kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Pon, 20 Juni 2004 tarukan valas
 

POTRET


Siswono Yudohusodo

Pelontar Saran Daftarkan Harta Pejabat 

Nama Siswono Yudohusodo memang tidak asing lagi di masyarakat. Pada era kepemimpinan Soeharto, ia dua kali menjabat sebagai menteri, yaitu Menteri Negara Perumahan Rakyat (1988-1993) serta Menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan (1993-1998). Ketua Umum HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia) ini pernah menerima Entrepreneur Agribusiness Award 2003. Kegiatan yang dilakoninya selama ini mencakup berbagai bidang, mulai dari pengusaha, politisi, menteri, petani, hingga cawapres mendampingi Amien Rais.

SAAT pengganyangan terhadap Bung Karno, ia adalah mahasiswa Teknik Sipil ITB yang menjadi Wakil Komando Laskar Soekarno. Ayahnya, Dr. Soewondo pernah menjabat sebagai wakil gubernur DKI di zaman Bung Karno. Soewondo menginginkan anaknya menjadi seorang dokter, sementara Siswono sendiri bercita-cita menjadi pelaut.

Pria kelahiran Long Iram, Kalimantan Timur ini menghabiskan masa kecilnya di Kendal, sebuah kota kecil di barat Semarang. Di sana ia menyaksikan keluarga petani dengan kesederhanaan, keyakinan, ketekunan, dan kepasrahannya pada alam. Lingkungan itu membekas kuat di hatinya sampai sekarang. Menurutnya, potensi Indonesia untuk menyejahterakan petani sangat kuat dan luar biasa. Pada tahun 1950-an, petani memiliki sawah yang luas dan kaya-kaya. Namun, perubahan generasi membuat terjadinya fragmentasi lahan sehingga petani menjadi miskin. Siswono terobsesi untuk mengembalikan kondisi pertanian ini. Baginya, Indonesia mempunyai potensi yang besar untuk memproduksi hasil pertanian. Kekayaan alam kita luar biasa, tidak ada alasan menjadi importir pangan terbesar. Masalahnya, skala ekonomi usaha tani di Indonesia sedemikian kecilnya sehingga tidak memungkinkan petani untuk hidup sejahtera. Pada tahun 1969 Siswono mendirikan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang bangunan dengan nama PT Bangun Cipta Sarana. Usahanya kemudian kian beragam. Saat menjabat menteri, ia melepas jabatannya sebagai pemimpin di perusahaannya selama 10 tahun. Setelah lengser dari jabatan menteri, ia kembali memimpin grup perusahaannya, tetapi tidak dalam posisi direktur utama melainkan sebagai Presiden Komisaris.

Siswono pernah mengatakan bahwa salah satu kunci agar bangsa ini maju terus adalah harus membangun aparat yang bersih dari korupsi dan kolusi. Ia menyarankan setiap pejabat harus mendaftarkan jumlah harta atau kekayaannya sebelum menjabat dan setelah menjabat. Ketika wacana tersebut dilontarkan, orang menjadi ramai. Padahal di luar negeri itu adalah hal yang biasa. Siswono juga sangat mendukung dibentuknya Komisi Pemberantas Korupsi. Kontroversi terus mewarnai langkahnya. Dalam Munas Golkar pada Juli 1999 untuk pergantian pengurus, ia bersama Sarwono, Try Soetrisno, dan Edy Sudrajat dituduh sebagai Soehartois yang anti-reformasi. Padahal riwayatnya tak pernah menunjukkan bahwa Siswono sebagai Soehartois.

Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) yang dipimpinnya menunjuk Siswono sebagai calon presiden pada Mei 2003. Tetapi saat itu ia mengatakan akan berpikir ulang dan mempertimbangkannya apakah dia mampu untuk menjadi presiden, apakah memang ada partai yang mencalonkan dirinya, serta apakah secara nyata dirinya didukung luas oleh rakyat atau petani.

Menjelang Pemilu 2004, banyak parpol yang mencalonkannya sebagai capres, antara lain Partai Sarikat Indonesia (PSI), Partai Penegak Demokrasi Indonesia (PPDI), dan Partai Marhaenis. Namun hasil pemilu untuk memilih calon legislatif membuat Siswono berpikir ulang. Partai-partai yang mencalonkan dirinya sebagai presiden tidak bisa mendulang suara yang banyak.

