kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Paing, 5 Januari 2005

 Bali


10 Tokoh Penerima Anugerah Pers K. Nadha Nugraha
Cita-citanya Menjadikan Bali Ajeg

PENERIMA anugerah pers K. Nadha Nugraha tahun 2005 ini sangat beragam. Ada pahlawan, budayawan, petani, bahkan ada pemain arja muani. Namun, apa pun profesinya, pemikiran 10 tokoh penerima anugerah pers K. Nadha Nugraha yang Rabu (5/1) ini diserahkan di Gedung Pers Bali Ketut Nadha, merupakan fondasi untuk menjadikan Bali ini ajeg. Pemikiran-pemikirannya merupakan sebuah lompatan dan inovasi yang takkan lekang dan takkan lapuk karena zaman. Siapa saja mereka?

Semangat Persatuan
''Puputan Margarana'' sulit dilepaskan dari kebesaran nama pahlawan nasional I Gusti Ngurah Rai. Ia lahir 1917 di Carangsari, Petang, Badung. Ayahnya I Gusti Ngurah Pacung dan ibunya I Gusti Ayu Kompyang.

Sejak kecil Ngurah Rai amat menyenangi pencak silat dan mengajarkan olah raga bela diri ini di Carangsari. Sempat mengenyam pendidikan di sekolah dasar Belanda (Holland Inlandsche Lager Onderwijs -- HIS) dan melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Inderwijs (MULO) di Malang. Sayang pendidikannya tak berlanjut, karena orangtuanya meninggal tahun 1935.

Tahun 1938, I Gusti Ngurah Rai mengikuti pendidikan Offiser Corp Prayoda dan diselesaikan tahun 1940. Tahun 1943, ketika zaman pendudukan Jepang, dia sempat merintis pergerakan di bawah tanah dengan teman-temannya.  Ketika Indonesia Merdeka, 17 Agustus 1945, Ngurah Rai bergabung menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Dalam rapat 30 Oktober 1945, di Kantor Komite Nasional Indonesia di Badung , ia dipilih sebagai pimpinan TKR Bali dengan pangkat mayor. Kemudian dilantik di Yogyakarta sebagai pemimpin TKR Sunda Kecil dengan pangkat letnan kolonel.

Pada 19 Desember 1945, I Gusti Ngurah Rai, IGB Putu Wisnu dan kawan seperjuangan meminta bantuan pemerintah pusat di Yogyakarta . Realisasinya, pada awal Maret 1946 berdatangan pasukan pejuang dari Jawa.  Kedatangan kembali Belanda untuk menjajah disambut dengan perang di Indonesia , termasuk di Bali . Munduk Malang sebagai markas pejuang tak terlepas dari incaran Netherland Indies Civil Administration (NICA). Markas pejuang dipindahkan ke Bengkel Anyar. Rakyat mendukung penuh perjuangan Ngurah Rai. Ini membuat Belanda kebingungan. Melalui surat 3 November 1946 , JBT Konig mengajak Ngurah Rai berunding. Namun, ajakan tersebut ditolak Ngurah Rai melalui surat 18 Mei 1946. Dari isi surat-suratnya, ia sangat kesatria, tetap berpegang teguh pada tekad rakyat dan tak mau mundur setapak pun. Akibatnya, Belanda makin beringas. Satu-satunya cara menghadapi Belanda adalah mengerahkan seluruh kekuatan di Sunda Kecil. Siasat perjuangan dilakukan dengan mengosongkan front barat serta long march ke Gunung Agung. Sempat terjadi beberapa kali pertempuran pasukan induk dengan serdadu NICA di Bon, Pemuteran, Pesagi Tanah Aron, Karangasem. Setelah menang pertempuran di Tanah Aron, pasukan kembali bergabung dengan staf II Melati di Desa Marga, Tabanan.

Saat bermarkas di Banjar Ole, Marga, 18 November 1946 , pasukan induk melakukan serangan gencar terhadap tangsi NICA di Tabanan. Serangan itu berhasil merampas senjata serdadu NICA. Akibatnya, NICA sangat marah. Besoknya, 19 November 1946 , rakyat di sekitar Marga disiksa secara kejam. Pada saat itu sekitar pukul 08.00 I Gusti Ngurah Rai mengeluarkan perintah harian agar pasukan tetap disiplin, waspada terhadap segala kemungkinan. Sekitar pukul 22.00 ada kabar keesokan harinya 20 November, Desa Andeng dan Pengembungan dikurung NICA.

Akhirnya benar 20 November 1946 , Desa Marga dikurung oleh serdadu NICA. Gusti Ngurah Rai sebagai pemimpin pasukan segera memerintahkan untuk mengatur steling. NICA mengancam, penduduk agar mau menunjukkan keberadaan Gusti Ngurah Rai. Pukul 09.00 pertempuran dimulai diawali I Gusti Ngurah Rai. Banyak serdadu NICA tewas saat itu dan Belanda sempat mundur. Namun, pukul 12.00 datang lagi pesawat NICA tipe B 24 di atas medan pertempuran melepaskan tembakan, bom asap dan gas air mata ke pasukan Ciung Wanara tanpa henti-hentinya. Ngurah Rai memerintahkan pasukannya untuk membalas. Dalam tembak-menembak itu I Gusti Ngurah Bagus Sugianyar tewas. Hal itu membuat Ngurah Rai marah dan memerintahkan pasukannya bertempur sampai titik darah penghabisan. Dalam pertempuran itu Gusti Ngurah Rai bersama pasukannya gugur sebagai kesuma bangsa dalam membela dan mempertahankan kemerdekaan bangsa dan negara RI. Untuk mengenang dan menghormati jasa para pejuang yang telah gugur, dibangun Monumen Nasional Taman Pujaan Bangsa Margarana. (*)

 

 

Ditahan, tak Pernah Menyerah

 

Mr. I Gusti Ketut Pudja adalah bagian sekaligus salah satu pelaku sejarah bangsa Indonesia . Namanya tercatat dengan tinta emas, ketika putra kelima dari I Gusti Nyoman Raka, punggawa di Sukasada, Buleleng ini banyak berkiprah dengan kesetiaannya membela bangsa dan negara.

