''Anak
Tiri'' Bernama Guru
Bantu
MENJADI
guru merupakan
cita-cita
Kadek
Sudarma (30).
Berbekal
ilmu yang
diperoleh
di IKIP
Negeri
Yogyakarta,
dia pun
kembali ke
kampung
halaman untuk
mewujudkan
cita-citanya.
Tamat
tahun 1999,
dia
langsung menjadi guru
honorer
di SMK 1 Kuta
dan
sebuah SMK swasta
di
Mambal, Badung.
Selanjutnya
pria
asal Dangin
Tukadaya, Negara
ini
mengabdi di SMK 2
Negara.
Tahun 2001,
dia
menjadi guru kontrak
Pemkab
Jembrana dengan
gaji Rp
800 ribu.
Ketika
ada
penerimaan guru
bantu
tahun 2003,
Sudarma
mengadu peruntungan.
Dia lulus
seleksi
dan masuk
sebagai
salah satu guru
bantu
yang ditugaskan
di SMK 2 Negara.
Untuk
wilayah
Bali,
dia
merupakan satu-satunya
guru otomotif.
Sejak
menjadi guru
bantu
penghasilan yang
diperoleh
bisa
dibilang jauh
dari
cukup. Setiap
bulan, guru
bantu
hanya
mendapat subsidi
Rp 460
ribu dipotong
pajak 15%.
"Saya
hanya
dapat Rp 448
ribu.
Dengan
uang
sekian, saya
harus
bisa hidup.
Karena
memang sekian yang
dikasi,"
ujarnya
sembari mengatakan
tidak
punya usaha lain.
Sudarma
pun malu
mengatakan
uang
itu sebagai
gaji
karena yang tertera
adalah
subsidi. Setiap
bulan
dia harus
ke
Kantor Pos mengambil
slip kemudian
meminta
tanda tangan
kepala
sekolah dan
kembali
lagi ke
Kantor Pos
mengambil
uang.
Menjadi
guru bantu
ibaratnya "anak
tiri".
Ketika rekan
sejawat
menerima berbagai
fasilitas, guru
bantu
hanya
bisa gigit
jari.
Contohnya,
guru PNS dan
honorer
mendapat insentif
untuk
Kelebihan Jam Mengajar
(KJM), mendapat
gaji ke-13,
mendapat bonus
tahunan
dan uang
hari
raya. Sedangkan
guru bantu,
tak
mendapat apa pun.
Praktis
mereka
hanya mengandalkan
uang Rp
448 ribu
itu.
Sekitar
dua
bulan yang lalu,
para guru
bantu
pernah bertemu
dengan
salah
seorang
anggota DPR-RI
dari PDI
Perjuangan,
Kosther,
di
Denpasar.
Ketika
itu,
mereka berkeluh
kesah
tentang nasib yang
dialami.
Dalam
kesempatan itu, guru
bantu
dijanjikan
akan
diangkat tetapi
secara
bertahap hingga
semua guru
bantu
habis. Janji
lain
adalah adanya
tambahan
subsidi minimal
Rp 250
ribu. "Sampai
sekarang
semua
itu saru
gremeng,"
ujarnya
singkat.
Harapan
Sudarma
dan guru-guru
bantu yang lain
adalah
pengangkatan.
Mereka
menunggu
janji-janji yang
pernah
dilontarkan pemerintah.
I
Wayan
Kawit Shamadi,
salah
seorang pemerhati
pendidikan
di
Jembrana, mengatakan
pengangkatan guru
bantu
wajar
dilakukan. Pasalnya,
setiap
tahun
akan terjadi
kekurangan guru
karena
ada guru yang pensiun.
"Tenaga
guru bantu
itu
sangat diperlukan.
Menjadi
guru itu
sebuah
profesi yang tidak
bisa
digantikan.
Boleh
saja
pemkab beralasan
mengoptimalkan
potensi yang
ada,
tetapi jangan
lupakan
kualitas pendidikan,"
tandasnya.
Sementara
itu,
Kadis Dikbudpar
Jembrana I
Wayan
Lantera mengakui
pihaknya
sudah
sering mendapat
masukan
mengenai keberadaan
guru bantu
yang jumlahnya 26
orang.
Mereka terdiri
atas 5 guru SD, 14 guru SMP,
5 guru SMA dan 2 guru SMK. "Sedari
awal
sudah kami
pikirkan,
kami
ingin guru
bantu
mendapat
prioritas
dalam
penerimaan CPNS," tegas
Lantera.
Alasannya,
para guru
bantu
itu
sudah punya
keterampilan yang
sudah
teruji.
Dalam
beberapa
kurun
waktu mengabdi,
mereka
sudah bisa
dinilai.
Selain
itu, untuk
masuk
menjadi guru
bantu,
sudah
dilakukan tes yang
sangat
ketat. Tidak
ada
kata lain, prioritas
harus
diberikan kepada guru
bantu
yang memang
memenuhi
persyaratan.
Meski
demikian,
Lantera
tidak bisa
bergerak
sendiri.
Masalah
penerimaan CPNS
juga
ditangani Bagian
Kepegawaian.
Dari 572
formasi yang disiapkan
di
Jembrana, dikategorikan
menjadi
tiga kelompok,
tenaga
kesehatan, tenaga
pendidik
dan
tenaga teknis
umum.
Tetapi,
dia yakin
peluang guru
bantu
sangat
besar untuk
diangkat
menjadi PNS.
Dari guru bantu
yang ada,
ternyata
sudah
ada yang diangkat
di luar
Jembrana. "Mereka
itu
dulu ngelamar
di
kabupaten lain.
Karena
sudah
diterima otomatis
mereka
pindah dari
Jembrana,"
ujarnya.
Selama
ini pembayaran
gaji guru
bantu
dilakukan
dengan
dana pusat.
Selain guru
bantu,
di
Jembrana juga
terdapat guru
kontrak
untuk mata
pelajaran
tertentu
dan guru
honorer.
(wah)