kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Pon, 20 Juni 2004 tarukan valas
 

KELUARGA


Perselingkuhan dan Gangguan Panik

Perselingkuhan makin marak di Bali, seakan-akan tidak ada batas lagi antara moral dan libido. Seakan-akan perselingkuhan itu hal yang lumrah terjadi dalam sebuah perkawinan. Tampaknya perselingkuhan merupakan persaingan antarperempuan untuk saling menghancurkan. Apakah ini hasil gerakan emansipasi, ''Kamu bisa, saya bisa?''

SEORANG perempuan cantik bernama Rini berumur 42 tahun datang dengan tersenyum karena susah mengutarakan perasaan yang dialaminya. Senyum, tetapi matanya memancarkan keletihan dan kesedihan. Setelah berulang ditanyakan dan mengajak ia agar bisa berada dalam suasana rileks dan nyaman dalam penanganan profesional, akhirnya ia mengutarakan bahwa ia mengalami masalah rumah tangga. Suaminya (sebut saja Kadek), menurut pengakuannya ditekan oleh teman perempuannya Dina. Kalau ia memutuskan hubungannya dengan Dina, maka Dina mengancam akan bunuh diri. Hubungan mereka sudah berjalan enam tahun.

Rini sudah mengetahui suaminya punya perempuan simpanan sejak 6 tahun lalu. Setiap ingat itu, Rini merasa marah, jengkel, dan kecewa. Ia berjuang untuk merebut suaminya kembali dengan segala cara, pergi ke berbagai balian, paranormal, namun tidak menunjukkan hasil. Suaminya tetap tidak bisa melepaskan diri dari Dina. Ia berusaha mengikuti petunjuk teman-temannya agar melayani suaminya dengan baik sehingga suaminya tetap mendampinginya. Kadang-kadang kalau ia harus melayani kebutuhan seks suaminya, ia teringat bagaimana suaminya melayani rivalnya. Semua keinginannya untuk melayani suaminya dalam hubungan seksual menjadi sirna.

Rini ingin marah kepada suaminya, ingin ngamuk, ingin menamparnya, namun nasihat teman-temannya terngiang bahwa ia harus sabar, harus melayani suaminya dengan senyum seakan-akan tidak ada apa-apa. Hatinya menjadi sakit. Ia sering merenung, apakah ia akan teruskan berpura-pura seperti ini sementara suaminya selalu mengatakan, "Sabar, support saya biar bisa lepas dari perempuan itu." Setiap ia marah selalu suaminya seperti memelas minta dukungan, dan akhirnya iapun tidak sampai hati memarahi suaminya karena ia sangat mencintainya.

Rini merasa menderita karena setiap hari hatinya panas, Setiap hari ia merenungi nasib. Setiap hari ia bertengkar dengan suaminya. Ia luluh kalau suaminya sudah memelas. Suaminya tahu keadaan dirinya yang tidak mungkin melepaskannya. Ia berusaha beberapa kali ingin cerai, tetapi suaminya mengatakan ia tidak bisa tanpa Rini. Beri ia waktu agar bisa melepaskan diri. Namun sanggupkah ia terus seperti ini. Ia tidak pernah lagi merasakan apa itu tertawa, apa itu senang. Ia hanya merasa betapa menderitanya hidupnya ini.

Pernah Rini ingin bunuh diri, tetapi ia berpikir, kalau ia bunuh diri tentu perempuan saingannya itu enak sekali. Ia mendapatkan anak-anaknya dua orang yang susah didapatkannya karena setelah menikah beberapa tahun baru ia bisa mempunyai anak dan selisih anak pertama dan kedua 5 tahun tanpa menggunakan program Keluarga Berencana. Di samping itu, Dina pun pasti senang karena ia akan menikmati hasil dari apa yang dirintisnya mulai dari tidak ada sampai hidupnya yang mapan seperti sekarang ini. ia sudah mempunyai rumah, mobil dan usaha lainnya. Ia tidak rela Dina menikmati hasil yang diperolehnya dengan susah payah, dengan mengirit segala keperluan agar bisa membeli rumah, agar bisa menabung. Akhirnya keinginan bunuh diri bisa ia cegah dan tidak ingin memikirkan hal itu.

