kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Wage, 2 Januari 2005 tarukan valas
 

OPINI


Sunami dan Tsunami

PAN Kapung tercenung melihat ladang jagungnya porak-poranda dihantam badai Tsunami. Pohon jagung yang baru berusia empat minggu itu rebah-tiarap rata tertidur bersama tanah. Dijual muda belum bernas, membabat perlu tenaga. Maka, pada acara sangkep di Balai Banjar, musibah yang menimpa dirinya itu dia umumkan. "Barang siapa yang memerlukan pakan ternak secara gratis, silahkan ambil sendiri secepatnya sekuatnya sebanyak-banyaknya". Hitung-hitungan sederhana itu muncul sebab untuk membabatnya pun, lagi-lagi butuh tenaga. Teman sebelah duduknya menyikut rusuknya. "Memangnya yang rebah cuma ladang jagungmu!" Kalimat yang menggigit kupingnya itu dilanjutkan, "Bukan cuma gratis, malah kubayar mahal jika  kau mau meburuh membabat pohon jagungku yang tiarap lima hektar itu." Bila sikutan tadi berasal dari kiri rusuknya, kini tonjokkan berasal dari kanan rusuknya, dan berbunyi "Aaaa...," dan seterusnya.

Hujan turun. Wayan Sunami, 12 tahun, satu-satunya anak perempuannya yang mogok karena lapar menggelendot di ambang pintu. Kusut rambutnya, kotor sekali giginya. Ia memandang wajah ayahnya. Dalam suasana hujan badai yang memasuki hari ketujuh itu, bertanyalah sang anak pada sang ayah dalam bahasa Bali yang dicairkan ke dalam bahasa Indonesia . "Ayah," kata si anak, "kenapa saya kau beri nama Sunami? Mengapa bukan Gempa, Gelombang atau Guruh atau Longsor atau Bah-Banjir, atau..."

Adakah bencana itu hanya bersifat kebetulan belaka, memang kehendak alam, ataukah secara gaib sosok Sunami itu adalah berwujudan gaib dari sesuatu yang tidak dia mengerti? Maka, sebelum anak itu sempat menyelesaikan pertanyaan itu, sebuah badai besar bergulung dari arah hutan menderu gemeratak disertai suara pepohonan yang rebah. Langit tiba-tiba menjadi sungai dan menumpahkan air tiada henti-henti. Pan Kapung menarik anaknya ke dalam ruang dan menutup pintu. Gadis itu dibungkusnya dalam sarung dan ke dalam telinganya dengan geram dibisikinya, "Untuk kesekian kali ayah katakan, jangan lagi kau bertanya soal Sunami. Nama itu ayah beri pada kau karena harapanku suatu hari kamu dapat mengguncang dunia. Ibumu mati bergulat dengan maut saat kau lahir. Macam Siklon lehermu dibelit usus. Ayah tidak mau dengar lagi kau tanya soal itu. Awas!"

Makin dilarang semakin kuat Sunami bertanya mengenai makna Sunami -- nama tak lazim yang dilekatkan pada dirinya. Di telinga, nama itu berbau Jawa: Sumarni Samini Musani. Berbau Cina: Wun ai ni, Ni um san Mi num ai, bahkan berbau khas Jepang. Maka di sudut-sudut warung di pojok-pojok kakilima di seputar daerah operasi pengemisannya dan di semua tempat yang memungkinkan Sunami kecil suka menarik bagian bawah telinganya untuk menangkap semua percakapan yang menyangkut nama dirinya. Sebegitu jauh yang ia tangkap, hanyalah bahwa nama Sunami-nya adalah sesuatu yang lekat dengan sengsara duka nestapa. Berkait dengan bencana dahsyat topan badai tanah longsor gelombang pasang. Suatu bencana yang dalam perspektif orang desa amat berkait dengan amarah Dewa Bruna, penguasa laut, dan kibas sayap Betari Durga penguasa angin.  

 

***

 

Sunami murung. Tak pernah orang bicara tentang dirinya dengan perasaan riang. Koran-koran ikut menebar badai  memajang namanya sebagai sumber bencana. Maka di tengah perjalanan hujan badai Sunami bergegas pulang kampung hendak mengusul pada ayahnya agar namanya segera diganti. Ketika itu didapatinya ayahnya sedang mengamuk membabat ladang jagung yang rebah. Sabit diayunkan semaunya tak terarah. Kadang-kadang mengena pada batang jagung yang rebah, kadang-kadang sabit itu memotong tanah dan berkali-kali amarah sabit itu menyambar kakinya. Sunami berada dalam hujan. begitu juga ayahnya. Terdengar suara dari langit, "Ayo Sunami, inilah saat yang tepat untuk bertanya pada ayahmu perkara namamu itu."

