Kualitas
Kesehatan
Jiwa
Masyarakat Kita
DALAM
kehidupan
sehari-hari
akhir-akhir
ini
kita sering
mengamati
meruaknya
sikap
arogan dan
tindakan
destruktif yang
digunakan
sebagai
cara
untuk
mengekspresikan pikiran
dan
perasaan. Kita pun
mengamati
bunuh
diri sering
dipilih
sebagai jalan
pintas
dalam menyelesaikan
masalah.
Tindak
kekerasan
di
lingkungan rumah
tangga
juga terkesan
tambah
marak.
Faktor
penyebabnya,
ada yang
serius,
ada pula yang sepele.
Kita ingin
menatap
fenomena ini
dari
aspek kesehatan
jiwa.
Apa
yang sebenarnya
sedang
terjadi di
sebagian
masyarakat
kita
sekarang ini?
Di
tengah
maraknya jenis-jenis
penyakit yang
sedang
menghantui sebagian
masyarakat
kita
akhir-akhir ini,
seperti flu
burung,
demam berdarah,
polio, kita
tergelitik
untuk
menyoroti penyakit
yang sering
luput
dari perhatian
kita,
yakni penyakit
kejiwaan.
Penyakit
tersebut,
sekarang
ini
sudah merupakan
fenomena yang
memprihatinkan.
Kualitas
kesehatan
jiwa
selama ini
sering
dikaitkan dengan
persoalan
dan
kejadian di
masyarakat yang
bisa
menjadi faktor
penyebabnya.
Misalnya,
kesulitan
ekonomi
keluarga akibat
naiknya
harga BBM atau
tragedi
meledaknya bom, yang
sering
membuat orang trauma,
stres,
atau yang menyebabkan
anggota
keluarganya cacat
fisik
bahkan meninggal.
Kondisi
dan
kejadian seperti
itu
bisa mempengaruhi
keseimbangan
jiwa
atau kualitas
kesehatan
jiwa
seseorang.
Sebaliknya,
kelabilan
jiwa
bisa juga
berdampak
pada
timbulnya jenis
penyakit lain.
Jenis-jenis
penyakit
dalam yang
sering
menimpa organ tubuh
yang vital, selain
bisa
membuat jiwa
seseorang
labil,
juga bisa
timbul
akibat rendahnya
kualitas
kesehatan
jiwa
seseorang. Kasus
bunuh
diri dan
tindak
kekerasan di
lingkungan
rumah
tangga yang cenderung
meningkat
akhir-akhir
ini
bisa juga
akibat
kelabilan jiwa
atau
dengan kata
lain
rendahnya kualitas
kesehatan
jiwa
seseorang.
Dalam
upaya
menanggulangi penyakit
multidimensi
ini,
diperlukan penanganan
menyeluruh
dan
terpadu.
Hal
tersebut
dilakukan
seiring
upaya untuk
meningkatkan
kualitas
kesehatan
jiwa
seseorang yang sangat
berpengaruh
terhadap
kesehatan
jiwa
sosial.
Sebagaimana
jenis
penyakit lain,
penyakit yang
terkait
kejiwaan ini
seyogianya
tidak
diatasi setelah
penyakitnya
parah.
Juga
berlaku
di sini
prinsip
bahwa mencegah
lebih
baik daripada
mengobati.
Timbulnya
kelabilan
jiwa
saat menghadapi
persoalan
besar yang
tak
kunjung terpecahkan
sebenarnya
bisa
dicegah apabila yang
bersangkutan
memiliki
kualias
kesehatan jiwa.
Bunuh
diri tidak
dijadikan
jalan
pintas, tindak
kekerasan
di
lingkungan rumah
tangga
maupun sikap
arogan
di masyarakat
tidak
dijadikan
cara
satu-satunya
untuk
memecahkan masalah.
Persoalan
kuncinya,
bagaimana
mewujudkan
kualitas
kesehatan
jiwa
itu.
Kita hargai
upaya-upaya
penanganan
pasien yang
mengidap
penyakit
kejiwaan
dengan
menerapkan pendekatan
multidisiplin.
Wajar
demikian,
karena
bicara soal
kualitas
kesehatan
jiwa,
tidak lepas
dari
persoalan karakter
dan
perilaku. Perasaan
seperti
suka menyimpan
dendam,
cepat tersinggung,
karakter
seperti
gampang putus
asa,
mudah marah,
akan
sangat
mempengaruhi kesehatan
jiwa
seseorang.
Sebaliknya,
karakter
sabar,
perasaan berbahagia,
besar pula
pengaruhnya.
Fenomena
penyakit
kejiwaan
akhir-akhir
ini
seyogianya mendorong
kita
untuk lebih
serius
menangani dan
menerapkan
pola
hidup sehat.
Perlu
ada
sosialisasi tentang
pemahaman yang
benar
terhadap faktor-faktor
yang bisa
menunjang
terwujudnya
pola
hidup sehat,
secara
perorangan, di
lingkungan
keluarga,
atau di
tengah
masyarakat luas.
Gerakan
melenyapkan
kebiasaan
menenggak
minuman
keras, misalnya,
juga
harus ditempatkan
sebagai
bagian integral dari
upaya
mewujudkan pola
hidup
sehat dan
harus
dilakukan dengan
hati yang
tidak
mendua.
Selain
pendekatan
agamais,
cobalah
tiap persoalan yang
terkait
kejiwaan, mental maupun
moral, karakter
maupun
perilaku, disentuh
pula dengan
pendekatan
praktis
dan kongkret,
di
antaranya lewat
pendekatan
kesehatan.