kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Umanis, 1 Oktober 2005

 Bali

 

Dari Warung Global Interaktif Bali Post
Tuntaskan Korupsi sebelum Pemerintah Beri Insentif

PEMERINTAH tengah mempersiapkan insentif bagi tiga kelompok masyarakat untuk mengurangi dampak buruk kenaikan harga BBM. Mereka adalah kalangan pekerja, petani dan industri. Pemberian insentif tidak akan menuntaskan masalah yang tengah terjadi, maka sebaiknya pemerintah menegaskan kembali komitmennya terhadap pemberantasan KKN mulai dari tubuh pemerintah sendiri, seperti yang terjadi di BUMN-BUMN. Sah-sah saja pemerintah memberi insentif sepanjang indikatornya jelas, karena di Bali banyak petani yang juga kaya, maka petani seperti apa yang akan diberi insentif? Ini harus jelas, karena tidak ada data jelas tentang klasifikasi petani, apakah petani penggarap, pemilik tanah, atau lainnya. Kalau insentif harga gabah secara umum bisa diterima, pelaksanaannya harus transparan, selain itu sebaiknya benahi dulu pranatanya. Demikian antara lain disampaikan masyarakat melalui acara Warung Global Radio Global FM Bali 96,5 Kinijani Jumat (30/9) kemarin. Acara yang disiarkan langsung Radio Global FM Bali 96,5 Kinijani ini dipancarluaskan oleh Radio Genta Swara Sakti Bali dan Radio Singaraja FM. Berikut rangkuman selengkapnya. 

------------------------------

Made Yadnya di Denpasar menyatakan insentif ini tidak berdampak apa pun baginya karena gaji ukuran satu juta tidak pernah ia dapatkan lantas insentif pekerja seperti apa yang dimaksud pemerintah? Seharusnya pemerintah jangan menaikkan BBM terlebih dulu. Selain itu Made Yadnya juga merasa heran tidak ada data masyarakat miskin yang akurat sementara ada dana kompensasi lantas semua rame-rame ikut mendaftar. Ini sudah tidak masuk akal, kenapa baru sekarang diambil pemerintah, alangkah baiknya tidak ada insentif.

Sulu di Denpasar menilai kebijakan pemerintah saat ini seperti lipstik pemanis di bibir saja, tapi realisasinya tampak akan menjadi masalah, semacam dana konpensasi akan menimbulkan masalah baru, kucuran baru, sehingga dikhawatirkan banyaknya tikus-tikus yang akan menyunat dana tersebut. Kenapa pemerintah tidak menuntaskan kasus-kasus korupsi yang merugikan negara? Banyak badan pengawas dana dibentuk, di dalamnya dikhawatirkan oknum-oknum mencari celah untuk menjadi calo mendapatkan komisi dari subsidi.

Menurut Putu Suwena di Denpasar hal ini merupakan bualan-bualan belaka. Dia lebih cenderung berharap jika pemerintah mempunyai hati nurani dan kebijakan kepada rakyatnya sementara ini, sebaiknya jangan menaikkan BBM, namun sepertinya pemerintah tidak mau tahu dan bersikap cuek saja.

Komang Ukir di Denpasar mengibaratkan kenaikan harga BBM serta pemberian subsidi atau insentif ibarat bau mulut dan kentut sama saja.

Lain halnya dengan Agung di Kediri yang menyatakan pemerintah terlalu kebanyakan terori dan terlalu gampang menyelesaikan masalah, seperti dana BOS pendistribusiannya banyak juga dinikmati oleh orang-orang kaya. Harga BBM ini memang harus dinaikkan tetapi harus juga diadakan perbaikan di semua sektor seperti untuk menggunakan jasa angkutan tidak dinaikkan bisa mensubsidi melalui subsidi pengurusan surat-surat kendaraan. Kalau BBM dinaikkan, satu sektor dibiarkan akan sama-saja susah.

Tikom di Denpasar menanyakan, insentif pekerja apakah dilihat dari sudut gaji pokok atau gaji secara keseluruhan? Karena gaji satu juta terlalu kecil, sebaiknya satu setengah juta. Tikom juga mendukung kenaikan harga BBM ini, karena Indonesia saat ini terlalu banyak utang, untuk itu perlu dinaikkan.

Ajik Binong di Mengwi menilai sah-sah saja pemerintah memberi insentif sepanjang indikatornya jelas, karena di Bali banyak petani yang juga kaya, maka petani seperti apa yang akan diberi insentif? Ini harus jelas, karena tidak ada data jelas tentang klasifikasi petani, apakah petani penggarap, pemilik tanah, atau lainnya. Kalau insentif harga gabah secara umum bisa diterima, pelaksanaannya harus transparan, selain itu sebaiknya benahi dulu pranatanya.

Sementara Prianus di Denpasar menyatakan insentif yang disampaikan pemerintah merupakan tanda tanya. Misalnya  klasifikasi pekerja seperti apa, apakah buruh, PNS, swasta atau lainnya, mesti ada penjelasan lebih lanjut dari pemerintah, agar dijelaskan pekerja seperti apa. Kalau insentif ibarat ada belas kasihan akibat subsidi yang diterapkan, sepertinya ini akan menjadi program jangka pendek saja. Menurut Prianus sebaiknya kita melakukan hemat bahan bakar dan berjuang mendapatkan pendapatan yang wajar dan menjalani falsafah hidup hemat.

