Ketika
Murid
Diajak Bicara
Reproduksi
LUCU,
santai
dan banyak
tertawa.
Begitulah
suasana
pagi itu
di SDN 2
Panjer,
Sabtu (29/1) lalu.
Perkumpulan
Keluarga
Berencana Indonesia (PKBI)
bertandang
ke
sekolah itu
untuk
memberikan ceramah
Kesehatan
Reproduksi
untuk
Siswa Sekolah
Dasar.
Kegiatan
ini
serangkaian HUT ke-47 PKBI
pada 23 Desember
lalu.
Ceramah
kesehatan
reproduksi
menyasar
siswa SD 2, 4,
dan 5
Panjer.
Selama
ini
untuk pra-remaja PKBI
memberikan
ceramah
tentang cacingan
dan
sebagainya.
Ceramah
kesehatan
reproduksi
merupakan pilot project
untuk
kegiatan berikutnya.
Demikian
ujar I
Ketut Sukanata,
Dirpelda PKBI Bali.
Penceramah
dr. I Made
Okanegara
melakukan
pendekatan
gambar
dalam menerangkan
kesehatan
reproduksi.
Dia
memulai
penjelasannya dengan
bahasa yang
mudah
dimengerti anak-anak.
Kemudian
siswa SD
disuruh
membuat gambar
anatomi
tubuh manusia
tanpa
busana.
Tujuannya
agar anak-anak
itu
mengenal dan
mengetahui
alat
reproduksinya.
Ternyata
tidak
semua anak
menggambar
dengan
sempurna.
Beberapa
masih
malu-malu ''menyertakan''
gambar
alat kelaminnya.
Mereka
juga
tertawa ketika
perbincangan
membahas organ
reproduksi.
Okanegara
juga
mengingatkan anak-anak
yang sudah
menstruasi
bahwa
mereka bisa
hamil
dan laki-laki
bisa
menghamili.
Masalah
kesehatan
reproduksi
dianggap
perlu
diketahui masyarakat,
khususnya
anak-anak.
Terlebih
belakangan
ini
terjadi kasus
dugaan
pelecehan seksual/pencabulan
yang dilakukan
oknum guru SD
di
Karangasem.
Anak-anak
tidak
selamanya "aman"
dari
lingkungan sekitar
yang harusnya
melindungi
dia.
Bahaya pelecehan
seksual,
prostitusi,
paedofilia, incest
mengintai
tiap
saat.
Mengetahui
seksualitas
dan
kesehatan reproduksi
mungkin
bisa jadi
satu
jawaban supaya
anak-anak
dapat
menolak dan
berani
melaporkan tindakan
pencabulan yang
menimpa
mereka.
Menurut
Sukanata,
sejak
dini anak-anak
perlu
diajari mengenal
organ reproduksinya
dan
mengetahui seksualitas
secara
benar.
Ditambahkan,
anak-anak
perlu
jujur bicara
tentang
seksualitas dan
reproduksi.
Selama
ini orangtua
juga
menganggap seksualitas
hal
tabu untuk
dibicarakan
dalam
keluarga. Sehingga
menyebutkan
nama
alat
kelamin saja
anak-anak
sudah
malu.
Seksualitas
selalu
dikonotasikan sebagai
aktivitas
hubungan
badan.
Sukanata
mengatakan,
pengetahuan
tentang
kesehatan reproduksi
bisa
membuat anak-anak
lebih
tenang.
Apalagi
jika
orangtua paham,
memberi
penjelasan yang benar
tentang
seksualitas dan
kesehatan
reproduksi.
Ceramah
berlangsung
hingga
siang hari.
Anak-anak
tampak
antusias mengikuti
penjelasan yang
disampaikan
koordinator
remaja
Kisara PKBI ini.
Mereka
juga
cukup jeli
mengajukan
pertanyaan
seputar
reproduksi seperti
bagaimana
mencegah
kehamilan,
menstruasi
dan
penyebab terjadinya
pencabulan.
(ari)