kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Wage, 19 Oktober 2005

 Bali

 

Dari Warung Global Interaktif Bali Post
Sistem Drainase Belum Jamin Denpasar Bebas Banjir

MUSIM hujan tiba, banjir di mana-mana. Sebaiknya dicegah dengan sistem drainase yang memadai. Musim hujan tiba, waspadailah banjir. Mungkin imbauan ini sangatlah tepat jika didengungkan saat memasuki musim hujan yang berkisar dari bulan Oktober hingga Desember nanti. Langkah antisipasi banjir seharusnya dilakukan sebelum banjir itu datang lebih dulu, namun mesti dipersiapkan sedini mungkin. Bukan saja di Jakarta yang padat penduduknya sering dilanda banjir, kini  Denpasar dan sekitarnya pun menjadi langganan banjir di kala musim hujan tiba. Langkah Pemkot Denpasar dalam rangka mengantisipasi banjir yang setiap tahun datang juga sudah dilakukan, misalnya dengan membuat drainase atau saluran limbah. Tetapi agaknya hal itu tidak menjamin, banjir tidak bisa terelakkan lagi. Belum lagi lemahnya kesadaran masyarakat kota yang sepertinya kurang paham tentang akibat membuang sampah sembarangan, sehingga menimbulkan penyumbatan got atau saluran air, akhirnya menjadikan Denpasar langganan banjir. Genangan air pada akhirnya menjadi penghambat arus lalu lintas jalan raya. Banyak harapan yang kemudian muncul, di antaranya, mestinya pemerintah Kota Denpasar dalam hal ini mengambil langkah yang tepat jangan sampai langkah baru diambil setelah kejadian. Apalagi dana yang dikeluarkan untuk membangun proyek drainase yang notabene untuk mengalirkan air dan limbah tampaknya percuma saja, bahkan ada yang mengatakan buang-buang duit saja. Itulah antara lain opini yang muncul dalam acara Warung Global yang disiarkan Selasa (18/10) kemarin sinergi Radio Global FM Bali dan dipancarluaskan oleh Radio Genta Swara Sakti Bali dan Radio Singaraja FM. Berikut rangkuman selengkapnya.

 

---------------------------------------------

Mahayadi di Denpasar menyatakan bahwa semua yang terjadi di dunia ini, alamlah yang mengaturnya. Kalau banjir yang setiap tahunnya akan selalu datang seperti sekarang ini manusia hanyalah bisa melakukan langkah antisipasi. Namun, dia melihat dari beberapa langkah yang telah dilakukan oleh Pemkot sendiri belum berjalan sepenuhnya dengan maksimal. Ia melihat baru 40%., mestinya pemerintah bersama seluruh masyarakat mengambil langkah antisipasi yang tepat, tidak mesti sampai ada kebanjiran seperti saat ini. Ia melihat akibat banjir itu disebabkan oleh cara pembuangan sampah yang tidak benar, begitu juga dengan saluran pembuangan misalnya got-got yang hanya dipakai kepentingan pribadi oleh kelompok tertentu untuk jalan pribadi juga bisa berakibat aliran air kurang lancar sehingga hujan sekali, banjir pun tak bisa dihindari lagi.

Pernyataan itu juga dibenarkan oleh Awe yang bermukim di sekitar Legian. Ia menyatakan bahwa saluran drainase yang dibuat oleh Pemkot itu dinilai tidak akan menyelesaikan masalah. Cita-cita untuk membuat Legian Kuta menjadi lebih bagus berkat adanya darainase ini, dinilainya mubazir. Ia mengharapkan kepedulian pemerintah terhadap kebersihan lingkungan masyarakat.

Ireng di Bajera yang megaku telah 33 tahun berada di kawasan pariwisata itu, melihat perkembangan pesat di sana. Ia menilai tak perlu proyek canggih-canggih seperti itu, ia pun mengusulkan agar semua bangunan yang berada di center dibuat agak lebih tinggi sehingga kalau hujan turun, air yang mengalir mengarah ke samping. Kalau digambarkan bangunannya seperti piramida. Selain itu pemerintah harus tegas juga dalam menerapkan sanksi bagi yang membuang sampah sembarangan, juga harus memikirkan dampak turunnya hujan, dan dampak yang ditimbulkan pascabanjir. Karena ia melihat tempat penampungan air hujan, hutan, sekarang ini sudah mulai lenyap dari permukaan bumi.

Yogi di Negara juga membenarkan pendapat tersebut. Menurutnya, selain dari kesalahan manusia itu sendiri, ia menilai proyek-proyek selama ini digunakan untuk penyaluran air kurang bagus kualitas dan pengerjaannya karena banyak dikerjakan oleh tenaga luar yang kerjanya asal-asalan saja. Ia mengusulkan kalau ada proyek semacam ini lagi agar tenaga kerjanya dari Bali saja.

Anton di Denpasar memberikan beberapa tips. Kalau studi banding ke desa, bisa dilihat kalau got-got di sana tidak ada yang ditutup. Lubangnya harus dibesarkan dan satu sisi gotnya harus terbuka tetapi sekarang got-got yang ada di kota terlalu kecil dan semua permukaannya tertutup.

