Dari
Warung Global Interaktif Bali Post
Sistem Drainase Belum Jamin Denpasar Bebas Banjir
MUSIM
hujan tiba, banjir di mana-mana.
Sebaiknya dicegah dengan sistem
drainase yang memadai. Musim
hujan tiba, waspadailah banjir.
Mungkin imbauan ini sangatlah tepat
jika didengungkan saat memasuki musim hujan yang
berkisar dari bulan Oktober hingga Desember nanti.
Langkah antisipasi banjir seharusnya
dilakukan sebelum banjir itu datang lebih dulu, namun
mesti dipersiapkan sedini mungkin. Bukan saja di
Jakarta yang padat penduduknya sering dilanda banjir,
kini Denpasar dan
sekitarnya pun menjadi langganan banjir di kala musim
hujan tiba. Langkah Pemkot Denpasar
dalam rangka mengantisipasi banjir yang setiap tahun
datang juga sudah dilakukan, misalnya dengan membuat
drainase atau saluran limbah.
Tetapi agaknya hal itu tidak menjamin, banjir tidak bisa
terelakkan lagi. Belum lagi lemahnya kesadaran
masyarakat
kota
yang sepertinya kurang paham tentang akibat membuang
sampah sembarangan, sehingga menimbulkan penyumbatan got
atau saluran air, akhirnya menjadikan Denpasar langganan
banjir. Genangan air pada akhirnya
menjadi penghambat arus lalu lintas jalan raya.
Banyak harapan yang kemudian muncul,
di antaranya, mestinya pemerintah Kota Denpasar dalam
hal ini mengambil langkah yang tepat jangan sampai
langkah baru diambil setelah kejadian. Apalagi
dana yang dikeluarkan untuk
membangun proyek drainase yang notabene untuk
mengalirkan air dan limbah tampaknya percuma saja,
bahkan ada yang mengatakan buang-buang duit saja. Itulah
antara lain opini yang muncul
dalam acara Warung Global yang disiarkan Selasa (18/10)
kemarin sinergi Radio Global FM Bali dan dipancarluaskan
oleh Radio Genta Swara Sakti Bali dan Radio Singaraja
FM. Berikut rangkuman selengkapnya.
---------------------------------------------
Mahayadi di Denpasar menyatakan bahwa semua yang terjadi
di dunia ini, alamlah yang mengaturnya.
Kalau banjir yang setiap tahunnya
akan selalu datang seperti sekarang ini manusia
hanyalah bisa melakukan langkah antisipasi.
Namun, dia melihat dari beberapa
langkah yang telah dilakukan oleh Pemkot sendiri belum
berjalan sepenuhnya dengan maksimal.
Ia melihat baru 40%.,
mestinya pemerintah bersama seluruh masyarakat mengambil
langkah antisipasi yang tepat, tidak mesti sampai ada
kebanjiran seperti saat ini. Ia
melihat akibat banjir itu disebabkan oleh cara
pembuangan sampah yang tidak benar, begitu juga dengan
saluran pembuangan misalnya got-got yang hanya dipakai
kepentingan pribadi oleh kelompok tertentu untuk jalan
pribadi juga bisa berakibat aliran air kurang lancar
sehingga hujan sekali, banjir pun tak bisa dihindari
lagi.
Pernyataan itu juga dibenarkan oleh Awe yang bermukim di
sekitar Legian.
Ia menyatakan bahwa saluran
drainase yang dibuat oleh Pemkot itu dinilai tidak akan
menyelesaikan masalah. Cita-cita
untuk membuat Legian Kuta menjadi lebih bagus berkat
adanya darainase ini, dinilainya mubazir.
Ia mengharapkan kepedulian
pemerintah terhadap kebersihan lingkungan masyarakat.
Ireng di Bajera yang megaku telah 33 tahun berada di
kawasan pariwisata itu, melihat perkembangan pesat di
sana.
Ia menilai tak perlu proyek
canggih-canggih seperti itu, ia pun mengusulkan agar
semua bangunan yang berada di center dibuat agak lebih
tinggi sehingga kalau hujan turun, air yang mengalir
mengarah ke samping. Kalau
digambarkan bangunannya seperti piramida.
Selain itu pemerintah harus tegas
juga dalam menerapkan sanksi bagi yang membuang sampah
sembarangan, juga harus memikirkan dampak turunnya hujan,
dan dampak yang ditimbulkan pascabanjir. Karena
ia melihat tempat penampungan
air hujan, hutan, sekarang ini sudah mulai lenyap dari
permukaan bumi.
Yogi di Negara juga membenarkan pendapat tersebut.
Menurutnya, selain dari kesalahan manusia itu sendiri,
ia menilai proyek-proyek
selama ini digunakan untuk penyaluran air kurang bagus
kualitas dan pengerjaannya karena banyak dikerjakan oleh
tenaga luar yang kerjanya asal-asalan saja.
Ia mengusulkan kalau ada
proyek semacam ini lagi agar tenaga kerjanya dari Bali
saja.
Anton di Denpasar memberikan beberapa tips. Kalau studi
banding ke desa, bisa dilihat kalau got-got di
sana
tidak ada yang ditutup. Lubangnya harus dibesarkan dan
satu sisi gotnya harus terbuka tetapi sekarang got-got
yang ada di
kota
terlalu kecil dan semua permukaannya tertutup.