Kadek, suami Rini, bekerja dalam kantor yang sama dengan pacarnya. Ia setiap hari pulang ke rumah, namun baru pulang setelah pukul 22.00. Ia memang tetap menyayangi anak-anaknya dan istrinya, namun menurut pengakuannya ia tdiak bisa melepaskan diri karena Dina selalu mengancam mau bunuh diri. Perempuan itu sekarang berumur 30 tahun, lebih muda dari dirinya. ''Sekarang apa yang mesti saya lakukan? Saya bingung, saya selalu menangis, marah, jengkel, merasa terhina dan tidak mempunyai harga diri, namun untuk lepas susah. Apa sebagiknya saya cerai?'' inilah pertanyaan yang keluar dengan uraian air mata, dada sesak karena tidak mampu mengutarakan perasaan marah yang terpendam. Wajah perempuan itu seakan-akan terus membayangi hidupnya, menghancurkan perasaannya; dan mencoba memisahkan dirinya dengan suaminya. Karena ia sering menangis dan melamun, akhirnya teman-teman di kantornya memintanya untuk berkonsultasi ke psikiater.

Merasa Nyaman
Apa yang dialami oleh Rini dialami oleh banyak perempuan yang sudah menikah. Banyak hal yang dilakukan, namun tidak membuahkan hasil. Kadek kelihatannya memanfaatkan posisi Rini dengan memelas, menyatakan cinta dan tetap pulang walaupun larut malam. Kadek adalah tipe laki-laki yang ingin mengambil keuntungan tanpa perlu membayar mahal. Dengan mengumbar janji pada istrinya, mungkin juga ia melakukan hal sama pada pacarnya, ia merasa nyaman. Ia dilayani oleh dua perempuan yang dirasakanya sangat memerlukannya, keduanya seperti tidak bisa lepas dari ketergantungan dengan dirinya.

Sadarkah kedua perempuan yang sedang memperebutkan cinta Kadek bahwa mereka hanyalah digunakan sebagai alat pemuas dirinya tanpa merasakan perasaan perempuan masing-masing? Mungkin Kadek senang mendengar istrinya marah atau mungkin senang mendengar pacarnya marah. Dengan rayuan gombalnya dan menyatakan kelemahan pacarnya ia dapat menaklukkan Dina sehingga ia mencoba bunuh diri. Namun Kadek tetap nyaman menikmati kedua kubu yang sedang melayaninya dengan pelayanan yang memuaskannya. Ia mungkin merasa sebagai raja yang bisa memperbudak dua perempuan memperebutkan cinta seorang laki-laki. Mungkin juga Kadek ini mengatakan kepada Dina, seandainya ia menuntut menikah, ''Sabar, support saya karena istri saya Rini berulang kali mau bunuh diri''. Kalau kedua perempuan ini merasa sebagai perempuan, dan kejadian ini sudah berlangsung enam tahun, dan mau menggunakan logika, tentu akan berpikir apakah mereka berdua menjadi alat pemuas laki-laki yang hanya menikmati enaknya dua orang perempuan tanpa mengeluarkan uang banyak? Karena kedua perempuan ini sama-sama bekerja, sama-sama mempunyai penghasilan lumayan dan cantik pula.

Persaingan Antarperempuan
Setelah merenungi apa yang dinyatakan di atas, maka sebagai perempuan mulailah rasakan harga diri Anda. Kenapa situasi tidak dibalik? Sebagai orang Bali, agar tetap dirasakan sebagai keluarga oleh keluarga suami, maka usahakan juga hubungan dengan mertua, dengan ipar dan dengan keluarga besar lainnya agar tetap baik. Ini merupakan modal untuk mendapatkan simpati dan dukungan keluarga suami sehingga mereka tidak akan mungkin mengabulkan kalau Kadek mau menikah secara agama dengan Dina. Walaupun peraturan menyatakan pernikahan baru boleh dilakukan kalau istri pertama menyetujui, keluarga kadang-kadang berusaha menceraikan hubungan suami istri kalau mereka merasakan istri tidak bisa membina hubungan baik dengan keluarga suami.

