai saat
ini
sosialisasinya sangat
minim.
Nang
Lojor
di Padangsambian
mengharapkan
masing-masing
kabupaten
benar-benar
mawas
diri dalam
artian
semua peternak
harus
dicek apakah
ternak
mereka sudah
divaksin.
Kalau
sudah divakisn
tetapi
ada kematian yang
banyak
maka kita
harus
curiga ada
hubungannya
dengan flu
burung.
Jangan sampai
karena
penyakit ND masyarakat
ramai-ramai
tidak
membeli ayam.
Diharapkan
pemerintah/Dinas
Peternakanan
berkoordinasi
dengan
pemerintah daerah
memberikan
informasi yang
jelas agar
masyarakat
tidak was-was.
Adnyana
di
Pedungan mengharapkan
penjelasan
pemerintah agar
jujur
dan transparan
sehingga
kalaupun
ternaknya
harus
dimusnahkan, pemerintah
harus
membayar agar peternak
tidak
rugi.
Sementara
Sugata
di Bangli
mengharapkan agar
Dinas
Peternakan segera
turun
tangan mengecek
bagaimana
kejadiannya.
Jangan
sedikit-sedikit flu burung
sehingga
kita
takut dan
banyak
hal yang dirugikan
karena
ekonomi akan
lesu.
Kasihan peternak
karena
selalu menjadi
korban.
Dinas Kesehatan
tingkat
satu dan
di
bawahnya perlu
melakukan
koordinasi
apa
penyebabnya sehingga
ternaknya
kena
penyakit.
Made Sadi
di
Denpasar sebagai
peternak
meyakini
bahwa
penyebab matinya
ternak
tersebut bukan
karena
penyakit tetapi
dari
sentrat atau
makanan.
Keyakinan
ini
muncul karena
itiknya
sakit ketika
diberi
sentrat kemudian
selama
dua minggu
diberikan
padi
gabah, akhirnya
tambah
sehat, kemudian
diulang
lagi 5 ekor
diberi
sentrat ternyata
mati.
Kejadian ini
sejak
satu bulan
lalu.
Sehingga dengan
merebaknya flu
burung
peternak tidak
perlu
cemas.
I.B Rai
di Renon
menambahkan
semestinya
hal ini
mendapat
perhatian
khusus
dari pihak
pemerintah.
Ini
merupakan data kasar
dari
masyarakat dan
belum
diketahui penyebabnya.
Ada yang
mengatakan
karena
sentrat sehingga
seharusnya
dilakukan
pemeriksaan
terhadap
sempel-sempel
sentrat.
Juga
penyakit tersebut
harus
diteliti lewat
gejala-gejala
tersebut,
dicermati
sesegera
mungkin,
setelah
diketahui secara
pasti
barulah dibasmi
dan
berkoordinasi di
kabupaten
seawal
mungkin untuk
memberikan
pencegahan
sehingga
bisa
mengurangi kerugian
peternak.
Dewa
Winaya
di Tabanan
menyatakan
dalam
situas seperti
ini yang
terpenting yang
dilakukan
Dinas
Peternakan adalah
menyelidiki
penyebab
kematian
itik-itik
tersebut
apalagi
terdengar ada
indikasi
karena
makanan sehingga
jelas
kita tahu.
Umpamanya
kalau
disebabkan makanan
maka
makanannya dicermati,
kalau
sudah dipastikan
bukan
karena flu burung
maka
peternak-peternak di
Bali akan
lebih
tenang dan
serentak
dilakukan
vaksinasi.
De Runa
di Denpasar
menjelaskan
sekarang
informasi
sudah
tidak ada
batas
baik media cetak
dan
elektronik. Kita sebagai
masyarakat Bali
sudah
sering disajikan
tayangan
mengenai flu
burung
di Jawa,
seharusnya
kita
waspada. Di
sini
juga peran
pemerintah
sebagai
penyuluhnya mestinya
setiap
minggu sekali
mendekati
sentra-sentra
ternak
untuk memberikan
penyuluhan
mengenai
penyakit-penyakit
ternak
secara gencar
baik di
desa
atau di
kota-kota.
Demikian
juga
masalah transportasi
mengenai
masuknya
ternak
dari luar Bali agar
diperketat.
Natri
Udiani
di Denpasar
mengharapkan agar
para
peternak sebelum
menjadi
seorang peternak
apalagi
besar-besaran perlu
juga
membekali diri
dengan
ilmu memelihara
unggas,
banyak buku-bukunya
untuk
mengetahui teori-teorinya.
Komang
Arta di
Pengeragoan
menilai
hal ini
sebenarnya
sudah
biasa terjadi
karena
dia sudah
mengalami
sejak
tahun 80-an ketika
musim
pengghujan beginilah
keadannya.
Bukannya
karena
ilmuan kita yang
kurang
profesional, walau
ada
teori di
buku
tetapi berbeda
sekali
dengan di
lapangan.
Karena
pada musim
hujan
penyakit sangat
gampang
merebak, bahkan
seorang
dokter hewan pun
tidak
bisa memberikan
obat
tepat atau
masih
coba-coba. Sehingga
seharusnya
sebagai
orang Bali beternak
saat
menjelang upacara
saja,
kalau beternak
untuk
petelor sangat
tidak
mungkin karena
untungnya
sangat
tipis, berbeda
dengan
di luar Bali.
*
panca