Kehidupan yang Lebih Bermartabat
Kerusuhan di daerah yang dikarenakan kasus adat,
terkadang membuat kita risi untuk membayangkannya.
Kejadian seperti itu sebenarnya sudah tidak mengherankan
lagi, karena sering terjadi di daerah bagian dari
wilayah Bali yang tersohor di dunia karena sikap
masyarakatnya yang simpatik dan ramah tamah.
Andaikata kita membayangkan hidup ini sebagai proses
produksi di mana hasil dari proses produksi itu adalah
sebuah kehidupan yang bermartabat, sebagai misal kita
dihargai oleh orang lain karena kita bisa menghargai
orang lain dan diri kita sendiri. Kemartabatan itu
nantinya diharapkan mampu mengekspresikan kondisi
kehidupan bertoleransi, keharmonisan dan kualitas
kehidupan yang sebenarnya.
Sebagai masyarakat yang bermartabat pun kita harus mampu
mengekspresikan sikap kehidupan yang lebih simpatik
dalam membuat maupun menjalankan aturan (awig-awig)
kehidupan bermasyarakat. Mungkin awig-awig di masyarakat
yang telah lama diterapkan saat ini perlu dikaji kembali
sehingga penerapannya lebih manusiawi.
Begitu banyaknya biaya untuk melakukan yadnya tiap hari,
tiap rerahinan, maupun odalan di Pura-pura, kalau hal
ini kita umpamakan sebagai modal/biaya proses produksi,
dan juga begitu banyaknya keberadaan Pura-pura berarti
banyak pula Dewa maupun Ida Batara yang kita sungsung,
kalau hal ini kita umpamakan sebagai sarana/penunjang
proses produksi, maka seharusnya hasil dari proses
produksi itu adalah kehidupan kita yang lebih
bermartabat, terlepas dari keyakinan kita akan adanya
zaman Kali maupun krisis moral.
I
Made Dirgayusa
Jl. Gn. Rinjani XI/2X, Monang Maning, Denpasar