Kerusuhan
Sektarian
Ancam Pakistan
Selatan
Karachi -
Dua
pengendara
sepeda motor
menembak
ilmuwan Sunni,
Maulana
Haroon Al-Qasmi
dan
pengawalnya hingga
tewas.
Pembunuah
itu
memicu kerushan
sektarian
di Pakistan
Selatan,
Minggu (30/1)
kemarin.
"Maulana
Haroon Al-Qasmi
dan
pengawalnya tewas
dalam
kejadian itu,"
kata
kepala polisi
Tariq
Jamil.
Lusinan
pemuda Sunni
mengamuk
setelah
mendengar peristiwa
itu.
Massa
membakar pos
polisi,
toko dan ban-ban
di
jalanan.
"Kami
menerima
laporan
tentang aksi
kerusahan
setelah
pembunuhan itu.
Situasinya
kini
bisa dikuasai,"
lanjut
Jamil. Pasukan
keamanan
disebar
di seluruh
penjuru
kota
Karachi untuk
mengendalikan
situasi.
Qasmi
dan
pengawalnya meninggalkan
masjid
di Jalan
Tariq
sebelum ditembak
pengendara
sepeda motor.
Keduanya
meninggal
di
rumah sakit.
Menurut
Qari Mohammad Shafiq,
juru
bicara kelompok
militan Sunni
Sipah-e-Sahaba Pakistan (SSP),
Qasmi
merupakan
salah
satu anggota
mereka. "Setahun
lalu
orang tua
Qasmi,
Maulana Ishaq Al-Qasmi
juga
ditembak di
lokasi yang
sama
hingga
tewas," tambah
Shafiq.
Presiden
Pervez
Musharraf melarang
SSP pada
Januari 2002.
Namun
organisasi
itu
kemudian menjelma
menjadi
Millat-e-Islamia.
Pemimpin SSP Maulana
Azam
Tariq, yang juga
anggota
parlemen,
tewas
ditembak
di Islamabad
pada
Oktober 2003.
Pembunuhan
terhadap
ilmuwan Sunni
memunculkan
kekhawatiran
akan
terjadinya
perang
sektarian. "Ini
konspirasi
untuk
emmicu bentrokan
sektarian
di
kota
ini,"
kata Allama
Hasan
Turabi, ulama
Shiah.
Konflik
Sunni-Shiah yang
melibatkan
kelompok
militan
menewaskan lebih
dari 4
ribu jiwa
sejak 1980-an.
Populasi
warga
Shiah hanya 20
persen
dari total 150 juta
warga Pakistan.
Menara
Listrik
Di
Quetta
pemberontak merubuhkan
4 menara
listrik
dengan tembakan
roket.
Aksi
itu
menyebakan padamnya
aliran
listrik di
barat
daya
Pakistan
di
propinsi
Baluchistan.
"Empat
menara yang
menghubungkan
jalur
pembangkit utama
diledakkan
dan
telah disabotase
pada
Sabtu malam.
Hal itu
menyebabkan terhentinya
suplai
listrik di
seluruh
propinsi," kata
pemimpin
Perusahaan
Listrik
Quetta Brigadir
Tassaduq
Hussain Shah
kepada
wartawan,
Minggu (30/1)
kemarin.
Para
pemberontak
meledakkan
jaringan
listrik
di distrik
Nasirabad, 240 kilometer
sebelah
Tengara propinsi
utama
Quetta.
Perbaikan
empat
menara ini
akan
memakan
waktu sedikitnya 12
hari.
Kelompok
nasionalis yang
kurang
dikenal, Pasukan
Pembebasan
Baluch
mengaku bertanggung
jawab
atas serangan
itu.
Mereka
juga telah
menyerang
jalur
kereta
api dan
dicurigai
memiliki
hubungan
dengan
pemberontak yang merusak
pabrik gas
di awal
bulan
ini.
Itu
merupakan
serangan
kedua
pada jalur
listrik
dalam 10 hari
terakhir.
Sebelumnya
para
pemberontak meledakkan
dua
menara lain
di
Rakhni, 280 kilometer
sebelah Timur
Quetta.
Pihak
pemerintah
menemukan
dan
memindahkan satu
kilogram bom yang
dilengkapi
pengatur
waktu
di garnisun
Quetta
pada
Minggu kemarin,
kata
kepala polisi
Pervez
Rafi Bhatti.
Pemberontak
juga
melemparkan sebuah
granat
tangan di
kebun
itu pada
Minngu
pagi.
Tidak
ada
korban jiwa
maupun
materi akibat
insiden
tersebut.
Sebuah
ledakan
merusak sebuah
truk
tanki yang membawa
suplai
minyak kepada
pasukan AS
di
Afganistan.
Insiden
tersebut
terjadi
di Kuchlak, 15
kilometer dari
Quetta
lewat
perbatasan Afganistan.
Truk
tanki
tersebut tidak
terbakar
dan
pengemudinya juga
dalam
keadaan selamat.
Baluchistan
yang menjadi
perbatasan
antara
Afganistan dan Iran,
menjadi
tempat yang cukup
berbahaya
akibat
penyerangan yang sering
terjadi
akhir-akhir ini.
Sementera
itu
perlengkapan, di
negara yang
memiliki
ladang gas
terbesar
di
dunia ini,
telah
dirusak oleh
serangan
roket
di awal
bulan
ini.
Kekacauan
di Sui
itu
dimulai setelah
seorang
dokter wanita yang
bekerja
di ladang gas
diduga
diperkosa oleh
satuan
keamanan di
tempat
itu.
Polisi
mengatakan
mereka
telah menangkap
tiga
staf keamanan
karena
dugaan tersebut.
Sejak
penyerangan
pada 8
Januari di
ladang gas yang
berada
di Sui,
propinsi yang
banyak
memiliki sumber
alam
itu terus
dihantui
oleh
aksi serupa.
beberapa
serangan
terjadi
di jalur
kereta
api dan
peledakan
juga
terjadi di
banyak
tempat.
Polisi
menyalahkan
grup
nasionalis Baluch
yang berada
di
belakang semua
tindak
kriminal tersebut.
Grup
nasionalis
itu
telah lama meminta
untuk
dibukanya lebih
banyak
kesempatan kerja
dan
memberikan royalti
dari
sumber gas alam yang
dihasilkan
pada
propinsi tersebut.
Mereka
juga
menuduh pihak
pemerintah
mengabaikan
hak-hak yang
seharusnya
menjadi
milik masyarakat
Baluch.
(ton/afp)