kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 2 Januari 2005 tarukan valas
 

BERITA


Mike Tramp pun Terkesima Pelestarian Budaya

Sebuah bangsa yang besar menghargai hasil budaya anak bangsanya. Demikian disampaikan pentolan sekaligus vokalis grup musik rock White Lion, Mike Tramp, di sela-sela pembukaan Putrawan Museum of Art (Puma) yang terletak di Alam Puri, Penatih, Denpasar, Jumat (31/12) lalu. Karenanya, pelantun ''When The Children Cry'' ini mengaku terkesima dengan upaya pelestarian budaya, khususnya yang dilakukan Museum Puma untuk mengoleksi hasil budaya bangsa, khususnya seni primitif Indonesia.

---------------------------

 

PENYANYI Mike Tramp yang didampingi artis Ayu Azhari ini mengaku terhormat mendapat undangan untuk hadir dalam sebuah kegiatan pelestarian budaya. Ditambahkan musisi kelahiran Denmark yang telah mengeluarkan album solo ketiganya yang bertajuk "More to Life Than This" ini, sebuah bangsa pada akhirnya akan dikenali lewat kebudayaannya.

Mike juga mengagumi karya mural keramik Made Wiradana yang menghiasi bagian depan Museum Puma. Menurut kurator Museum Puma, PG Djaya, Mike menyampaikan kekagumannya atas karya mantan Ketua Sanggar Dewata tersebut.

Sementara itu, Ayu Azhari yang dimintai komentarnya oleh wartawan, mengatakan pemerintah juga perlu memberi dukungan agar semakin banyak anggota masyarakat yang tergerak untuk memuseumkan hasil budaya bangsa Indonesia yang sangat beragam.

Mike Tramp dan Wali Kota Denpasar AA Puspayoga yang meresmikan soft opening Museum Puma mendapat kenang-kenangan berupa guci yang telah dilukisi Wiradana. Penyerahan itu juga didampingi Agus Ega Indradjaya dari Museum Puma.

Puspayoga dalam pidato pembukaannya berharap agar koleksi seni primitif (tribal art) Museum Puma bisa menambah khazanah kebudayaan Kota Denpasar sebagai kota budaya. Puspayoga mengaku merasa tersanjung karena ada pihak yang mau memberikan sebuah tempat sebagai wahana apresiasi seni masyarakat Denpasar. "Tentunya dalam mengumpulkan koleksi memerlukan waktu yang panjang dan uang yang tidak sedikit," ungkap Puspayoga yang berharap nantinya murid sekolah di Denpasar bisa diberi kesempatan untuk mempelajari benda-benda koleksi di Museum Puma.

Karena itu, jejak pendiri Museum Puma, Ir. Made Gde Putrawan, harus diikuti anggota masyarakat yang lain. "Masih banyak hal yang perlu dilakukan agar semangat berkesenian di Kota Denpasar semakin semarak," ujar Puspayoga.

Putrawan menjelaskan bahwa seni primitif Indonesia sangat dihargai di mancanegara dan harganya mencapai milyaran rupiah. Karena itu, bagi Putrawan yang mulanya ingin menjadikan benda-benda seni nenek moyang bangsa Indonesia itu sebagai investasi, lantas beralih ke upaya pelestarian. "Berapa pun tidak akan saya jual," katanya. Sejak timbul kesadaran tersebut, Putrawan akhirnya memutuskan untuk mendirikan museum dan terus menambah koleksi. (09)

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com