kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Kliwon, 20 Oktober 2005

 Mancanegara


Eropa Cari Solusi Hadapi Wabah Flu Burung

Luksemburg -
Uni Eropa terus meningkatkan usahanya untuk menghalau ketakutan publik terhadap pandemi flu burung. Sementara itu Yunani sedang melakukan pengujian untuk mengetahui apakah flu burung Asia yang mematikan yang sebelumnya sudah terdeteksi di Turki dan Romania menyebar lebih jauh.

Menteri Uni Eropa menggarisbawahi dibutuhkannya koordinasi global terhadap ancaman pandemi setelah pembicaraan darurat yang terus dilakukan terhadap makin meningkatnya perhatian kepada virus H5N1 yang sudah menewaskan 60 orang di Asia.

Ilmuwan khawatir jika H5N1 dapat bermutasi, menyatukan gen dengan virus flu manusia yang mampu menimbulkan infeksi berat hingga mematikan, kemungkinan menewaskan jutaan orang di seluruh dunia seperti pandemi influenza pada 1918.

"Avian dan pandemi flu merupakan ancaman global yang membutuhkan respons koordinasi internasional," kata menteri-menteri ini setelah mengadakan pembicaraan, yang memfokuskan baik pada negosiasi perdagangan dunia dan ancaman flu.

Namun, komisioner kesehatan dan proteksi konsumen Markos Kyprianou menekankan bahwa flu burung dan flu manusia memberikan ancaman berbeda. "Faktanya adalah kami memiliki flu burung di Eropa, namun belum berdampak terhadap ancaman pandemi manusia. Ini dapat datang dari virus, dapat datang dari sebuah mutasi virus influenza lain," katanya kepada wartawan.

Ilmuwan mengkonfirmasi pada akhir pekan lalu jika virus mematian H5N1 Asia, dibawa terbang oleh burung yang bermigrasi, sudah dideteksi untuk kali pertama pada kontinen Eropa di tenggara Romania -- wilayah Danube Delta.

Kekhawatiran yang mendalam jika virus ini sudah bergerak jauh di Eropa, Yunani mengatakan antibodi H5 dari flu burung -- dari sebuah variannya H5N1 -- sudah ditemukan pada darah seekor kalkun di Oinousses, Pulau Aegean.

Pemerintahan Yunani mengatakan mereka mengirimkan sebuah sampel kedua dari seekor kalkun kepada laboratorium khusus di Inggris yang melakukan pengujian terhadap burung. Laboratorium ini akan memberikan jawaban pasti dalam sepekan.

 

Cina, Taiwan, Moskow

Cina melaporkan mereka menemukan penularan pertama dari flu burung dan mengatakan lebih dari 2.600 burung mati pada sebuah ladang pertanian di utara wilayah Inner Mongolia.

Laporan singkat kantor berita Xinhua tidak menyediakan setiap detail terhadap kapan penularan ini terjadi.

Dari Taiwan, mereka menggelar sebuah pelatihan yang jarang dilakukan untuk menumpas flu burung saat ketakutan terhadap virus mematikan ini semakin meningkat.

Staf-staf perbatasan menambah sekitar 1.000 staf pemerintah untuk mengatasi penyelundupan unggas ke negara ini yang ditengarai mengidap virus H5N1.

Penyelundupan adalah aksi yang sering terjai antara Taiwan dengan Cina yang dipisahkan oleh semenanjung Taiwan dengan panjang 170 kilometer pada jarak terdekatnya.

Sementara Moskow menyebutkan virus flu burung sudah terdeteksi di kandang unggas di Propinsi Tula Rusia, sebelah barat pegunungan Ural. Umumnya dibawa bebek-bebek liar yang terjangkit, kata Menteri Pertanian Rusia, Rabu kemarin.

"Sebanyak 3.000 unggas dibantai di Desa Yandovka," sekitar 300 kilometer timur Moskow, "setelah penemuan flu burung di tujuh ladang pribadi," kata Nikolai Vlasov, deputi kepala kementerian dinas departemen kontrol hewan. (ton/afp)

  

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)