I Gusti Ketut Pudja lahir pada tanggal 19 Mei 1908 dan wafat pada hari Rabu, 4 Mei 1977 di RS Ciptomangunkusumo, Jakarta . Dalam usia 69 tahun, Pudja pergi untuk selama-lamanya meninggalkan sang istri, I Gusti Ayu Made Ngurah, beserta lima putra-putrinya yakni Drs. I Gusti Ngurah Arinton Pudja, I Gusti Made Arinta Pudja, S.H., I Gusti Ayu Nyoman Arinti Pudja, B.A., serta pasangan kembar I Gusti Ayu Ketut Karnini dan I Gusti Ayu Ketut Karnina.

I Gusti Ketut Pudja merupakan putra Bali pertama yang memperoleh gelar Meester in de Rechten (sarjana hukum). Dalam tahun 1935 Pudja telah mengabdikan dirinya pada Kantor Residen Bali dan Lombok di Singaraja. Tahun 1936, ia ditempatkan pada Pengadilan Negeri yang pada masa itu disebut Raad van Kerta.

Pada awal pendudukan Jepang, I Gusti Ketut Pudja ditugaskan untuk mengaktifkan kembali kegiatan pemerintahan sipil. Ia diangkat oleh Kapten Kanamura dari Angkatan Darat Jepang untuk menjalankan kegiatan pemerintahan karesidenan di Singaraja sebagai redjikan dairi. Setelah Angkatan Darat Jepang diganti dengan Angkatan Laut Jepang, Pudja diangkat sebagai giyosei komon (penasihat umum) cookan (kepala pemerintahan Sunda Kecil) sampai zaman kemerdekaan.

Pada pertengahan bulan Agustus 1945, Pudja ditunjuk untuk mewakili Sunda Kecil menghadiri rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) di Jakarta. Ia hadir di rumah Laksamana Maeda pada 16 Aguustus 1945 malam hari, di mana teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia itu disusun. Pada hari yang bersejarah 17 Agustus 1945, Pudja turut menyaksikan pembacaan Proklamasi Kemerdekaan di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta (sekarang Jalan Proklamasi), Jakarta .

Pudja mengikuti secara aktif rapat-rapat PPKI. Ia turut dalam panitia kecil yang dipimpin oleh Otto Iskandar Dinata, dengan tugas menyusun rancangan yang berisi hal-hal yang meminta perhatian mendesak. Panitia kecil ini telah berhasil menyusun pembagian wilayah atas delapan propinsi dan juga mengusulkan pembentukan tentara kebangsaan.

Pada 22 Agustus 1945, I Gusti Ketut Pudja diangkat oleh Presiden Republik Indonesia untuk menjabat Gubernur Sunda Kecil yang pada waktu itu disebut "Wakil Pemimpin Besar Bangsa Indonesia Sunda Kecil". Pada 23 Agustus 1945, ia pulang ke Bali untuk memulai tugas baru.

Sebagai gubernur pertama, mulailah ia menyusun pemerintahan nasional RI Sunda Kecil. Tugas yang dipikulkan oleh pemerintah pusat kepadanya tidaklah ringan. Di samping pemerintahan nasional RI Sunda Kecil, pemeirntah pendudukan Jepang di Sunda Kecil masih tetap berkuasa, meskipun Jepang telah menyerah kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945.

Di lain pihak, masih ada swapraja-swapraja yang sejak tahun 1938 diatur oleh pemerintah kolonial Belanda yang menetapkan daerah Bali atas delapan kerajaan.

Untuk menyatukan seluruh delapan kerajaan ini, Gubernur Pudja mengadakan perjalanan keliling Pulau Bali bersama dengan Ketua Komite Nasional Indonesia (KNI) Sunda Kecil Ida Bagus Putra Manuaba. Mereka datang ke setiap kerajaan untuk memberi penerangan kepada raja-raja dan rakyat Bali mengenai kemerdekaan Indonesia dan telah berdirinya pemerintahan nasional RI Sunda kecil. Ia juga mengirim utusan ke Lombok dan Sumbawa Besar untuk tujuan yang sama. Di samping pembentukan KNI, di tingkat propinsi dan kabupaten dibentuk pula Badan Keamanan Rakyat (BKR).

Selama menjabat Gubernur Sunda Kecil, I Gusti Ketut Pudja beberapa kali masuk tahanan. Pertama kali ia diculik oleh Jepang akibat penyerbuan para pemuda yang gagal untuk mendapatkan senjata pada 13 Desember 1945. Ia ditahan lebih kurang sebulan.

