kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Pon, 31 Januari 2005

 Mimbar Agama Buddha

 

Kematian Itu Pasti 

SEMUA orang tahu bahwa hidup ini akan berakhir. Semua orang dapat mengerti kalau ada orang lain meninggal dunia, menutup satu episode perjalanan hidupnya. Sayangnya, tidak semua orang siap menghadapi apa yang terjadi, terutama keluarga yang ditinggalkan.

Semua orang menangisi kepergiannya, terutama anggota keluarga. Saudara jauh merasa terkejut. Teman kerja dan di lingkungan sosial, juga merasa terkejut dan bertanya-tanya apa yang terjadi sebelumnya. Semua orang menyayangkan apa yang telah terjadi. Seperti biasanya, isak tangis terus terjadi hingga jenazah dikremasi atau dikuburkan.

Bagi sebagian orang, kematian merupakan hal yang wajar. Banyak anggota keluarga yang lain atau teman-teman dekat yang berusaha memberikan nasihat, menenangkan anak-anak yang ditinggalkan agar bersabar dalam menghadapi kematian yang terjadi. Mereka berpesan agar jangan bersedih; kematian itu pasti; semua orang pasti akan mati, hanya menunggu waktu saja; terimalah apa yang terjadi dengan lapang dada; dan masih banyak lagi nasihat lainnya.

Kapan dan di mana pun kita melihat peristiwa kematian, rangkaian isak tangis dan seribu satu nasihat pasti akan terdengar. Apakah mereka yang memberikan nasihat tersebut orang-orang yang telah mencapai tingkat batin yang lebih mantap, yang tidak tergoyahkan, tidak takut menghadapi kehidupan dan kematian? Kalau peristiwa yang sama terjadi dalam kehidupannya, apakah mereka sudah siap untuk menerima? Saya sangat meragukan kondisi batin yang dimiliki.

Kehidupan ini memiliki risiko yang tidak bisa diatasi, tidak bisa dialihkan, tidak bisa ditawar-tawar. Kehidupan ini merupakan rangkaian yang awali dengan kelahiran, memasuki usia tua, sakit-sakitan, dan akhirnya kematian. Pada sebagian orang, tidak semua tahapan tersebut terjadi. Ada orang yang mengalami kelahiran dan langsung disertai dengan kematian. Ada yang disertai dengan kondisi fisik yang sakit-sakitan sebelum akhirnya kematian datang.

Tidak ada pesta yang tidak berakhir, tidak ada kelahiran yang tidak diakhiri dengan kematian. Kelahiran bagai menyulut sumbu bom waktu, memunculkan usia tua, sakit-sakitan, dan kematian. Kita tidak pernah tahu, mana yang meledak terlebih dulu. Yang jelas, kematian merupakan akhir dari semuanya.

Memahami kematian bukan hanya dengan memahami fenomena kehidupan yang akan terjadi, bukan hanya mengerti secara pengetahuan, secara intelektual. Semuanya perlu dipahami hingga ke dalam batin. Kita benar-benar mengetahui bahwa kematian akan terjadi pada diri kita, keluarga kita, sahabat, semua orang, dan semua kehidupan. Kematian pasti datang pada suatu hari nanti. Kita tidak bisa mengetahui, siapa yang pergi duluan dan siapa yang belakangan. Yang pasti, episode kehidupan ini akan berakhir dengan matian.

Salah satu cara untuk memahami secara batin adalah dengan selalu merenungkan kematian. Renungkan tentang kematian itu sendiri. Cara lain adalah dengan bermeditasi, melatih pikiran agar kita bisa menerima kenyataan yang ada dalam kehidupan ini dengan lapang dada, menerima segala sesuatunya seperti apa adanya.

Ketika kita bisa memahami perubahan, ketidakkekalan, dan berbagai fenomena kesunyatan yang ada, tidak ada lagi kesedihan ketika kematian tiba pada salah satu anggota keluarga maupun pada diri sendiri. Karena memang demikianlah yang harus terjadi. Hari-hari dalam kehidupan ini tidak ada yang pasti. Hanya kematian yang pasti. Dia akan datang suatu saat nanti pada semua orang. Kita mengakhiri sepenggal perjanan di alam manusia. Melanjutkan perjalanan dengan bekal perbuatan yang sudah kita lakukan.

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)