Agung Purna Wijaya di Blahbatuh mengajak kita mengingat kembali konsep Tri Hita Karana, di mana dalam hal ini hubungan antara manusia dengan palemahan (lingkungannya) tidak harmonis lagi. Pura-pura kini sudah dibetonisasi, sampai-sampai untuk menancapkan dupa saja susah amat. Itulah keadaan alam kini, jangan menyalahkan siapa-siapa dalam hal ini. Ini adalah kesalahan kita semua karena tidak sayang dengan alam.

Made Santa di sanggulan mengembalikan hal ini kepada masyarakat. Kalau dulu musim kemarau masyarakat menjerit kekurangan air, di musim hujan malah kelebihan air. Ia juga menyarankan agar setiap ketua kelompok yang ada di daerahnya masing-masing mengajak warganya minimal setiap minggu mengadakan pembersihan sebagai langkah antisipasi.

Bowo di Gianyar menilai hal ini sebagai cerita klasik. Banjir sudah menjadi kebiasaan saat musim hujan, sedangkan kemarau pasti akan terjadi kekeringan. Ini merupakan ulah manusia yang tidak mematuhi aturan membuang sampah pada tempatnya. Ia menilai peraturan-peraturan yang ada sekarang ini hanya merupakan imbauan saja bagi masyarakat untuk membuang sampah dengan benar. Dia mengusulkan perlunya ada sanksi tegas dalam hal ini dan diharapkan peran serta seluruh masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan di sekitarnya.

Lain halnya dengan Indra di Denpasar. Ia menilai inilah hukum sebab akibat. Timbul banjir merupakan akibat membuang sampah sembarangan dan itu harus menjadi tanggung jawab kita bersama untuk mengambil langkah antisipasinya.

Kata Sami yang bermukim di Canggu, curah hujan saat itu memang sangat tinggi, mungkin saja kalau belum ada drainase  air hujan itu tetap saja menggenang. Dia menilai semua harus bergerak mengambil langkah antisipasi. Salah satu jalan yang ia tawarkan dengan setiap keluarga membuat sumur kering di masing-masing rumah tangga untuk menyerap air di kala musim hujan agar air hujan tak tumpah ke jalan.

Jujur di Sanglah menanyakan fungsi drainase dalam hal ini. Ia melihat proyek drainase itu tidak berfungsi, karena kita tak bisa mengatur alam yang sudah sedemikian rupa dan ke depan langkah manusia hanya bisa melakukan antisipasi saja.

Made Arsa di Denpasar mengusulkan kepada pemerintah agar menyetop semua pembangunan khususnya di Denpasar karena ia menilai jalur hijau yang dulu mampu menampung air kini tidak bisa lagi akibat telah dibangun semua.

Ugik di Kediri mengusulkan untuk mengubah metode/sistem cara bertindak. Mestinya sebelum hujan turun, kegiatan gotong royong terus dilakukan. Ia mengambil contoh seperti di daerahnya yang setiap minggu mengadakan kegiatan pembersihan.

Pekak Iluh di Kuta menyatakan bahwa dulu dan sekarang kenyataannya sudah berbeda. Kalau dulu go-got tidak ada yang ditutup dan lubangnya juga besar-besar. Tetapi lain halnya dengan sekarang got-got malah tertutup bisa dipakai pejalan kaki dan lubangnya kecil sehingga air susah mengalir. Apalagi kebiasaan buruk masyarakat yang membuang sampah sembarangan menngakibatkan got mampet. Ia menilai dengan dibuatnya drainase sebagai saluran air malah akan membuat pengeluaran biaya percuma. Kalau dikembalikan ke yang dulu lagi mungkin lebih baik ketimbang dibangun drainase yang tidak ada fungsinya sama sekali. 

Jinah Barak dalam faksimilinya menyatakan bahwa kewajiban untuk memelihara lingkungan, air dan masalah pengairan adalah kewajiban masyarakat bersama, bukan hanya pemerintah semata. Jadi pemerintah dalam hal ini diharapkan untuk membentuk suatu unit kerja yang sangat memahami sifat-sifat air. Dia menilai masalah lingkungan sangatlah besar andilnya dalam memunculkan banjir, di mana pembuangan sampah masih amburadul. Sampah sering dibuang di got, tata ruang kota belum sepenuhnya dipatuhi. Masyarakat juga tak peduli lagi dengan pangkung-pangkung.

Sebagai pengunjung terakhir, Jery di Kuta menyatakan, jika pemerintah mengambil langkah antisipasi penyakit masyarakat lamban sekali, namun kalau pemerintah memungut pajak sigap sekali. Ia kurang setuju kalau trotoar dibuka kembali. Namun, ia mengharapkan proyek drainase saat ini dirancang dengan lebih baik karena biaya yang dikeluarkan amatlah besar. Yang menjadi kelemahan saat ini ada pada pemeliharaannya. 

* sikha

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)