Tunjukkan sebagai perempuan Anda mempunyai harga diri. Tidak bisa hanya dinikmati saja dan kemudian hati dibiarkan sakit. Oleh karena itu, memperoleh cinta tidak selalu dengan mengalah. Perbaiki diri dengan menemukan kekurangan dan kelebihan Anda. Lakukan sesuatu bukan untuk menarik suami agar mau mencintai Anda. Lakukan sesuatu karena Anda ingin dan senang melakukannya. Apakah suami menyenangi atau tidak, hal itu tidak masalah, yang penting Anda senang melakukannya. Munculkan keanggunan diri dengan melepaskan beban apakah dengan berteriak di kamar, namun tidak didengar orang lain, apakah dengan menuliskan semua penderitaan atau dengan menggambar atau dengan menari. Banyak cara bisa ditempuh untuk melepaskan beban. Jika setelah itu Anda berhias dengan wajar maka akan terpancar wajah cerah, tanpa pancaran mata penuh beban dan penderitaan.

Di samping itu sebaiknya berhenti memikirkan suami Anda. Kalau ia ada di samping Anda barulah dirasakan kehadirannya. Isilah waktu senggang dengan membaca, mengikuti seminar dan aktivitas lainnya untuk belajar dan menambah ilmu guna meningkatkan penghasilan dan juga untuk membuka peluang-peluang yang mungkin ada. Lakukan hubungan seksual kalau Anda menginginkannya. Jangan melakukan hanya untuk menyenangkan suami. Daripada Anda mencari gigolo yang akan menjatuhkan martabat diri, lebih baik melakukan dengan suami sendiri. Kalau ia mau balik bersyukur, kalau tidak anggap saja ia sudah tidak ada. Anda tetap dengan status istri, sehingga tidak akan banyak orang menggoda Anda seandainya Anda jadi janda muda Anda tetap memiliki anak Anda, Anda tetap menjadi keluarga suami Anda sehingga seandainya Anda meninggal merupakan tanggung jawab anak-anak Anda dan keluarga suami.

Buat Dina, ingat umur Anda sudah 30 tahun, kalau Anda ingin mempunyai anak, Anda berpacu dengan umur karena ada batas umur untuk mempunyai anak. Kalau Anda terus menjadi perempuan simpanan, masa depan Anda suram. Apakah Anda mau terus menjadi perempuan simpanan tanpa status jelas. Kalau istri pertama tidak mau cerai, dan tidak mengizinkan menikah, Anda tidak akan dapat berbuat banyak. Undang-undang perkawinan melindungi perempuan agar tidak menjadi korban laki-laki yang ingin menikmati perempuan lebih dari satu. Kalau ingin menikah, enam tahun terlalu lama untuk menunggu, menunggu sia-sia. Anda akan menjadi perempuan layu sebelum berkembang.

Tentukan sikap Anda secepatnya. Janganlah bersaing dengan kaum sendiri. Jangan hancurkan rumah tangga kaum sendiri. Semakin lama Anda menunggu semakin lama pula Anda menyiksa kaum sendiri. Banyak orang akan menghujat Anda sebagai perempuan perebut suami orang. Seandainya Anda hamil dan mempunyai anak di luar nikah, maka di Bali anak Anda akan dikatakan anak bebinjat. Kasihan anak itu lahir tanpa perkawinan yang akan menjadi ejekan teman-temannya. Akhirnya anak itu akan menghujat ibunya, ''Buat apa saya dilahirkan? Hanya untuk pemuas seks saja?''

* luh ketut suryani

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com