kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Kliwon, 20 Oktober 2005

 Bali


Kecil
, Penggunaan BPO di Indonesia 

Denpasar (Bali Post) -
Indonesia
merupakan negara yang tingkat konsumsi BPO (bahan perusak ozon) di bawah 0,3 kg/kapita/tahun. Nilai ini termasuk kecil, di mana sampai akhir tahun 2003, Indonesia telah berhasil menghapuskan pemakaian BPO lebih dari 4.000 metrik ton.

Hal ini dikatakan Deputi Bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan Dra. Masnellyarti Hilman, M.Sc., Rabu (19/10) kemarin di Denpasar. ''Tantangan berikut yang harus dihadapi adalah penghapusan sisa BPO yang berkisar 7.900 metrik ton, termasuk penggunaan HCFC sampai tahun 2040,'' ujarnya.

Mengenai kerusakan ozon di Indonesia, menurut Masnellyarti, masih belum dapat diketahui secara pasti karena memerlukan teknologi yang canggih. Jadi, untuk mengetahui seberapa parah penipisan ozon di Indonesia dapat dilihat dari hasil survai penyakit katarak. ''Dari survai, kebanyakan penderita katarak bertempat tinggal di daerah pantai di mana sinar UV (ultra violet) mengenai secara langsung, '' katanya. Hal ini membuktikan bahwa lapisan ozon di Indonesia mulai ke taraf yang mengkhawatirkan, di mana tiap orang terutama di daerah pantai harus menggunakan pelindung seperti kacamata untuk menghindari bahaya sinar UV-B.

Lapisan ozon berguna untuk menyerap radiasi sinar ultraviolet-B yang berbahaya bagi kehidupan. Sinar UV-B ini dapat menyebabkan katarak, kanker kulit, penurunan daya tahan tubuh terhadap infeksi dan juga menyebabkan kerdilnya tanaman.

Untuk mencegah makin menipisnya lapisan ozon, pihak Indonesia menurut Masnellyarti telah ikut berpartisipasi dengan cara memberikan bantuan peralatan recycling terhadap perusahaan baik kecil maupun besar. ''Dengan alat recycling ini diharapkan agar zat hasil pembuangan pabrik dapat dipakai kembali,'' ujarnya.

Masnellyarti mengatakan zat yang dapat merusak lapisan ozon antara lain CFC (banyak digunakan sebagai pendingin pada kulkas, AC dan dispenser), TCA dan CTC (solvent pada industri elektronika), Halon 1211 dan 1301 (digunakan pada pemadam kebakaran) dan Metil Bromida yang biasa dipakai untuk bahan antihama.

Untuk menekan pemakaian BPO tersebut, Mesnellyarti berharap agar semua lapisan masyarakat ikut berperan. ''Masyarakat dapat ikut berpartisipasi dengan memakai alat pendingin yang bebas CFC atau menggunakan produk yang ramah lingkungan,'' ujarnya. (san)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)