kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Kliwon, 20 Oktober 2005

 Mancanegara


Saddam Tetap Mengaku Presiden
 

Baghdad -
Bp/rtr
Diadili - Saddam Hussein berbicara di depan hakim ketua Rizgur Ameen Hana Al-Saedi saat diadili di Irak, Rabu (19/10) kemarin. Berada di sebelahnya adalah para terdakwa yang merupakan tangan kanan Saddam saat memerintah di negeri kaya minyak tersebut.

Saddam Hussein tetap keras kepala. Ia terus menyatakan dirinya adalah ''Presiden'' Irak saat disidang Rabu (19/10) kemarin. Ia menolak untuk hanya menyebutkan namanya saat hadir pada ruang sidang di hari pertama pengadilan yang mendapat perhatian seluruh dunia.

Saddam yang memegang sebuah kitab suci tua dan dalam keadaan yang memprihatinkan, hadir dengan mood yang menantang saat dibawa ke ruang sidang dengan melancarkan kata-kata yang kurang sopan kepada hakim dan legitimasi dari pengadilan. Ia dan tujuh mantan anak buahnya menjalani persidangan terhadap tindak kejahatan yang menentang asas-asas kemanusiaan terhadap pembantaian kaum Shiah pada 1982.

Setelah memasuki ruang sidang, Saddam yang tidak diborgol dan mengenakan stelan abu-abu dan kemeja dengan kerah terbuka, duduk bersama tersangka lain. Hakim kepala Rizgar Mohammed Amin kemudian bertanya kepada Saddam untuk menyebutkan nama, profesi dan nama suku. Ia kemudian menolak untuk memberikan namanya atau menjawab pertanyaan lainnya. Siaran televisi kemudian mengalihkan acara dengan penundaan selama 30 menit. ''Sebagai catatan, saksi menolak untuk menyebut namanya,'' kata hakim.

Saddam -- yang masih bisa dikenali dengan trademark jenggotnya yang kini bercorak abu-abu -- tidak memiliki kemauan untuk bekerja sama dan membuat suasana semakin panas.

Amin yang memiliki rambut perak, mengenakan dasi bergaris dan jubah hitam berujar, ''Saat ini saya ingin anda untuk sebentar saja mengucapkan identitas, nama pertama dan kami akan mendengarkan. Anda dapat menjalani hari anda dan kami akan memberikan sebuah kesempatan untuk berbicara. Kami tidak punya waktu untuk mendengar opini anda. Santai saja dan katakan siapa anda.''

Saddam kemudian membuka mulutnya dan berkata, ''Saya katakan saya tidak akan menjawab pada sidang pengadilan ini, dengan semua kehormatannya. Dan, saya mendapatkan hak konstitusional saya sebagai Presiden Irak, saya tidak akan berkata lebih jauh. Saya tidak akan mengakui pemerintahan yang memberikan kekuasaan kepada anda atau agresi karena semua yang berdasarkan atas kebohongan tetap merupakan kebohongan.''

''Saya Presiden Irak. Saya tetap pada posisi saya jika pengadilan ini tidak legitimate. Pengadilan ini salah dan apa pun yang dibangun berdasarkan kesalahan tetap merupakan sebuah kesalahan.''

Saddam juga menolak untuk memberikan kartu identitasnya untuk penyelidikan. ''Tuan Saddam kami membutuhkan kartu identitas, ini merupakan formalitas,'' kata hakim.

Saddam Hussein menyatakan dirinya tidak bersalah Rabu kemarin terhadap tuntutan tindak kriminal yang melawan kemanusiaan. ''Saya katakan apa yang saya katakan, saya tidak bersalah, saya bersih,'' kata Saddam kepada pengadilan setelah hakim membacakan tuntutan, termasuk tindak kekejaman dan pembunuhan terhadap lebih dari 140 penduduk desa warga Shiah 1982.

Setelah beberapa jam sidang yang umumnya berputar pada masalah prosedural, hakim kepala Amin menangguhkan persidangan hingga 28 November. Pengacara Saddam, Khalil al-Dulaimi, yang terus melayangkan keluhan karena tidak memiliki cukup waktu untuk mempersiapkan sebuah pembelaan, sebelumnya meminta penundaan selama tiga bulan.

Masalah lain yang terjadi pada ruang pengadilan di pagi hari itu adalah masalah pada sistem suara, yang memaksa penghentian selama 10 menit. (ton/afp)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)