Peristiwa
Kerap
Jadi Rekaman
Tersendiri
SEBUAH
peristiwa -- yang
menegangkan
sekalipun --
kerap
menjadi sumber
inspirasi
bagi
para seniman.
Di mata
seniman,
kejadian
atau
peristiwa sering
menjadi
rekaman tersendiri.
Rekaman
itu kemudian
diungkapkan
lewat
bahasa seni.
Lalu,
apa lagi yang
bisa
menjadi sumber
inspirasi
bagi
seniman?
Salah
satu
contoh bahwa
seni
lahir dari
hasil
merespons peristiwa
adalah ''Dreamland''
dan ''Molecola''
-- karya
rupa Made
Wianta.
Jika ''Dreamland'' merespons
tragedi
Bom Bali I dan ''Molecola''
merespons
tragedi
kemanusiaan yang baru-baru
ini
melanda Bali -- yakni
tragedi
Bom Bali II.
Lewat
karya-karya
terbarunya
bertema ''Molecola''
yang dipamerkan
di Gaya
Gallery Ubud,
pelukis
kelahiran Apuan,
Baturiti,
Tabanan
ini pun berupaya
menyampaikan
pesan.
Pesan
itu
memvisualisasikan jalinan
perasaan
dari
masing-masing pribadi,
seperti
halnya molekul-molekul
yang bersenyawa
menuju
satu tujuan
yakni
empati, rasa
damai
dan ikatan
persaudaraan
dalam
menghadapi berbagai
ancaman
terhadap kemanusiaan.
Pesan
ini memang
tidak
serta merta
menghentikan
tragedi. Paling
tidak
dengan menggugah
kesadaran
seperti
ini diharapkan
kian
menyatunya keinginan
kuat
banyak orang
untuk
melawan kekerasan.
Sementara
dalam
karya bertema
''Dreamland'', Wianta
melukis
di atas
kanvas
berisi foto-foto
tragedi
bom dengan cat
dan
darah segar
di RPH
Sanggaran. Karya
seni
instalasi tersebut
kemudian
dipamerkan
di Gaya
Gallery pada
awal 2003.
Karya
itu mengantarkan
Wianta
ambil bagian
dalam
ajang pameran
besar
internasional -- Biennale
Venezia 2003.
Pelukis
Drs. Ketut
Murdana,
M.Sn.
mengatakan lahirnya
karya
seni dari
seorang
perupa, bisa
melalui
proses perenungan.
Proses
perenungan itu
bisa
lewat penjelajahan
kejiwaan yang
disebut
tera inko
genita.
Kata
Murdana,
seni
merupakan pengalaman
estetika. Dari
pengalaman
ini
muncul inkubasi --
proses
pengolahan jiwa
dan raga, yang
dalam
konteks Bali disebut
jagat
agung dan
jagat alit. Dari
proses
itulah lahir
seni
atau aktivitas
seni.
Pengalaman
estetik
itu bisa
muncul
dari berbagai
situasi.
Salah
satunya adalah
situasi
kekaguman terhadap
keindahan
dan
gejala alam.
Akhir-akhir
ini
banyak sekali
peristiwa yang
menegangkan
terjadi
di sekitar
kita.
Pada zaman raja-raja
pun terjadi
peristiwa yang
menegangkan. Hal
ini pun
menjadi rekaman
tersendiri
bagi
seniman untuk
dituangkan
ke
dalam karyanya.
Misalnya,
peristiwa yang
menegangkan
dalam
zaman kerajaan
Bedahulu.
Seniman
mengungkapkan kritik
sosial yang
sangat
tajam ketika
itu. Raja
digambarkan
sebagai
orang berkepala
babi.
Demikian
pula dalam
tataran spiritual.
Tokoh
Pedanda Baka
dalam
cerita Tantri
juga
merupakan kritik
sosial.
Penggambaran orang
yang berpura-pura
sebagai
pendeta, tetapi
sesungguhnya
memiliki
niat
jahat, merupakan
karya
seni sastra yang
mengandung
kritik. ''Jadi,
situasi
keseharian pun kerap
dijadikan
sumber
inspirasi bagi
seniman.
Tetapi,
pengungkapan
itu
bisa hanya
sebagai
ekspresi estetika
atau
sebagai kritik
sosial,''
kata
Murdana yang PR I ISI
Denpasar ini.
Tegas
Murdana,
karya
seni juga
bisa
lahir dari
kenangan
perisitiwa.
Misalnya,
ketika
dulu terjadi
perisitiwa ritual
karya
Eka Dasa
Ludra
di Besakih,
seniman
melahirkan karya
bertema
pelaksanaan upacara
tersebut.
Karya
seni itu
bisa
berupa seni
lukis
maupun seni
musik. ''Jadi,
kemegahan
Eka
Dasa Ludra
itu
memberikan inspirasi
tertentu
bagi
seniman. Peristiwa
itu
dikenang lewat
karyanya.
Jadi
seniman bisa
melahirkan
karya
seni dari
mengenang
peristiwa,''
katanya.
Made Wianta
mengenang
perisitiwa
Bom Bali 2002
lalu
dengan respons
estetiknya.
Lahirlah
karya
bertema ''Dreamland''. Karya
itu
menggunakan material darah
sapi
segar yang dijadikan
''cat'' di
atas
kanvas yang berisi
foto
para korban
bom.
Karya itu
sebagai
respons terhadap
tragedi
kemanusiaan -- mengenang
keganasan
tragedi yang
menelan
korban 200 orang
tersebut.
Karya
Ida Bagus Made
dan
Sobrat juga
merupakan
rekaman
sejarah. Karya-karya
yang bertemakan
pasar (peken),
merupakan
rekaman
situasi pasar
tradisional
zaman
dulu.
Demikian
pula seni
lukis
klasik Bali, kata
Murdana,
seperti yang
pernah
diteliti, umumnya
merupakan
rekaman
peristiwa kehidupan
sehari-hari.
Misalnya,
ketika
ada kegiatan surfing
di laut,
pelukis
mengangkat objek
itu ke
dalam
kanvas. Sebelumnya,
tidak
ada tema
seperti
itu.
Jadi,
pengungkapannya
bergaya
tradisional, tetapi
tema yang
diangkat
adalah
kekinian. Tak
hanya surfing,
orang
berdemonstrasi pun sempat
pula dijadikan
tema
lukisan oleh
perupa
tradisional. Itu
artinya,
seniman pun
mengungkap
realitas. ''Jika
fotografer
merekam
peristiwa dengan
kamera,
sedangkan seniman
mengungkapnya
dengan
daya imajinasi
dan
kreativitas,'' ujarnya.
Di
samping
itu, seni
rupa
tradisional lebih
banyak
merefleksikan kenyataan
sosial.
Kenyataan sosial
itu
bisa dilihat
dari
berbagai aspek
terutama
aspek spiritual,
kepercayaan
dan
aspek kekinian. ''Ketiga
aspek
ini bisa
menyebar
ke
subtema yang yang
lebih
luas, sehingga
lahir
karya yang beragam
tema pula,''
ujarnya.
(lun)