kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Paing, 27 September 2004

 Bali


Golput di Bali 19,92 Persen

Denpasar (Bali Post) -
Pemilihan presiden putaran kedua di Bali berjalan relatif aman dan lancar dengan tingkat kesadaran pemilih yang cukup tinggi. Sebab, dari 2.530.313 pemilih, sebanyak 2.006.278 menggunakan hak pilihnya. Dari jumlah itu 1.250.037 (62,31 persen) memberikan suaranya kepada pasangan Megawati-Hasyim Muzadi dan 756.241 (37,69 persen) memberikan suaranya kepada Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla.

Namun di balik tingginya kesadaran itu, justru persentase pemilih yang berhak memilih yang tak memberikan suaranya alias golput justru meningkat. Hal itu diakui Ketua KPU Bali Drs. A.A. Oka Wisnumurti, M.Si., Minggu (26/9) kemarin. Dia menyebut persentase peningkatan suara golput di Bali 1,2 persen dari pilpres putaran pertama 18,70 persen. Dari penghitungan suara sementara pilpres II yang akan diplenokan Senin (27/9) ini di KPU Bali menunjukkan persentase suara golput 19,92 persen. Angka golput tertinggi justru berada di wilayah Kota Denpasar yakni 28,82 persen, disusul Karangasem 26,33 persen dan Buleleng 24,38 persen.

Dari gambaran data tadi, Wisnumurti memperkirakan ada beberapa penyebab kenapa suara golput meningkat. Pertama tingkat mobilitas penduduk yang tinggi terutama di Kota Denpasar. Hal itu dibenarkan anggotanya Ir. Riniti Rahayu, bahwa banyaknya golput lantaran banyak pemilih yang tak memberitahukan perpindahannya dari TPS asal ke TPS yang baru. Akibatnya ketika hendak memilih di TPS yang baru daftar nama mereka tak ada di tempat tersebut. Lagi pula dengan cadangan surat suara terbatas 2,5 persen di masing-masing TPS menyebabkan pihak KPPS (ketua penyelenggara pemungutan suara) terbatas menerima pemilih baru. ''Ada juga pemilih memilih golput karena tak mau rumit mengurus surat perpindahan,'' katanya.

Selain itu, golput yang tinggi juga disebabkan keengganan mereka mencoblos karena pada Senin (20/9) itu, banyak rerahinan terutama hal itu dijumpai di wilayah Karangasem dan Buleleng. Kemungkinan lain bisa jadi lantaran libur tiga hari berturut-turut sejak Sabtu s.d. Senin sehingga pada hari pencoblosan masih ada yang berlibur.

Berbeda dengan daerah yang topografinya sulit dan letaknya berpencar seperti Nusa Penida atau wilayah kritis seperti Seraya atau Kubu, keengganan mencoblos karena faktor sosiologis kesulitan biaya untuk angkutan karena letaknya yang jauh.

Pertimbangan lain yang juga menyebabkan pemilih enggan memilih karena capres idola mereka tak maju lagi pada putaran kedua. Di samping orang secara sadar tidak menggunakan hak pilihnya. Misalnya mantan Presiden Gus Dur malah golput, disebabkan mereka secara sadar memang tak menggunakan hak pilihnya. (029)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)