Kecil,
Penggunaan BPO
di Indonesia
Denpasar
(Bali Post) -
Indonesia
merupakan
negara yang
tingkat
konsumsi BPO (bahan
perusak
ozon) di
bawah 0,3
kg/kapita/tahun.
Nilai
ini
termasuk kecil,
di mana
sampai
akhir tahun 2003,
Indonesia
telah
berhasil menghapuskan
pemakaian BPO
lebih
dari 4.000 metrik
ton.
Hal ini
dikatakan Deputi
Bidang
Peningkatan Konservasi
Sumber
Daya Alam
dan
Pengendalian Kerusakan
Lingkungan
Dra.
Masnellyarti
Hilman,
M.Sc., Rabu (19/10)
kemarin
di Denpasar.
''Tantangan
berikut yang
harus
dihadapi adalah
penghapusan
sisa BPO yang
berkisar 7.900
metrik ton,
termasuk
penggunaan HCFC
sampai
tahun 2040,'' ujarnya.
Mengenai
kerusakan
ozon di
Indonesia, menurut
Masnellyarti,
masih
belum dapat
diketahui
secara
pasti karena
memerlukan
teknologi yang
canggih.
Jadi,
untuk
mengetahui seberapa
parah
penipisan ozon
di
Indonesia
dapat
dilihat dari
hasil
survai penyakit
katarak.
''Dari survai,
kebanyakan
penderita
katarak
bertempat tinggal
di
daerah pantai
di mana
sinar UV (ultra violet)
mengenai
secara
langsung, '' katanya.
Hal ini
membuktikan
bahwa
lapisan ozon
di
Indonesia
mulai
ke taraf yang
mengkhawatirkan,
di mana
tiap
orang terutama
di
daerah pantai
harus
menggunakan pelindung
seperti
kacamata untuk
menghindari
bahaya
sinar UV-B.
Lapisan
ozon
berguna untuk
menyerap
radiasi
sinar ultraviolet-B yang
berbahaya bagi
kehidupan.
Sinar
UV-B ini
dapat
menyebabkan katarak,
kanker
kulit, penurunan
daya
tahan tubuh
terhadap
infeksi
dan juga
menyebabkan
kerdilnya
tanaman.
Untuk
mencegah
makin
menipisnya lapisan
ozon,
pihak Indonesia menurut
Masnellyarti
telah
ikut berpartisipasi
dengan
cara
memberikan
bantuan
peralatan recycling terhadap
perusahaan
baik
kecil maupun
besar.
''Dengan
alat recycling
ini
diharapkan agar zat
hasil
pembuangan pabrik
dapat
dipakai kembali,''
ujarnya.
Masnellyarti
mengatakan
zat yang
dapat
merusak lapisan
ozon
antara lain CFC (banyak
digunakan
sebagai
pendingin pada
kulkas, AC
dan dispenser), TCA
dan CTC (solvent
pada
industri elektronika),
Halon
1211 dan 1301 (digunakan
pada
pemadam kebakaran)
dan
Metil Bromida yang
biasa
dipakai untuk
bahan
antihama.
Untuk
menekan
pemakaian BPO tersebut,
Mesnellyarti
berharap agar
semua
lapisan masyarakat
ikut
berperan.
''Masyarakat
dapat
ikut berpartisipasi
dengan
memakai alat
pendingin yang
bebas CFC
atau
menggunakan produk
yang ramah
lingkungan,''
ujarnya.
(san)