Setelah dibebaskan dari tananan, I Gusti Ketut Pudja masuk ke daerah Republik Indonesia yaitu ke Yogyakarta . Kedatangannya disambut hangat oleh Presiden Soekarno. Ia ditempatkan pada Kementerian Dalam Negeri dan diberi tugas mengikuti jalannya pemerintahan di daerah-daerah. (*)

 

 

Guru yang juga Pejuang

 

Ida Bagus Putra Manuaba lahir di Tabanan, 15 Februari 1908 dari perkawinan Ida Made Kepeg Manuaba dengan Ida Ayu Ketut Punia. Pendidikan dasar ditempuhnya di Tabanan mulai dari Sekolah Desa (Volkschool) tahun 1914, Vervolgschool, hingga memasuki Hollandsch Inlandsche School (HIS).

Setamat dari Sekolah Guru atau Hogore Kweekschool Bandung tahun 1931, Putra Manuaba ditempatkan pertama kali sebagai guru HIS di Singaraja, tempat di mana pada 18 Mei 1931, dia menikahi R.Oemi Rahayoe. Perkawinan itu kemudian menurunkan tiga anak laki-laki yang kini sudah jadi "orang" yakni Prof. Dr. Drs. Ida Bagus Adnyana Manuaba, Ir. Ida Bagus Nurcahya Manuaba, dan dr. Ida Bagus Tjakrawibawa Manuaba.

Di samping mengajar, Putra mulai menceburkan diri dalam organisasi politik Parindra (Partai Indonesia Raya). Dipindah ke HIS Denpasar pada tahun 1932, Putra Manuaba tetap aktif di Parindra, bahkan menjadi ketua cabang. Ketika Taman Siswa mendirikan cabangnya di Denpasar, dia ikut dalam pengurus cabang. Berkiprah dalam berbagai bidang, pada tahun 1940 Putra Manuaba ikut dalam Gerakan Indonesia berparlemen.

Ketika tentara Dai Nippon mendarat di Bali, tahun 1942, Putra Manuaba diangkat oleh pemerintah Jepang di Bali menjadi Pemimpin Badan Koperasi Pertanian yang khusus bertugas mengumpulkan hewan, terutama sapi dan babi, serta memeliharanya. Hewan-hewan itu dibeli dari rakyat dan dikirim ke Jawa untuk konsumsi pasukan Angkatan Darat Jepang di Jawa. Belakangan, Putra Manuaba dipindahkan ke Singaraja untuk membuka Sekolah Menengah Pertama yang dikenal dengan nama Tjugakko.

Pada tahun 1944, dia dipindahkan ke Kantor Pendidikan Pusat di Singaraja dan diberi tugas menjadi Pimpinan Pendidikan Masyarakat khususnya memimpin Seinendan (Gerakan Pemuda), kemudian diangkat pula menjadi Sanyo, semacam anggota Badan Penasihat Pemerintah Pendudukan Jepang di daerah Sunda Kecil.

Perang Dunia II berakhir dengan menyerahnya Jepang kepada Sekutu tahun 1945. Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Berita proklamasi itu baru diterima di Bali pada 24 Agustus 1945, sekembalinya Mr. I Gusti Ketut Pudja dari Jakarta, setelah selesai tugasnya dalam Badan Persiapan Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang diketuai Bung Karno.

Tanggl 18 Agustus 1945 merupakan hari paling bersejarah bagi Putra Manuaba. Saat itu dia ditetapkan oleh Presiden Soekarno sebagai Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) Sunda Kecil yang berkedudukan di Singaraja. Sedangkan Mr. I Gusti Ketut Pudja sebagai Gubernur Sunda Kecil. Pada September 1945, Putra Manuaba diutus ke Jakarta menemui pemerintah pusat untuk mendapatkan intruksi dan informasi lebih jauh, dan baru kembali pada 8 Oktober 1945. Dalam perjalanan pulang, Putra Manuaba sempat mengalamai peristiwa pertempuran di muka kantor Gubernur Surabaya di mana jatuh banyak korban akibat kelicikan para pengkhianat bangsa. Sekembali Putra dari Jakarta , di Singaraja telah terjadi pengambilalihan kekuasaan tentara pendudukan Jepang ke tangan pemerintah Indonesia .

Putra Manuaba sempat ditahan Belanda pada 11 Maret 1946 bersama-sama Gubernur Pudja, I Gusti Nyoman Wirya, Dokter Angsar, Dokter Katung, Opzichter Sutomo, dan lain-lain. Tempat tawanan berpindah-pindah, dari tangsi satu ke tangsi lain, akhirnya ke penjara Pekambingan, Denpasar. Walapun berada dalam penjara, berita perjuangan para pejuang dan pemuda tetap dapat diikuti. Pada tahun 1947, Putra Manuaba dibebaskan dari penjara dan tinggal di garasi mobil di Belaluan, untuk kemudian mendaftarkan diri menjadi guru di SLU dan mengajar di sekolah yang berlokasi di Kaliungu Kelod. Untuk biaya hidup, dia membuka warung dan menjual kayu api, di samping menjadi guru. Di tengah pekerjaannya, dia ikut lagi dalam pergerakan politik Gerakan Rakyat Indonesia di bawah pimpinan I Gusti Putu Merta dan Dokter Soewarno.

