Mungkinkah
Memompa Ekonomi lewat Seni?
KESENIAN
tidak hanya menjadi wujud kebudayaan, jati diri yang
hanya bisa dipandang dalam perspektif kegiatan yang
menghabur-hamburkan uang, melainkan bisa pula memiliki
kontribusi dalam menggenjot laju perekonomian. Namun,
tidak pernah jelas berapa dana yang dianggarkan
pemerintah untuk kesenian, dan berapa kontribusi
kegiatan kesenian. Itulah yang terjadi di Indonesia.
Hampir seluruh daerah mempersoalkan
sulitnya anggaran kesenian. Bahkan, event kesenian
yang partisipatif sangat jarang bisa menerima suport
dana dari pemerintah. Karena itulah, Linda
Hoemar Abidin, pemakalah dalam KKI II di Jakarta,
mengkomparasikan kondisi faktual yang ada di Indonesia
dengan Singapura, Amerika dan Jerman. Negara tersebut
mampu mengelola kesenian dengan daya sedot penonton
dan finansial yang luar biasa.
Tidak hanya faktor finansial tadi, seni
sebagai daya hidup memberi masyarakat suatu kekuatan
menghimpun energi sosialnya untuk memecahkan
persoalan-persoalan berat yang menimpa. Seni memberi
masyarakat kekuatan mengelola konflik-konfliknya,
sanggup menampung pertentangan-pertentangan yang
muncul, mencegah timbul dan meluasnya masalah yang
mungkin dipicu oleh intoleransi agama, keruwetan
politik dan kegagalan ekonomi. Di Singapura, seni
melengkapi prestasi besar yang diraih oleh kegiatan
ekonomi dan politik.
Menurut Linda yang juga seorang penari
ini, kehidupan kesenian dan kebudayaan yang relatif
sehat adalah faktor yang bisa mempertahankan bahkan
meningkatkan perkembangan kegiatan ekonomi. Ia
mencontohkan Singapura tadi, nilai tambah dari
industri yang berbasis kegiatan kesenian dan
kebudayaan memperlihatkan efek pelipatgandaan sebesar
1,66. Angka ini lebih tinggi dari angka efek
pelipatgaandaan industri perbankan yang hanya 1,4 dan
industri petrokimia yang hanya 1,35.
Ia mengatakan, kesadaran pentingnya
seni di kalangan pembuat kebijakan di Singapura
dimulai tahun 1989 ketika Ong Teng Cheong (alm) yang
menjabat selaku Deputy Prime Minister mengusulkan
pembentukan National Art Council (Dewan Kesenian
Nasional) -- yang kemudian merintis perencanaan
pembangunan Esplanade Theatres on the Bay.
Dengan komitmen yang sungguh-sungguh,
pemerintah Singapura berupaya menjadikan negara itu
menjadi ibu kota seni dan budaya Asia Tenggara. ''Mereka
bahkan mencita-citakan negeri pulau itu menjadi kota
kebangkitan (renaissance city) yang menjadi pusat
kehidupan baru peradaban Asia modern,'' kata Linda.
Sebagai negara multikltur kebijakan kebudayaan
Singapura terinspirasi kebijakan kebudayaan Australia
namun mengacu pada kebijakan kebudayaan di Inggris.
Lantas bagaimanakah pola-pola kemitraan
berskala nasional mampu membangkitkan kesenian di Asia
Tenggara? Mampukah pola kemitraan, baik kemitraan
dengan pemerintah maupun swasta, itu melampaui batas
negara yang berimplikasi pada partisipasi seniman
dalam dan luar negeri? Mungkin iya bagi DKI, Yogya dan
Bali yang sudah berpengalaman menggelar kegiatan akbar.
Namun bagi daerah lain?
Masih perlu mengambil contoh kemitraan
untuk mendukung kesenian yang diterapkan di Amerika
Serikat, Singapura dan Jerman. Sebab, bisa jadi daerah
akan berperan dalam soal ini. Nah, kata dia, ada dua
strategi kemitraan yang bisa dilakukan, yakni melalui
subsidi pemerintah dan mekanisme indirect subsidy (subsidi
tidak langsung). Di Amerika, pemerintah secara tidak
langsung memberikan subsidi yang luar biasa besar
melalui sistem perpajakan yang mendorong sektor swasta
berperan aktif dalam pendanaan kesenian. Hasilnya,
kehidupan kesenian bertumbuh fantastis.
Sebuah organisasi nirlaba di New York
menerbitkan laporan tentang studi penonton di
tempat-tempat kegiatan seni budaya selama 2004. Dari
480 organisasi seni nirlaba yang dilibatkan, ditemukan
jumlah penonton acara seni budaya di New York mencapai
26 juta orang atau dua kali lebih banyak dari penonton
teater Broadway ataupun pertandingan olahraga. Hal ini
mendemonstrasikan kesuksesan sektor seni budaya --
yang merupakan argumen sangat kuat dalam meyakinkan
pihak pemerintah dan swasta akan peran penting
kesenian dalam kehiduan masyarakat.
(rab)