Kematian
Itu
Pasti
SEMUA
orang
tahu bahwa
hidup
ini akan
berakhir.
Semua
orang dapat
mengerti
kalau
ada orang
lain
meninggal dunia,
menutup
satu episode perjalanan
hidupnya.
Sayangnya,
tidak
semua orang
siap
menghadapi
apa yang
terjadi,
terutama
keluarga yang
ditinggalkan.
Semua
orang
menangisi kepergiannya,
terutama
anggota
keluarga.
Saudara
jauh
merasa terkejut.
Teman
kerja dan
di
lingkungan sosial,
juga
merasa terkejut
dan
bertanya-tanya
apa yang
terjadi
sebelumnya. Semua
orang
menyayangkan
apa yang
telah
terjadi.
Seperti
biasanya,
isak
tangis terus
terjadi
hingga jenazah
dikremasi
atau
dikuburkan.
Bagi
sebagian
orang,
kematian merupakan
hal yang
wajar.
Banyak
anggota keluarga yang
lain
atau teman-teman
dekat yang
berusaha
memberikan
nasihat,
menenangkan
anak-anak yang
ditinggalkan agar
bersabar
dalam
menghadapi kematian
yang terjadi.
Mereka
berpesan agar jangan
bersedih;
kematian
itu
pasti; semua
orang
pasti
akan mati,
hanya
menunggu waktu
saja;
terimalah apa yang
terjadi
dengan lapang dada;
dan
masih banyak
lagi
nasihat lainnya.
Kapan
dan di
mana pun
kita
melihat peristiwa
kematian,
rangkaian
isak
tangis dan
seribu
satu nasihat
pasti
akan
terdengar.
Apakah
mereka yang
memberikan
nasihat
tersebut orang-orang
yang telah
mencapai
tingkat
batin yang lebih
mantap, yang
tidak
tergoyahkan, tidak
takut
menghadapi kehidupan
dan
kematian? Kalau
peristiwa yang
sama
terjadi
dalam kehidupannya,
apakah
mereka sudah
siap
untuk menerima?
Saya
sangat
meragukan kondisi
batin yang
dimiliki.
Kehidupan
ini
memiliki risiko yang
tidak
bisa diatasi,
tidak
bisa dialihkan,
tidak
bisa ditawar-tawar.
Kehidupan
ini
merupakan rangkaian
yang awali
dengan
kelahiran, memasuki
usia
tua,
sakit-sakitan, dan
akhirnya
kematian.
Pada
sebagian
orang,
tidak semua
tahapan
tersebut terjadi.
Ada
orang yang
mengalami
kelahiran
dan
langsung disertai
dengan
kematian.
Ada
yang disertai
dengan
kondisi fisik yang
sakit-sakitan
sebelum
akhirnya kematian
datang.
Tidak
ada
pesta yang tidak
berakhir,
tidak
ada kelahiran yang
tidak
diakhiri dengan
kematian.
Kelahiran
bagai
menyulut sumbu
bom
waktu, memunculkan
usia
tua,
sakit-sakitan, dan
kematian.
Kita tidak
pernah
tahu, mana yang
meledak
terlebih dulu.
Yang
jelas,
kematian merupakan
akhir
dari semuanya.
Memahami
kematian
bukan
hanya dengan
memahami
fenomena
kehidupan yang
akan
terjadi,
bukan
hanya mengerti
secara
pengetahuan, secara
intelektual.
Semuanya
perlu
dipahami hingga
ke
dalam batin.
Kita benar-benar
mengetahui
bahwa
kematian
akan
terjadi
pada diri
kita,
keluarga kita,
sahabat,
semua
orang, dan
semua
kehidupan.
Kematian
pasti
datang pada
suatu
hari nanti.
Kita tidak
bisa
mengetahui, siapa
yang pergi
duluan
dan siapa yang
belakangan. Yang
pasti, episode
kehidupan
ini
akan
berakhir
dengan
matian.
Salah
satu
cara
untuk
memahami secara
batin
adalah dengan
selalu
merenungkan kematian.
Renungkan
tentang
kematian itu
sendiri. Cara
lain
adalah dengan
bermeditasi,
melatih
pikiran agar kita
bisa
menerima kenyataan
yang ada
dalam
kehidupan ini
dengan
lapang dada, menerima
segala
sesuatunya seperti
apa
adanya.
Ketika
kita
bisa memahami
perubahan,
ketidakkekalan,
dan
berbagai fenomena
kesunyatan yang
ada,
tidak ada
lagi
kesedihan ketika
kematian
tiba
pada salah
satu
anggota keluarga
maupun
pada diri
sendiri.
Karena
memang
demikianlah yang harus
terjadi.
Hari-hari
dalam
kehidupan ini
tidak
ada yang pasti.
Hanya
kematian yang
pasti.
Dia
akan
datang
suatu saat
nanti
pada semua
orang.
Kita mengakhiri
sepenggal
perjanan
di alam
manusia.
Melanjutkan
perjalanan
dengan
bekal perbuatan yang
sudah
kita lakukan.