Santa Theresia
dari Avilla
MENURUT
saya, doa batin itu tidak lain dari satu pergaulan yang
sangat ramah, di mana kita sering kali berbicara seorang
diri dengan Dia, tentang Siapa, kita tahu bahwa Ia
mencintai kita (Santa Theresia dari Avilla, dalam 'Libro
de la Vida', 8. KGK 2709)
Kita percaya Oktober tahun ini adalah bulan yang penuh
berkat. Sebab, Hari Raya Galungan dan Kuningan 1927 Saka
berada dalam bulan Oktober 2005, demikian pula bulan
Ramadhan 1426 Hijriyah, dan bagi umat Katolik, bulan
Oktober adalah bulan Rosario.
Hari ini, 15 Oktober, umat Katolik merayakan peringatan
wajib Santa Theresia dari Avilla, seorang santa yang
secara resmi diberi gelar 'Pujangga Gereja', seperti
halnya Santa Katarina dari Siena.
Pada usia 20 tahun, Theresia merasa terpanggil untuk
hidup membiara. Ia memilih biara Karmel di Avilla dan di
sana ia diterima. Biarawati muda ini berhati teguh,
tetapi hatinya masih sering tergoda oleh kerinduannya
akan keluarganya. Di rumahnya, tepatnya di lingkungan
keluarganya Theresia selalu merasa tenteram dan bahagia.
Sebab, hubungan kekeluargaan dengan sanak saudara serta
dengan para tetangganya sangat baik, akrab dan saling
menghargai. Namun, suasana di lingkungan keluarganya itu
terasa baginya menjadi berubah sejak ayahnya, yang amat
mereka kasihi itu, meninggal dunia. Sekalipun Theresia
hidup dalam biara, perubahan yang mendadak itu sangat
mempengaruhi keseimbangan jiwanya. Akibatnya ia jatuh
sakit yang cukup lama.
Rancangan Tuhan bukanlah rancangan Theresia; dan jalan
Theresia bukanlah jalan Tuhan (cf. Yesaya 55:8). Di
pembaringannya selama menanggung penderitaan sakit yang
berkepanjangan itu, hati Theresia malah semakin mantap
dan semakin maju pesat dalam bersamadi dan berserah diri.
Ia memperoleh berbagai kasih karunia dan rahmat,
sehingga ia sering mengalami ekstase. Di antara
pengalamannya itu, ia merasa seolah-olah lubuk hatinya
ditembus oleh kasih Ilahi yang hangat. Theresia yang
juga dikenal dengan nama Theresia dari Yesus itu,
mempersembahkan sakitnya kepada Tuhan dan Tuhan
mengkaruniakan berbagai kasih karunia yang berguna bagi
dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Karena ia pasrah,
Tuhan berkenan menyembuhkannya. Bahkan Tuhan juga
berkenan menganugerahkan karunia berupa visiun atau
penampakan. Tuhan memberi kesempatan kepadanya untuk
dapat melihat penderitaan yang begitu dahsyat yang
dialami oleh para pendosa di neraka. Hal itu dialaminya
pada 1560. Sejak itu ia berikrar untuk selalu berpikir,
berbicara dan bertindak dengan lebih baik dan benar.
Rasul Paulus benar. "Upah dosa ialah maut." (Roma 6:23)
Pengalamannya itu ditulisnya dalam buku-bukunya agar
para pembacanya bertobat. Namun ia sangat hati-hati
karena sadar akan adanya bahaya salah tafsir. Buku-buku
karyanya antara lain berjudul "Camino de Perfeccion', 'Exclamaciones
del Alma a Dios', "Puesias' dan 'Libro de la Vida'.
Melalui buku-bukunya itu Theresia berbicara banyak
mengenai misteri doa.
Semua agama mengenal adanya doa lisan, doa renung, dan
doa batin. Menurut Theresia, karena doa lisan diarahkan
ke luar, dan karena sangat manusiawi, maka pada tempat
pertama doa ini adalah doa rakyat. Tetapi juga doa batin
tidak boleh mengabaikan doa lisan. Doa ini menjadi batin
sejauh kita menjadi sadar, dengan Siapa kita berbicara."
("Camino de Perfeccion', 26, KGK 2704)
Setelah berusia limapuluhan tahun, Theresia dan beberapa
biarawati sekomunitas, berusaha mendirikan biara yang
berpegang teguh pada gerakan Karmel yang murni. Banyak
yang menentang, tetapi ia mendapat dukungan Sri Paus.
Dalam kurun waktu 20 tahun, ia bersama teman-temannya
berhasil mendirikan 17 biara.
Jika pembaca ingin lebih memahami kehidupoan para
Karmelites itu, datanglah ke Pertapaan Karmel di
Ngadireso, Tumpang, Malang, Jatim.