Nenek Moyang
Manusia
Bila saja Adam dan Hawa
tidak mengawali dosa awalnya dengan memakan buah Quldy, tapi
kates atau semangka, mungkin nafsu, keserakahan dan kejahatan
tidak berlangsung di alam fana ini. Bila saja Tuhan tidak
menciptakan manusia sesuai citra diriNya dan menjadi manusia
sebagai penguasa langit, laut dan bumi, keharmonisan dan
kedamaian menjadi kepastian. Karena menyandang citra Tuhan dan
dirangsang buah Quldy, banyak manusia menganggap diri mereka
sebagai Tuhan, tanpa sadar bahwa ujung dari kehidupannya adalah
kematian atau mortalitas.
RENUNGAN
tentang Adam dan Hawa mampir di otak Rubag, lantaran tidak
henti-hentinya terjadi pertumpahan darah di dunia ini. Dari
perkelahian satu lawan satu, tawuran antara kelompok versus
kelompok hingga perang di tingkat nasional maupun internasional.
Pelakunya, bukan mahluk-mahluk yang berkadar
rendah, tapi manusia yang dipuji sebagai mahluk termulia dan
tersempurna ciptaan Tuhan. Sekarang banyak orang meragukan,
benarkah nenek moyang manusia itu Adam dan Hawa yang sering
divisualisasikan dengan penampilan gagah dan cantik ketika
berada di Taman Firdaus? Atau sesuai teori Darwin, bahwa nenek
moyang manusia adalah manusia kera atau apeman, yang tadinya
berjalan dengan empat anggota tubuh atau quatropedal dan hidup
menggelayut di pohon, lewat proses evolusi biologis bisa tegak
di atas dua kaki atau bipedal sebagai homo erectus, selanjutnya
mengalami pembesaran otak dari 300 cc menjadi 1590 cc, sehingga
disebut homo sapiens?
Memang ada orang-orang
yang seperti kebakaran jenggot ketika mendengar paparan teori
Darwin dan serta merta menuduh pemapar sebagai atheis bahkan
lebih kejam lagi, PKI! Padahal tidak tertutup kemungkinan kalau
Charles Darwin yang hidup tahun 1804-1872 mendapatkan landasan
teorinya dari pendapat Ibnu Khaldun, yang lahir di Maghrib,
Afrika Utara, tahun 1332 dan meninggal tahun 1406. Cendekiawan
besar Muslim tersebut dalam kitab ''Muqaddimah''-nya berpendapat
bahwa dunia yang disebutnya 'alam at-takwin ini diawali dengan
alam benda, kemudian alam tumbuh-tumbuhan, lalu disusul alam
binatang. Manusia, menurut Khaldun, menduduki tempat tertinggi
di dalam alam binatang, suatu status yang dicapainya setelah
melalui tahap kera, karena memiliki kemampuan untuk berpikir dan
merenung. Rubag yang berupaya netral, tidak ikut-ikutan berpihak,
baik pada teori evolusi biologisnya Darwin maupun kisah Genesis
atau Kitab Kejadian, karena kedua pandangan tersebut masih sulit
dibuktikan kebenarannya. Para antropolog masih bergelut dengan
fosil-fosil berusia ribuan tahun yang di samping tidak lengkap
juga sulit diajak berkomunikasi, sementara para teolog ramai
berdebat tentang tahun berapa sebenarnya Adam dan Hawa ''dijatuhkan''
ke bumi dan di mana? Apalagi sebagai penganut Hindu, dia tahu
dalam epos Ramayana pun ada tokoh-tokoh Hanoman, Anggada, Maruti,
Subali dan Sugriwa, yang berujud kera yang bipedal namun
memiliki kelincahan serta kecerdasan melebihi manusia-manusia
biasa. Bahkan, menurut empunya cerita, tanpa bantuan Hanoman,
Anggada dan Sugriwa yang mengomandani laskar kera, bisa jadi
Prabhu Rama akan gantung diri karena patah hati dan gagal
merebut Dewi Sita dari tangan Rahwana.
***
Tiga dasawarsa lalu, Rubag
pernah bercakap-cakap dengan lima orang bule yang sedang
istirahat di bawah tenda yang berdiri di bagian luar hutan kera
Sangeh. Mereka mengaku para peneliti yang terdiri dari
antropolog dan biolog dari Jerman dan Australia. Mereka
bertujuan menyelidiki perilaku primata yang jadi penghuni hutan
yang terletak di kawasan utara kabupaten Badung itu. Setelah dua
minggu menetap di sana, mereka berkesimpulan bahwa ada tiga
faktor yang memotivasi perilaku kera-kera tersebut. Makanan,
seks, dan teritori!
Untuk ketiga hal
tersebutlah di hutan itu tiada hari terlewatkan tanpa keributan
dan perkelahian. Dalam dunia kera, secara transparan terjadi
adagium, ''The survival of The Fittest'' atau kelestarian bagi
terulung. Kera jantan paling besar dan paling kuat mendominasi
segala hal, baik makanan maupun betina yang dipilihnya untuk
berkopulasi, sedangkan yang lebih lemah harus minggir, kalau
ingin selamat. Soal wilayah atau teriroti, jelas-jelas hutan
yang ditumbuhi pohon pala lebat serta semak tersebut terbelah
jadi dua dan di tengah-tengah ada batas demarkasi atau zona
netral, yang juga jadi jalan buat para pemedek ke Pura Bukit
Sari. Ratusan kera tersebut hidup dalam dua kelompok, yang
masing-masing dipimpin kera jantan terbesar dan terkuat tadi.
