Saddam Tetap
Mengaku
Presiden
Baghdad -
Bp/rtr
Diadili - Saddam Hussein berbicara di depan hakim ketua
Rizgur Ameen Hana Al-Saedi saat diadili di Irak, Rabu
(19/10) kemarin. Berada di sebelahnya adalah para
terdakwa yang merupakan tangan kanan Saddam saat
memerintah di negeri kaya minyak tersebut.
Saddam
Hussein tetap
keras
kepala. Ia
terus
menyatakan dirinya
adalah ''Presiden''
Irak
saat disidang
Rabu (19/10)
kemarin.
Ia
menolak untuk
hanya
menyebutkan namanya
saat
hadir pada
ruang
sidang di
hari
pertama pengadilan
yang mendapat
perhatian
seluruh
dunia.
Saddam yang memegang
sebuah
kitab suci
tua dan
dalam
keadaan yang memprihatinkan,
hadir
dengan mood yang menantang
saat
dibawa ke
ruang
sidang dengan
melancarkan
kata-kata yang
kurang
sopan kepada
hakim
dan legitimasi
dari
pengadilan. Ia
dan
tujuh mantan
anak
buahnya menjalani
persidangan
terhadap
tindak
kejahatan yang menentang
asas-asas
kemanusiaan
terhadap
pembantaian
kaum
Shiah pada 1982.
Setelah
memasuki
ruang
sidang, Saddam yang tidak
diborgol
dan
mengenakan stelan
abu-abu
dan kemeja
dengan
kerah terbuka,
duduk
bersama tersangka
lain. Hakim kepala
Rizgar Mohammed
Amin
kemudian bertanya
kepada Saddam
untuk
menyebutkan nama,
profesi
dan nama
suku.
Ia kemudian
menolak
untuk memberikan
namanya
atau menjawab
pertanyaan
lainnya.
Siaran
televisi kemudian
mengalihkan
acara
dengan penundaan
selama 30
menit. ''Sebagai
catatan,
saksi
menolak untuk
menyebut
namanya,''
kata
hakim.
Saddam -- yang masih
bisa
dikenali dengan
trademark jenggotnya yang
kini
bercorak abu-abu --
tidak
memiliki kemauan
untuk
bekerja sama
dan
membuat suasana
semakin
panas.
Amin
yang memiliki
rambut
perak, mengenakan
dasi
bergaris dan
jubah
hitam berujar, ''Saat
ini
saya ingin
anda
untuk sebentar
saja
mengucapkan identitas,
nama
pertama dan
kami
akan mendengarkan.
Anda
dapat menjalani
hari
anda dan
kami
akan memberikan
sebuah
kesempatan untuk
berbicara.
Kami
tidak punya
waktu
untuk mendengar
opini
anda. Santai
saja
dan katakan
siapa
anda.''
Saddam kemudian
membuka
mulutnya dan
berkata, ''Saya
katakan
saya tidak
akan
menjawab pada
sidang
pengadilan ini,
dengan
semua kehormatannya.
Dan, saya
mendapatkan
hak
konstitusional saya
sebagai
Presiden Irak,
saya
tidak akan
berkata
lebih jauh.
Saya
tidak akan
mengakui
pemerintahan yang
memberikan
kekuasaan
kepada
anda atau
agresi
karena semua yang
berdasarkan
atas
kebohongan tetap
merupakan
kebohongan.''
''Saya
Presiden Irak.
Saya
tetap pada
posisi
saya jika
pengadilan
ini
tidak legitimate. Pengadilan
ini
salah dan
apa pun yang
dibangun
berdasarkan
kesalahan
tetap
merupakan sebuah
kesalahan.''
Saddam juga
menolak
untuk memberikan
kartu
identitasnya untuk
penyelidikan. ''Tuan Saddam
kami
membutuhkan kartu
identitas,
ini
merupakan formalitas,''
kata
hakim.
Saddam Hussein menyatakan
dirinya
tidak bersalah
Rabu
kemarin terhadap
tuntutan
tindak
kriminal yang melawan
kemanusiaan. ''Saya
katakan
apa yang saya
katakan,
saya
tidak bersalah,
saya
bersih,'' kata Saddam
kepada
pengadilan setelah
hakim
membacakan tuntutan,
termasuk
tindak
kekejaman dan
pembunuhan
terhadap
lebih
dari 140 penduduk
desa
warga Shiah 1982.
Setelah
beberapa jam
sidang yang
umumnya
berputar pada
masalah
prosedural, hakim
kepala
Amin menangguhkan
persidangan
hingga 28 November.
Pengacara Saddam,
Khalil al-Dulaimi,
yang terus
melayangkan
keluhan
karena tidak
memiliki
cukup
waktu untuk
mempersiapkan
sebuah
pembelaan, sebelumnya
meminta
penundaan selama
tiga
bulan.
Masalah
lain yang terjadi
pada
ruang pengadilan
di pagi
hari
itu adalah
masalah
pada sistem
suara, yang
memaksa
penghentian selama 10
menit.
(ton/afp)