Pada tahun 1948, Putra Manuaba ditawari menjadi anggota parlemen Negara Indonesia Timur (NIT) oleh dan atas keputusan Majelis Raja-raja di Bali. Yang membawa tawaran itu adalah I Gusti Bagus Oka. Sementara itu ada surat dari hutan/para pejuang yang isinya agar jangan meninggalkan Bali dan menerima tawaran tersebut untuk membela kepentingan mereka. Putra akhirnya menerima tawaran menjadi anggota parelemen NIT.(*)

 

 

Perintis Seni Tari Arja

 

Perkembangan seni tari arja di Bali tentu tidak bisa dipisahkan dari sosok I Wayan Dalun (alm). Seniman tari asal Banjar Pande, Desa Blahbatuh yang diperkirakan lahir pada tahun 1890-an inilah yang pertama kali membentuk Sekaa Arja Roras di mana seluruh pragina-nya berjenis kelamin laki-laki. Nama I Wayan Dalun mulai "berkibar" di jagat seni hiburan Bali ketika kakek dari mantan Bupati Gianyar Made Kembar Kerepun ini membentuk Sekaa Arja Roras bersama sebelas orang rekan prianya -- Wayan Purna, Gusti Alit Selat, Dewa Gede, Ketut Bara, Ketut Kasa, Ida Bagus Rangkan, I Regis, Ida Bagus Gederan, Ida Bagus Sidan dan Wayan Teduh -- pada tahun 1915 silam. Aktivitas berkesenian seniman yang semasa hidupnya bersahabat karib dengan pelukis I Gusti Nyoman Lempad ini dilakoninya hingga ajal menjemputnya sekitar 1940-an. "Kompyang (kakek) Dalun diperkirakan meninggal dunia tahun 1940 silam, menjelang Jepang menjajah Indonesia . Menurut penuturan tetua kami, beliau meninggal karena terserang penyakit tetanus. Beliau meninggal dalam usia relatif muda," ujar salah seorang cucunya, Kembar Kerepun, kepada Bali Post, Sabtu (18/12).

Menurut Kembar Kerepun, sosok Dalun sangat berpengaruh dalam sekaa arjanya. Ketampanan paras dan kelembutan suaranya serta kepiawaiannya menari membuat suami Ni Wayan Tiles ini senantiasa kebagian peran sentral dalam setiap lakon yang dipentaskannya. Dia dikenal sebagai spesialis pemeran mantri manis (raja muda-red) atau kebagian peran-peran lembut lainnya seperti Jaya Prana, Sampik, Japa Tuan dan sebagainya. Nama besar Dalun menarik hati sederetan krama Bali berguru kepadanya. Artis-artis arja yang sempat harum namanya di jagat seni hiburan Bali seperti Ketut Rinda, Lotring, Gung Mandra dan Lemon adalah segelintir dari seniman arja kondang yang lahir dari "polesan" tangan dingin seorang Dalun. Begitu kuatnya pesona Dalun, sehingga sejumlah seniman arja masa kini dari seantero Bali menyempatkan diri untuk tangkil (bersembahyang-red) di pamerajan keluarga almarhum Dalun. Tujuannya jelas, berharap agar "ditulari" taksu yang mengitari diri Dalun, sehingga membuat namanya begitu fenomenal di kalangan seniman arja. "Sejumlah literatur berbahasa Inggris memang sempat mencantumkan nama I Wayan Dalun sebagai perintis tari arja di Bali dengan Sekaa Arja Roras yang seluruh pragina-nya laki-laki. Generasi Arja Roras berikutnya seperti era kejayaan Ribu, Monjong, Rinda, Sadra, Sadeg, Jro Suli, Lemon dan Putu Lasmi, pragina-nya sudah campuran antara laki-laki dan perempuan. Kehadiran Sekaa Arja Muani Printing Mas dan Akah Canging yang kondang belakangan ini, boleh jadi terinspirasi dan ingin mengulang masa kejayaan Dalun dkk," kata Kembar Kerempun yang mengaku masih mengoleksi gelungan dan kostum arja yang sempat dikenakan Dalun pada saat masa kejayaannya dulu.

Pada 1934, kata Kembar Kerepun, Dalun bersama rekannya Purna sempat menuangkan kreativitas mereka dalam empat pelat piringan hitam yang dicetak khusus di Jerman. Lakon arja yang diusung dalam empat piringan hitam itu meliputi Jayaprana, Sampik-Ingtay, Japa Tuan dan Eman-eman Gusti Wayan. Sayang, Kembar Kerepun mengaku tidak tahu-menahu di mana keempat piringan hitam kini berada. Dikatakan, pihaknya sempat mendapatkan satu keping piringan hitam asli dalam kondisi pecah dan sekarang sudah diserahkannya kepada salah seorang dosen ISI Denpasar.(*)

 

Pelestari Satwa Kokokan

 

Nama Desa Petulu memang tidak bisa dipisahkan dengan keberadaan ribuan koloni kokokan (burung bangau-red) yang hidup bebas di kawasan desa itu. Menyebut nama Petulu, berarti ingatan kita akan melayang kepada burung berwarna putih bersih itu. Sebaliknya, menyebut nama kokokan maka ingatan kita pun tertuju pada Desa Petulu, Kecamatan Tegallalang, Gianyar. Ibaratnya, Petulu dan kokokan memang merupakan "senyawa" yang sudah tidak terpisahkan.

Berbicara mengenai pelestarian kokokan di Desa Petulu, kita tidak akan bisa melupakan jasa besar I Wayan Beneh. Tokoh masyarakat yang sekaligus mantan Kepala Desa Petulu ini memang sangat konsisten dalam melestarikan satwa kokokan di wilayahnya. Kerja keras bapak tiga orang putri itu telah berbuah penghargaan Satya Lencana Pembangunan dari pemerintah RI. Penghargaan bergensi itu diraih berkat keteladanan Beneh dalam melestarikan kokokan di Petulu. Yang paling membanggakan, penghargaan bergengsi yang hanya ditujukan kepada anak bangsa yang sudah teruji loyalitas dan reputasinya di tingkat nasional itu langsung diterima Beneh dari tangan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono serangkaian Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional 2004 di Istana Negara, Jumat (5/11) lalu. Satya Lencana Pembangunan itu melengkapi penghargaan Kalpataru yang diterima masyarakat Petulu dari Presiden Soeharto pada 4 Juni 1991 lalu. Saat itu, Beneh yang kini menjabat Bendesa Adat Petulu masih menjabat Kepala Desa Petulu. "Terus terang, masyarakat Petulu sangat bangga dengan penghargaan bergengsi ini. Apa yang kami lakukan dalam melestarikan kokokan ini tidak sia-sia," kata I Wayan Beneh.

