kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Kliwon, 20 Oktober 2005

 Properti


Gerabah
Lombok--------------------------
Berakar
di Desa, Menembus Pasar Luar Negeri 

Berbagai desain kerajinan gerabah sarat dengan nilai seni, di samping memiliki makna sosio kultural yang begitu kental. Terlahir dari tangan-tangan piawai masyarakat pedesaan, kerajinan gerabah ini telah mengisi ruang-ruang bergengsi seperti hotel, restoran dan rumah mewah. Para turis terpikat, memesan dalam jumlah besar, namun sudahkah penghasilan perajin terangkat? 

-------------------------------------------------------- 

Kehidupan seni kerajinan masih berjalan normal di Banyumulek, Lombok Barat. Ketika bom Bali I tahun 2002 meletus, hanya ada sedikit guncangan. Malah di saat bom Bali jilid II menyusul, kerajinan gerabah tetap berjalan lancar. Permintaan berbagai jenis kerajinan ini tidak bisa dibilang sepi. Selalu saja mengalir. Nah, ini nampak berbeda dengan kerajinan tangan di kabupaten lain. 

Salah seorang pengusaha gerabah, Sahibun, mengatakan setelah bom Bali I meletus, ia masih sempat mengirimkan permintaan customer dari luar negeri. "Sedangkan bom Bali II hampir tidak ada pengaruhnya, karena semua masih berjalan lancar," cetusnya. Dalam sebulan, selalu saja ada permintaan dari luar negeri seperti Inggris, Belanda dan Australia. Nilai pesanannya mencapai puluhan juta rupiah hingga ratusan juta rupiah. 

Hal ini dimungkinkan karena permintaan para customer sudah mulai dilakukan lewat e-mail. Tak ada lagi hal yang sulit dalam memasarkan produk kerajinan. Hanya, agen di Bali masih menguasai jaringan pemasaran yang luas. Itulah sebabnya, penyaluran kerajinan ini masih melewati dan bergantung dari Bali. Tidak bisa dimungkiri, agen-agen di Bali memberikan kontribusi penting bagi penyaluran gerabah ini. 

Perbandingan permintaan antara para agen di Bali dan konsumen langsung di luar negeri 80 berbanding 20. Jaringan distribusi yang kuat lewat Bali, memungkinkan perajin lokal tetap eksis. Pasalnya, hasil kerajinan itu tetap terbeli. Jikapun Bali mengalami musibah bom,  customer luar negeri bisa mengisinya. "Jadi tidak ada masalah," tambah Sahibun. 

Investasi dalam bidang kerajinan ini cukup menguntungkan. Bayangkan, Sahibun memulainya secara kecil-kecilan empat tahun lalu, namun kini pesanannya bisa senilai ratusan juta rupiah. Barang kerajinan miliknya pun berada dalam sebuah show room besar. Banyak pengusaha pengepul yang mengawali kariernya dari perajin sebagaimana dirinya. Secara umum, perubahan yang cukup signifikan bisa dilihat di Banyumulek -- yang secara terus-menerus melakukan penataan lingkungan.

Tahun 1993, lingkungan Banyumulek masih tergolong kumuh. Warga setempat justru mengibaratkan memasuki daerah itu harus dengan menutup hidung karena kondisi lingkungan yang kotor. Para perajin belum memiliki rumah yang sehat, yang dilengkapi dengan jamban. Anak-anak buang air bisa dilakukan di depan rumah. Sekarang kondisinya jauh berubah. Mereka kini malu dengan kondisi jorok karena sudah banyak tamu yang datang ke sana.  

Diperkirakan, terdapat 100 pengusaha pengepul kerajinan gerabah. Sedangakan jumlah perajinnya mencapai ribuan orang, yang berada di bawah bendera pengusaha tadi. Para perajin tidak hanya para orang tua, melainkan juga pelajar yang merasa terbantu biaya sekolahnya. Sebutlah Turmuji, yang merupakan siswa SMP kelas II. "Biaya sekolah saya bisa dari sini. Saya bisa mendapatkan pah Rp 20.000 sehari kalau lagi banyak pesanan," ujarnya. Namun penghasilannya bervariasi, tergantung dari pesanan melakukan pengecatan. Upah ditentukan jumlah pekerjaan hari itu. 

Sementara ini, distribusi penyaluran gerabah masih dilakukan lewat pelabuhan petikemas di Surabaya. Sebetulnya, semula sempat ada pengiriman dengan menggunakan kontainer di Lombok Barat, akan tetapi biayanya jauh lebih tinggi dibandingkan mengirimkan langsung ke pelabuhan di Surabaya. "Mengirim kontainer lewat Surabaya bisa lebih murah 30 persen," ujar Boy Mayadi, pengatur transportasi gerabah dari Banyumulek ke luar daerah. Biaya truk biasa ditanggung pengusaha gerabah. 

Naiknya harga BBM menimbulkan persoalan tersendiri, karena akan berpengaruh terhadap pengiriman. Khususnya ongkos kerja para perajin sudah mulai dinaikkan, hanya para agen masih belum mempertimbangkan kenaikan harga. Kondisi ini tergolong menyulitkan pengusaha di Banyumulek. Namun, hubungan pengepul dan perajin yang cukup harmonis mampu memelihara bisnis itu dari keterpurukan. 

Boy mengakui tidak sedikit pengusaha yang kolaps karena gencarnya persaingan. Pasalnya, kerajinan gerabah tidak hanya ada di Lombok Barat, melainkan juga di Lombok Tengah dan Lombok Timur, sehingga kompetisi yang kurang sehat pun kerap kali muncul. Bayangkan, banyak komponen yang mempengaruhi bisnis ini. Tidak hanya faktor modal dan mutu barang kerajinan, melainkan juga hubungan bisnis. Para pemilik artshop misalnya, mesti punya hubungan harmonis dengan para guide. Jika tidak, sepilah Banyumulek dari kunjungan turis. 

Persoalannya, hubungan harmonis tersebut dibingkai motivasi yang kurang sehat. Seorang guide yang membawa tamu misalnya, harus diberi ongkos parkir Rp 25.000 -- membeli atau tidak membeli barang. "Tamu membeli atau tidak kita bayar parkir kepada guide," cetus Boy. Namun, jika diajak bekerja sama, yang ditanyakan terlebih dahulu adalah komisinya -- bukan ada tidaknya pesanan. "Kalau itu terjadi, mereka bisa meminta komisi hingga 60 persen," tambahnya. (rab)

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)