Malaysia-Thailand Cekcok
Kuala Lumpur -
Malaysia
dan
negara tetangganya,
Thailand, kembali
saling
serang argumentasi
Selasa (18/10)
kemarin. Kuala Lumpur
mengatakan
mereka
tidak akan
mundur
selangkah pun dari
pemberian
ucapan-ucapan
dan
opini, saat
hubungan bilateral
kedua
negara berada
dalam
kondisi yang kurang
baik.
Menteri
Luar
Negeri Syed
Hamid
Albar "sangat
kecewa"
dengan pernyataan
mengenai Malaysia yang
disampaikan
oleh
rekannya asal
Thailand Kantathi
Suphamongkhon,
kata New Straits Times. "Sejauh
saya
tidak ingin
atau
pernah mengajarinya,
ia
tidak seharusnya
memberi
tahu saya
apa yang
saya
bisa atau
tidak
bisa atau
mengenai
ucapan yang
harus
dilontarkan," kata
Syed
Hamid seperti yang
dikutip New Straits Times.
"Ia
mencoba
untuk memperlihatkan
kepada
kami bagaimana
cara
menerapkan hubungan
luar
negeri," katanya.
"Kami
juga
memiliki opini
sendiri.
Bagaimana
mereka
dapat menghentikan
kami
terhadap apa yang
kami
rasakan?" imbuhnya.
Di
Thailand, Selasa
kemarin,
Kantathi
mengatakan
ia
sangat terkejut
dengan
komentar Hamid
baru-baru
ini yang
memaksa
kedua belah
pihak
untuk "dewasa"
terhadap
boikot
barang-barang Thailand oleh
aktivis Malaysia. "Saya
minta
maaf dan
terkejut
bahwa
mereka menggunakan
perkataan yang
tidak
dapat membantu.
Sebuah
kata seperti 'dewasa'
sangat
tidak tepat
untuk
digunakan karena
kami
semua sudah
dewasa,"
kata
Kantathi kepada
wartawan.
Hubungan
bilateral kedua
negara
mengalami ketegangan
sejak 131
muslim Thailand
dari
Propinsi Narathiwat
di
selatan pergi
menuju Malaysia
pada
Agustus. "Hubungan
antara Thailand
dan Malaysia
berada
pada level di
mana
mereka membutuhkan
pembenahan
dan
peningkatan," kata
Kantathi.
Di
tempat
terpisah, Sye
Hamid
berkata kepada
kantor
berita Bernama
bahwa Malaysia
memiliki
sebuah
pendekatan pragmatis
terhadap
kebijakan
luar
negeri dan
hanya
akan turut
campur
pada perkembangan
di Thailand
jika
mereka menyentuh
sisi
keamanan Malaysia.
Sementara
itu,
Deputi Perdana
Menteri
Najib Razak
seperti
dikutip harian Sun
mengatakan, Malaysia "tidak
memiliki
keinginan
apa pun
untuk turut
campur
dalam masalah
di
negara-negara berkuasa."
Saat
ditanyakan
mengenai status
dari 131
muslim Thailand,
ia
mengatakan, "131 orang
tersebut
tidak
diperlakukan sebagai
pengungsi.
Mereka
ditangkap karena
melanggar
hukum
keimigrasian kami."
Najib
mengatakan
bahwa
militer dari
kedua
negara masih
mewawancarai 131
warga Thailand.
Namun
tidak ada
waktu yang
tepat
untuk menyelesaikan
penyelidikan. (ton/afp)