Sebagai
presiden yang
dipilih
langsung untuk
pertama
kalinya dalam
sejarah
politik Indonesia merdeka,
maka SBY
sebenarnya
mendapat
mandat
penuh untuk
menyusun
kabinet
kelas satu.
Namun
ia terjebak
dengan
hitung-hitungan suara
di
parlemen dan
merasa ''minder'',
karena
partai-partai kecil
yang masing-masing
mendapat
alokasi
kursi.
-------------------------------------
Kabinet
Indonesia Bersatu II?
Oleh
Sabam
Siagian
PADA
21 Oktober
ini
genap setahun
umur
pemerintahan yang dipimpin
oleh
Presiden Susilo
Bambang
Yudhoyono dan
Wakil
Presiden Jusuf
Kalla.
Kabinet yang mencakup
36 anggota,
termasuk
Jaksa
Agung, dinamakan
Kabinet Indonesia
Bersatu.
Suatu
sebutan yang mencerminkan
hasrat
bahwa kinerja
dan
prestasi kabinet
ini
akan mampu
meningkatkan
kohesi
bangsa dengan
mendorong
pertumbuhan
ekonomi
serta memantapkan
keadilan
sosial.
----------------------------
Setelah
setahun
agaknya jelas,
tanpa
terlalu bersikap
sok
menggurui, bahwa
seharusnya
lebih
banyak yang dapat
dicapai.
Memang,
selama setahun
sejak
Kabinet Indonesia Bersatu
berkiprah
beberapa
hal
terjadi yang sama
sekali
di luar
perkiraan.
Namun
justru kejadian-kejadian
itu
mengungkapkan betapa
kualitas
kabinet
ini tidak
begitu
mengesankan. Sedangkan
kerja
sama internal tidak
sinkron
seperti diharapkan
dari
sebuah kabinet yang
kompak.
Karena
sejak
pembentukannya telah
ditandaskan
bahwa
para penteri
menandatangani
semacam
kontrak untuk
setahun,
sementara
kinerja
mereka masing-masing
dinilai,
maka
logis jika
dilakukan
pembenahan
pada
kabinet ini.
Pada
akhir
Agustus, ketika
di
Jakarta
diselenggarakan
pertemuan
para
redaktur media dari
Eropa
dan
Asia, Presiden SBY
datang
untuk suatu
pertemuan
tanya-jawab.
Saya
tanya, apakah
nanti
setelah kabinet
berumur
setahun akan
dilakukan reshuffle,
penggantian
beberapa
menteri,
seperti
pernah diindikasikan?
Dengan
bersemangat
presiden
menjawab
bahwa
hal itu
memang
akan dilakukan,
karena
ia bertanggungjawab
kepada
rakyat yang memilihnya,
bahwa
pemerintahnya melakukan
tugasnya
sesuai
aspirasi masyarakat.
Terjebak
Hitung-hitungan
Istilah
reshuffle dari
bahasa
Inggris menjadi
populer
dalam bahasa
politik
tahun-tahun 1950-an, ketika
sistem
demokrasi parlementer
diterapkan
di
Republik Indonesia. Kabinet
baru
berumur beberapa
bulan,
maka di
parlemen
dan media
sudah
ramai dipersoalkan
bahwa
beberapa menteri
perlu
diganti, karena
ternyata
tidak
becus. Kabinet
harus
di-reshuffle, seperti
dalam
permainan kartu,
dikocok
ulang.
Tetapi
sepanjang
menyangkut
Kabinet Indonesia
Bersatu
ini, tentu
timbul
pertanyaan, bukankah
kabinet
ini dibentuk
oleh
Susilo Bambang
Yudhoyono?
Pada
awal Oktober
tahun
lalu, SBY dalam
suatu
kesempatan dengan
tegas
menyatakan bahwa
dia
akan memilih
para
menteri kabinetnya
secara
cermat berdasarkan
kompetensi
dan
integritas pribadi.
SBY - JK mampu
meraih 60,62%
dari
jumlah suara,
sedangkan Mega-Hasyim
hanya
mendapat 39,38%. SBY-JK
unggul di 28
propinsi
dan Mega-Hasyim
hanya
mendapat 4 propinsi,
tidak
satu pun di
Pulau
Jawa.
