Sebagai umat Hindu dengan konsep teologi yang jelas dan
khas, tentu tidak tepat jika kita berusaha ''memodifikasi''
konsep teologi hanya karena ingin menghindari sebuah
sebutan yang menurut kita ''tidak enak didengar''.
-----------------------------------
Menjernihkan
Teologi Hindu (Brahma Widya)
Oleh IB Radendra Suastama, S.H., M.Hum.
DALAM
relasi antaragama, sering terlihat kegamangan umat Hindu
misalnya ketika menghadapi beberapa pertanyaan
sahabat-sahabat beragama lain tentang Hindu. Kasus yang
lebih memprihatinkan, beberapa teman Hindu (di
perantauan) sampai-sampai meninggalkan Hindu, bukan
karena pertimbangan yang mendalam, tetapi lebih karena
merasa tak bisa memahami agamanya sendiri. Sebagai hak
asasi tentu hal itu sah saja. Namun yang jadi pokok
persoalan adalah, sungguh sayang jika masih ada umat
kita (Hindu) yang tidak paham agamanya, dan tidak punya
cukup kepercayaan diri untuk menjelaskan ketika bertemu
stigma-stigma tertentu tentang Hindu.
-----------------------------
Terminologi Ahli
Ini salah satu hal yang sering mengguncangkan keyakinan
diri umat Hindu. Ketika seorang sahabat bertanya: Hindu
menyembah banyak Tuhan ya? Maka kebanyakan dari kita
mulai memutar otak menyusun kalimat untuk memberi
jawaban yang ''tepat''. Tepat maksudnya, kita ingin
sekali meyakinkan bahwa Hindu itu monotheis, menyembah
satu Tuhan Yang Maha Esa, dan seterusnya. Si penjawab ''kebakaran
jenggot'' menjelaskan hal itu. Hanya karena takut
dianggap menyembah banyak Tuhan.
Ada beberapa kemungkinan penyebab hal ini terjadi.
Pertama, mungkin karena sila pertama Pancasila berbunyi:
Ketuhanan Yang Maka Esa (yang diartikan: percaya pada
satu Tuhan, pen). Umat Hindu takut tidak diakui sebagai
agama resmi hanya karena dianggap bertuhan jamak.
Kedua, ada konsep dalam agama para sahabat kita lainnya,
bahwa Tuhan itu satu, tiada duanya, bahkan tak boleh
diduakan. Jika perspektif itu digunakan meneropong
Hindu, tentu Hindu akan tampak ''salah''. Karena
banyaknya nama dan manifestasi Tuhan dalam Hindu.
Sehingga beberapa di antara kita lalu mengambil sikap
over-protektif dengan ''memodifikasi'' agama kita
sendiri agar sesuai dengan selera penanya, agar tidak
tampak ''salah'', bahkan agar tetap ''disukai''.
Padahal sesungguhnya, istilah monotheis dan polytheis
adalah terminologi yang diciptakan para ahli ilmu (perbandingan)
agama untuk mendeskripsikan dan mengklasifikasikan
agama-agama yang menjadi objek kajian mereka. Terlepas
apakah terminologi ini tepat atau tidak, dan fair atau
tidak, yang jelas sudah menjadi istilah yang sangat
familiar di telinga kita semua.
Secara teoretis, yang dimaksud monotheis yakni jika
menyembah satu Tuhan Yang Maha Kuasa, yang tiada lain
yang bisa menyaingi apalagi menyamainya, yang punya
kekuasaan absolut dan tidak terbagi-bagi.
Yang dimaksud polytheis yakni jika berlawanan dengan itu.
Cirinya antara lain menyembah banyak Tuhan/Dewa (sebagaimana
secara sederhana disimpulkan misalnya dari banyaknya
perbendaharaan nama Tuhan), termasuk menyembah leluhur,
merupakan ciri yang dilekatkan pada agama polytheistik.
Jangan ''Menghindar''
Sebagai umat Hindu dengan konsep teologi yang jelas dan
khas, tentu tidak tepat jika kita berusaha ''memodifikasi''
konsep teologi hanya karena ingin menghindari sebuah
sebutan yang menurut kita ''tidak enak didengar''.
Haruskah kita kebakaran jenggot ketika kita disebut
polytheis? Tidak perlu. Kita harus yakin dengan konsep
agama kita sendiri. Meskipun benar bahwa perlu bersikap
terbuka. Namun, tentunya tak perlu mengorbankan agama
hanya untuk meraih ''penilaian'' orang. Memang tak ada
yang bengkok untuk diluruskan, tetapi menjernihkan.
