kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Pon, 20 Juni 2004 tarukan valas
 

OPINI


Nenek Moyang Manusia

Bila saja Adam dan Hawa tidak mengawali dosa awalnya dengan memakan buah Quldy, tapi kates atau semangka, mungkin nafsu, keserakahan dan kejahatan tidak berlangsung di alam fana ini. Bila saja Tuhan tidak menciptakan manusia sesuai citra diriNya dan menjadi manusia sebagai penguasa langit, laut dan bumi, keharmonisan dan kedamaian menjadi kepastian. Karena menyandang citra Tuhan dan dirangsang buah Quldy, banyak manusia menganggap diri mereka sebagai Tuhan, tanpa sadar bahwa ujung dari kehidupannya adalah kematian atau mortalitas.

RENUNGAN tentang Adam dan Hawa mampir di otak Rubag, lantaran tidak henti-hentinya terjadi pertumpahan darah di dunia ini. Dari perkelahian satu lawan satu, tawuran antara kelompok versus kelompok hingga perang di tingkat nasional maupun internasional. Pelakunya, bukan mahluk-mahluk yang berkadar rendah, tapi manusia yang dipuji sebagai mahluk termulia dan tersempurna ciptaan Tuhan. Sekarang banyak orang meragukan, benarkah nenek moyang manusia itu Adam dan Hawa yang sering divisualisasikan dengan penampilan gagah dan cantik ketika berada di Taman Firdaus? Atau sesuai teori Darwin, bahwa nenek moyang manusia adalah manusia kera atau apeman, yang tadinya berjalan dengan empat anggota tubuh atau quatropedal dan hidup menggelayut di pohon, lewat proses evolusi biologis bisa tegak di atas dua kaki atau bipedal sebagai homo erectus, selanjutnya mengalami pembesaran otak dari 300 cc menjadi 1590 cc, sehingga disebut homo sapiens?

Memang ada orang-orang yang seperti kebakaran jenggot ketika mendengar paparan teori Darwin dan serta merta menuduh pemapar sebagai atheis bahkan lebih kejam lagi, PKI! Padahal tidak tertutup kemungkinan kalau Charles Darwin yang hidup tahun 1804-1872 mendapatkan landasan teorinya dari pendapat Ibnu Khaldun, yang lahir di Maghrib, Afrika Utara, tahun 1332 dan meninggal tahun 1406. Cendekiawan besar Muslim tersebut dalam kitab ''Muqaddimah''-nya berpendapat bahwa dunia yang disebutnya 'alam at-takwin ini diawali dengan alam benda, kemudian alam tumbuh-tumbuhan, lalu disusul alam binatang. Manusia, menurut Khaldun, menduduki tempat tertinggi di dalam alam binatang, suatu status yang dicapainya setelah melalui tahap kera, karena memiliki kemampuan untuk berpikir dan merenung. Rubag yang berupaya netral, tidak ikut-ikutan berpihak, baik pada teori evolusi biologisnya Darwin maupun kisah Genesis atau Kitab Kejadian, karena kedua pandangan tersebut masih sulit dibuktikan kebenarannya. Para antropolog masih bergelut dengan fosil-fosil berusia ribuan tahun yang di samping tidak lengkap juga sulit diajak berkomunikasi, sementara para teolog ramai berdebat tentang tahun berapa sebenarnya Adam dan Hawa ''dijatuhkan'' ke bumi dan di mana? Apalagi sebagai penganut Hindu, dia tahu dalam epos Ramayana pun ada tokoh-tokoh Hanoman, Anggada, Maruti, Subali dan Sugriwa, yang berujud kera yang bipedal namun memiliki kelincahan serta kecerdasan melebihi manusia-manusia biasa. Bahkan, menurut empunya cerita, tanpa bantuan Hanoman, Anggada dan Sugriwa yang mengomandani laskar kera, bisa jadi Prabhu Rama akan gantung diri karena patah hati dan gagal merebut Dewi Sita dari tangan Rahwana.

***

Tiga dasawarsa lalu, Rubag pernah bercakap-cakap dengan lima orang bule yang sedang istirahat di bawah tenda yang berdiri di bagian luar hutan kera Sangeh. Mereka mengaku para peneliti yang terdiri dari antropolog dan biolog dari Jerman dan Australia. Mereka bertujuan menyelidiki perilaku primata yang jadi penghuni hutan yang terletak di kawasan utara kabupaten Badung itu. Setelah dua minggu menetap di sana, mereka berkesimpulan bahwa ada tiga faktor yang memotivasi perilaku kera-kera tersebut. Makanan, seks, dan teritori!

Untuk ketiga hal tersebutlah di hutan itu tiada hari terlewatkan tanpa keributan dan perkelahian. Dalam dunia kera, secara transparan terjadi adagium, ''The survival of The Fittest'' atau kelestarian bagi terulung. Kera jantan paling besar dan paling kuat mendominasi segala hal, baik makanan maupun betina yang dipilihnya untuk berkopulasi, sedangkan yang lebih lemah harus minggir, kalau ingin selamat. Soal wilayah atau teriroti, jelas-jelas hutan yang ditumbuhi pohon pala lebat serta semak tersebut terbelah jadi dua dan di tengah-tengah ada batas demarkasi atau zona netral, yang juga jadi jalan buat para pemedek ke Pura Bukit Sari. Ratusan kera tersebut hidup dalam dua kelompok, yang masing-masing dipimpin kera jantan terbesar dan terkuat tadi. Para pelintas batas akan dikeroyok rame-rame, meskipun tidak sampai terbunuh, karena kera tidak tahu cara memegang celurit, pedang maupun menarik pelatuk pistol.

