Terkait Usulan Otonomi Khusus (1)--
Saatnya Bertanya pada Rakyat Bali
Oleh I Wayan Juniartha
Adalah sebuah hal yang wajar kalau sesudah serangan
teroris yang baru lalu, sejumlah orang Bali menuntut
status otonomi khusus (otsus). Tuntutan ini adalah
ledakan kemarahan terpendam orang Bali. Bom di Kuta dan
Jimbaran itu hanyalah pemicu.
KEMARAHAN
terpendam itu tersusun atas sejumlah persepsi yang belum
tentu benar -- tentang kelalaian, kerakusan serta
ketidakpekaan pemerintah pusat terhadap aspirasi
masyarakat Bali. Ketegaan pemerintah pusat untuk tetap
memberlakukan Visa on Arrival (VoA) saat pariwisata Bali
masih terhuyung-huyung serta keengganannya untuk berbagi
keuntungan Bandara Ngurah Rai serta Pelabuhan Benoa
melahirkan persepsi bahwa pemerintah pusat rakus dan
memperlakukan Bali sebagai sapi perahan semata.
Berlarut-larutnya proses eksekusi Amrozy dkk., ''diselamatkannya''
para terpidana mati ini ke Nusakambangan, terulangnya
kembali serangan bom di perut Bali, melahirkan persepsi
bahwa pemerintah pusat tak hanya lalai menjaga Bali
tetapi juga tidak peka pada aspirasi orang Bali. Tidak
bertindaknya pemerintah pusat saat kelompok radikal
menyerang masjid dan menutup sejumlah gereja di Pulau
Jawa melahirkan persepsi bahwa pemerintah pusat memang
tidak punya keberanian menghadapi radikalisme, bahwa
pemerintah pusat memang enggan melindungi kelompok
minoritas.
Bagi sejumlah besar orang Bali, yang selama
bertahun-tahun ini memang terkena paranoia minoritas
karena kencangnya arus pendatang, maraknya pembangunan
tempat ibadah di luar Hindu serta berbagai selebaran
gelap tentang dominasi agama tertentu, persepsi semacam
ini menjadi sebuah pertanda makin tak pastinya masa
depan kelompok minoritas. Kalau semua persepsi ini
dicampur aduk dalam satu bejana maka yang mengkristal
adalah kekecewaan, kemarahan dan ketakutan. Saat bejana
itu meledak, yang terlontar ke luar adalah tuntutan
untuk membiarkan Bali tetap di tangan orang Bali.
Sebuah tuntutan yang berangkat dari pengandaian bahwa
Bali akan gemah ripah loh jinawi jika penghasilan
pariwisatanya tidak dibawa lari ke Jakarta dan jika
orang Bali diberikan kewenangan penuh untuk mengurus
dirinya sendiri.
Andaikan hidup memang sesederhana itu. Sayangnya, hidup
tak pernah sesederhana itu.
***
Segala percakapan tentang otonomi khusus selama ini
sesungguhnya telah mengabaikan dua hal yang sangat
penting. Pertama, tidak ada jaminan bahwa setelah uang
-- atau wewenang -- dipindahkan dari kantong pemerintah
pusat ke kantong pemerintah daerah maka rakyat Bali akan
menikmati peningkatan kesejahteraan dari uang itu.
Sejarah mengajarkan kita bahwa orang tamak dan jahat
ada di setiap suku, di setiap agama. Bahwa korupsi dan
kesewenang-wenangan terjadi di tingkat pusat maupun di
tingkat daerah. Bahwa eksploitasi Bali selama ini
terjadi bukan cuma karena tangan jahat investor Jakarta,
tetapi juga atas kerja sama senang hati dari para Delem,
Sangut, Sekuni dan Duryudana-nya orang Bali.
Tanpa birokrasi yang bersih, sistem pertanggungjawaban
yang jelas, mekanisme check and balance yang memadai,
pers yang berani dan sehat, serta masyarakat yang pintar,
maka bisa dijamin bahwa otonomi khusus hanya akan
memindahkan korupsi dan penyalahgunaan wewenang dari
raja-raja besar di Jakarta ke raja-raja kecil di Bali.
Paling tidak, bersihkan dulu birokrasi dan lembaga
legislatif sebelum kita menuntut otonomi khusus.
