kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Kliwon, 20 Oktober 2005

 Pariwisata


Trauma Kebakaran Jenggot
 

BOM memang telah dua kali mengguncang pariwisata Bali. Pertama 12 Oktober 2002 silam tepat di jantung pariwisata Bali, Legian, Kuta. Berikutnya tiga tahun setelah bom di Lergian, tepat pada 1 Oktober 2005 bom kembali meledak di jantung pariwisata Bali, yakni di Kuta dan Jimbaran. Pariwisata Bali yang sudah luka menganga dan belum sembuh, kembali menangis. Bahkan mungkin bukan hanya Bali, pariwisata dunia ikut terguncang.

Pada ledakan bom tahun 2002, kondisinya begitu mencekam dan menakutkan. Kata teror bagaikan hantu gentayangan di siang bolong mencari mangsa. Meski sebenarnya teror bom itu terus gentayangan mencari mangsa -- dengan terjadinya ledakan bom di Hotel JW Marriott, Jakarta dan di depan Kedubes Australia -- juga di Jakarta dan terakhir kembali terjadi di Bali, sepintas dampak teror bom terakhir tidaklah semencekam tahun 2002. Masyarakat terutama wisatawan seakan sudah "kebal" mendengar kata-kata teror bom. Sebab, pada kenyataannya teror bom itu tidak hanya terjadi di Bali, Jakarta atau Indonesia, bahkan negara super canggih seperti AS dan Inggris pun tak luput tembus dari gempuran para teroris.

Hal ini mirip dengan istilah travel advisory yang begitu seram tahun 2002, tetapi semakin "kurang bermakna" sejalan dengan perjalanan waktu. Contoh yang baru saja lewat adalah dalam kasus bom Kuningan dan bom JW Marriott di Jakarta. Dalam hitungan bulan, orang sudah seakan melupakan peristiwa tersebut, sehingga suasana back to normal dalam waktu yang sangat cepat. Demikian pula dari dampak psikologis kejadian bom Legian dengan bom yang di Jimbaran dan Kuta tahun 2005 baru lalu.

Sehari setelah bom Legian 2002, terjadi eksodus besar-besaran wisman dari Bali. Akibatnya dapat dilihat saat itu, jumlah tempat duduk yang ada tidak mampu menampung jumlah penumpang (wisatawan) yang mau keluar meninggalkan Bali. Suasana penuh dengan kepanikan. Bandara Ngurah Rai penuh sesak antrean eksodus. Pada tanggal 13 Oktober 2002, keberangkatan tercatat di atas angka 10 ribu, jauh di atas angka rata-rata bulanan yang sekitar 5.000.  Sebaliknya jumlah kedatangan turun drastis, dari rata-rata 6.000 menjadi di bawah 1.000 orang per hari

Sebagai akibatnya, minggu-minggu setelah peristiwa, tingkat hunian kamar hotel di Bali melorot mencapai di bawah 10%, bahkan banyak yang mencatat angka nol persenSedangkan pascabom Jimbaran-Kuta 2005, tidak ada eksodus secara besar-besaran dan tidak ada kepanikan yang berlebihan. Sehari setelah bom, tanggal 2 Oktober 2005, Bali masih menerima kedatangan 4.434 orang wisman, sedangkan keberangkatan hanya mencapai 7.075 orangMemang, ada selisih 2.611 orang, tetapi angka itu sangat kecil kalau dibandingkan dengan situasi tahun 2002.

Meski seakan sudah "kebal" terhadap isu bom, namun dalam jangka panjang toh dampaknya tampak jelas. Dalam suasana tanpa ada jaminan keamanan, apa mungkin orang akan masih mau pergi untuk berlibur alias berplesir. Jangankan jauh-jauh naik pesawat -- yang belakangan sangat rawan jadi sasaran teror -- masyarakat umum saja mulai enggan dan menjauhi tempat-tempat keramaian seperti pasar swalayan, supermarket dan sejenisnya karena dinilai sangat rawan dan rentan dari incara para teroris (baca: pengebom). Pepatah mengatakan, tidak ada orang yang ingin jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya, hanya keledai bodoh dan nekat yang terantuk dua kali. Apalagi ini menyangkut nyawa taruhannya.

Jika situasinya sudah seperti ini, bagaimana pariwisata Bali menapak langkahnya ke depan? Apakah pariwisata Bali kini di persimpangan jalan? Tentu saja Bali jangan sampai mengalami trauma kebakaran jenggot kedua kalinya. Bali jangan mudah terlena dan melupakan suatu peristiwa, apalagi tragedi hanya oleh buaian puja-puji dan penampakan recovery sesaat. Begitu pariwisata mulai terlihat menggeliat sedikit, semua orang sudah terlena dan lupa mengamankan diri, apalagi lingkungannya. Contohnya pengamanan di hotel-hotel dan beberapa pintu masuk Bali, tampak kendor sebelum terjadinya ledakan bom di Jimbaran dan Kuta, jauh berbeda saat-saat setelah bom Legian tahun 2002.

Demikian pula pengamanan lingkungan, sesaat setelah bom Legian begitu gencar ada sweeping ke rumah-rumah kos, ada aturan tentang Kipem dan segala tetek bengek yang nyaris mengganggu kenyamanan. Belakangan, kendor dan kedodoran lagi. Terlepas dari belum terkuaknya pengebom di Jimbaran dan Kuta, yang jelas dari kasus ini telah terungkap ada tempat kos yang satu kamar didiami sampai empat orang yang tidak jelas pekerjaan dan tujuannya, baik pemilik maupun lingkungannya cuek-cuek saja. Bukankah dalam kasus bom Legian, pelaku Amrozy cs. juga kos seperti itu? Terlepas dari kasus terakhir tidak terbukti sebagai pelaku pengebom, tetapi bukankah ini namanya kebakaran jenggot kedua kalinya? Dan... setelah itu baru ribut-ribut seperti pemadam kebakaran akan menertibkan tempat kos, ya... sama seperti sehabis bom Legian. Kadang, kita memang lengah dan terlalu dungu menjadi keledai yang bodoh, terantuk dan jatuh dua kali, dan semoga tidak berkali-kali saja.

* sugiarta

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)