Pascakenaikan BBM dan Bom Bali II ---
Omzet Perajin Keramik Menurun
KENAIKAN
harga BBM dan tragedi Bom Bali II juga berimbas terhadap
kerajinan keramik. Beberapa perajin keramik yang ditemui
Jumat (14/10) kemarin mengeluhkan telah terjadi
peningkatan harga bahan baku, sementara mereka belum
dapat melakukan penyesuaian harga.
Selain itu, diprediksi terjadi penurunan omzet karena
mulai berkurangnya pesanan khususnya pasokan untuk dalam
negeri.
Salah satu perajin keramik terkemuka di Pejaten, Tabanan,
I Putu Oka, menyampaikan sejak peningkatan harga BBM
telah terjadi peningkatan harga bahan baku keramik
hingga sekitar 10 persen. Selain itu, harga elpiji yang
telah mengalami peningkatan sejak beberapa bulan lalu
menyebabkan meningkatnya biaya produksi. Di sisi lain,
perajin tidak bisa menaikkan harga karena sudah telanjur
teken kontrak.
Pemilik Tantriss Keramik ini menceritakan perajin
keramik yang berorientasi ekspor seperti dirinya tidak
dapat melakukan penyesuaian harga sesuai dengan kondisi
riil. Ia baru dapat melakukan penyesuaian harga setelah
masa kontrak lama habis dan memulai kontrak baru.
Pasar Ekspor
Beberapa perajin keramik lainnya menyatakan Bom Bali II
yang mengguncang Kuta dan Jimbaran juga berpengaruh
terhadap omzet mereka. Penurunan diperkirakan mencapai
10 sampai 15 persen dari sebelumnya. Selain itu, isu
kenaikan elpiji juga cukup membuat kekhawatiran bagi
perajin. Sebab, elpiji merupakan salah satu biaya besar
yang harus dikeluarkan perajin.
Selama ini, keramik buatan Pejaten biasanya mampu
menembus pasar ekspor dunia seperti AS, Jepang,
Australia, Italia, Prancis, dan beberapa negara lainnya.
Untuk bisa bersaing di pasaran tersebut, mutu harus
tetap dijaga. Oleh karena itu, penggunaan elpiji adalah
mutlak. Terlebih lagi dua perajin yakni Tantris Keramik
dan Agung Putri Art sedang dalam proses konsultasi dan
sertifikasi ISO 9001:2000 mengenai penjaminan mutu. "Kami
tidak mungkin menggantinya dengan kayu bakar," ujar
mereka. (upi)