''Itu lantaran mereka tidak mampu berpikir dan merenung seperti pendapat Ibnu Khaldun. Kapasitas otak mereka pun belum mencapai 1590 cc, sehingga tidak tahu makna dan fungsi semua senjata mematikan itu. Tapi mengapa ya, mahluk yang diskenario Tuhan sebagai ciptaanNya yang termulia dan tersempurna, kok mengambil posisi sebagai penganiaya dan pembunuh, lebih kejam dari kera?'' Rubag bertanya pada dirinya sendiri.

Hominid, menurut antropolog Richard Leakey, muncul di dunia sekitar tujuh juta tahun silam. Mereka belum termasuk mahluk sejarah, karena jejak-jejak kehidupan mereka pun tidak terdeteksi. Meski berbagai bencana alam hebat menerpa planet bumi ini, termasuk banjir besar yang nyaris menenggelamkan perahu Nabi Nuh, namun berkat rahmat Tuhan yang disebut adikodrati, keturunan Adam-Hawa maupun pewaris gen-gen The Ape Man versi Darwinian, tetap bertahan hidup. Bahkan zaman jahiliyah, barbar dan kanibal yang berprinsip, bellum omnium contra omnes atau perang semua lawan semua pun tidak kuasa memusnahkan mereka. Malah di awal Millenium ketiga ini populasinya mendekati jumlah bintang-bintang di langit akibat kemajuan sains dan teknologi, yang justru berkembang sejak tiga abad silam. Perkembangbiakan mereka melebihi kelinci, meski setiap kelahiran normal cuma mengeluarkan seorang bayi. Beda dengan kucing, babi dan anjing.

Selama terjadinya revolusi otak yang mencengangkan itu, dua perang besar yang melibatkan kelompok-kelompok bangsa, Perang Dunia I dan II terjadi, dengan jutaan manusia terbunuh. Belum lagi holocaust dan genosida yang dilakukan Hitler, Lenin dan Stalin terhadap kaum Yahudi dan bangsa-bangsa Eropa lainnya. Perang Vietnam dan Kamboja dengan the killing field-nya Polpot serta pengganyangan PKI di Indonesia menyisakan jutaan tulang belulang. Mengapa manusia tetap bisa bertahan hidup kendati mereka saling bantai, sementara mammoth dan dinosaurus yang bertubuh besar dan bertenaga kuat punah? Berpikir sampai di situ, Rubag teringat pendapat bahwa Tuhan memberikan satu di antara seratus rahmat yang dimiliki Tuhan. Berkat rahmat tunggal itulah manusia menjadi mahluk superior di kalangan penghuni dunia.

''Bahasa adalah inti dari rahmat itu! Berkat bahasa, manusia menjadi satu-satunya speaking animal di antara jutaan spesies lainnya di jagat ini. Mereka bisa menyampaikan kehendak, perasaan dan pendapat lewat bahasa. Tidak ada ilmu pengetahuan tanpa bahasa! Lewat bahasa pula firman Tuhan disampaikan, sehingga lahir agama, adat dan kebudayaan, yang mengajarkan perdamaian dan cinta kasih. Mengapa semua itu tidak cukup membahagiakan manusia? Mengapa harus memotong aliran deras kata-kata dan harus menyambungnya dengan perang dan perkelahian?'' pikir Rubag. ''Sabda Alam: Kedamaian dan Keindahan dalam Kebhinekaan!'' tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-26 membuat Rubag terkesan, meskipun ragu-ragu atas kelincahan tangan dan lidah untuk mengobral kata-kata luhur dan mulia.

Johan Galtung dalam buku ''Studi Perdamaian'' mengatakan bahwa tidak ada batas bagi perdamaian, sebagaimana tidak ada batas bagi kekerasan. Akibatnya, omnipeace atau kedamaian untuk semua, disamakan maknanya dengan omnicide atau kekerasan untuk semua. Seharusnya, menurut Galtung, pax omnium cum omnibus, atau kedamaian buat seluruh umat manusia, menjadi slogan kunci kebudayaan manusia dalam arti sesungguhnya.

Menjelang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 5 Juli mendatang, Bali seakan-akan dijadikan panggung ''Lord of The Ring'' oleh para capres dan cawapres yang rebutan datang berkampanye, namun tidak peduli dengan aspirasi rakyatnya. Bali yang ikut terimbas akibat konflik peradaban yang terjadi di luar Bali, selain selama puluhan tahun jadi sapi perahan para investor, seyogyanya diberikan kesempatan untuk hidup layak sebagai keturunan Adam dan Hawa, bukan penerus generasi kera yang saling bantai. Kebudayaan dan kesenian Bali yang digelar selama sebulan dalam PKB kali ini harus dicerna maknanya oleh para capres dan cawapres. Bukan sekadar ditonton!

* aridus

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com