Siswono Yudohusodo
Pelontar Saran
Daftarkan Harta Pejabat
Nama Siswono Yudohusodo
memang tidak asing lagi di masyarakat. Pada era kepemimpinan
Soeharto, ia dua kali menjabat sebagai menteri, yaitu Menteri
Negara Perumahan Rakyat (1988-1993) serta Menteri Transmigrasi
dan Pemukiman Perambah Hutan (1993-1998). Ketua Umum HKTI (Himpunan
Kerukunan Tani Indonesia) ini pernah menerima Entrepreneur
Agribusiness Award 2003. Kegiatan yang dilakoninya selama ini
mencakup berbagai bidang, mulai dari pengusaha, politisi,
menteri, petani, hingga cawapres mendampingi Amien Rais.
SAAT pengganyangan
terhadap Bung Karno, ia adalah mahasiswa Teknik Sipil ITB yang
menjadi Wakil Komando Laskar Soekarno. Ayahnya, Dr. Soewondo
pernah menjabat sebagai
wakil gubernur DKI di zaman Bung Karno. Soewondo menginginkan
anaknya menjadi seorang dokter, sementara Siswono sendiri
bercita-cita menjadi pelaut.
Pria kelahiran Long Iram,
Kalimantan Timur ini menghabiskan masa kecilnya di Kendal,
sebuah kota kecil di barat Semarang. Di sana ia menyaksikan
keluarga petani dengan kesederhanaan, keyakinan, ketekunan, dan
kepasrahannya pada alam. Lingkungan itu membekas kuat di hatinya
sampai sekarang. Menurutnya, potensi Indonesia untuk
menyejahterakan petani sangat kuat dan luar biasa. Pada tahun
1950-an, petani memiliki sawah yang luas dan kaya-kaya. Namun,
perubahan generasi membuat terjadinya fragmentasi lahan sehingga
petani menjadi miskin. Siswono terobsesi untuk mengembalikan
kondisi pertanian ini. Baginya, Indonesia mempunyai potensi yang
besar untuk memproduksi hasil pertanian. Kekayaan alam kita luar
biasa, tidak ada alasan menjadi importir pangan terbesar.
Masalahnya, skala ekonomi usaha tani di Indonesia sedemikian
kecilnya sehingga tidak memungkinkan petani untuk hidup
sejahtera. Pada tahun 1969 Siswono mendirikan sebuah perusahaan
yang bergerak di bidang bangunan dengan nama PT Bangun Cipta
Sarana. Usahanya kemudian kian beragam. Saat menjabat menteri,
ia melepas jabatannya sebagai pemimpin di perusahaannya selama
10 tahun. Setelah lengser dari jabatan menteri, ia kembali
memimpin grup perusahaannya, tetapi tidak dalam posisi direktur
utama melainkan sebagai Presiden Komisaris.
Siswono pernah mengatakan
bahwa salah satu kunci agar bangsa ini maju terus adalah harus
membangun aparat yang bersih dari korupsi dan kolusi. Ia
menyarankan setiap pejabat harus mendaftarkan jumlah harta atau
kekayaannya sebelum menjabat dan setelah menjabat. Ketika wacana
tersebut dilontarkan, orang menjadi ramai. Padahal di luar
negeri itu adalah hal yang biasa. Siswono juga sangat mendukung
dibentuknya Komisi Pemberantas Korupsi. Kontroversi terus
mewarnai langkahnya. Dalam Munas Golkar pada Juli 1999 untuk
pergantian pengurus, ia bersama Sarwono, Try Soetrisno, dan Edy
Sudrajat dituduh sebagai Soehartois yang anti-reformasi. Padahal
riwayatnya tak pernah menunjukkan bahwa Siswono sebagai
Soehartois.
Himpunan Kerukunan Tani
Indonesia (HKTI) yang dipimpinnya menunjuk Siswono sebagai calon
presiden pada Mei 2003. Tetapi saat itu ia mengatakan akan
berpikir ulang dan mempertimbangkannya apakah dia mampu untuk
menjadi presiden, apakah memang ada partai yang mencalonkan
dirinya, serta apakah secara nyata dirinya didukung luas oleh
rakyat atau petani.
Menjelang Pemilu 2004,
banyak parpol yang mencalonkannya sebagai capres, antara lain
Partai Sarikat Indonesia (PSI), Partai Penegak Demokrasi
Indonesia (PPDI), dan Partai Marhaenis. Namun hasil pemilu untuk
memilih calon legislatif membuat Siswono berpikir ulang.
Partai-partai yang mencalonkan dirinya sebagai presiden tidak
bisa mendulang suara yang banyak.