Kendati penghargaan itu merupakan sebuah kebanggaan bagi masyarakat Petulu, tetapi bukanlah segala-segalanya. Penghargaan itu hanyalah sasaran antara untuk lebih mengentalkan semangat maupun meningkatkan prestasi untuk melestarikan kokokan. "Penghargaan ini menjadi tantangan berat bagi saya dan masyarakat Petulu. Sebab, upaya-upaya pelestarian kokokan ini akan menghadapi tantangan yang tidak ringan di masa datang," kata Beneh yang sempat memimpin Desa Petulu selama 30 tahun ini.

Suami Ni Made Kamin ini tidak menampik bayang-bayang kepunahan populasi kokokan senantiasa menghantui pikirannya. Kepunahan itu bisa diakibatkan makin berkurangnya komunitas dan habitat yang mendukung tumbuh-kembangnya populasi kokokan. Terutama makin lemahnya daya dukung habitat khususnya tumbuhan atau pohon-pohon besar. "Tetapi, tekad masyarakat di desa ini sudah bulat untuk melestarikan kokokan di sini. Kokokan ini tidak boleh sampai punah dari Desa Petulu. Dengan segala upaya dan pengorbanan, kami akan berusaha agar wawengkon Petulu tetap jadi tempat yang nyaman dan aman bagi kokokan untuk berkembang biak," tegasnya dan menambahkan, satwa kokokan sudah jadi semacam trade mark bagi desanya.

Beneh menegaskan, keberadaan koloni ribuan kokokan di desanya secara tidak langsung telah berjasa mendongkrak taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat Petulu. Sektor industri kerajinan yang kini tumbuh subur di Petulu adalah "buah manis" dari upaya pelestarian kokokan yang dilakukan warganya. Satwa unggas berbulu putih halus ini juga membuat nama Petulu masuk ke dalam daftar objek-objek wisata andalan di Kabupaten Gianyar yang disinggahi banyak wisatawan mancanegara dan domestik setiap tahunnya. Dengan sendirinya masyarakat Petulu juga ikut serta menikmati berkah pariwisata yang berlangsung di daerahnya.(*)

 

Dari Hukum ke PHDI

 

Ida Bagus Gede Dosther adalah putra pasangan Ida Bagus Putu Gede dan Ida Ayu Ketut Sari. Sedari kecil, kehidupan Dosther sangat memperihatinkan, namun keadaan itu tidak membuatnya menyerah. Sang ayah mengharapkan Dosther bisa menjadi seorang pedagang. Namun takdir berkata lain. Dosther lebih suka mengikuti kegiatan kepemudaan, apalagi pada saat usianya belasan tahun, penjajahan sedang melanda Indonesia . Dosther juga salah seorang pejuang yang ikut bertempur di Gelar melawan NICA. Organisasi yang pernah diikutinya semasa sekolah adalah PPTS dan ISSM. Sedangkan semasa kuliah, Dosther yang vegetarian ini bergabung dengan AMBH.

Menurut pengakuannya, ia sebenarnya ingin kuliah di Fakultas Sastra, namun karena diajak temannya kuliah di Fakultas Hukum, Dosther mau saja. Tahun 1956, gelar sarjana muda hukum diraih di UGM Yogyakarta. Setelah lulus, Dosther diterima di Kejaksaan Negeri Denpasar. Berikutnya tahun 1958, Ida Ayu Ketut Gede dipersunting dan memberikan seorang anak bernama Ida Bagus Gede Siwananda.

Selain aktif di dunia hukum, dengan mempelajari pasal-pasal KUHP, HIR dan bersidang, Dosther tidak melupakan kegiatan keagamaan. Kecintaannya pada masalah keagamaan menjadikannya salah satu dari sesepuh dan pendiri Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI). Dosther bersama Ida Pedanda Made Kemenuh, Ida Bagus Wayan, I Gusti Ananda Kusuma dan I Ketut Kandia pernah menghadap Presiden Soekarno terkait  masalah agama Hindu. Akhirnya keluar Skep Menteri Agama No. 2 tanggal 5 September 1958 mengenai pengakuan agama Hindu sebagai agama resmi. Selanjutnya diadakan pertemuan yang merupakan cikal bakal berdirinya PHDI. Selain itu, juga lahir Piagam Parisada tertanggal 23 Februari 1959. PHDI merupakan wadah organisasi agama Hindu yang terdiri atas dua paruman yakni Sulinggih (11 orang) yang bertugas sebagai penata agama dan Walaka (22 orang) yang bertugas memelihara, memupuk dan mengembangkan agama Hindu. Dosther aktif sejak awal berdirinya PHDI bersama Ida Bagus Mantra dan I Gusti Bagus Oka.

