''Sampian Tamiang'' dalam Kuningan--
Simbol Perisai Diri dalam Menjaga Keamanan
HARI ini, Sabtu Kliwon (15/10) Wuku Kuningan, umat Hindu
kembali merayakan Kuningan. Berbagai simbol ''perang''
dipasang dalam merayakan Kuningan, seperti tar (senjata),
sampian tamiang dan endongan. Tamiang saat Kuningan
merupakan pengekspresian simbol perisai diri atau
pertahanan diri dalam menghadapi tantangan global.
Dalam konteks menjaga keamanan dan kenyamanan,
bagaimana seharusnya umat memaknai simbol-simbol
tersebut?
---------------------------------------------
Rektor
Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar Gede Rudia
Adiputra mengatakan, dalam sastra agama disebutkan
bahwa Galungan adalah Patitis ikang jnana sandi,
amariaken biaparaning idep. Itu berarti umat mesti
mampu menghentikan gejolak pikiran yang destruktif dan
rajasik, dengan harapan memperoleh ketenangan batin.
Dalam
merayakan Galungan, umat tidak hanya berhenti pada
kegiatan ritual. Tetapi berlanjut pada aksi nyata
untuk menciptakan ketenangan dan kenyamanan. Demikian
pula dalam merayakan Kuningan.
Sementara
dalam Kuningan, berbagai simbol ''perang'' mewarnai
perayaan tersebut, seperti sampian tamiang. Simbol itu
dimaknai sebagai pertahanan diri. Dalam menghadapi
berbagai tantangan hidup, pertahanan diri yang ampuh
adalah moral dan etika serta ilmu pengetahuan. Dengan
memiliki pertahanan seperti itu umat diharapkan mampu
menghadapi kegelapan, kebodohan dan musuh-musuh yang
ada dalam diri. Dengan mampu memerangi musuh-musuh
yang bersumber dari dalam diri, maupun tekanan
eksternal yang ingin merusak nilai-nilai kesucian,
umat diharapkan dapat mencapai jagadhita.
Dikatakannya,
dalam konteks kehidupan modern, jagadhita itu bisa
diterjemahkan sebagai rasa aman, kenyamanan, kesehatan
dan kesejahteraan. Rasa nyaman dan aman inilah yang
mesti kita jaga bersama. Di samping itu kewaspadaan
mesti terus ditumbuhkan dalam diri. Demikian pula
kesehatan kita mesti dijaga dengan baik. Agar tetap
sehat, hal-hal yang dapat menyebabkan sakit perlu
diwaspadai dan dihindari. Agar kesejahteraan bisa
dicapai, bekerjalah.
Hal
yang sama dikatakan Rektor Universitas Hindu Indonesia
(Unhi) Denpasar IB Gunadha. Salah satu simbol
pertahanan diri yang dipasang saat Kuningan adalah
tamiang. Dalam konteks menjaga keamanan Bali,
masyarakat hendaknya memiliki kebertahanan diri.
Kebertahanan itu meliputi peningkatan kewaspadaan dan
strategi menjaga keamanan. Dalam kaitan itu semua
pihak memiliki tanggung jawab yang sama. Masyarakat
hendaknya merasa terpanggil untuk memelihara Bali yang
selama ini telah memberikan banyak hal bagi kehidupan.
Dalam
menjaga dan memelihara Bali, perlu ada kesamaan
pandang. ''Dalam menciptakan rasa aman, umat di Bali
menggunakan dua pendekatan baik sekala maupun niskala.
Sekala-nya, masyarakat berupaya menciptakan rasa aman
di lingkungan masing-masing,'' ujar mantan Sekjen
Parisada Pusat ini.
Menciptakan
rasa aman itu mesti dimulai dari pribadi masing-masing.
Dengan berbekalkan kesadaran dari dalam diri, niscaya
keamanan bisa tercipta.
Munculnya
ketidakamanan dan kenyamanan karena perbuatan teroris,
hendaknya menjadikan bahan mulatsarira ke depan.
Masyarakat bersama aparat mesti terus bergandengan
tangan menjaga Bali agar pulau ini kembali memberi
rasa aman dan nyaman bagi penduduknya. Secara niskala,
umat mesti terus berdoa memohon ke hadapan Ida Sang
Hyang Widhi agar selalu diberkati kerahayuan.
Ketajaman
Pikiran
Agamawan
yang anggota DPD-RI Ida Bagus Gede Agastia mengatakan,
dalam merayakan Kuningan, bentuk ekspresi budaya
masyarakat didominasi warna kuning. Perayaan Kuningan
mengambil waktu pagi hari, ketika matahari mulai
terbit. Memang, pancaran kesucian atau situasi
keheningan didapat pada waktu tersebut.
Pada
saat itu dipasang hiasan ter atau panah (senjata).
Panah itu sesungguhnya simbol ketajaman pikiran (manah)
atau tingkat kualitas pikiran. Kata kunci dalam
Kuningan adalah suddha jnana atau kesucian pikiran.
Orang yang memiliki tingkat suddha jnana akan
menemukan siddha (keberhasilan) yang disebut siddhi.
Dengan demikian umat tak akan memiliki berantha jnana
atau pikiran kotor alias diselimuti kebingungan.
Kuningan
berasal dari kata kauningan. Hal itu didapat ketika
masyarakat memenangkan musuh yang ada dalam tubuh yang
disebut dasa indria. Kuningan intinya memuja Tuhan
dalam keheningan. Dalam keheningan itu diharapkan
muncul div atau sinar suci Tuhan.
Selain
panah, dalam Kuningan dipasang endongan yang merupakan
simbol perbekalan (logistik) dalam perang. Sementara
dalam konteks keberagamaan, endongan itu bermakna
bekal dalam mengarungi kehidupan seterusnya. Bekal itu
tiada lain adalah karma atau hasil dari perbuatan,
apakah ia berupa subha karma (perbuatan baik) atau
asubha karma (perbuatan buruk). ''Jadi, hanya karma
diri sendirilah sebagai bekal utama untuk menuntun
menuju perjalanan selanjutnya,'' ujarnya.
Selain
endongan, kata Agastia, dalam merayakan Kuningan juga
dipasang tamiang. Tamiang itu merupakan lambang
perisai diri. Untuk menjaga diri dari serangan musuh
dasa indria, diperlukan perisai.
Apa
itu? Perisai itu tiada lain adalah pengendalian diri
dan ajaran agama. Selain ajaran agama, sebagai
penuntun sekaligus benteng penjagaan diri, adalah
perbuatan punia dan kerthi -- pemberian yang tulus
kepada sesama maupun yadnya ke hadapan Sang Pencipta.
Karena
itu, dalam perayaan Kuningan yang dipuja adalah Tuhan
dalam manifestasinya sebagai Dewa Indria -- dewa
pengendalian dasa indria. (lun)