Dari
Warung Global
Interaktif Bali Post
LPJ Seret,
Awasi
Spekulan Nakal
TIDAK
hanya
minyak tanah yang
kini
sulit diperoleh
di
pasaran.
Elpiji (liquid petroleum
gass/LPG) yang
biasanya
dikonsumsi
kalangan
menengah
ke atas
pun kini
ikut-ikutan
menghilang
dari
pasaran.
Jika
elpiji
ditemukan di
pasaran
harganya pun sudah
melambung
tinggi
melebihi harga
jual yang
dipatok
Pertamina.
Kelangkaan
ini
harus disikapi
serius
oleh Pertamina,
pemerintah
dan DPRD Bali.
Namun
kita
tidak bisa
hanya
menyalahkan pemeritah
daerah
saja karena
ini
merupakan kebijakan
pemeritah
pusat
tapi seharusnya
melakukan
pengawasan
sebagai
antisipasi spekulan-spekulan
nakal.
Demikian
antara lain
opini
masyarakat yang disampaikan
melalui
acara Warung Global
Radio Global FM Bali 96,5
Kinijani,
Rabu (19/10)
kemarin.
Acara
ini
juga dipancarluaskan
oleh Radio
Singaraja FM
dan Radio
Genta
Swara Sakti Bali.
Berikut
rangkuman
selengkapnya.
------------------------------------------------
Wayan
Gama di
Singaraja
menyatakan
saat
ini harga
elpiji
sudah semakin
mahal
mencapai angka
Rp 80
ribuan,
mencarinya
susah
dan
dapat satu.
Gama
melihat
semakin hari
orang
semakin jarang
berjualan gas,
katanya
pasokannya terlambat,
mungkin.
Menurut
dia hal
ini
terletak pada
sistem
pengawasan yang masih
lemah
terutama sistem
penyalurannya.
Pemerintah
harus
mengambil tindakan
tegas
terhadap para
spekulan
nakal agar
ditindak
secara
tegas, apalagi
ada
rencana kenaikan gas
lagi.
Sinda
di
Siulan melihat
keadaan
seperti sekarang,
tetap
kecurigaan ada
pada
skenario yang lain untuk
menjatuhkan
pemerintahan,
seperti
bisa menggoyang
dalam
sektor BBM yang merupakan
kebutuhan
penting
masyarakat.
Tindakan
tegas
diperlukan oleh
pemerintah
untuk
membuktikan mereka
bermain.
Sekarang
apakah
pemerintah berani
memangkas
mereka yang
dicurigai
bermain
di sektor
ini?
Harga
gas tidak
naik
tapi ongkos
angkut
naik, seperti
ajang
pemanasan saja.
Dewa
Pacung
di Gianyar
berkomentar,
dulu
minyak tanah yang
langka,
sekarang seperti
ini,
apakah betul
tidak
ada elpiji?
Kalau
tidak
ada maka
matilah
usaha kita,
kalau BBM
naik
dia tidak
merasa
masalah tetapi
satu
hal jangan
sampai gas
elpiji
habis.
Dia
berharap
kondisi gas
ini
dipantau agar tidak
ada isu
apakah
ini merupakan
upaya-upaya
mendiskreditkan
pemerintahan
sekarang.
Sementara
pengalamant
Mardika
di Kuta,
mencari gas
elpiji
memang
susah dan
mencarinya
sampai
keliling hingga
semuanya
habis
untuk membeli
bensin
saja, akhirnya
dia
sementara membeli
minyak
tanah. Dia
berharap
semoga
ini hanya
kelangkaan
sesaat
saja, tidak
ada yang
menimbun gas yang
akan
malah
merugikan masyarakat
kecil.
Sedangkan
bagi
Suardana di
Tabanan
tidak masalah
walaupun
harganya
tinggi
dan mengibaratkan
dirinya
sebagai pejabat
dengan
pendapatan cukup,
aman
tidak usah
ngomel-ngomel.
Kenapa
pemerintah
tidak
mau menoleh
dan
melakukan pengawasan
yang ketat?
Menurut
dia sama
saja
elpiji dengan
kenaikan
minyak
tanah, yang dimainkan
oleh
spekulan.
Disperindag
agar turun
memantau
berapa
harga sesungguhnya
dan
memang harus
proaktif
lagi
dalam memantau gas
elpiji.
Iskandar
di
Denpasar menyoal
seretnya
pasokan
elpiji, kebetulan
dirinya
baru datang
dari Jakarta,
di
sana
juga
langka, jadi
harus
memesan terlebih
dulu
dan digantikan
satu
atau dua
hari
kemudian, itu pun
harus
berlangganan. Di
daerah
lainnya juga
sama,
walapun
ada elpiji
harganya pun
mahal
sampai Rp 70-80
ribu,
seharusnya dicarikan
pokok
masalahnya di
mana?
Kalau
betul
karena kerusakan
pada
produksi pemerintah
harus
mengumumkan secara
terbuka
jangan sampai
ada
kesan tentang
kekhawatiran-kekhawatiran
mengenai
adanya
keinginan untuk
menggulingkan
pemerintah.