Bagi Mul di Denpasar kenaikan harga BBM ini tidak apa-apa karena disadari sudah waktunya terjadi kenaikan, namun pintanya kepada pemerintah untuk serius menangkap koruptor yang merugikan negara serta dana subsidi untuk rakyat miskin harus sampai kepada yang berhak.

Menurut Agus di Tabanan setelah dicermati rakyat miskin disubsidi malah akan memberatkan pemerintah kembali. Sebaiknya dana subsidi ini dipakai untuk membayar utang dan menambal kebocoran APBN.

Gede Suganda di Denpasar sependapat dengan komentar bahwa kenaikan BBM ini berimbas bagi semua sektor kebutuhan masyarakat. Ia prihatin dengan korupsi yang belakangan terjadi di negara kita, maka sebaiknya pemerintah fokus terlebih dulu terhadap pemberantasan korupsi di tubuh pemerintah sebelum menyikapi kenaikan ini. Dari dana para koruptor akan bisa menambal keuangan negara.

Sedangkan menurut Ledang Asmara di Denpasar, petani diberi insentif merupakan langkah yang sangat bagus, kalau benar-benar diberikan pada petani penggarap, buruh tani atau pekerja kasar lainnya. Lantas bagi industri kalau diberi insentif seperti kemudahan pajak atau BBM, harapan kita dengan diberikannya insentif maka akan ada daya tarik bagi para penganggur untuk terjun menjadi petani. Selain itu pemerintah agar lebih serius lagi memperhatikan mereka yang belum bekerja.

Merta di Sempidi mendukung apa yang dilakukan pemerintah dengan kenaikan BBM dan pemberian insentif ini. Alasannya, jika tidak dinaikkan BBM tersebut maka BBM akan dijual keluar negeri dengan harga tinggi sehingga akan terjadi kekosongan minyak di dalam negeri. Sarannya, sebaiknya samakan saja harga BBM dengan luar negeri.

Made di Badung menilai kebijakan pemerintah dengan memberi insentif bagi petani dan pekerja serta industri merupakan langkah bagus karena bisa meringankan petani dari segi ekonomisnya. Jika ada kenaikan alat-alat produksi hal itu sifatnya hanya sementara.

Subamia di Denpasar berkata, terima tidak terima harus terima karena sudah disetujui oleh legislatif, kenaikan BBM ini merupakan pancingan dari lembaga DPR dan pemerintah untuk menilai seperti apa daya beli masyarakat, apakah masih mampu sehingga dinaikkan, kenapa harus berkedok untuk petani dan indisutri? Sebaiknya katakan demi masa depan bangsa untuk bayar utang.

Komang di Tohpati menyatakan terobosan pemerintah dengan memberi insentif dirasa tidak tepat karena penyalurannya belum jelas. Sebaiknya dana itu diberikan kepada DPR dan pemerintah agar lebih kaya karena kebijakan itu semua merupakan hasil kerja sama antara DPR dan pemerintah untuk membuat masyarakat tambah miskin bukan menyejahterakan rakyat. Di Indonesia sumber daya alamnya cukup kaya, sebaiknya manfaatkan dengan baik daripada menaikkan BBM.

Wayan Pande di Karangasem menilai pemerintah sepertinya tidak melihat masyarakat kecil banyak yang menjerit. Sekarang harga-harga produk pertanian murah dan menurun, kita berharap mereka yang memiliki jabatan strategis di pusat sekali-kali turun ke lapangan dan melihat sejatinya seperti apa kondisi petani kita sebenarnya. Sebaiknya kita tunggu realisasi nyatanya baru bisa dipercaya.

Sudira di Gianyar menyatakan kebijakan ini sifatnya omong kosong untuk sekadar menghibur rakyat agar tidak ikut-ikutan demo kenaikan BBM. Di Bali khususnya debit airnya melimpah ruah namun petani kesusahan mendapatkan biaya untuk memperbaiki saluran irigasi dan tanggul yang rusak sehingga air menjadi permasalahan sampai petani begadang akibat persoalan air. Kalau betul-betul pemerintah memberikan insentif agar mengawasi penyaluran dana ini dengan baik.

Sementara menurut Ketut Parta di Gianyar rupanya kebijakan kenaikan BBM ini sangat sulit bagi pemerintah, maka yang diambil memang harus seperti itu, mau tidak mau kalau bangsa ini selamat harus berani mengambil sikap mengorbankan satu pihak, bagaimana membuat maju kalau terus mensubsidi rakyat secara besar. Kebijakan yang diambil ini sebenarnya mengorbankan diri seorang pemimpin, hal ini sudah diambil mempertaruhkan harga diri dan merupakan kebijakan yang sangat sulit. Kenaikan ini merupakan pil pahit yang harus ditelan namun jangka panjangnya akan menguntungkan semua pihak. Untuk mengimbangi kenaikan itu maka sewajarnya masyarakat diberikan insentif.

* wisnu

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)