Sunami dan Tsunami
PAN
Kapung tercenung melihat ladang jagungnya porak-poranda
dihantam badai Tsunami. Pohon
jagung yang baru berusia empat minggu itu rebah-tiarap rata
tertidur bersama tanah. Dijual muda
belum bernas, membabat perlu tenaga. Maka,
pada acara sangkep di Balai Banjar, musibah yang menimpa
dirinya itu dia umumkan. "Barang
siapa yang memerlukan pakan ternak secara gratis, silahkan
ambil sendiri secepatnya sekuatnya sebanyak-banyaknya".
Hitung-hitungan sederhana itu muncul sebab
untuk membabatnya pun, lagi-lagi butuh tenaga. Teman
sebelah duduknya menyikut rusuknya. "Memangnya
yang rebah cuma ladang jagungmu!" Kalimat yang
menggigit kupingnya itu dilanjutkan, "Bukan cuma gratis,
malah kubayar mahal jika
kau mau meburuh membabat pohon jagungku yang
tiarap
lima
hektar itu." Bila sikutan tadi
berasal dari kiri rusuknya, kini tonjokkan berasal dari kanan
rusuknya, dan berbunyi "Aaaa...," dan seterusnya.
Hujan
turun. Wayan Sunami, 12 tahun, satu-satunya anak
perempuannya yang mogok karena lapar menggelendot di ambang
pintu. Kusut rambutnya, kotor sekali
giginya. Ia memandang wajah
ayahnya. Dalam suasana hujan badai yang memasuki hari ketujuh
itu, bertanyalah sang anak pada sang ayah dalam bahasa
Bali
yang dicairkan ke dalam bahasa
Indonesia
. "Ayah," kata si anak, "kenapa saya kau beri nama
Sunami? Mengapa bukan Gempa, Gelombang atau Guruh atau Longsor
atau Bah-Banjir, atau..."
Adakah
bencana itu hanya bersifat kebetulan belaka, memang kehendak
alam, ataukah secara gaib sosok Sunami itu adalah berwujudan
gaib dari sesuatu yang tidak dia mengerti? Maka,
sebelum anak itu sempat menyelesaikan pertanyaan itu, sebuah
badai besar bergulung dari arah hutan menderu gemeratak
disertai suara pepohonan yang rebah. Langit
tiba-tiba menjadi sungai dan menumpahkan air tiada henti-henti.
Pan Kapung menarik anaknya ke dalam ruang
dan menutup pintu. Gadis itu
dibungkusnya dalam sarung dan ke dalam telinganya dengan geram
dibisikinya, "Untuk kesekian kali ayah katakan, jangan
lagi kau bertanya soal Sunami. Nama
itu ayah beri pada kau karena harapanku suatu hari kamu dapat
mengguncang dunia. Ibumu mati
bergulat dengan maut saat kau lahir. Macam
Siklon lehermu dibelit usus. Ayah tidak mau dengar lagi
kau tanya soal itu. Awas!"
Makin
dilarang semakin kuat Sunami bertanya mengenai makna Sunami --
nama tak lazim yang dilekatkan pada
dirinya. Di telinga, nama itu
berbau Jawa: Sumarni Samini Musani. Berbau Cina: Wun ai ni,
Ni um san Mi num ai, bahkan berbau khas Jepang. Maka di
sudut-sudut warung di pojok-pojok kakilima di seputar daerah
operasi pengemisannya dan di semua tempat yang memungkinkan
Sunami kecil suka menarik bagian bawah telinganya untuk
menangkap semua percakapan yang menyangkut nama
dirinya. Sebegitu jauh yang ia
tangkap, hanyalah bahwa nama Sunami-nya adalah sesuatu yang
lekat dengan sengsara duka nestapa. Berkait
dengan bencana dahsyat topan badai tanah longsor gelombang
pasang. Suatu bencana yang dalam
perspektif orang desa amat berkait dengan amarah Dewa Bruna,
penguasa laut, dan kibas sayap Betari Durga penguasa angin.
***
Sunami
murung. Tak pernah orang bicara
tentang dirinya dengan perasaan riang. Koran-koran ikut
menebar badai
memajang namanya sebagai sumber bencana. Maka
di tengah perjalanan hujan badai Sunami bergegas pulang
kampung hendak mengusul pada ayahnya agar namanya segera
diganti. Ketika itu didapatinya
ayahnya sedang mengamuk membabat ladang jagung yang rebah.
Sabit diayunkan semaunya tak terarah.
Kadang-kadang mengena pada batang jagung
yang rebah, kadang-kadang sabit itu memotong tanah dan berkali-kali
amarah sabit itu menyambar kakinya. Sunami
berada dalam hujan. begitu
juga ayahnya. Terdengar suara dari langit,
"Ayo Sunami, inilah saat yang tepat untuk bertanya pada
ayahmu perkara namamu itu."
