Pusat
"Back-Up" Pemulihan
Pariwisata Bali
Denpasar
(Bali Post) -
Pemulihan
pariwisata Bali
pascabom
Jimbaran-Kuta
akan
melibatkan
pemerintah
pusat.
Namun, agak
berbeda
dengan pemulihan
pariwisata
pascabom
Legian 2002
lalu, kali
ini
sepenuhnya dikoordinasikan
oleh
komponen pariwisata
Bali, baik
pemerintah
propinsi,
kabupaten/kota
maupun
kalangan industri.
Keberadaan
pemerintah
pusat
sebatas back-up.
Demikian
dikemukakan
Kadisparda Bali
Gde
Nurjaya di
Denpasar,
Kamis (20/10)
kemarin.
Nurjaya,
Jumat (21/10)
ini
mendampingi Gubernur
Bali Dewa Made
Beratha
mengikuti Rakor
Ekuin
di Jakarta.
Selain
Gubernur
dan
Kadisparda Bali, juga
diundang
Ketua BTB
Bagus
Sudibya dan
Dirut BTDC Made
Mandra.
Rakor
hari
ini merupakan
pertemuan
lanjutan
dari
pertemuan sebelumnya,
pekan
lalu.
Menurut
Nurjaya,
dalam
pertemuan terdahulu,
Menko
Perekonomian Aburizal
Bakrie
meminta Gubernur Bali
menyiapkan program
pemulihan
pariwisata Bali.
"Pak Gubernur
sudah
menyusun program jangka
pendek,
yakni Oktober -
Desember 2005
dan
jangka panjang
Januari -
Desember 2006.
Penyusunan
itu
didasarkan masukan
dari
instansi terkait
dan
semua pihak,
termasuk
aparat
keamanan," ungkap
Nurjaya.
Sebagian
kegiatan
jangka
pendek sudah
dilakukan,
antara lain
penanganan
para
korban, termasuk
mengevakuasi
korban
bom yang terluka
ke
negaranya. Program
lainnya
mengembalikan citra
Bali
dengan
memperlihatkan kita
serius
menangani masalah
keamanan.
Fokusnya
memperbaiki
sistem
keamanan yang sudah
ada,
meliputi personel,
peralatan
dan
pembiayaan. Dari
aspek
personel polisi
misalnya,
tampaknya
sudah
cukup. Namun,
peralatan
dan
pembiayaan dalam
arti
dana
operasional yang
perlu
ditingkatkan.
Terkait
hal ini,
dengan
menimba masukan
dari
berbagai pihak,
Gubernur Bali
sudah
menyusun berbagai
program menyangkut
peningkatan
keamanan,
dengan
sekala prioritas
tertentu.
"Kita mendapat
sinyal,
pemerintah pusat
siap
membantu termasuk
dari
aspek pendanaan.
Tentu
sesuai
dengan kepentingan
yang logis,"
ujar
Nurjaya. (056)