Sepak terjangnya di berbagai kegiatan membuat nama Dosther mulai diperhitungkan. Gubernur Bali saat itu AA Bagus Suteja memberi tugas kepada Dosther untuk menjadi Bupati Jembrana. Pelantikan ini dilaksanakan Februari 1960. Selama menjadi Bupati di Bumi Mekepung hingga tahun 1967, banyak tantangan yang dihadapinya. Apalagi pada masa itu G-30-S/PKI sedang berlangsung. Dosther kemudian digantikan oleh Letnan Safroni sebagai bupati.

Selanjutnya kakek dua cucu ini kembali ke kejaksaan dan bertugas di Kejaksaan Tinggi Bali . Saat dilangsungkannya Mahasabha PHDI, Desember 1968, Dosther didaulat sebagai Sekjen PHDI. Di masa itu, dia berhasil membangun PHDI walau keadaan sangat sulit. PHDI tidak punya kantor tetap. Awalnya ''nebeng'' di Tainsiat hingga ''nyempil'' di Pura Jagatnatha. Namun, itu tidak melunturkan perjuangannya demi kepentingan umat Hindu. PHDI akhirnya memiliki tanah di Tatasan. Ketika masa jabatan selesai, Dosther dimutasi ke Kejati Yogyakarta hingga pensiun.

Setelah kenyang makan asam garam di dunia eksekutif dan yudikatif, Dosther juga merambah ke dunia legislatif. Tahun 1992, Dosther dilantik menjadi anggota DPRD Jembrana bahkan terpilih sebagai Ketua DPRD. Pada pemilu berikutnya, Dosther duduk kembali di kursi Dewan dan dijadikan pimpinan sementara. Dengan alasan usia, Dosther yang juga mantan Purek III IHD dan veteran golongan A ini memilih mundur dan mengisi hari-harinya bersama istri tercinta. (*)

 

 

''Kusir Dokar'' Menghibur Orang Sakit

 

Beruntunglah Bali memiliki seorang Anak Agung Made Cakra. Betapa tidak, ia adalah sejatinya seniman musik pop Bali . Kepiawaiannya bermusik dan mencipta lagu, merupakan cikal bakal melambungnya musik pop Bali seperti sekarang ini.  Lelaki kelahiran 11 November 1928 ini yang lebih akrab dipanggil Gung Cakra belajar musik secara otodidak sejak usia tujuh tahun.

Berawal dari kesukaannya mendengarkan musik pop yang dimainkan orang-orang Jepang di Bali. Dalam setiap pertunjukan musik itu ia tak hanya menonton, juga mencerna hingga grup musik itu bubar. Tamat SR (Sekolah Rakyat) Gung Cakra dipekerjakan di Hinomaru oleh orang Jepang. Karena dinilai sangat berbakat di bidang musik, ia diajak pentas menghibur para tamu dan orang-orang sakit. Gung Cakra merasa beruntung bisa belajar musik yang menjadi satu "kemewahan" masa itu.

Memasuki zaman kemerdekaan, Gung Cakra makin giat belajar musik. Ia bergabung bersama orkes keroncong "Puspa Teruna", orkes keroncong "Melati Kusuma" yang dipimpin Merta Suteja, "Merta Kota" dan orkes keroncong "Cenderawasih" pimpinan Ir. Soekarno yang tinggal di Singaraja. Kesibukannya makin bertambah dengan kegiatan bermusik rutin di RRI Stasiun Denpasar, pentas di panggung terbuka dan tampil khusus di pesta perkawinan hingga di banyak balai banjar.

Gung Cakra pernah membentuk sekaligus memimpin grup orkes keroncong "Fajar Baru". Perjalanan Gung Cakra berlanjut ketika tahun 1958. Ketika itu ia mendapat kesempatan bergabung dengan orkes DHK (Dinas Hiburan Kesejahteraan). Ia banyak mendapat pengalaman bermusik, seperti menggesek biola, meniup seruling hingga memainkan klarinet.

Tak hanya memainkan alat musik, anak pasangan A.A. Ketut Gde Macok dan Jero Cutan ini juga kreatif mencipta lagu. Satu lagu monumentalnya berjudul "Kusir Dokar". Lagu kocak yang sarat warna etnik Bali ini bercerita tentang kusir dokar yang mata keranjang. Satu pengalaman berkesan Gung Cakra adalah saat ia dipercaya menghibur Presiden pertama RI Soekarno di Istana Tampaksiring. Soekarno bahkan pernah mengajak Gung Cakra berduet. "Saat itu saya dapat banyak pitutur soal bermusik yang baik dan benar dari Presiden Soekarno. Beliau sangat senang dengan lagu 'Aryati'," kenang Gung Cakra. Soekarno juga sempat memerintahkan staf istana agar mengirimkan satu senar baru dari Jakarta untuk mengganti senar biola Cakra yang dinilai sangat tidak memenuhi standar lagi. Tetapi, senar itu tidak pernah sampai ke tangannya hingga kini.

Selain berkecimpung di bidang musik, Cakra juga sempat membentuk grup drama gong bersama Wayan Merta Suteja, seniman asal Wangaya, Denpasar. Drama Gong Duta Dharma ini sangat digemari pencinta drama gong di Bali. Praktis waktu Gung Cakra habis untuk bermain musik dan pentas drama.

Awal tahun 1963 Gung Cakra membuat grup band Putra Dewata. Karena kesulitan mencari pemain, Gung Cakra menarik tujuh anaknya untuk masuk band tersebut. Uniknya, Gung Cakra juga membuat sendiri alat musik yang digunakan, seperti drum, ketipung dan stik drum.  