Sebagai
presiden yang
dipilih
langsung untuk
pertama
kalinya dalam
sejarah
politik Indonesia merdeka,
maka SBY
sebenarnya
mendapat
mandat
penuh untuk
menyusun
kabinet
kelas satu.
Namun
ia terjebak
dengan
hitung-hitungan suara
di
parlemen dan
merasa ''minder'',
karena
partai-partai kecil
yang masing-masing
mendapat
alokasi
kursi. ''Seperti
pesawat
Garuda, ternyata
sudah overbooked'',
demikian
kelakar
Jusuf Kalla
ketika
menggambarkan situasi
Rabu
siang, 20 Oktober
tahun
lalu. Artinya,
ketika
ditabulasi, ternyata
mereka yang
dijanjikan
kursi
menteri lebih
banyak
dari jumlah
kursi yang
tersesdia.
Akhirnya,
setelah
proses tawar-menawar,
sementara media
dan
masyarakat menunggu-nunggu
(ada
calon menteri yang
dibangunkan
pukul 22.30
dan mem-fax
biografi
singkatnya
dengan
tulisan tangan),
maka
menjelang tengan
malam
diumumkanlah susunan
kabinet
seperti yang ada
sekarang
ini.
Drs. Faisal Basri,
pakar
ekonomi pada
Rabu
malam (20/10-'04) itu
berkomentar
sambil
menunggu pengumuman
susunan
kabinet yang ditunda-tunda,
''kalau SBY
pada
tahap sekarang
ini
mengalah, maka
ia
nantinya akan
dirongrong
terus.''
Kemudian
ditekankannya: ''Ia
jangan
korbankan kualitas
demi
popularitas. Hal ini
merisaukan.''
Terserah
Anda
sekarang untuk
menilai
kadar kebenaran
kata-kata Faisal
Basri
itu, setahun
setelah
diucapkan.
Jangan
Berharap
Cuplikan
cerita
tentang proses
formasi
Kabinet Indonesia Bersatu
setahun
lalu disajikan
di sini,
sebenarnya
dimaksudkan
sebagai
wanti-wanti pada
kita.
Janganlah mengharapkan
terlalu
banyak dari
kocokan
ulang (reshuffle) kabinet
ini.
Karena inti
persoalan
tersimpul
dalam
hubungan politik yang
kompleks
dan
gaya pribadi yang
saling
berbeda antara RI 1
dan RI 2.
Menurut
para
rekan redaktur media,
paling sedikit
setengah
lusin
menteri sudah
patut
diganti, dan yang
bersangkutan
juga
akan ribut,
karena
dukungan politiknya
toh
tipis.
Di
sisi lain,
sudah
logis juga,
kalau
Partai Golkar
dengan
kepemimpinan Jusuf
Kalla
merasa berhak
akan
beberapa kursi
penting. SBY
juga
perlu hati-hati,
jangan-jangan
di
tengah jalan
menuju 2009,
Partai
Golkar dan PDI-P
melakukan
suatu
aliansi politik.
Dampaknya
akan
mengubah konfigurasi
politik Indonesia.
Pada
tahap
sekarang, lebih
baik
kita tidak
sibuk
berspekulasi, apakah
Menko
Ekonomi akan
diganti
atau tidak,
apakah
Menteri Keuangan
akan
mengundurkan diri
karena
merasa capek
dan Sri
Mulyani Indrawati
akan
pindah dari
Taman
Suropati (Bappenas)
ke
Lapangan Banteng?
Lalu
siapa akan
dicalonkan
ke
Taman Suropati?
Yang penting
pada
tahap sekarang
adalah
mendesak Presiden
Susilo
Bambang Yudhoyono
dan
Wakil Presiden
Jusuf
Kalla bahwa
mengingat
gumpalan
masalah yang
dihadapi
negara
dan bangsa,
maka
bersepakatlah supaya
Kabinet Indonesia
Bersatu II
benar-benar
bermutu
dan kompak.
Penulis,
pengamat
perkembangan
sosial
politik di Indonesia,
serta
masalah internasional,
tinggal
di Jakarta