Mike Tramp pun Terkesima
Pelestarian Budaya
Sebuah
bangsa yang besar
menghargai hasil
budaya anak
bangsanya. Demikian
disampaikan pentolan
sekaligus vokalis
grup musik
rock White Lion, Mike Tramp, di sela-sela
pembukaan Putrawan
Museum of Art (Puma) yang terletak
di Alam
Puri, Penatih,
Denpasar, Jumat
(31/12) lalu. Karenanya,
pelantun ''When The Children Cry''
ini mengaku
terkesima dengan
upaya pelestarian
budaya, khususnya
yang dilakukan Museum Puma untuk
mengoleksi hasil
budaya bangsa,
khususnya seni
primitif Indonesia.
---------------------------
PENYANYI
Mike Tramp yang didampingi artis
Ayu Azhari
ini mengaku
terhormat mendapat
undangan untuk
hadir dalam
sebuah kegiatan
pelestarian budaya.
Ditambahkan musisi
kelahiran
Denmark
yang telah mengeluarkan
album solo ketiganya yang bertajuk
"More to Life Than This" ini,
sebuah bangsa
pada akhirnya
akan dikenali
lewat kebudayaannya.
Mike
juga mengagumi
karya mural keramik
Made Wiradana yang menghiasi
bagian depan
Museum Puma. Menurut kurator
Museum Puma, PG Djaya, Mike menyampaikan
kekagumannya atas
karya mantan
Ketua Sanggar
Dewata tersebut.
Sementara
itu, Ayu
Azhari yang dimintai
komentarnya oleh
wartawan, mengatakan
pemerintah juga
perlu memberi
dukungan agar semakin
banyak anggota
masyarakat yang tergerak
untuk memuseumkan
hasil budaya
bangsa
Indonesia
yang sangat beragam.
Mike
Tramp dan Wali
Kota Denpasar AA Puspayoga
yang meresmikan soft opening
Museum Puma mendapat kenang-kenangan
berupa guci
yang telah dilukisi
Wiradana. Penyerahan
itu juga
didampingi
Agus
Ega
Indradjaya
dari
Museum
Puma.
Puspayoga
dalam pidato
pembukaannya berharap
agar koleksi seni
primitif (tribal art) Museum Puma bisa
menambah khazanah
kebudayaan Kota Denpasar
sebagai
kota
budaya. Puspayoga
mengaku merasa
tersanjung karena
ada pihak
yang mau memberikan
sebuah tempat
sebagai wahana
apresiasi seni
masyarakat Denpasar.
"Tentunya
dalam mengumpulkan
koleksi memerlukan
waktu yang panjang
dan uang
yang tidak sedikit,"
ungkap Puspayoga
yang berharap nantinya
murid sekolah
di Denpasar
bisa diberi
kesempatan untuk
mempelajari benda-benda
koleksi di
Museum Puma.
Karena
itu, jejak
pendiri Museum Puma, Ir. Made Gde
Putrawan, harus
diikuti anggota
masyarakat yang lain. "Masih
banyak hal
yang perlu dilakukan
agar semangat berkesenian
di Kota Denpasar
semakin semarak,"
ujar Puspayoga.
Putrawan
menjelaskan bahwa
seni primitif
Indonesia
sangat dihargai
di mancanegara
dan harganya
mencapai milyaran
rupiah. Karena
itu, bagi
Putrawan yang mulanya
ingin menjadikan
benda-benda seni
nenek moyang
bangsa
Indonesia
itu sebagai
investasi, lantas
beralih ke
upaya pelestarian.
"Berapa
pun tidak akan
saya jual,"
katanya. Sejak
timbul kesadaran
tersebut, Putrawan
akhirnya memutuskan
untuk mendirikan
museum dan terus
menambah koleksi.
(09)