kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Umanis, 9 Januari 2005 tarukan valas
 

OPINI


Jaring-jaring Kehidupan

Program Galileo, paradigma Descartesian dan Newtonian menawarkan pada kita sebuah dunia yang mati. Lenyapnya pemandangan, suara, rasa, sentuhan dan penciuman, serta bersama itu mati pula kepekaan etis dan estetis, nilai, kualitas, jiwa, kesadaran dan rohani. Sebab, pengalaman seperti itu dikesampingkan dari wacana ilmiah. (R.D. Laing).

------------------

 

MEMBAYANGKAN bencana Tsunami di Aceh, Phukeet, Penang , Srilangka dan Andaman, Rubag teringat pendapat Laing yang sering dikutip para penulis di bidang sains, khususnya fisika dan ekonomi. Lagu Ebiet G Ade yang hampir setiap saat dilantunkan di televisi sejak bencana terjadi, juga tidak lain dari keluhan serupa, bahwa manusia selama tiga abad lebih telah menyiksa alam. Dengan kesombongan ilmiah positivismenya, manusia mengikuti saran Francis Bacon untuk menganiaya bumi beserta isinya agar semua rahasia yang dipendamnya bisa dikorek. Lewat pengakuan tersebut semua kekayaannya bisa dikuasai, dijarah dan dirampok, lalu hasilnya untuk segelintir manusia yang punya teknologi, kekuasaan dan uang. Ironisnya, jawaban ombak, angin dan rumput yang bergoyang, justru menyengsarakan orang-orang yang tidak tahu menahu urusan sains dan teknologi, bahkan tidak ikut dalam penjarahan dan perampokan kekayaan bumi.

Reaksi alam yang cuma menggeser kerak dasar laut, menimbulkan musibah yang menyayat hati. Gempa disertai pasang naik air laut menyapu harta-benda serta ribuan nyawa yang tidak sempat menyelamatkan diri. Bila dianalogikan, seperti juara tinju kelas berat yang sekadar melepaskan jab ringan untuk mengusir lawan kelas nyamuknya, yang melontarkan serangan bertubi-tubi sejak ronde awal dimulai. Meskipun pukulan balasan tidak begitu keras, namun karena tenaga telah terkuras dan pukulan tepat bersarang di dagu, menyebabkan persendian lutut petinju kelas nyamuk tidak kuat lagi menahan tubuhnya. Melihat kemampuan petinjunya yang sudah tidak mungkin lagi melanjutkan pertandingan, pelatih yang menemani, memberi semangat dan menginstruksikan teknik tinju yang berdiri di luar ring, seharusnya cepat-cepat melemparkan handuk ke dalam ring sebagai tanda menyerah, demi masa depan petinjunya. Analogi tersebut perlu dipakai cermin oleh mereka yang masih mendewa-dewakan sains dan teknologi berbasis potivisme empirik. Juga para penyandang dana dan pemegang kekuasaan sebagai penikmat keuntungan material terbesar dalam tersiksanya alam.

***

 

Fritjop Capra dalam buku ''The Hidden Connections'', beberapa tahun lalu telah mengingatkan, bahwa akibat industrialisasi dan gaya hidup hedonistik, bumi sebagai tempat satu-satunya yang paling cocok buat manusia untuk hidup, mengalami perubahan iklim yang mengerikan. Dikembangkannya industri untuk memenuhi konsumerisme yang ekstrim, dimana orang-orang memiliki sesuatu bukan karena kebutuhan, tapi demi keinginan, banyak sumber daya alam terkuras. Selain mineral, minyak dan gas yang bersembunyi di bawah tanah, sumber hayati dan nabati yang ada di permukaan bumi pun kian habis. Pelepasan karbon dioksida dan gas-gas rumah kaca lewat cerobong-cerobong pabrik dan kendaraan yang jumlahnya melewati ambang batas, menimbulkan pemanasan global yang merobek lapisan ozon di langit.

Intergovernmental Panel on Chlimate Change (IPCC) mengumumkan bahwa pada akhir abad XX telah terjadi peningkatan suhu bumi sebesar enam derajat Celsius. Kenaikan tersebut melebihi perubahan yang terjadi sejak Zaman Es hingga dimulainya Era Industri awal abad ke-19. Satu hal yang membuat bulu kuduk berdiri, kata Capra, melelehnya es seluas satu mil di Samudera Artik, yang disaksikan langsung para peneliti Rusia, Juli 2000. Fenomena tersebut, konon, akan mengubah sirkulasi air lautan Atlantik Utara, yang menyebabkan berubahnya iklim Eropa secara drastis, sekaligus mempengaruhi juga bagian dunia yang lain. Matinya terumbu karang di beberapa lautan akibat pemanasan global serta polusi karena tercecernya limbah industri ke laut, prediksi Capra, menyebabkan terjadinya pasang-surut air laut secara drastis. Rubag memperkirakan, bencana besar Aceh dan beberapa tempat lain di Asia Tenggara dan Timur, bisa jadi akibat disiksanya bumi secara kejam selama dua abad terakhir ini.