Maka
dengan tegar melangkahlah kaki Sunami menginjaki batang-batang
jagung yang rebah mendekati tubuh ayahnya yang basah. Gemeracak
bunyi daun-daun. Ranting yang
terinjak meleleh terbakar. Maka terangkat mata sang
ayah dengan sabit yang mengancam. "Aku
sudah tahu apa yang hendak kau katakan. Aku sudah tahu
pula nama pengganti untuk kau. Tapi
bukan Sabit atau si Rebah atau si Langit." Tiba-tiba
tanah yang dipijak ayah-anak itu bergoyang bergerak longsor
dan meluncur deras ke bawah. Dalam
kecepatan tinggi yang menciptakan angin dari kendaraan longsor
itu terdengar amarah suara ayah, "Lambat atau cepat
namamu pasti kuganti. Pasti!"
Setiba
di rumah, dengan berselimut kain sarung, bertanya lagi sang
anak, "Jadi, kapan ayah akan ganti nama saya?" Ayahnya
tak segera menjawab. Namun kemudian
katanya, "Jika namamu kuganti dengan Damai, adakah dunia
ini juga akan damai. Jika kuganti dengan Galang adakah
dunia ini akan cerah. Jika kuganti
dengan Sukma adakah denyut ini akan
bersukma. Jika kuganti dengan Langit
adakah kebijakan kita akan meninggi?" Si
anak lalu berkata, "Bagaimana kalau kita mencobanya
dengan Langit?"
"Nama-nama
sudah habis di dunia. Simbol-simbol
dan perlambang sudah habis. Hujan
badai topan banjir adalah bagian dari hidup kita. Jika
namamu kuganti dengan Galang, Sukma, Daun, Pohon atau Batu
atau Sukarno atau Gandhi tak akan
memberi pengaruh apa-apa. Sebab, penguasa
badai bukan kita. Penguasa air juga
bukan kita. Jika semua bencana ini
adalah perlambang amarah Beliau, bukankah ayah tak perlu
mengganti namamu? Bahkan Sunami itu nama
bagus, sesuatu yang berkait dengan alam yang bersih. Sesuatu
yang berkait dengan daur ulang Dewa Siwa bahwa dengan tahap
kesadaran tertentu yang tua rela lebur untuk dijadikan pupuk
agar tumbuh yang muda menjadi pesat. Apalagi
nama ibumu sedikit mirip dengan namamu."
"Tetapi
koran-koran sedang menuduh saya bahwa saya telah memakan
ratusan korban jiwa. Telah pula
tercipta gelombang pasang setinggi 10 meter menyapu rata
daerah seluas 30 km."
"O,
itu Sunami yang lain. Kau Sunami yang baik, sedang di koran
itu adalah Sunami yang tidak baik. Karena
kau anak ayah, kau harus dengar kata ayah. Sunami
yang baik milik ayah, sedang Sunami yang tidak baik bukan
milik ayah."
"Tetapi
banyak orang mengusul agar nama saya diganti. Bukankah
orang-orang desa yang datang kemarin itu meminta secara
niskala juga begitu? Mereka meminta
agar saya di-peluasin dan di-lukat, dimandikan ke laut.
Kenapa?"
"Hidup
mereka masih dikuasai tahayul. Sedang
kita tidak. Menurut mereka, ini
adalah bentuk amarah para Dewa. Sedangkan
menurut ayah, ini adalah murni gejala alam. Yang
marah bukan para Dewa, tetapi alam yang marah karena
kehendaknya sendiri. Keseimbangan
yang ada padanya kita ganggu. Alam
kita jadikan kuda dan kita tunggangi seenak perut sehingga dia
marah. Kita jahat pada alam.
Kita kira dengan keunggulan teknologi
mereka sudah kalah. Ternyata tidak,
bukan? Alam kita hanya capek
yang sekali-sekali secara iseng bisa menggeliat, maka di luar
kehendaknya terjadilah gempa dan gelombang, maka musnahlah
kesombongan kita."
"Ayah
ngomong apa?"
"Habis,
kamu tanya apa? Ayah hanya
ngomong bahwa alam kita yang cuma satu-satunya di planet kita
ini harus dipelihara dan disayangi. Kau
dengar, bahwa di antara jutaan planet di jagat raya ini hanya
satu yang bisa dihuni manusia, ya bumi kita ini. Ayah tidak
bisa berladang jagung di planet Pluto atau menanam singkong di
Mars. Bahwa berbagai bencana alam dahsyat
yang sekarang menghantam kita sebenarnyalah bukanlah bencana.
Itu hanya teguran bahwa sementara belum
kita temui ladang jagung yang baru di planet
sana
, maka bumi tua yang belum ada
penggantinya ini yang juga cuma satu-satunya ini harus kita
dipelihara."
"Ayah
pandai," kata Sunami. "Jadi,
karena pertimbangan-pertimbangan tadi, nama saya tidak perlu
diganti ditambah T, misalnya sehingga menjadi Tsunami?"
Sang
ayah tidak menjawab.
"Agar
nama saya tidak terus menjadi
gunjingan koran, kepada siapakah saya harus berseru agar
planet kita yang cuma satu-satunya ini bisa terus ditanami
jagung sebelum ditemui bumi baru sebagai pengganti?"
Sang
ayah tak menjawab. Lalu, "Bukan
kau penyebabnya. Kita semualah biang malapetaka ini,"
kata sang ayah masih tercenung menghadap hamparan ladang
jagungnya yang ambruk.