Agung Purna Wijaya di Blahbatuh mengajak kita mengingat
kembali konsep Tri Hita Karana, di mana dalam hal ini
hubungan antara manusia dengan palemahan (lingkungannya)
tidak harmonis lagi.
Pura-pura kini sudah dibetonisasi, sampai-sampai untuk
menancapkan dupa saja susah
amat. Itulah keadaan alam kini,
jangan menyalahkan siapa-siapa dalam hal ini.
Ini adalah kesalahan kita semua
karena tidak sayang dengan alam.
Made Santa di sanggulan mengembalikan hal ini kepada
masyarakat.
Kalau dulu musim kemarau masyarakat
menjerit kekurangan air, di musim hujan malah kelebihan
air. Ia juga
menyarankan agar setiap ketua kelompok yang ada di
daerahnya masing-masing mengajak warganya minimal setiap
minggu mengadakan pembersihan sebagai langkah antisipasi.
Bowo di Gianyar menilai hal ini sebagai cerita klasik.
Banjir sudah menjadi kebiasaan saat musim hujan,
sedangkan kemarau pasti akan
terjadi kekeringan. Ini merupakan
ulah manusia yang tidak mematuhi aturan membuang sampah
pada tempatnya. Ia
menilai peraturan-peraturan yang ada sekarang ini hanya
merupakan imbauan saja bagi masyarakat untuk membuang
sampah dengan benar. Dia mengusulkan
perlunya ada sanksi tegas dalam hal ini dan diharapkan
peran serta seluruh masyarakat untuk menjaga kebersihan
lingkungan di sekitarnya.
Lain halnya dengan Indra di Denpasar.
Ia menilai inilah hukum sebab
akibat. Timbul banjir merupakan
akibat membuang sampah sembarangan dan itu harus menjadi
tanggung jawab kita bersama untuk mengambil langkah
antisipasinya.
Kata Sami yang bermukim di Canggu, curah hujan saat itu
memang sangat tinggi, mungkin saja kalau belum ada
drainase air hujan itu
tetap saja menggenang. Dia menilai
semua harus bergerak mengambil langkah antisipasi.
Salah satu jalan yang ia
tawarkan dengan setiap keluarga membuat sumur kering di
masing-masing rumah tangga untuk menyerap air di kala
musim hujan agar air hujan tak tumpah ke jalan.
Jujur di Sanglah menanyakan fungsi drainase dalam hal
ini.
Ia melihat proyek drainase
itu tidak berfungsi, karena kita tak bisa mengatur alam
yang sudah sedemikian rupa dan ke depan langkah manusia
hanya bisa melakukan antisipasi saja.
Made Arsa di Denpasar mengusulkan kepada pemerintah agar
menyetop semua pembangunan khususnya di Denpasar karena
ia menilai jalur hijau yang
dulu mampu menampung air kini tidak bisa lagi akibat
telah dibangun semua.
Ugik di Kediri mengusulkan untuk mengubah metode/sistem
cara bertindak.
Mestinya sebelum hujan turun,
kegiatan gotong royong terus dilakukan.
Ia mengambil contoh seperti
di daerahnya yang setiap minggu mengadakan kegiatan
pembersihan.
Pekak Iluh di Kuta menyatakan bahwa dulu dan sekarang
kenyataannya sudah berbeda.
Kalau dulu go-got tidak ada yang
ditutup dan lubangnya juga besar-besar. Tetapi
lain halnya dengan sekarang got-got malah tertutup bisa
dipakai pejalan kaki dan lubangnya kecil sehingga air
susah mengalir. Apalagi
kebiasaan buruk masyarakat yang membuang sampah
sembarangan menngakibatkan got mampet.
Ia menilai dengan dibuatnya
drainase sebagai saluran air malah akan membuat
pengeluaran biaya percuma. Kalau dikembalikan ke yang
dulu lagi mungkin lebih baik ketimbang dibangun drainase
yang tidak ada fungsinya sama
sekali.
Jinah Barak dalam faksimilinya menyatakan bahwa
kewajiban untuk memelihara lingkungan, air dan masalah
pengairan adalah kewajiban masyarakat bersama, bukan
hanya pemerintah semata.
Jadi pemerintah dalam hal ini
diharapkan untuk membentuk suatu unit kerja yang sangat
memahami sifat-sifat air. Dia
menilai masalah lingkungan sangatlah besar andilnya
dalam memunculkan banjir, di mana pembuangan sampah
masih amburadul. Sampah sering dibuang di got,
tata ruang
kota
belum sepenuhnya dipatuhi.
Masyarakat juga tak peduli lagi dengan pangkung-pangkung.
Sebagai pengunjung terakhir, Jery di Kuta menyatakan,
jika pemerintah mengambil langkah antisipasi penyakit
masyarakat lamban sekali, namun kalau pemerintah
memungut pajak sigap sekali.
Ia kurang setuju kalau
trotoar dibuka kembali. Namun, ia
mengharapkan proyek drainase saat ini dirancang dengan
lebih baik karena biaya yang dikeluarkan amatlah besar.
Yang menjadi kelemahan saat ini ada
pada pemeliharaannya.
*
sikha