Sementara
Seger
di Denpasar
menyatakan
pemerintah
kita
punya 'binatang'
langka yang
banyak,
jangan sampai
nanti
pemerintah membuat
statemen
bahwa
elpiji merupakan
barang
langka.
Kita hidup
di
Denpasar, gas elpiji
tidak
ada, minyak
tanah
tidak ada,
kita
akan
makan
mentah-mentah.
Sepertinya
tidak
ada yang peduli, yang
merasakan
cuma
masyarakat kecil
dengan
kondisi seperti
ini.
Dia
kurang tahu
apakah
ada permainan
atau
apa,
langkah
cepat yang perlu
dilakukan
yakni
pengawasan dipercepat
dengan
adanya spekulan-spekulan
kecil yang
mencari
keuntungan sesaat.
Gung Aji
di
Bangli menyatakan
elpiji
di daerahnya
juga
jarang yang menjual
dan
persoalan lainnya,
apalagi
minyak tanah
langka
harganya sampai
Rp 3.500.
Ia
mempertanyakan
pengawasan
dari
pemerintah, elpiji
tergantung
pada
masyarakat menengah
ke atas
sedangkan
dirinya
tidak mampu
membeli gas
tersebut.
Nuraja
di
Tabanan menambahkan,
setelah
diamati pasokan
elpiji
dari pusat
memang
terbatas, karena
adanya
pabrik yang rusak
menyebabkan
produksi
elpiji
berkurang sehingga
pemerintah
mengimpor gas,
masyarakat
di
bawah kurang
memahami
kondisi
ini, spekulan
di
bawah mencari
untung
dengan persoalan
ini,
rupanya diam-diam
pedagang
kecil
mencari kesempatan
dalam
kesempitan.
Pengawasan
dari
semua pihak,
baik
pemerintah maupun
masyarakat
harus
selalu dilakukan.
Menurut
Nyoman
Putra di
Kerobokan,
pejabat,
anggota
dewan atau
dalam
hal ini
pemerintah,
jika
tidak mau
mendengar
suara
rakyat untuk
apa
menjadi
wakil rakyat.
Karena
dipilih
sebagai wakil
rakyat
maka sejatinya agar
menjadi
pelindung rakyat,
penimbun-penimbun
minyak
harus ditindak
tegas.
Seperti
juga
dalam hal
pengisian
elpiji yang
kurang,
apakah tidak
ada
pengawasan?
Dia
berharap
para
pejabat agar lebih
banyak
jalan-jalannya ke
bawah
untuk hal-hal yang
positif
seperti melakukan
pengawasan.
Darmadi
di
Sanur menilai
semua
terkesan menyalahkan
pemerintah,
pemerintah
itu
siapa, mereka
termasuk
orang-orang
kita,
dan persolaan
ini
tergantung pada
wakil
kita, kenapa
mereka
terkesan diam-diam
saja
dan terkesan
wakil
kita tidak
mau
jalan, sementara
keluhan
rakyat begitu
besar.
Seperti
harga
minyak tanah
naik,
tapi kondisi
ini
jalan terus,
tidak
ada tindaklanjutnya.
Tut
De di
Tabanan menyampaikan
solusinya,
untuk
saat ini
sebaiknya
rakyat yang
langsung
mengontrol
kinerja
pemerintah.
Lain halnya
dengan
Jodog di
Denpasar yang
menyatakan,
kalau
kita mengamati
ini
kan
kebijakan
pemerintah
pusat
soal kenaikan BBM
dampaknya pun
didapat
di semua
di
wilayah RI, walaupun
anggota DPRD
dan
pemerintah daerah.
Sekuat
tenaga berbicara
apa
pun tidak
akan
bisa terlalu
banyak
mengerem kebijakan
yang ditelorkan
pemerintah
pusat.
Penyaluran
dari
Pertamina, kalau
tersendat-sendat
di Bali
apakah Pemprop
bisa
membuat gas?
Semua
ini
tergantung dari
Pertamina
sendiri
dalam hal
memasoknya.
Dewa
di
Denpasar mempertanyakan,
kita
punya anggota
dewan
kok diam?
Peran
dewan
di mana
menanggapi
persolaan
ini,
semua pada
naik
rakyat kecil
pada
menjerit, konpensasi
BBM katanya
untuk
rakyat miskin
sementara yang
miskin
banyak yang tidak
dapat,
pemerintah semestinya
betul-betul
turun
tangan menyikapi
persoalan
ini.
Elpiji
pada
kemana, apakah
ini ada
permainan?
Sedangkan
Malen
di Denpasar,
selaku
masyarakat memantau
dan
memberikan saran kepada
pemerintah,
masalah gas
memang
mulai tersendat-sendat
seperti
batuk dan
mungkinkah
batuk
itu akan
menjadi
kronis? Di
tempat
lain awalnya
memang
sudah seret
namun
kita punya
di
Benoa penampungan/pengisian
gas, sudahkah
aparat
sudah turun
mengeceknya,
apakah
pasokannya memang
seret?
*
wisnu