Kegiatan bermusiknya makin dikukuhkan ketika ia masuk dapur rekaman. Bali Record merekam album "Kusir Dokar" yang direkam ulang sampai 900.000 keping. Dari keuntungan album itulah grup Putra Dewata mempunyai seperangkat alat musik modern yang layak untuk mengiringi lagu-lagu garapan Gung Cakra. Hingga tahun 1978 Cakra telah mengeluarkan empat album rekaman. Kecintaannya pada musik begitu besar hingga ia berujar pasti, "Sampai mati pun saya tetap main musik." (*)

 

 

Museum, Pura dan Gereja

 

Air cucuran atap jatuh pula ke pelimbahan. Demikianlah seorang Ida Bagus Tugur, arsitek tradisional Bali yang namanya cukup monumental. Lahir di Geria Cucukan, Klungkung, 29 Mei 1926, IB Tugur merupakan putra dari seorang undagi yang penekun usadha (dukun) -- Ida Bagus Tuger (alm).

Tampaknya, darah seni perundagian sang ayah mengalir cukup deras ke tubuh kakek sejumlah cucu ini. Aliran darah seni itu membuat IB Tugur memiliki bakat yang tinggi dalam bidang perarsitekturan. Terlebih, ayah lima orang anak ini sempat mengenyam pendidikan di Sekolah Pertukangan, seusai menamatkan Sekolah Rakyat (SR).

IB Tugur memiliki semangat kerja yang tinggi. Seusai menamatkan pendidikan di SR di Klungkung, IB Tugur merantau ke Denpasar dengan berbekalkan semangat dan keberanian. ''Ketika itu, Bapak bersama seorang temannya berani keluar dari desa untuk mencari pengalaman di kota ,'' kata IB Gede Yadnya, putra tertuanya.

Ternyata, semangat kerja yang tinggi itu membuahkan hasil. Bakat dan keahliannya dalam bidang perarsitekturan Bali membuat IB Tugur dipercaya menjadi juru gambar bangunan di Dinas PU mulai 1944 hingga 1964. Tahun 1965-1986 ia juga dipercaya menjadi dosen luar biasa di Fakultas Teknik Universitas Udayana dan tahun 1975 mendirikan Konsultan Biro Perencana UP Astha, selaku direktur/pimpinan hingga sekarang.

Tak hanya terkenal sebagai arsitek tradisional Bali yang mumpuni, IB Tugur juga memiliki keahlian melukis. Sejak kanak-kanak ia senang melukis wayang, bunga, landscape, margasatwa dan berbagai ornamen. Mulai tahun 1955 aktif melukis beraliran realis/impresionis. Mulai tahun 1965 di samping melukis ia juga berkecimpung dalam bidang kearsitekturan.

Bangunan-bangunan yang telah direncanakan dan diawasi pelaksanaannya antara lain Taman Budaya Denpasar, Sasana Budaya Bangli, Sasana Budaya Buleleng, Sasana Budaya Tabanan, Sasana Budaya di Besakih, Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali, Kantor Dinas Kebudayaan Bali, Museum Indonesia Indah di TMII Jakarta , Puri Bali TMII Jakarta, Museum Suaka Purbakala di Pejeng Gianyar, Museum Subak di Tabanan, Taman Indonesia Beirut.

Tak itu saja. Fasilitas umum dan pariwisata yang mendapat sentuhan tangan IB Tugur di antaranya Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar, Monumen Operasi Lintas Laut di Gilimanuk, Candi Bentar dan Pertamanan di Nusa Dua, Pintu Gerbang dan Pertamanan Bali Barat.

Sejumlah bangunan kantor pemerintahan juga terwujud berkat rancangannya seperti Kantor DPRD Propinsi Bali, Kantor Dinas Pariwisata Bali, Kantor Dinas Perindustrian Bali, Kantor KB di Klungkung dan Denpasar, sebagian RS Sanglah Denpasar, Kantor Dinas Perkebunan Bali, sebagian Gedung Universitas Udayana di Denpasar dan Bukit, bangunan SMU tersebar seluruh Bali, SLTP tersebar seluruh Bali, Perpustakaan Wilayah Bali dan lain-lain.

Bangunan fasilitas sosial atau tempat ibadah di antaranya bagian dari Pura Besakih, Pura Gelap Besakih, Pura Melanting, Pura Pabean, Pura Pemuteran, Pura Manik Tirta, Pura Pulaki, Pura Belatungan, Pura Ponjok Batu, Pura Jagatnatha di Amlapura, Pura Jagatnatha di Singaraja, Pura Jagatnatha di Jembrana, Pura Sendang Tirtokamandanu di Menang Kediri, Pura Girinatha di Semarang, Pura Giri Waseso di Purwoharjo Banyuwangi, Gereja Katolik di Denpasar, Gereja Palasari di Jembrana, dll.(*)

 

 

Tulis Kamus Bali

 

Romo Nobert Antonius Shadeg, SVD lahir di Minnesota , Amerika Serikat pada 10 Desember 1921. Anak ke-10 dari 14 bersaudara keluarga pasutri Henry-Rosa Shadeg ini sejak kecil memang bercita-cita menjadi pastor. Dalam usia 21 tahun lantas mendaftar masuk Novisiat SVD -- salah satu ordo -- di Techny , Illinois , AS. Setelah ditahbiskan jadi imam, bersama 13 rekannya Shadeg diutus ke Indonesia . Shadeg akhirnya menjejakkan kaki di Bali pada 20 Juli 1950 setelah menyinggahi Ujungpandang dan Flores .

