Warung
Global
Rendah,
Kesadaran
Penumpang
Jaga
Kebersihan
RENDAHNYA
kesadaran
calon
penumpang untuk
membuang
sampah
pada tempatnya
masih
menjadi kendala yang
paling utama
dalam
mensejajarkan Pelabuhan
Lembar
dengan pelabuhan
lainnya yang
ada di
NTB. Betapa
tidak,
kenyataan ini
tidak
jarang dijumpai
oleh
calon penumpang lain
yang hendak
melakukan
penyeberangan.
Banyaknya
kotoran
berupa sampah,
bekas
makanan di
laut
atau di
areal
dermaga tidak
luput
dari pandangan
pengunjung. Hal
tersebut
seharusnya
mendapat
perhatian
serius
dari pengelola
Pelabuhan
Lembar.
Demikian terungkap
dalam
acara Warung Global
yang mengambil
topik ''Lembar
Pelabuhan
Terkotor
di Indonesia'',
disiarkan Radio Global FM
Lombok, 96,7,
Sabtu (29/1).
================================
Imba
di
Cakranegara tidak
menyangkal
bahwa
Lembar, merupakan
Pelabuhan
terkotor
di Indonesia.
Di
sana-sini terlihat
sampah
berceceran. Selain
kurangnya
kesadaran
para
pengguna jasa
pelabuhan,
minimnya tong
sampah yang
tersedia
di
sana
juga
menyebabkan hal
itu
terjadi. Imba
juga
melihat kurangnya
fasilitas lain,
seperti
lampu penerangan
di
areal pelabuhan.
Oleh
karena itu,
dia
berharap kepada
pengelola
Pelabuhan
Lembar
untuk memperhatikan
hal
tersebut.
Menurut
Imba,
Lembar semestinya
menjadi
contoh bagi
pelabuhan
lainnya
di NTB. Untuk
itu,
semestinya petugas
pelabuhan
bertindak
tegas
terhadap para
pengguna
jasa yang
tidak
bisa menjaga
kebersihan.
Menjamurnya
warung
di Pelabuhan
Lembar
juga menambah
kesan
joroknya penyeberangan
lintas
Lembar-Padangbai itu.
Petugas,
lanjut
Imba, tidak
hanya
harus mengawasi
para
pengunjung tapi
juga
menertibkan pedagang
kaki lima. Ia
berharap
kenaikan
tarif
angkutan yang mulai
berlaku 1
Februari
diimbangi
dengan
peningkatan pelayanan,
termasuk
kebersihan.
''Tidak
apa-apa jika
ada
penilaian yang mengatakan
Lembar
pelabuhan terkotor
di Indonesia.
Justru
penilaian tersebut
dapat
dijadikan sebagai
alat
kontrol untuk
berbenah
diri,''
ujar Din di
Praya.
Sementara
Yudi di
Karang
Jangkong menilai
Lembar
belum memiliki
tata
letak ruang.
Jika
saja, tata
letak
itu diatur
sedemikian
rupa,
baik ruang
tunggu
maupun areal
parkir
akan tertata
rapi. ''Seharusnya,
Pelabuhan
Lembar
dipagar keliling,
atau
dengan kata lain
harus
dibuatkan kawasan
penyangga,''
cetusnya.
Ditambahkan
bahwa
sah-sah saja
orang
menilai Lembar
sebagai
pelabuhan terkotor
atau
bersih sekali pun.
Namun
Yudi melihat,
Pelabuhan
Lembar
belum tersentuh
oleh
proyek pembangunan
seperti
halnya Pelabuhan
Gilimanuk
di Bali
atau pun beberapa
pelabuhan
lainnya yang
ada di
NTB. ''Dari dulu
Pelabuhan
Lembar
begitu-begitu saja,
tidak
ada perubahan yang
signifikan,''
terangnya.
Ia
pun mengimbau
Dinas
Perhubungan dan
jajaran
di bawahnya agar
mengajukan
usulan
untuk menata
Pelabuhan
Lembar.
Sementara Dewi
di
Cakranegara juga
menilai
pelabuhan-pelabuhan yang ada
di
tanah air sama
kotornya
dengan
Pelabuhan Lembar.
Dia
kurang setuju
jika
Lembar dikatakan
sebagai
pelabuhan terkotor
di Indonesia.
Hanya
saja, lanjut
dia,
sangat disayangkan
minimnya
kesadaran
masyarakat
untuk
membuang sampah
pada
tempatnya. (fit/nad)