Eropa Cari Solusi Hadapi Wabah Flu Burung
Luksemburg -
Uni Eropa terus meningkatkan usahanya untuk menghalau
ketakutan publik terhadap pandemi flu burung. Sementara
itu Yunani sedang melakukan pengujian untuk mengetahui
apakah flu burung Asia yang mematikan yang sebelumnya
sudah terdeteksi di Turki dan Romania menyebar lebih
jauh.
Menteri Uni Eropa menggarisbawahi dibutuhkannya
koordinasi global terhadap ancaman pandemi setelah
pembicaraan darurat yang terus dilakukan terhadap makin
meningkatnya perhatian kepada virus H5N1 yang sudah
menewaskan 60 orang di Asia.
Ilmuwan khawatir jika H5N1 dapat bermutasi, menyatukan
gen dengan virus flu manusia yang mampu menimbulkan
infeksi berat hingga mematikan, kemungkinan menewaskan
jutaan orang di seluruh dunia seperti pandemi influenza
pada 1918.
"Avian dan pandemi flu merupakan ancaman global yang
membutuhkan respons koordinasi internasional," kata
menteri-menteri ini setelah mengadakan pembicaraan, yang
memfokuskan baik pada negosiasi perdagangan dunia dan
ancaman flu.
Namun, komisioner kesehatan dan proteksi konsumen Markos
Kyprianou menekankan bahwa flu burung dan flu manusia
memberikan ancaman berbeda. "Faktanya adalah kami
memiliki flu burung di Eropa, namun belum berdampak
terhadap ancaman pandemi manusia. Ini dapat datang dari
virus, dapat datang dari sebuah mutasi virus influenza
lain," katanya kepada wartawan.
Ilmuwan mengkonfirmasi pada akhir pekan lalu jika virus
mematian H5N1 Asia, dibawa terbang oleh burung yang
bermigrasi, sudah dideteksi untuk kali pertama pada
kontinen Eropa di tenggara Romania -- wilayah Danube
Delta.
Kekhawatiran yang mendalam jika virus ini sudah bergerak
jauh di Eropa, Yunani mengatakan antibodi H5 dari flu
burung -- dari sebuah variannya H5N1 -- sudah ditemukan
pada darah seekor kalkun di Oinousses, Pulau Aegean.
Pemerintahan Yunani mengatakan mereka mengirimkan sebuah
sampel kedua dari seekor kalkun kepada laboratorium
khusus di Inggris yang melakukan pengujian terhadap
burung. Laboratorium ini akan memberikan jawaban pasti
dalam sepekan.
Cina, Taiwan, Moskow
Cina melaporkan mereka menemukan penularan pertama dari
flu burung dan mengatakan lebih dari 2.600 burung mati
pada sebuah ladang pertanian di utara wilayah Inner
Mongolia.
Laporan singkat kantor berita Xinhua tidak menyediakan
setiap detail terhadap kapan penularan ini terjadi.
Dari Taiwan, mereka menggelar sebuah pelatihan yang
jarang dilakukan untuk menumpas flu burung saat
ketakutan terhadap virus mematikan ini semakin meningkat.
Staf-staf perbatasan menambah sekitar 1.000 staf
pemerintah untuk mengatasi penyelundupan unggas ke
negara ini yang ditengarai mengidap virus H5N1.
Penyelundupan adalah aksi yang sering terjai antara
Taiwan dengan Cina yang dipisahkan oleh semenanjung
Taiwan dengan panjang 170 kilometer pada jarak
terdekatnya.
Sementara Moskow menyebutkan virus flu burung sudah
terdeteksi di kandang unggas di Propinsi Tula Rusia,
sebelah barat pegunungan Ural. Umumnya dibawa
bebek-bebek liar yang terjangkit, kata Menteri Pertanian
Rusia, Rabu kemarin.
"Sebanyak
3.000 unggas dibantai di Desa Yandovka," sekitar 300
kilometer timur Moskow, "setelah penemuan flu burung di
tujuh ladang pribadi," kata Nikolai Vlasov, deputi
kepala kementerian dinas departemen kontrol hewan.
(ton/afp)