Artinya kita harus melihat teologi Hindu secara jernih,
bening, jujur apa adanya, tanpa perlu politisasi dan
rekayasa untuk alasan apa pun.
Hindu jelas-jelas mempercayai banyak dewa. Itu tak perlu
disangkal atau dikemas dalam bahasa yang rumit. Tak
perlu disembunyikan. Bahwa Hindu juga percaya pada Tuhan
Yang Maha Esa dan Maha Kuasa, itu pun suatu keyakinan
tak terbantahkan. Masalah apakah para dewa itu pada
hakikatnya sinar suci Tuhan, fungsi-fungsi dari Tuhan,
nama-nama Tuhan, simbol-simbol Tuhan, wujud-wujud Tuhan,
representasi Tuhan, sampai ke konsep yang lebih duniawi
seperti: Dewa-dewa adalah para ''menteri'' dari Tuhan,
subordinat dari Tuhan, aspek-aspek Tuhan, atau
makhluk-makhluk ciptaan Tuhan yang punya ''kesaktian'' (kekuatan
supranatural/suprahuman), bukanlah masalah. Yang jelas,
jangan sampai demi meraih predikat sebagai agama
monotheis, kita mencoba secara sistematis memarginalkan
bahkan mengeliminasi eksistensi pada dewa.
Jadi, Hindu adalah mono-polytheis, poly-monotheis, atau
mungkin bukan kedua-duanya. Ada pula yang mengatakan
henotheisme, kathenotheisme, monisme, pantheisme, dan
sebagainya (Lihat: IB.P. Suamba, Dasar-dasar Filsafat
India, 2003). Tetapi apa pun itu namanya, mungkin memang
tidak ada suatu istilah pun mampu menggambarkan dengan
tepat konsep teologi Hindu yang demikian kompleks. Yang
paling tepat adalah teologi Hindu atau sering juga
disebut sebagai Brahma Widya, dengan segala keunikan dan
kekhasannya.
Lihatlah Veda, hampir seluruh isinya berisi keyakinan
terhadap para dewa. Hindu juga meyakini dan memuja roh
leluhur. Jangan sampai pula kita menutup-nutupi hal ini
hanya karena takut misalnya dianggap animisme atau
dinamisme. Sekali lagi, terminologi-terminologi tersebut
ciptaan para akademisi pengkaji ilmu (perbandingan)
agama-agama, guna memudahkan mereka dalam
mengklasifikasi berbagai agama yang begitu beragam.
Perspektif mereka belum tentu benar, apalagi
istilah-istilah yang mereka introduksikan. Kebenaran
yang lebih dapat diandalkan justru bersumber dari kitab
suci.
Keyakinan terhadap para dewa dan leluhur juga tampak
jelas dalam ajaran, tradisi, dan praktik Hindu di Bali.
Konsep-konsep misalnya pengider-ider, dewata nawa sanga,
panca dewata, jenis-jenis pelinggih (Rong Tiga, Padma,
Taksu, Anglurah, dan lain-lain), komposisi dan jumlah
pelinggih di pura/pamerajan, keberadaan khayangan tiga
di tiap desa, dan sebagainya jelas menunjukkan bahwa
dalam menyembah Tuhan Yang Maha Kuasa, Hindu tidaklah
cukup dengan hanya menyebut satu nama tanpa disertai
simbolisasi lain yang lebih membumi.
Meskipun dalam Hindu diakui bahwa seseorang telah
mencapai tingkat spiritualisasi tertentu, dimungkinkan
untuk berkomunikasi dengan Tuhan melalui meditasi tanpa
sarana lainnya. Namun, Hindu juga sangat mengakui
pluralitas tingkat pemahaman dan penghayatan masyarakat
dalam pencarian hakikat Tuhan.
Ini baru salah satu aspek dari begitu banyak aspek dalam
Hindu yang punya potensi masalah yang sama. Semoga saja
contoh satu aspek ini memberikan inspirasi bagi kita
semua.
Anak-anak kita, generasi penerus kita, punya sejuta
pertanyaan kritis tentang Hindu yang jawabannya akan
menentukan, apakah mereka nanti akan menjadi seorang
Hindu yang penuh percaya diri dan keyakinan, ataukah
menjadi seorang yang selalu ragu-ragu dan takut terhadap
sebutan orang mengenai agamanya.
Penulis, dosen Program S2 Universitas Hindu Indonesia,
Denpasar