kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 2 Januari 2005 tarukan valas
 

SURAT PEMBACA


Orang Bali Sekarang seperti ''Katibambung'?

Membaca laporan Bali Post, 27-12-2004, sebagai orang Bali saya merasa sedikit terusik. Pendapat Bapak I Wayan Geriya tentang ngaben di Bali, menurut saya tentunya demi kebaikan orang Bali dan masyarakatnya. Namun predikat vulgar dan ''katibambung'' untuk orang Bali sekarang saja, kuranglah tepat. Saya berpendapat bahwa orang Bali sekarang ini pada umumnya masih sangat taat melestarikan budaya leluhurnya.

Saya membaca pendapat-pendapat orang asing yang dianggap ahli tentang seluk beluk hidup dan budaya Bali. Salah satu dari mereka adalah almarhum Dr. R. Goris yang khusus menulis mengenai pembakaran mayat di Bali, dalam bukunya, ''Bali, Atlas Kebudayaan,'' halaman 125, yang menguraikan sebagai berikut: ''majat diletakkan diatas tumpukan kaju ditepi sebuah sungai, sedapat mungkin ditepi sungai Gangga jang sutji: tetapi untuk berdjuta-berdjuta orang Hindu sungai Gangga tak tertjapai; lalu dibakar dan abunja dibuang disungai. Di Bali masih selalu ada orang-orang ''kuna'' jang berpesan agar majatnya dibakar demikian dengan upatjara jang sederhana dengan tak usah mengikuti pembakaran-pembakaran majat jang telah biasa dilakukan jaitu: setjara berlebih-lebihan. Ini berlaku baik pada orang Bali jang ''sutji'' jang mempelajari ilmu gaib maupun pada pendanda-pedanda miskin (pendeta Hindu). Tetapi hal ini tak bisa dilakukan. Jang lazim dipakai di Bali baik oleh radja-radja maupun oleh orang-orang jang bukan bangsawan, tetapi orang-orang kaja, ialah; mendjadikan pembakaran majat itu suatu pesta jang amat hebat. Untuk itu dikeluarkan wang amat banjak, jang kadang-kadang menelan hampir seluruh pusaka orang-roang kaja.''

Dari hal tersebut, dari zaman dulu ada orang-orang Bali yang menjual pusakanya sampai habis. Kenyataan di lapangan sekarang ini menunjukkan bahwa banyak orang Bali yang melakukan upacara ngaben dengan cara bersama di desa, atau ngiring, mengikuti upacara ngaben orang lain yang dianggap pantas dengan biaya relatif murah. Menurut saya hal ini menunjukkan bahwa orang Bali sangat dinamis.

Mengenai kenyataan bahwa orang Bali ada yang sampai berutang untuk biaya ngaben memang benar. Hal itu bisa dimengerti karena orang Bali sadar bahwa ngaben adalah tugas mulia yang harus dilakukan untuk leluhurnya dan pantang bagi orang Bali tersebut untuk tidak mengembalikan utang sebab mereka takut dikutuk leluhurnya.

Adakalanya seseorang ketika masih hidup sering memberi tahu orang di sekitarnya tentang ngaben sederhana saja sudah cukup. Tetapi ketika meninggalnya upacara pengabenan almarhum sangat megah, karena keluarganya merasa tidak enak kalau upacaranya sederhana saja. Beberapa dari mereka yang mengadakan upacara ngaben mengatakan dirinya malu menyelenggarakan ngaben sederhana, karena leluhurnya meninggalkan perusahaan, uang dan warisan yang cukup banyak. Mereka malu dianggap kikir oleh nyama braya mereka.

I Gst. Komp. Gde Pujawan, B.A.
Jl. Satelit 24 Denpasar

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com