kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Kliwon, 15 Oktober 2005

 Surat Pembaca


Kehidupan yang Lebih Bermartabat
 

Kerusuhan di daerah yang dikarenakan kasus adat, terkadang membuat kita risi untuk membayangkannya. Kejadian seperti itu sebenarnya sudah tidak mengherankan lagi, karena sering terjadi di daerah bagian dari wilayah Bali yang tersohor di dunia karena sikap masyarakatnya yang simpatik dan ramah tamah.

Andaikata kita membayangkan hidup ini sebagai proses produksi di mana hasil dari proses produksi itu adalah sebuah kehidupan yang bermartabat, sebagai misal kita dihargai oleh orang lain karena kita bisa menghargai orang lain dan diri kita sendiri. Kemartabatan itu nantinya diharapkan mampu mengekspresikan kondisi kehidupan bertoleransi, keharmonisan dan kualitas kehidupan yang sebenarnya.

Sebagai masyarakat yang bermartabat pun kita harus mampu mengekspresikan sikap kehidupan yang lebih simpatik dalam membuat maupun menjalankan aturan (awig-awig) kehidupan bermasyarakat. Mungkin awig-awig di masyarakat yang telah lama diterapkan saat ini perlu dikaji kembali sehingga penerapannya lebih manusiawi.

Begitu banyaknya biaya untuk melakukan yadnya tiap hari, tiap rerahinan, maupun odalan di Pura-pura, kalau hal ini kita umpamakan sebagai modal/biaya proses produksi, dan juga begitu banyaknya keberadaan Pura-pura berarti banyak pula Dewa maupun Ida Batara yang kita sungsung, kalau hal ini kita umpamakan sebagai sarana/penunjang proses produksi, maka seharusnya hasil dari proses produksi itu adalah kehidupan kita yang lebih bermartabat, terlepas dari keyakinan kita akan adanya zaman Kali maupun krisis moral.

I Made Dirgayusa
Jl. Gn. Rinjani XI/2X, Monang Maning, Denpasar

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)