Kita sedang bicara trilyunan rupiah, jumlah yang saat
ini saja sudah membuat para Delem, Sangut serta Sekuni
tergirang-girang untuk segera madeg nata. Sang nata yang
tanpa sastra!
Perlu contoh ketamakan orang Bali? Lihat saja Badung dan
Denpasar, yang kaya raya oleh pariwisata tetapi tidak
pernah berniat membagi keuntungannya sama rata ke
kabupaten-kabupaten lainnya di Bali. Padahal,
kabupaten-kabupaten itu sama-sama menanggung ongkos
sosial, budaya dan lingkungan yang dibawa
pariwisata.
Kedua, hingga saat ini tak pernah jelas apa yang
dimaksud dengan otonomi khusus tersebut, terutama dari
sudut pandang kebutuhan masyarakat Bali. Kata kuncinya
di sini adalah kebutuhan masyarakat, bukannya kebutuhan
atau kepentingan birokrat, cendekiawan, intelektual,
pengamat ini dan pengamat itu.
Wacana otonomi khusus selama ini adalah wacananya kaum
elite. Diskusi-diskusinya pun umumnya hanya melibatkan
pejabat tinggi, pengusaha, birokrat kampus dan
mereka-mereka yang berjas dan berdasi.
Tidak berarti bahwa pendapat mereka salah. Pendapat
mereka benar. Sayangnya, pendapat tersebut hanya
mewakili sekelompok kecil, sangat kecil sesungguhnya,
dari keseluruhan masyarakat Bali.
Jangan heran kalau otonomi khusus kemudian hanya
dimaknai sebagai pengembalian uang hasil
pariwisata Bali, pembagian keuntungan bandara dan
bagaimana mengamankan pariwisata dari ancaman bom,
karena yang terdengar di media memang cuma itu, uang dan
pariwisata. Jangan-jangan kebutuhan dan kepentingan kaum
elite Bali juga cuma berkisar pada uang dan pariwisata.
Pemerintah Propinsi Bali sendiri telah membentuk tim
untuk membahas otonomi khusus. Tim yang beranggotakan
sejumlah intelektual dan politisi mumpuni. Namun,
sehebat apa pun mereka, hasilnya tetap tidak akan mampu
mewakili keseluruhan masyarakat Bali.
Untuk sebuah wacana sepenting ini, sudah saatnya kita
bertanya kepada seluruh masyarakat Bali apakah mereka
benar-benar menginginkan otonomi khusus? Kalau
jawabannya ya, lalu otonomi khusus macam apa yang mereka
inginkan?
Apakah yang diinginkan nyama braya kita di
pelosok-pelosok Karangasem, Bangli, Buleleng dan
Jembrana sesuai selaras dengan keinginan para elite kita?
Apakah mereka menginginkan otonomi khusus, kewenangan di
propinsi atau kabupaten, pembagian PHR menyeluruh,
ataukah subsidi pertanian?
Dengan teknologi yang tersedia saat ini, penjajakan
pendapat semacam ini bukanlah hal yang terlalu sulit dan
jelas tidak akan makan waktu lama. Jajak pendapat ini
penting karena akan menghindarkan kelompok elite Bali
dari satu kesalahan fatal: menceburkan seluruh
masyarakat Bali ke dalam sebuah petualangan politik yang
bisa fatal akibatnya.
Isu separatisme adalah isu yang sangat, sangat
sensitif bagi Indonesia. Gerakan menuntut otonomi khusus,
apalagi dengan mengipas-ngipasi gerakan massa, dengan
cepat bisa menjadi tak terkendali, menjadi tuntutan akan
federalisme atau lebih jauh lagi.
Sungguh tragis kalau kelompok elite Bali
menggiring seluruh masyarakat Bali ke dalam sebuah
perjuangan yang baik tujuan maupun caranya tidak mereka
ketahui atau tidak mereka sepakati.
Lain halnya jika wacana otonomi khusus ini memang
digulirkan semata-mata sebagai batu loncatan --
investasi politik --untuk persiapan merebut posisi Bali
1 beberapa tahun mendatang. Kalau demikian halnya,
seluruh masyarakat Bali harus bersiap-siap untuk memberi
pelajaran kepada para elitenya yang telah berani bermain-main
dengan api.*