Pangdam
Benahi
Koter dan
Bentuk Desk
Antiteror
Denpasar
(Bali Post) -
Meletusnya
bom
untuk yang kedua
kalinya
di Bali, 1 Oktober
lalu,
menunjukkan bahwa
aparat,
terutama unsur
Komando
Teritorial (Koter)
yang ada
di
jajajaran Kodam
Udayana
masih lemah.
Kegamangan
dalam
pelaksanaannya mencuat
di awal
reformasi.
Hal ini
dikarenakan
demokratisasi
dan
mencuatnya isu
hak
asasi manusia.
Hal
itu
diakui Pangdam IX/Udayana
Mayjen TNI
Herry
Tjahjana, Kamis
(20/10) kemarin.
Saat
acara coffee morning,
ia
mengakui
karena
tidak optimalnya
kerja
Koter maka
gelagat yang
mecurigakan
maupun
menyusupan para
pelaku
teror tak
tercium.
Kata
Pangdam,
sesuai
undang-undang, TNI bersama
Polri
sebagai institusi
terdepan
mengemban
tanggung
jawab
keamanan dan
pertahanan.
Oleh
karena
itu, TNI-Polri
senantiasa
ikut
ambil bagian
dalam
memerangi teroris
yang notabene
sebagai
musuh negara.
Kata
Pangdam,
sesuai
instruksi Presiden
Susilo
Bambang Yudhoyono
pada HUT ke-60 TNI, TNI
kembali
diberikan ruang
dan
peran terutama
dalam
konsentrasi melawan
ancaman
kedaulatan negara.
Hal ini
menyangkut
meredam
terorisme dan
mengatasi
musuh
ideologi Pancasila,
baik
berhaluan kanan
muapun
kiri dan
juga
sparatisme.
Dikatakannya,
institusi TNI yang
memiliki
komando
teritorial
dinilai
strategis
melawan
musuh-musuh yang sulit
dijamah.
Karena
itu,
Koter yang memiliki
basis intelijen
kuat
dalam berbagai
kondisi
diupayakan lebih
diberdayakan.
Keberadaan
Koter
itu, jelas
Pangdam,
secara
struktural mulai
dari level
terbawah
yakni
Babinsa -- Bintara
Pembina Desa --
meningkat
ke
jenjang lebih
tinggi
Koramil, Kodim,
Korem
dan Kodam.
Sistem
lapor cepat yang
menjadi
bagian dari
kinerja
Koter diyakini
oleh
Herry Tjahjana
sangat
efektif, segala
hal yang
bergejolak
dan
terindikasi kriminal
akan
cepat
terdeteksi.
Cara-cara
pencegahan
dini
itu merupakan
langkah
antisipasi yang baik
meredam
segala bentuk
ancaman yang
sifatnya
destruktif
maupun
subversi.
''Secara
institusi
Koter
itu telah
eksis
sejak dulu
dengan
kinerja andalan
lapor
cepat dan
tindakan
cepat
melalui
mekanisme
botton-up.
Metode
itu
sangat efektif
dimanfaatkan
pada era
sebelum
reformasi.
Hanya
embusan
semilir angin
reformasi
dalam
beberapa tahun
ini
peran Koter
boleh
dianggap ''dikebiri''
atau
kurang optimal.''
Ia
juga
menambahkan, pengembangan
Koter
ke depan
akan
berbeda dengan
sebelumnya.
Hal ini
terkait
dengan ditariknya
peran
sosial politik TNI.
Dan, ini
memberi
jaminan kuat, TNI
tidak
akan
lagi
terlibat pada
politik
praktis.
Asumsinya,
buku
putih tentang
netralitas TNI yang
ditandai
dihapusnya
peran
sospol TNI dan
juga
ditariknya TNI dari
parlemen
sejak 2004
sebagai
salah satu
indikator.
Dikatakannya,
fakta
dan bukti
itu
merupakan komitmen
TNI tetap
konsekuen
pada
kitahnya.
Dalam
platform TNI sebagai
pembela
pertahanan negara,
TNI pelindung
rakyat
dan juga
pengayom
rakyat.
Terkait
pembentukan
Dewan
Keamanan Daerah (DKD)
Bali,
ia
pun menyambut
postif.
Meski demikian,
ia
mengharapkan agar
lembaga-lembaga yang
ada
saat ini
lebih
diefektifkan. ''Kehadiran
Dewan
Keamanan Daerah Bali
cukup
baik.
Apalagi
dalam
tingkat implementasi
nantinya DKD
mampu
beperan optimal,
mengedepankan koordinasi
dan
sinergi lintas
instansi.
Akan
sangat
menjanjikan jika DKD
mengedepankan
manajemen
kerja yang
bersinergi
baik
dengan rakyat
maupun
Koter yang secara
institusi
telah
eksis dan
memberi
hasil kongkret
pada era
sebelumnya,''
harap
Herry Tjahjana.
Selain
menyambut
pembentukan DKD,
ia
juga
menyatakan Kodam IX/Udayana
segera
membentuk Desk Antiteror
(DA) yang terpusat
di
Denpasar, Bali.
Keberadaan
desk tersebut
senantiasa
diharapkan
mampu
bekerja optimal, terutama
dalam
mencegah kemungkinan
munculnya
aksi
teror bom
di
wilayah Kodam IX/Udayana
yang membawahi
Bali, NTB dan NTT.
80 Orang
Pangdam
juga
menjelaskan ada
informasi
bahwa
sekitar 80 orang yang
baru
saja dinyatakan lulus
dari ''sekolah''
teroris yang
ada di
suatu
daerah di Filipina.
Dari lulusan
itu, 18
orang di
antaranya
tercatat
warga
negara
Indonesia.
Sehubungan
dengan
itu, ia
mengharapkan
seluruh
lapisan masyarakat
dapat
meningkatkan kewaspadaannya,
antara lain
dengan
secepatnya melaporkan
kepada
pihak keamanan
bila di
daerahnya
menemukan
hal-hal
tidak diinginkan.
Untuk
ukuran
teroris, jumlah 18
orang
itu sudah
cukup
banyak.
Karena
itu,
terorisme harus
dilawan
bersama dengan
pola
sinergi antara
Polri, TNI
dan
rakyat.
Sebab,
keamanan
dan
kenyamanan
Bali
sangat
penting.
Terlebih
Bali sebagai
pusat
perhatian dunia
khususnya
di
sektor pariwisata.
Namun,
di satu
pihak Bali,
demikian pula Jakarta,
juga
jadi target para
teroris,
karena
diyakini
akan
meningkatkan
posisi
tawar mereka
di
tingkat internasional.
Dan, hal
ini
merupakan ancaman
kelangsungan
bangsa
dan negara.
(kmb11)