Para pelintas batas akan dikeroyok rame-rame, meskipun tidak
sampai terbunuh, karena kera tidak tahu cara memegang celurit,
pedang maupun menarik pelatuk pistol.
''Itu lantaran mereka
tidak mampu berpikir dan merenung seperti pendapat Ibnu Khaldun.
Kapasitas otak mereka pun belum mencapai 1590 cc, sehingga tidak
tahu makna dan fungsi semua senjata mematikan itu. Tapi mengapa
ya, mahluk yang diskenario Tuhan sebagai ciptaanNya yang
termulia dan tersempurna, kok mengambil posisi sebagai
penganiaya dan pembunuh, lebih kejam dari kera?'' Rubag bertanya
pada dirinya sendiri.
Hominid, menurut
antropolog Richard Leakey, muncul di dunia sekitar tujuh juta
tahun silam. Mereka belum termasuk mahluk sejarah, karena
jejak-jejak kehidupan mereka pun tidak terdeteksi. Meski
berbagai bencana alam hebat menerpa planet bumi ini, termasuk
banjir besar yang nyaris menenggelamkan perahu Nabi Nuh, namun
berkat rahmat Tuhan yang disebut adikodrati, keturunan Adam-Hawa
maupun pewaris gen-gen The Ape Man versi Darwinian, tetap
bertahan hidup. Bahkan zaman jahiliyah, barbar dan kanibal yang
berprinsip, bellum omnium contra omnes atau perang semua lawan
semua pun tidak kuasa memusnahkan mereka. Malah di awal
Millenium ketiga ini populasinya mendekati jumlah
bintang-bintang di langit akibat kemajuan sains dan teknologi,
yang justru berkembang sejak tiga abad silam. Perkembangbiakan
mereka melebihi kelinci, meski setiap kelahiran normal cuma
mengeluarkan seorang bayi. Beda dengan kucing, babi dan anjing.
Selama terjadinya revolusi
otak yang mencengangkan itu, dua perang besar yang melibatkan
kelompok-kelompok bangsa, Perang Dunia I dan II terjadi, dengan
jutaan manusia terbunuh. Belum lagi holocaust dan genosida yang
dilakukan Hitler, Lenin dan Stalin terhadap kaum Yahudi dan
bangsa-bangsa Eropa lainnya. Perang Vietnam dan Kamboja dengan
the killing field-nya Polpot serta pengganyangan PKI di
Indonesia menyisakan jutaan tulang belulang. Mengapa manusia
tetap bisa bertahan hidup kendati mereka saling bantai,
sementara mammoth dan dinosaurus yang bertubuh besar dan
bertenaga kuat punah? Berpikir sampai di situ, Rubag teringat
pendapat bahwa Tuhan memberikan satu di antara seratus rahmat
yang dimiliki Tuhan. Berkat rahmat tunggal itulah manusia
menjadi mahluk superior di kalangan penghuni dunia.
''Bahasa adalah inti dari
rahmat itu! Berkat bahasa, manusia menjadi satu-satunya speaking
animal di antara jutaan spesies lainnya di jagat ini. Mereka
bisa menyampaikan kehendak, perasaan dan pendapat lewat bahasa.
Tidak ada ilmu pengetahuan tanpa bahasa! Lewat bahasa pula
firman Tuhan disampaikan, sehingga lahir agama, adat dan
kebudayaan, yang mengajarkan perdamaian dan cinta kasih. Mengapa
semua itu tidak cukup membahagiakan manusia? Mengapa harus
memotong aliran deras kata-kata dan harus menyambungnya dengan
perang dan perkelahian?'' pikir Rubag. ''Sabda Alam: Kedamaian
dan Keindahan dalam Kebhinekaan!'' tema Pesta Kesenian Bali (PKB)
ke-26 membuat Rubag terkesan, meskipun ragu-ragu atas kelincahan
tangan dan lidah untuk mengobral kata-kata luhur dan mulia.
Johan Galtung dalam buku
''Studi Perdamaian'' mengatakan bahwa tidak ada batas bagi
perdamaian, sebagaimana tidak ada batas bagi kekerasan.
Akibatnya, omnipeace atau kedamaian untuk semua, disamakan
maknanya dengan omnicide atau kekerasan untuk semua. Seharusnya,
menurut Galtung, pax omnium cum omnibus, atau kedamaian buat
seluruh umat manusia, menjadi slogan kunci kebudayaan manusia
dalam arti sesungguhnya.
Menjelang Pemilu Presiden
dan Wakil Presiden 5 Juli mendatang, Bali seakan-akan dijadikan
panggung ''Lord of The Ring'' oleh para capres dan cawapres yang
rebutan datang berkampanye, namun tidak peduli dengan aspirasi
rakyatnya. Bali yang ikut terimbas akibat konflik peradaban yang
terjadi di luar Bali, selain selama puluhan tahun jadi sapi
perahan para investor, seyogyanya diberikan kesempatan untuk
hidup layak sebagai keturunan Adam dan Hawa, bukan penerus
generasi kera yang saling bantai. Kebudayaan dan kesenian Bali
yang digelar selama sebulan dalam PKB kali ini harus dicerna
maknanya oleh para capres dan cawapres. Bukan sekadar ditonton!
* aridus
|