Dalam perkembangan politik
menjelang pendaftaran presiden, Siswono mulai dilirik sejumlah
calon presiden, antara lain Gus Dur, Hamzah Haz, dan Amien Rais.
Tapi, akhirnya ia memilih Amien Rais karena -- bagi Siswono
sendiri -- Amien adalah tokoh yang bersih dan reformis. Ia juga
mengatakan bahwa dirinya dan Amien Rais adalah pasangan yang
ideal karena dibangun dengan konsep agama-nasionalis yang
merupakan sosok Amien Rais dan nasionalis yang agamis yang ada
dalam sosok diri Siswono. (*)
BIODATA
Nama : Dr. (Hc) Ir.
Siswono Yudohusodo
Tempat/tgl.lahir : Long Iram, Kalimantan Timur, 4 Juli 1943
Ayah : Dr. Soewondo
Ibu : Istria Bintarti
Istri : Ratih Gondokusumo, S.H.
Anak : 4 orang
Pendidikan : Lulusan Jurusan Teknik Sipil ITB pada tahun 1968
Pengalaman Lembaga Negara:
- Anggota MPR utusan daerah DKI Jakarta, 1982-1987
- Menteri Negara Perumahan Rakyat, 1988-1993
- Menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan, 1993-1998
- Anggota MPR utusan golongan mewakili petani, 1999-2004
- Anggota Dewan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia, 1993-1998
- Anggota Dewan Penasihat Pembangunan Pulau Natuna, Jakarta,
1995-1998
Pengalaman Pekerjaan:
- Staf CV Rama, Jakarta, 1967-1968
- Kabag Teknik PT Biro Bangunan Indonesia, Palembang, 1968
- Direktur Utama PT Bangun Cipta Sarana (kontraktor, real
estate, dan developer), 1970-1972
- Komisaris PT Medco Pribumi Drilling Co.
- Komisaris Utama PT Bangun Tjipta Kontraktor (kontraktor air
dan gedung)
- Komisaris Utama PT Marga Sarana Raya (kontraktor jalan dan
jembatan)
- Komisaris Utama PT Jambe Arum (pertanian)
- Komisaris Utama PT Merapi Merbabu Mas (industri rotan)
- Komisaris Utama PT REI Sewindu
Organisasi:
- Anggota GMNI, Komisariat, 1961-1968
- Ketua Umum Hipmi (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia),
1973-1977, 1979-1985
- Ketua Umum Persatuan Pengusaha Real Estate Indonesia (REI),
1983-1986
- Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia, 1985-1988
- Wakil Ketua Komite Kerja Sama Ekonomi Indonesia-Jepang,
1985-1988
- Ketua Dewan Penasihat AKI, 1986-1988
- Ketua Kehormatan DPP Persatuan REI, Jakarta, 1986-1990
- Dewan Pembina Golkar NTB, 1988-1998
- Ketua Delegasi RI ke Sidang UNHCS di Cantagena, 21 Mei 1988 -
1 Juni 1988
- Anggota Dewan Penasihat PII, 1989-1999
- Anggota Dewan Penasihat MKGR1, Jakarta, 1990-2000
- Anggota Dewan Pembina Induk Koperasi Karyawan, Jakarta, 1990 -
sekarang
- Ketua Umum HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia), 1999 -
sekarang
Aktivitas Sosial:
- Anggota Majelis Nasional Pembina Harian Pramuka, 1988-1998
- Ketua Dewan Penyantun Universitas Diponegoro, 1994-1998
- Anggota Dewan Penyantun Universitas Andalas, 1996-2000
- Anggota Dewan Penyantun Universitas Bengkulu, 1997-2002
- Ketua Jakarta Golf Club, 2001-2003
- Ketua Yayasan Pendidikan Universitas Pancasila, 2002-sekarang
- Anggota Majelis Wali Amanah Institut Pertanian Bogor, 2002 -
sekarang
Karya Tulis:
- Novel "Warga Baru (Kasus Cina di Indonesia)"
- Ilmiah populer "Rumah Untuk Seluruh Rakyat" dan
"Transmigrasi, Kebutuhan Negara Kepulauan Berpenduduk
Heterogen dengan Persebaran yang Timpang"
- Politik "Semangat Baru Nasionalisme Indonesia" dan
"Nasionalisme Indonesia Dalam Era Globalisasi".
Penghargaan:
- Bintang Mahaputra Adi Pradana dari Presiden RI, 1992
- Lencana Melati Gerakan Pramuka, 1998
- Doctor Honoris Causa dari Universitas Negeri Jakarta di Bidang
Pendidikan Masyarakat
- Umbu Agung Proying dari masyarakat adat, Pulau Sumba,
1988-1998
|