Soal
Kebijakan Pemberlakuan VoA
Berita Bali Post, 6 Juni
lalu berjudul ''Pemberlakuan VoA melalui Proses Panjang''. Dalam
kaitan itu saya ingin mengemukakan pandangan saya tentang VoA.
Walaupun alasan-alasan yang dipakai untuk menolak kebijakan
tersebut sudah sering dikemukakan sebelumnya, saya ingin
kemukakan lagi setelah membaca berita tersebut.
1. Adanya persaingan
destinasi dalam kawasan Asia Tenggara sendiri. Karena Malaysia
dan Thailand, terlebih lagi Singapura (yang justru fully open),
tidak memberlakukannya, maka VoA ini sudah membuat destinasi
Bali ini menjadi semakin mahal dan berpotensi/menyimpan beberapa
masalah. Betul, dan kita wajib bersyukur, bahwa tingkat arrival
mulai pulih dan membaik, tetapi kita harus tengok ke tetangga
kita, di mana mereka sudah tidak berbicara pemulihan tetapi
kenaikan dan kenaikan dari waktu ke waktu. Ini adalah hasil dari
adanya kebijakan-kebijakan dari pemerintahnya yang sangat
kondusif.
Contoh Wisatawan Cina ke
Thailand sudah mendekati angka 5 jutaan dan Malaysia sudah
mendekati angka jutaan, kita Indonesia baru ratusan ribuan, (mohon
juga disurvai kunjungan wisatawan negara lain ke tiga negara
tetangga ini sebagai bahan perbandingan.
Kalaupun masalah keamanan
yang dipakai sebagai alasan untuk pemberlakuan VoA ini, juga
tidak tepat, karena sekali lagi, Singapura, Malaysia dan
Thailand tidak memerlukan VoA untuk menanggulangi masalah ini.
Kita wajib untuk selalu menengok ke tetangga kita ini, karena
kita akan berkompetisi secara langsung dengan mereka ini. Bukan
berarti saya ingin mengecilkan masalah keamanan ini dan tidak
mendukung perlunya alokasi anggaran untuk sektor keamanan ini.
Tetapi masalah yang memang mendasar di negeri ini adalah KKN
yang telah merajalela sehingga melumpuhkan kemampuan negara
untuk hal-hal krusial seperti ini. Yang terjadi adalah ingin
memecahkan masalah justru dengan membuat masalah baru.
2. Kita semestinya
memberikan penghargaan kepada para wisatawan yang tetap setia
untuk mengunjungi Bali di tengah kondisi global yang sangat
tidak kondusif ini. Juga aktifitas kepariwisataan ini sudah
sedemikian besar jasanya di dalam menghasilkan devisa untuk
negara.
Saya juga tidak setuju
kalau usaha para praktisi pariwisata (swasta) yang menurunkan
harga dijadikan kambing hitam penurunan kwalitas dan tingkat
kunjungan ke Bali. Justru dengan membuat harga yang paling
kompetitif (murah) yang membuat orang akhirnya memutuskan untuk
memilih Bali sebagai destinasinya. Kalau boleh saya kemukakan
bahwa harga (yang murah) akan menjadi faktor penentu di dalam
pengambilan keputusan pemilihan destinasi.
Ketut Susana
PT Bali Sinar Mentari Tour Jl. Wanbira Sakti Denpasar
|