Golkar
belum
Ajukan ''Reshuffle''
Kabinet
Jakarta (Bali Post) -
Partai
Golkar
membantah
telah
mengajukan rencana
reshuffle kabinet
melalui
meja
wakil presiden.
Penegasan
ini
dikemukakan salah
satu
Ketua DPP Partai
Golkar
Andi
Mattalatta di
Jakarta, Minggu (30/1)
kemarin.
Menurutnya,
Partai
Golkar
tidak
memiliki ambisi
masuk
di pemerintahan
dalam 100
hari
pemerintahan Yudhoyono.
Meskipun
demikian,
Andi
menilai kinerja
sejumlah
menteri
memang
di
bawah standar
dan
bila terus
memburuk
bisa
dilakukan reshuffle.
Presiden
Yudhoyono
sendiri
sebelumnya
menegaskan
beberapa
menteri
dianggap
tidak
maksimal dalam
menjalankan program 100
hari
pemerintahan Kabinet
Indonesia Bersatu.
Kata
Presiden, sejumlah
menteri
itu
telah ditegur
dan
dipantau kinerjanya.
Namun,
Presiden
belum
akan
melakukan reshuffle
kabinet.
Para menteri
masih
diberi kesempatan
untuk
memperbaiki kinerjanya.
Mereka
di
bawah langsung
pengawasan
Presiden.
Logika
politik
di
parlemen menunjukkan,
Partai
Golkar
ingin
terlibat dalam
pemerintahan.
Dengan
masuknya
Wapres
Jusuf
Kalla sebagai
Ketua
Umum Partai
Golkar,
wajar
jika kader
Golkar
mengisi
jabatan
menteri.
Dengan
melihat
kinerja
beberapa
menteri
di
Kabinet Indonesia Bersatu
yang tidak
maksimal,
Golkar
dikabarkan
telah
menyusun konsep
reshuflle
tersebut.
Ketua
Umum
Partai Golkar
Jusuf
Kalla yang juga
Wakil
Presiden dianggap
sebagai
pintu
masuk yang pas.
Andi
Mattalatta
mengaku
belum
menerima informasi
mengenai
rencana
tersebut.
''Kami
belum
menerima informasi
itu.
Dalam
rapat DPP
juga
tidak dibicarakan
rencana reshuffle
kabinet,''
tutur
Andi.
Namun,
Andi
mengakui ketika
Jusuf
Kalla menjabat
ketua
umum partai,
masuknya
kader
Golkar di
kabinet
merupakan
sesuatu yang
wajar.
Sebab,
Golkar
merupakan
partai
pemenang
pemilu
dan
memiliki 128 kursi
di
parlemen.
Namun,
jika
Golkar mendesakkan
rencana reshuffle
tersebut, ''Partai
Golkar
nanti
dikatakan terlalu
ambisius
dan
hanya mengejar
jabatan.
Apalagi
100 hari
ini
belum bisa
dipakai
untuk
mengukur atau
menilai
kinerja
pemerintahan.''
Ketua
Fraksi
Partai
Golkar DPR-RI
ini
melihat 100 hari
pemerintahan
Yudhoyono
masih
banyak kekurangan.
Ini
disebabkan
janji-janji
Presiden
Yudhoyono
tidak
dimanivestasikan arah
kebijakan yang
kongkret yang
bisa
dilaksanakan oleh
para
menterinya.
Akibatnya,
sejumlah
menteri
masih
melakukan identifikasi
masalah.
''Selain
itu,
kondisi objektif
pemerintahan
dalam
menghadapi bencana
alam
ikut mempengaruhi
buruknya
kinerja
beberapa
menteri,''
katanya.
Buruknya
kinerja
sejumlah
menteri
itu,
imbuh orang
dekat
Jusuf Kalla
ini,
tidak
harus
diselesaikan dengan
cara reshuffle.
''Minimal,
setelah 100 hari
ini,
mereka harus
meningkatkan
kinerjanya
dua kali
lipat.
Ini
disebabkan
beban
tugas mereka
memang
sangat
berat,''
terangnya.
Namun,
bila
udah enam
bulan
atau satu
tahun
berjalan,
jika
kinerja
beberapa
menteri
tersebut
tetap
saja stagnan,
bukan
tidak mungkin
reshuffle bakal
dilakukan.
''Minimal,
kita bisa
melakukan judgment,''
ungkapnya
diplomatis.
(kmb7)