Dalam perkembangan politik menjelang pendaftaran presiden, Siswono mulai dilirik sejumlah calon presiden, antara lain Gus Dur, Hamzah Haz, dan Amien Rais. Tapi, akhirnya ia memilih Amien Rais karena -- bagi Siswono sendiri -- Amien adalah tokoh yang bersih dan reformis. Ia juga mengatakan bahwa dirinya dan Amien Rais adalah pasangan yang ideal karena dibangun dengan konsep agama-nasionalis yang merupakan sosok Amien Rais dan nasionalis yang agamis yang ada dalam sosok diri Siswono. (*)

BIODATA

Nama : Dr. (Hc) Ir. Siswono Yudohusodo
Tempat/tgl.lahir : Long Iram, Kalimantan Timur, 4 Juli 1943
Ayah : Dr. Soewondo
Ibu : Istria Bintarti
Istri : Ratih Gondokusumo, S.H.
Anak : 4 orang
Pendidikan : Lulusan Jurusan Teknik Sipil ITB pada tahun 1968
Pengalaman Lembaga Negara:
- Anggota MPR utusan daerah DKI Jakarta, 1982-1987
- Menteri Negara Perumahan Rakyat, 1988-1993
- Menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan, 1993-1998
- Anggota MPR utusan golongan mewakili petani, 1999-2004
- Anggota Dewan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia, 1993-1998
- Anggota Dewan Penasihat Pembangunan Pulau Natuna, Jakarta, 1995-1998

Pengalaman Pekerjaan:
- Staf CV Rama, Jakarta, 1967-1968
- Kabag Teknik PT Biro Bangunan Indonesia, Palembang, 1968
- Direktur Utama PT Bangun Cipta Sarana (kontraktor, real estate, dan developer), 1970-1972
- Komisaris PT Medco Pribumi Drilling Co.
- Komisaris Utama PT Bangun Tjipta Kontraktor (kontraktor air dan gedung)
- Komisaris Utama PT Marga Sarana Raya (kontraktor jalan dan jembatan)
- Komisaris Utama PT Jambe Arum (pertanian)
- Komisaris Utama PT Merapi Merbabu Mas (industri rotan)
- Komisaris Utama PT REI Sewindu

Organisasi:
- Anggota GMNI, Komisariat, 1961-1968
- Ketua Umum Hipmi (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia), 1973-1977, 1979-1985
- Ketua Umum Persatuan Pengusaha Real Estate Indonesia (REI), 1983-1986
- Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia, 1985-1988
- Wakil Ketua Komite Kerja Sama Ekonomi Indonesia-Jepang, 1985-1988
- Ketua Dewan Penasihat AKI, 1986-1988
- Ketua Kehormatan DPP Persatuan REI, Jakarta, 1986-1990
- Dewan Pembina Golkar NTB, 1988-1998
- Ketua Delegasi RI ke Sidang UNHCS di Cantagena, 21 Mei 1988 - 1 Juni 1988
- Anggota Dewan Penasihat PII, 1989-1999
- Anggota Dewan Penasihat MKGR1, Jakarta, 1990-2000
- Anggota Dewan Pembina Induk Koperasi Karyawan, Jakarta, 1990 - sekarang
- Ketua Umum HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia), 1999 - sekarang

Aktivitas Sosial:
- Anggota Majelis Nasional Pembina Harian Pramuka, 1988-1998
- Ketua Dewan Penyantun Universitas Diponegoro, 1994-1998
- Anggota Dewan Penyantun Universitas Andalas, 1996-2000
- Anggota Dewan Penyantun Universitas Bengkulu, 1997-2002
- Ketua Jakarta Golf Club, 2001-2003
- Ketua Yayasan Pendidikan Universitas Pancasila, 2002-sekarang
- Anggota Majelis Wali Amanah Institut Pertanian Bogor, 2002 - sekarang

Karya Tulis:
- Novel "Warga Baru (Kasus Cina di Indonesia)"
- Ilmiah populer "Rumah Untuk Seluruh Rakyat" dan "Transmigrasi, Kebutuhan Negara Kepulauan Berpenduduk Heterogen dengan Persebaran yang Timpang"
- Politik "Semangat Baru Nasionalisme Indonesia" dan "Nasionalisme Indonesia Dalam Era Globalisasi".

Penghargaan:
- Bintang Mahaputra Adi Pradana dari Presiden RI, 1992
- Lencana Melati Gerakan Pramuka, 1998
- Doctor Honoris Causa dari Universitas Negeri Jakarta di Bidang Pendidikan Masyarakat
- Umbu Agung Proying dari masyarakat adat, Pulau Sumba, 1988-1998

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com