Para ilmuwan pencerahan yang terbius ajaran Galileo, Copernicus, Descartes, Newton dan Bacon telah memperlakukan dunia beserta isinya seperti mesin besar. Paradigma berupa hukum-hukum objektif, mekanistik, deterministik, linier dan materialistik yang mereka anggap paling ilmiah dan tidak bisa salah, membuat dunia seakan-akan barang mati tanpa jiwa. Mereka lupa kalau semua teori yang mereka kembangkan, juga konsepsi manusia yang bisa salah dan tidak bersifat abadi. Metafisika dan mitos yang pernah mereka lecehkan sebagai penghambat perkembangan zaman, ternyata bereinkarnasi lewat penemuan mereka yang selanjutnya diberhalakan manusia-manusia modern. Sebab, teori dan metodologi ilmiah yang mereka iklankan seperti eliksir, yakni berlaku untuk semua disiplin ilmu, dijadikan semacam ritual oleh para penerus yang lahir dua-tiga abad kemudian. Teori, paradigma dan metodologi diulang-ulang selama berabad-abad seperti layaknya mitos. Bukan hanya ilmu ekonomi dikembangkan jadi ekonofisika, bahkan humaniora dan perilaku pun dianalisis secara kuantitatif berdasarkan angka-angka matematis. Akibatnya, manusia yang terdiri dari roh dan daging, banyak diperlakukan seperti patung yang bebas digusur, dinista atau dilenyapkan dari muka bumi.

***

 

Rubag juga tercengang membaca di koran, bahwa ada peninjau dari dunia Barat yang tercengang dan konon berkomentar tentang jumlah korban akibat Tsunami melampaui korban bom atom. Belum diketahui, apakah Menlu AS, Colin Powell dan adik Presiden AS yang juga Gubernur California, Jeb Bush ikut tercengang dan berkomentar serupa setelah berkunjung ke Nanggroe Aceh Darussalam? Sebagai negarawan negara adidaya, yang cukup mengecap pengalaman westernisasi atau Amerikanisasi, setidak-tidaknya selama dua dasawarsa sejak dicanangkannya globalisme neoliberal tahun 1980-an oleh Presiden Ronald Reagan, keduanya pasti tidak begitu tercengang. Terlebih-lebih Powell yang kenyang pengalaman dalam Perang Vietnam , Badai Gurun serta beberapa perang besar lain untuk mengokohkan Pax Americana, tentu tidak membandingkan korban Tsunami dengan korban bom atom. Karena, dia sudah terbiasa melihat korban akibat bom napalm atau tandem.

Penolakan AS terhadap ratifikasi Protokol Kyoto atau kesepakatan tentang emisi gas buangan industri, menyebabkan keduanya mahfum, mengapa bencana Tsunami terjadi. Lagi pula, di AS angin topan dan badai yang meluluhlantakkan bangunan sangat sering terjadi, sehingga semua bencana dihadapi dengan semangat demokrasi, yang menjadi mata dagangan utama AS. Jadi, bukan hanya freedom of speech (bebas berpendapat) dan freedom of fear (bebas dari rasa takut), tapi juga freedom to die (bebas untuk mati).

Sayang, tidak banyak orang berupaya menyadari bahwa pengerusakan terhadap salah satu bagian dari alam, lambat atau cepat, akan berakibat juga pada bagian-bagian yang lain. Sebab, alam serta seluruh isinya berkaitan satu sama lain, seperti rajutan tenun. Meski sulit dibuktikan, namun dalam teori kheos ada pendapat bahwa kepak sayap ribuan kupu-kupu di Meksiko, bisa menimbulkan badai besar di kawasan lain yang berjarak ribuan mil. Agar tidak terlalu pusing memikirkan pendapat itu, Rubag pernah membuktikan secara tidak sengaja. Penyetopan arus lalu lintas di sebuah jalan karena kegiatan upacara, menimbulkan beberapa kemacetan di ruas-ruas jalan lainnya. Puisi Ted Perry menggambarkan hal tersebut dengan pas, sbb.;

Inilah yang kita tahu
Segala benda itu menyatu
Seperti hubungan darah
Mengikat seluruh keluarga
Yang terjadi pada bumi
Terjadi juga pada semua penghuni
Manusia tidak merajut jaring kehidupan
Ia
hanya secarik benang yang ada padanya
Apa
yang ia lakukan pada jaring itu
Akan mengena pada dirinya sendiri.

* aridus

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com