kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Paing, 22 Oktober 2005

 Kultur


Peristiwa
Kerap Jadi Rekaman Tersendiri

SEBUAH peristiwa -- yang menegangkan sekalipun -- kerap menjadi sumber inspirasi bagi para seniman. Di mata seniman, kejadian atau peristiwa sering menjadi rekaman tersendiri. Rekaman itu kemudian diungkapkan lewat bahasa seni. Lalu, apa lagi yang bisa menjadi sumber inspirasi bagi seniman? 

Salah satu contoh bahwa seni lahir dari hasil merespons peristiwa adalah ''Dreamland'' dan ''Molecola'' -- karya rupa  Made Wianta. Jika ''Dreamland'' merespons tragedi Bom Bali I dan ''Molecola'' merespons tragedi kemanusiaan yang baru-baru ini melanda Bali -- yakni tragedi Bom Bali II.

Lewat karya-karya terbarunya bertema ''Molecola'' yang dipamerkan di Gaya Gallery Ubud, pelukis kelahiran Apuan, Baturiti, Tabanan ini pun berupaya menyampaikan pesan.

 

Pesan itu memvisualisasikan jalinan perasaan dari masing-masing pribadi, seperti halnya molekul-molekul yang bersenyawa menuju satu tujuan yakni empati, rasa damai dan ikatan persaudaraan dalam menghadapi berbagai ancaman terhadap kemanusiaan. Pesan ini memang tidak serta merta menghentikan tragedi. Paling tidak dengan menggugah kesadaran seperti ini diharapkan kian menyatunya keinginan kuat banyak orang untuk melawan kekerasan.

 

Sementara dalam karya bertema ''Dreamland'', Wianta melukis di atas kanvas berisi foto-foto tragedi bom dengan cat dan darah segar di RPH Sanggaran. Karya seni instalasi tersebut kemudian dipamerkan di Gaya Gallery pada awal 2003. Karya itu mengantarkan Wianta ambil bagian dalam ajang pameran besar internasional -- Biennale Venezia 2003.

 

Pelukis Drs. Ketut Murdana, M.Sn. mengatakan lahirnya karya seni dari seorang perupa, bisa melalui proses perenungan. Proses perenungan itu bisa lewat penjelajahan kejiwaan yang disebut tera inko genita.

 

Kata Murdana, seni merupakan pengalaman estetika. Dari pengalaman ini muncul inkubasi -- proses pengolahan jiwa dan raga, yang dalam konteks Bali disebut jagat agung dan jagat alit. Dari proses itulah lahir seni atau aktivitas seni.

Pengalaman estetik itu bisa muncul dari berbagai situasi. Salah satunya adalah situasi kekaguman terhadap keindahan dan gejala alam.

 

Akhir-akhir ini banyak sekali peristiwa yang menegangkan terjadi di sekitar kita. Pada zaman raja-raja pun terjadi peristiwa yang menegangkan. Hal ini pun menjadi rekaman tersendiri bagi seniman untuk dituangkan ke dalam karyanya. Misalnya, peristiwa yang menegangkan dalam zaman kerajaan Bedahulu. Seniman mengungkapkan kritik sosial yang sangat tajam ketika itu. Raja digambarkan sebagai orang berkepala babi.

 

Demikian pula dalam tataran spiritual. Tokoh Pedanda Baka dalam cerita Tantri juga merupakan kritik sosial. Penggambaran orang yang berpura-pura sebagai pendeta, tetapi sesungguhnya memiliki niat jahat, merupakan karya seni sastra yang mengandung kritik. ''Jadi, situasi keseharian pun kerap dijadikan sumber inspirasi bagi seniman. Tetapipengungkapan itu bisa hanya sebagai ekspresi estetika atau sebagai kritik sosial,'' kata Murdana yang PR I ISI Denpasar ini.

 

Tegas Murdana, karya seni juga bisa lahir dari kenangan perisitiwa. Misalnya, ketika dulu terjadi perisitiwa ritual karya Eka Dasa Ludra di Besakih, seniman melahirkan karya bertema pelaksanaan upacara tersebut. Karya seni itu bisa berupa seni lukis maupun seni musik. ''Jadi, kemegahan Eka Dasa Ludra itu memberikan inspirasi tertentu bagi seniman. Peristiwa itu dikenang lewat karyanya. Jadi seniman bisa melahirkan karya seni dari mengenang peristiwa,'' katanya.

 

Made Wianta mengenang perisitiwa Bom Bali 2002 lalu dengan respons estetiknya. Lahirlah karya bertema ''Dreamland''. Karya itu menggunakan material darah sapi segar yang dijadikan ''cat'' di atas kanvas yang berisi foto para korban bom. Karya itu sebagai respons terhadap tragedi kemanusiaan -- mengenang keganasan tragedi yang menelan korban 200 orang tersebut.

 

Karya Ida Bagus Made dan Sobrat juga merupakan rekaman sejarah. Karya-karya yang bertemakan pasar (peken), merupakan rekaman situasi pasar tradisional zaman dulu.

 

Demikian pula seni lukis klasik Bali, kata Murdana, seperti yang pernah diteliti, umumnya merupakan rekaman peristiwa kehidupan sehari-hari. Misalnya, ketika ada kegiatan surfing di laut, pelukis mengangkat objek itu ke dalam kanvas. Sebelumnya, tidak ada tema seperti itu.

 

Jadi, pengungkapannya bergaya tradisional, tetapi tema yang diangkat adalah kekinian. Tak hanya surfing, orang berdemonstrasi pun sempat pula dijadikan tema lukisan oleh perupa tradisional. Itu artinya, seniman pun mengungkap realitas. ''Jika fotografer merekam peristiwa dengan kamera, sedangkan seniman mengungkapnya dengan daya imajinasi dan kreativitas,'' ujarnya.

 

Di samping itu, seni rupa tradisional lebih banyak merefleksikan kenyataan sosial. Kenyataan sosial itu bisa dilihat dari berbagai aspek terutama aspek spiritual, kepercayaan dan aspek kekinian. ''Ketiga aspek ini bisa menyebar ke subtema yang yang lebih luas, sehingga lahir karya yang beragam tema pula,'' ujarnya. (lun)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)