kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Umanis, 15 Nopember 2005

 Artikel


Bali dengan kelebihan geografis, sumber daya manusia dan sumber daya dana masih memiliki kesempatan untuk mengembangkan strategi pencegahan flu burung pada manusia, salah satunya adalah melalui peningkatan peran serta masyarakat.  

-------------------------

Peran Organisasi Lokal Cegah Flu Burung di Bali
dr. Yessi Crosita O
 

PENYAKIT flu burung pertama kali dilaporkan pada peternakan ayam petelur di Kabupaten Karangasem pada Oktober 2003. Saat ini telah menyebar keseluruhan kabupaten di Bali, meliputi 27 kecamatan dan 80 desa. Persentase desa tertular paling tinggi terjadi di Kabupaten Bangli dan Jembrana, masing-masing 27 desa dan 15 desa. Selain penyebarannya pada peternakan unggas, pasar tradisional juga merupakan sumber penularan. 

----------------------------------------

Telah diidentifikasi virus penyebab flu burung (H5N1) di dua pasar di Buleleng (Santhia, 2005). Penyakit ini menyerang semua jenis unggas seperti ayam komersial (ayam ras petelur dan broiler), Arab, Bangkok, ayam kampung, itik, entok, puyuh, burung merpati dan perkutut. Juga ada kematian enam ekor ayam di Padangsambian, meskipun belum ada penjelasan lebih lanjut dari pihak terkait apakah kematian ini disebabkan oleh flu burung.

Di Bali kerap kita jumpai peternakan tradisional, di mana sebuah keluarga tidak hanya memelihara unggas tetapi juga babi. Seringkali anak-anak yang adalah kelompok umur yang rawan terkena infeksi flu burung, bermain-main dengan hewan peliharaan ini. Belum lagi adanya kebiasaan makan lawar merah yang dicampur darah mentah, semakin memperbesar peluang terjadinya infeksi flu burung pada manusia.

 

Pengembangan Strategi

Saat ini kita telah berada dalam situasi kewaspadaan terhadap terjadinya wabah yang luas, di mana telah terjadi kasus flu burung pada manusia tetapi belum ada penularan antarmanusia. Artinya kita telah separo jalan menuju kondisi terjadinya wabah yang luas dan mendunia, sebagaimana yang ditakutkan oleh organisasi dunia (PBB) akan terulangnya sejarah hitam flu burung di Spanyol pasca-Perang Dunia I yang mengakibatkan kematian hampir sepertiga penduduk dunia.

Pemerintah telah menetapkan lima strategi: pengendalian wabah pada unggas dan pencegahan infeksi baru pada unggas, perlindungan bagi kelompok risiko tinggi, surveilans, KIE (komunikasi, informasi dan edukasi), serta manajemen kasus dan pengendalian infeksi pada sarana kesehatan (Menkes RI, 2005).

Pemerintah, khususnya Depkes, menyediakan dana 13 juta dolar AS untuk penanggulangan flu burung pada manusia, tetapi dana ini lebih difokuskan pada hilir masalah yaitu untuk pembelian obat, perlengkapan dana ini pemantauan kejadian flu burung. Sedangkan untuk pencegahan belum terlihat adanya alokasi khusus. Dengan segala keterbatasan yang ada saat ini semua kebijakan yang ditetapkan pemerintah hanya akan jadi pepesan kosong jika tidak ditindaklanjuti secara serius, termasuk oleh masyarakat dengan meningkatkan peran sertanya dalam pencegahan perluasan wabah flu burung pada manusia.

Bali dengan kelebihan geografis, sumber daya manusia dan sumber daya dana masih memiliki kesempatan untuk mengembangkan strategi pencegahan flu burung pada manusia. Strategi pencegahan ini, salah satunya adalah melalui peningkatan peran serta masyarakat.

Ada beberapa peran yang dapat dimainkan oleh organisasi lokal, khususnya banjar dan subak dalam  pencegahan wabah flu burung pada manusia di Bali.

Pertama, informasi. Banjar atau subak mengumpulkan dan memberikan informasi secara timbal balik tentang kebutuhan penyelesaian masalah dalam rangka pencegahan flu burung pada manusia bagi anggotanya. Kemudian mencari alternatif solusi secara bersama-sama dengan anggota masyarakat dan pihak terkait.

Kedua, mediasi. Kadangkala terjadi ketidaksesuaian antara kebijakan pemerintah lokal terkait dengan pencegahan flu burung pada manusia. Misalnya saja kebijakan tentang pemusnahan unggas secara massal bagi peternak. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya konflik yang pada batas-batas tertentu berakibat rendahnya dukungan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah lokal. Banjar atau subak dapat berperan sebagai penghubung antara kebutuhan masyarakat dengan kebijakan tersebut.

Ketiga, advokasi. Banjar atau subak dapat berperan mewakili kepentingan masyarakat untuk memperoleh hak-haknya dari pihak-pihak tertentu. Misalnya hak informasi banjar dapat menjadi jembatan antara kebutuhan pengetahuan masyarakat tentang flu burung dengan instansi atau petugas pemerintah terkait. Dalam hal ini pihak puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan dan juga petugas lapangan Dinas Peternakan ataupun mantri hewan. Demi kepentingan perlindungan terhadap warganya, baik perternak maupun nonpeternak, banjar juga dapat membentuk persatuan antarbanjar dan juga organisasi lain yang berkepentingan dalam hal pengendalian wabah flu burung. Tujuannya, untuk mendesak pemerintah daerah agar lebih serius dan terbuka dalam penanganan flu burung di daerah tersebut.

Keempat, pemberdayaan masyarakat. Banjar atau subak meningkatkan kemampuan dan keterampilan masyarakat dalam upaya pencegahan flu burung pada manusia. Contohnya, dengan pelatihan biosecurity pada para peternak yang selama ini masih beternak secara tradisional, misalnya memelihara unggas dan babi sekaligus di lokasi terbuka dan berdekatan. Pelatihan metode penyimpanan dan pengolahan bahan makanan  dari unggas bagi anggota masyarakat. Termasuk penjelasan tentang kebiasaan makan lawar merah dan risiko penularan flu burung. Juga pelatihan peningkatan kemampuan untuk melakukan pengamanan dan pengawasan terhadap peternakan yang tidak aman di lingkungan setempat.

Tentunya peran ini tidak secara instan dapat diperankan oleh banjar atau subak. Pihak banjar maupun subak memerlukan pelatihan khusus, baik dari Dinas Peternakan dan Dinas Kesehatan tentang pengetahuan dasar mengenai flu burung.

Banjar dan subak juga dituntut untuk memperluas jaringan kerja sama dengan berbagai pihak yang terkait, baik itu pemerintah tidak saja eksekutif tetapi juga lembaga legislatif dan yudikatif, serta pemilik modal industri peternakan. Dengan demikian organisasi lokal, khususnya banjar dan subak  dapat menjadi sarana pemecahan masalah alternatif pencegahan penularan flu burung. 

* Penulis, staf peneliti Uplek (Unit Penelitian dan Latihan Epidemiologi Komunitas) FK Unud

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)