Selain berperan sebagai seorang pastor dengan melayani umat Katolik di sejumlah paroki di Bali , Romo Shadeg juga punya perhatian besar pada dunia pendidikan dan masalah kebudayaan. Sempat jadi guru basaha Inggris di Singaraja, yang saat itu menjadi ibu kota Propinsi Sunda Kecil. Sejak mengajar itulah, dia tertarik untuk lebih intens mempelajari bahasa Bali , sesuatu yang kemudian membuatnya terkenal. Bahasa Bali ditekuninya, mulai dari penuturan sehari-hari sampai bahasa halus.

Tiap hari ada saja kata-kata dalam bahasa Bali yang dicatatnya. Lalu dicari padanan artinya dalam bahasa Inggris dan Indonesia . Jadilah kamus kecil yang sederhana. Kamus ini selain dipakai sendiri juga untuk sesama rekan imam yang kebetulan juga berprofesi sebagai pengajar. Dia menyadari bahasa sangat penting sebagai alat komunikasi dengan siswa, sesama guru dan masyarakat sekitar; yang tentu saja seluruhnya orang Bali . Belakangan lahirlah kamus yang disusun Romo Shadeg. ''A Basic Balinese Vocabubalary'' dan ''Bali Pocket Dictionary''.

Di tengah rutinitas pastoralnya, dia sempat melanjutkan pendidikan di Loyola University , Chicago , AS. Tahun 1960 gelar Master of Art (MA) berhasil digondolnya dengan tesis ''The Educational Philosophy of Ki Hadjar Dewantoro and Its Influence ini Indonesia Life''. Minatnya yang besar di bidang budaya menyeretnya berkenalan dengan Dr. Rudolf Goris, ahli sejarah kuno dan kebudayaan Bali yang sempat jadi dosen Sastra Unud. Berbagai karya Goris yang asal Belanda ini sampai sekarang masih menjadi referensi para ahli ketika ingin menulis tentang Bali .

Karya-karya Dr. Goris masih bisa dibaca di Widya Wahana, perpustakaan milik Romo Shadeg di Tuka, Dalung. Di perpustakaan yang diresmikan 2 Mei 1981 itu bisa ditemukan berbagai koleksi buku yang kini jumlahnya tak kurang dari 200.000 buah. Sambil menikmati ''buah karya''-nya di perpustakaan Widya Wahana, kita bisa bertegur sapa dengan Romo Shadeg. Sayangnya, sejak jatuh tahun 1998 kesehatannya terus menurun. Kini, sebagian besar waktu pastor berusia 83 tahun ini dihabiskan untuk istirahat di tempat tidur. (*)

 

Bangkitkan Ekonomi Bali

 

I Gusti Ketut Gede merupakan seorang pejuang kemerdekaan yang memulai masa-masa perjuangannya ketika bersekolah di Institut Voon Handelsonderijs di Surabaya. Pria kelahiran Kesiman, 8 Februari 1921 ini masuk sebagai anggota barisan Bung Tomo yang kemudian dilanjutkan di Bali dengan menjadi anggota pasukan Ida Bagus Alit Sudharma -- penghubung pejuang dari Kesiman-kota-Penatih. Perjuangan yang dilakukan selama puluhan tahun lalu tersebut memperoleh pengakuan veteran No. 13-023-190 dan dikukuhkan menjadi anggota No. 187/04/IX/1996. Di samping berjuang, putra pasangan I Gusti Putu Ketut Pugeg dan Jro Tanjung ini juga merupakan pengusaha yang cukup sukses.

Tak hanya ketika menimba ilmu di Surabaya saja, ayah dari I Gusti Bagus Oka, I Gusti Ayu Rai, I Gusti Ayu Adhi, I Gusti Bayu Arya, dan I Gusti Ayu Arry ini aktif bekerja. Di Bali, tempat kelahirannya pun, pria yang memegang diploma Bookhanden A dari VVL Rotterdam ini mampu menduduki jabatan penting bahkan turut mendirikan beberapa perusahaan, seperti pendiri sekaligus Komisaris PT Perli, PT Percetakan Bali, PT Bank Perniagaan Umum, dan PT Mabhakti. Selain empat perusahaan tersebut terdapat sembilan perusahaan lagi yang juga turut dibidaninya. Bahkan, di beberapa perusahaan tersebut dia pernah menjabat sebagai komisaris dan direktur.

Pria yang beristrikan I Gusti Ayu Rai (alm) ini juga berpartisipasi dalam penerbitan buku. Penerbitan buku yang diikutinya pertama kali dimulai pada tahun 1967, di mana ketika itu dia turut menerbitkan buku ''Upadana''. Kegiatan penerbitan ini terus ditekuninya pada tahun 1979 di sela-sela pendirian PT Mabhakti yang merupakan tempatnya menduduki jabatan komisaris aktif hingga saat ini. Dengan berdirinya PT Mabhakti yang bergerak di bisnis percetakan ini, Gusti Ketut Gede yang sampai saat ini tinggal di Kesiman tersebut mencetak buku-buku Hindu. Upaya yang dilakukannya ini untuk mendukung Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI).

Walaupun sudah sangat aktif di berbagai bidang bisnis, pria yang menamatkan pendidikannya di HIS Denpasar ini juga tidak meninggalkan kehidupan sosialnya. Hingga saat ini, pria yang kakeknya seorang dalang ini aktif di Yayasan Dharma Kodra Rsi Markandiya. Dia juga turut berpartisipasi dalam membangun rumah sakit Hindu di Tabanan dan Denpasar. Tak hanya itu, pria yang kini memasuki usia 83 tahun ini juga pernah mengajar di LLU selama kurang lebih empat tahun (1946-1950). (*)

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)