Maka dengan tegar melangkahlah kaki Sunami menginjaki batang-batang jagung yang rebah mendekati tubuh ayahnya yang basah. Gemeracak bunyi daun-daun. Ranting yang terinjak meleleh terbakar. Maka terangkat mata sang ayah dengan sabit yang mengancam. "Aku sudah tahu apa yang hendak kau katakan. Aku sudah tahu pula nama pengganti untuk kau. Tapi bukan Sabit atau si Rebah atau si Langit." Tiba-tiba tanah yang dipijak ayah-anak itu bergoyang bergerak longsor dan meluncur deras ke bawah. Dalam kecepatan tinggi yang menciptakan angin dari kendaraan longsor itu terdengar amarah suara ayah, "Lambat atau cepat namamu pasti kuganti. Pasti!"

Setiba di rumah, dengan berselimut kain sarung, bertanya lagi sang anak, "Jadi, kapan ayah akan ganti nama saya?" Ayahnya tak segera menjawab. Namun kemudian katanya, "Jika namamu kuganti dengan Damai, adakah dunia ini juga akan damai. Jika kuganti dengan Galang adakah dunia ini akan cerah. Jika kuganti dengan Sukma adakah denyut ini akan bersukma. Jika kuganti dengan Langit adakah kebijakan kita akan meninggi?" Si anak lalu berkata, "Bagaimana kalau kita mencobanya dengan Langit?"

"Nama-nama sudah habis di dunia. Simbol-simbol dan perlambang sudah habis. Hujan badai topan banjir adalah bagian dari hidup kita. Jika namamu kuganti dengan Galang, Sukma, Daun, Pohon atau Batu atau Sukarno atau Gandhi tak akan memberi pengaruh apa-apa. Sebab, penguasa badai bukan kita. Penguasa air juga bukan kita. Jika semua bencana ini adalah perlambang amarah Beliau, bukankah ayah tak perlu mengganti namamu? Bahkan Sunami itu nama bagus, sesuatu yang berkait dengan alam yang bersih. Sesuatu yang berkait dengan daur ulang Dewa Siwa bahwa dengan tahap kesadaran tertentu yang tua rela lebur untuk dijadikan pupuk agar tumbuh yang muda menjadi pesat. Apalagi nama ibumu sedikit mirip dengan namamu."

"Tetapi koran-koran sedang menuduh saya bahwa saya telah memakan ratusan korban jiwa. Telah pula tercipta gelombang pasang setinggi 10 meter menyapu rata daerah seluas 30 km."

"O, itu Sunami yang lain. Kau Sunami yang baik, sedang di koran itu adalah Sunami yang tidak baik. Karena kau anak ayah, kau harus dengar kata ayah. Sunami yang baik milik ayah, sedang Sunami yang tidak baik bukan milik ayah."

"Tetapi banyak orang mengusul agar nama saya diganti. Bukankah orang-orang desa yang datang kemarin itu meminta secara niskala juga begitu? Mereka meminta agar saya di-peluasin dan di-lukat, dimandikan ke laut. Kenapa?"

"Hidup mereka masih dikuasai tahayul. Sedang kita tidak. Menurut mereka, ini adalah bentuk amarah para Dewa. Sedangkan menurut ayah, ini adalah murni gejala alam. Yang marah bukan para Dewa, tetapi alam yang marah karena kehendaknya sendiri. Keseimbangan yang ada padanya kita ganggu. Alam kita jadikan kuda dan kita tunggangi seenak perut sehingga dia marah. Kita jahat pada alam. Kita kira dengan keunggulan teknologi mereka sudah kalah. Ternyata tidak, bukan? Alam kita hanya capek yang sekali-sekali secara iseng bisa menggeliat, maka di luar kehendaknya terjadilah gempa dan gelombang, maka musnahlah kesombongan kita."

"Ayah ngomong apa?"

"Habis, kamu tanya apa? Ayah hanya ngomong bahwa alam kita yang cuma satu-satunya di planet kita ini harus dipelihara dan disayangi. Kau dengar, bahwa di antara jutaan planet di jagat raya ini hanya satu yang bisa dihuni manusia, ya bumi kita ini. Ayah tidak bisa berladang jagung di planet Pluto atau menanam singkong di Mars. Bahwa berbagai bencana alam dahsyat yang sekarang menghantam kita sebenarnyalah bukanlah bencana. Itu hanya teguran bahwa sementara belum kita temui ladang jagung yang baru di planet sana , maka bumi tua yang belum ada penggantinya ini yang juga cuma satu-satunya ini harus kita dipelihara."

"Ayah pandai," kata Sunami. "Jadi, karena pertimbangan-pertimbangan tadi, nama saya tidak perlu diganti ditambah T, misalnya sehingga menjadi Tsunami?"

Sang ayah tidak menjawab.

"Agar nama saya tidak terus menjadi gunjingan koran, kepada siapakah saya harus berseru agar planet kita yang cuma satu-satunya ini bisa terus ditanami jagung sebelum ditemui bumi baru sebagai pengganti?"

Sang ayah tak menjawab. Lalu, "Bukan kau penyebabnya. Kita semualah biang malapetaka ini," kata sang ayah masih tercenung menghadap hamparan ladang jagungnya yang ambruk.

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com