Gerabah
Lombok--------------------------
Berakar
di Desa,
Menembus
Pasar
Luar Negeri
Berbagai
desain
kerajinan gerabah
sarat
dengan nilai
seni,
di samping
memiliki
makna
sosio kultural yang
begitu
kental.
Terlahir
dari
tangan-tangan piawai
masyarakat
pedesaan,
kerajinan
gerabah
ini telah
mengisi
ruang-ruang bergengsi
seperti hotel,
restoran
dan
rumah mewah.
Para turis
terpikat,
memesan
dalam jumlah
besar,
namun sudahkah
penghasilan
perajin
terangkat?
--------------------------------------------------------
Kehidupan
seni
kerajinan masih
berjalan normal
di
Banyumulek, Lombok
Barat.
Ketika
bom
Bali I
tahun 2002
meletus,
hanya
ada sedikit
guncangan.
Malah
di saat
bom
Bali
jilid II
menyusul,
kerajinan
gerabah
tetap berjalan
lancar.
Permintaan
berbagai
jenis
kerajinan ini
tidak
bisa dibilang
sepi.
Selalu
saja
mengalir. Nah, ini
nampak
berbeda dengan
kerajinan
tangan
di kabupaten lain.
Salah
seorang
pengusaha gerabah,
Sahibun,
mengatakan
setelah
bom Bali I meletus,
ia
masih
sempat mengirimkan
permintaan customer
dari
luar negeri.
"Sedangkan
bom Bali II
hampir
tidak ada
pengaruhnya,
karena
semua masih
berjalan
lancar,"
cetusnya.
Dalam
sebulan,
selalu
saja ada
permintaan
dari
luar negeri
seperti
Inggris, Belanda
dan
Australia.
Nilai
pesanannya
mencapai
puluhan
juta rupiah
hingga
ratusan juta
rupiah.
Hal ini
dimungkinkan karena
permintaan
para customer
sudah
mulai dilakukan
lewat e-mail.
Tak
ada
lagi hal yang
sulit
dalam memasarkan
produk
kerajinan.
Hanya,
agen di
Bali
masih
menguasai jaringan
pemasaran yang
luas.
Itulah
sebabnya,
penyaluran
kerajinan
ini
masih melewati
dan
bergantung dari
Bali.
Tidak
bisa
dimungkiri, agen-agen
di Bali
memberikan kontribusi
penting
bagi penyaluran
gerabah
ini.
Perbandingan
permintaan
antara
para agen
di Bali
dan konsumen
langsung
di luar
negeri 80
berbanding 20.
Jaringan
distribusi yang
kuat
lewat
Bali,
memungkinkan
perajin
lokal tetap
eksis.
Pasalnya,
hasil
kerajinan itu
tetap
terbeli. Jikapun
Bali mengalami
musibah
bom, customer
luar
negeri bisa
mengisinya.
"Jadi
tidak
ada masalah,"
tambah
Sahibun.
Investasi
dalam
bidang kerajinan
ini
cukup menguntungkan.
Bayangkan,
Sahibun
memulainya secara
kecil-kecilan
empat
tahun lalu,
namun
kini pesanannya
bisa
senilai ratusan
juta
rupiah.
Barang
kerajinan
miliknya pun
berada
dalam sebuah show
room besar.
Banyak
pengusaha
pengepul yang
mengawali
kariernya
dari
perajin sebagaimana
dirinya.
Secara
umum,
perubahan yang cukup
signifikan
bisa
dilihat di
Banyumulek -- yang
secara
terus-menerus melakukan
penataan
lingkungan.
Tahun
1993, lingkungan
Banyumulek
masih
tergolong kumuh.
Warga
setempat
justru
mengibaratkan memasuki
daerah
itu harus
dengan
menutup hidung
karena
kondisi lingkungan
yang kotor.
Para
perajin
belum memiliki
rumah yang
sehat, yang
dilengkapi
dengan
jamban.
Anak-anak
buang air
bisa
dilakukan
di
depan
rumah.
Sekarang
kondisinya
jauh
berubah. Mereka
kini
malu dengan
kondisi
jorok karena
sudah
banyak tamu yang
datang
ke
sana.
Diperkirakan,
terdapat 100
pengusaha
pengepul
kerajinan
gerabah.
Sedangakan
jumlah
perajinnya mencapai
ribuan
orang, yang berada
di
bawah bendera
pengusaha
tadi.
Para
perajin
tidak hanya
para
orang tua,
melainkan
juga
pelajar yang merasa
terbantu
biaya
sekolahnya.
Sebutlah
Turmuji, yang
merupakan
siswa SMP
kelas II.
"Biaya
sekolah
saya bisa
dari
sini.
Saya
bisa
mendapatkan pah
Rp 20.000
sehari
kalau lagi
banyak
pesanan," ujarnya.
Namun
penghasilannya
bervariasi,
tergantung
dari
pesanan melakukan
pengecatan.
Upah
ditentukan
jumlah
pekerjaan hari
itu.
Sementara
ini,
distribusi penyaluran
gerabah
masih dilakukan
lewat
pelabuhan petikemas
di Surabaya.
Sebetulnya,
semula
sempat ada
pengiriman
dengan
menggunakan kontainer
di
Lombok Barat,
akan
tetapi
biayanya jauh
lebih
tinggi dibandingkan
mengirimkan
langsung
ke
pelabuhan di
Surabaya. "Mengirim
kontainer
lewat
Surabaya
bisa
lebih murah 30
persen,"
ujar Boy
Mayadi,
pengatur transportasi
gerabah
dari Banyumulek
ke luar
daerah.
Biaya
truk
biasa ditanggung
pengusaha
gerabah.
Naiknya
harga BBM
menimbulkan
persoalan
tersendiri,
karena
akan
berpengaruh
terhadap
pengiriman.
Khususnya
ongkos
kerja para
perajin
sudah mulai
dinaikkan,
hanya
para agen
masih
belum mempertimbangkan
kenaikan
harga.
Kondisi
ini
tergolong menyulitkan
pengusaha
di
Banyumulek.
Namun,
hubungan
pengepul
dan
perajin yang cukup
harmonis
mampu
memelihara bisnis
itu
dari keterpurukan.
Boy mengakui
tidak
sedikit pengusaha
yang kolaps
karena
gencarnya persaingan.
Pasalnya,
kerajinan
gerabah
tidak hanya
ada di
Lombok
Barat, melainkan
juga di
Lombok
Tengah dan
Lombok
Timur, sehingga
kompetisi yang
kurang
sehat pun kerap kali
muncul.
Bayangkan,
banyak
komponen yang mempengaruhi
bisnis
ini.
Tidak
hanya
faktor modal dan
mutu
barang kerajinan,
melainkan
juga
hubungan bisnis.
Para pemilik
artshop
misalnya, mesti
punya
hubungan harmonis
dengan
para guide.
Jika
tidak,
sepilah Banyumulek
dari
kunjungan turis.
Persoalannya,
hubungan
harmonis
tersebut
dibingkai
motivasi yang
kurang
sehat.
Seorang guide yang
membawa
tamu misalnya,
harus
diberi ongkos
parkir
Rp 25.000 -- membeli
atau
tidak membeli
barang. "Tamu
membeli
atau tidak
kita
bayar
parkir
kepada guide," cetus
Boy. Namun,
jika
diajak bekerja
sama,
yang ditanyakan
terlebih
dahulu
adalah komisinya --
bukan
ada tidaknya
pesanan.
"Kalau
itu terjadi,
mereka
bisa meminta
komisi
hingga 60 persen,"
tambahnya.
(rab)