kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Pon, 31 Januari 2005

 Nusatenggara


Warung
Global
Rendah
, Kesadaran Penumpang Jaga Kebersihan 

RENDAHNYA kesadaran calon penumpang untuk membuang sampah pada tempatnya masih menjadi kendala yang paling utama dalam mensejajarkan Pelabuhan Lembar dengan pelabuhan lainnya yang ada di NTB. Betapa tidak, kenyataan ini tidak jarang dijumpai oleh calon penumpang lain yang hendak melakukan penyeberangan. Banyaknya kotoran berupa sampah, bekas makanan di laut atau di areal dermaga tidak luput dari pandangan pengunjung. Hal tersebut seharusnya mendapat perhatian serius dari pengelola Pelabuhan Lembar. Demikian terungkap dalam acara Warung Global yang mengambil topik ''Lembar Pelabuhan Terkotor di Indonesia'', disiarkan Radio Global FM Lombok, 96,7, Sabtu (29/1). 

================================ 

Imba di Cakranegara tidak menyangkal bahwa Lembar, merupakan Pelabuhan terkotor di Indonesia. Di sana-sini terlihat sampah berceceran. Selain kurangnya kesadaran para pengguna jasa pelabuhan, minimnya tong sampah yang tersedia di sana juga menyebabkan hal itu terjadi. Imba juga melihat kurangnya fasilitas lain, seperti lampu penerangan di areal pelabuhan. Oleh karena itu, dia berharap kepada pengelola Pelabuhan Lembar untuk memperhatikan hal tersebut.

Menurut Imba, Lembar semestinya menjadi contoh bagi pelabuhan lainnya di NTB. Untuk itu, semestinya petugas pelabuhan bertindak tegas terhadap para pengguna jasa yang tidak bisa menjaga kebersihan. Menjamurnya warung di Pelabuhan Lembar juga menambah kesan joroknya penyeberangan lintas Lembar-Padangbai itu.

Petugas, lanjut Imba, tidak hanya harus mengawasi para pengunjung tapi juga menertibkan pedagang kaki lima. Ia berharap kenaikan tarif angkutan yang mulai berlaku 1 Februari diimbangi dengan peningkatan pelayanan, termasuk kebersihan.

''Tidak apa-apa jika ada penilaian yang mengatakan Lembar pelabuhan terkotor di Indonesia. Justru penilaian tersebut dapat dijadikan sebagai alat kontrol untuk berbenah diri,'' ujar Din di Praya.

Sementara Yudi di Karang Jangkong menilai Lembar belum memiliki tata letak ruang. Jika saja, tata letak itu diatur sedemikian rupa, baik ruang tunggu maupun areal parkir akan tertata rapi. ''Seharusnya, Pelabuhan Lembar dipagar keliling, atau dengan kata lain harus dibuatkan kawasan penyangga,'' cetusnya.

Ditambahkan bahwa sah-sah saja orang menilai Lembar sebagai pelabuhan terkotor atau bersih sekali pun. Namun Yudi melihat, Pelabuhan Lembar belum tersentuh oleh proyek pembangunan seperti halnya Pelabuhan Gilimanuk di Bali atau pun beberapa pelabuhan lainnya yang ada di NTB. ''Dari dulu Pelabuhan Lembar begitu-begitu saja, tidak ada perubahan yang signifikan,'' terangnya.

Ia pun mengimbau Dinas Perhubungan dan jajaran di bawahnya agar mengajukan usulan untuk menata Pelabuhan Lembar. Sementara Dewi di Cakranegara juga menilai pelabuhan-pelabuhan yang ada di tanah air sama kotornya dengan Pelabuhan Lembar. Dia kurang setuju jika Lembar dikatakan sebagai pelabuhan terkotor di Indonesia. Hanya saja, lanjut dia, sangat disayangkan minimnya kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya. (fit/nad)


Berita Selengkapnya, Klik di Sini

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)