Perselingkuhan
dan Gangguan Panik
Perselingkuhan makin marak
di Bali, seakan-akan tidak ada batas lagi antara moral dan
libido. Seakan-akan perselingkuhan itu hal yang lumrah terjadi
dalam sebuah perkawinan. Tampaknya perselingkuhan merupakan
persaingan antarperempuan untuk saling menghancurkan. Apakah ini
hasil gerakan emansipasi, ''Kamu bisa, saya bisa?''
SEORANG perempuan
cantik bernama Rini berumur 42 tahun datang dengan tersenyum
karena susah mengutarakan perasaan yang dialaminya. Senyum,
tetapi matanya memancarkan keletihan dan kesedihan. Setelah
berulang ditanyakan dan mengajak ia agar bisa berada dalam
suasana rileks dan nyaman dalam penanganan profesional, akhirnya
ia mengutarakan bahwa ia mengalami masalah rumah tangga.
Suaminya (sebut saja Kadek), menurut pengakuannya ditekan oleh
teman perempuannya Dina. Kalau ia memutuskan hubungannya dengan
Dina, maka Dina mengancam akan bunuh diri. Hubungan mereka sudah
berjalan enam tahun.
Rini sudah mengetahui
suaminya punya perempuan simpanan sejak 6 tahun lalu. Setiap
ingat itu, Rini merasa marah, jengkel, dan kecewa. Ia berjuang
untuk merebut suaminya kembali dengan segala cara, pergi ke
berbagai balian, paranormal, namun tidak menunjukkan hasil.
Suaminya tetap tidak bisa melepaskan diri dari Dina. Ia berusaha
mengikuti petunjuk teman-temannya agar melayani suaminya dengan
baik sehingga suaminya tetap mendampinginya. Kadang-kadang kalau
ia harus melayani kebutuhan seks suaminya, ia teringat bagaimana
suaminya melayani rivalnya. Semua keinginannya untuk melayani
suaminya dalam hubungan seksual menjadi sirna.
Rini ingin marah kepada
suaminya, ingin ngamuk, ingin menamparnya, namun nasihat
teman-temannya terngiang bahwa ia harus sabar, harus melayani
suaminya dengan senyum seakan-akan tidak ada apa-apa. Hatinya
menjadi sakit. Ia sering merenung, apakah ia akan teruskan
berpura-pura seperti ini sementara suaminya selalu mengatakan,
"Sabar, support saya biar bisa lepas dari perempuan itu."
Setiap ia marah selalu suaminya seperti memelas minta dukungan,
dan akhirnya iapun tidak sampai hati memarahi suaminya karena ia
sangat mencintainya.
Rini merasa menderita
karena setiap hari hatinya panas, Setiap hari ia merenungi nasib.
Setiap hari ia bertengkar dengan suaminya. Ia luluh kalau
suaminya sudah memelas. Suaminya tahu keadaan dirinya yang tidak
mungkin melepaskannya. Ia berusaha beberapa kali ingin cerai,
tetapi suaminya mengatakan ia tidak bisa tanpa Rini. Beri ia
waktu agar bisa melepaskan diri. Namun sanggupkah ia terus
seperti ini. Ia tidak pernah lagi merasakan apa itu tertawa, apa
itu senang. Ia hanya merasa betapa menderitanya hidupnya ini.
Pernah Rini ingin bunuh
diri, tetapi ia berpikir, kalau ia bunuh diri tentu perempuan
saingannya itu enak sekali. Ia mendapatkan anak-anaknya dua
orang yang susah didapatkannya karena setelah menikah beberapa
tahun baru ia bisa mempunyai anak dan selisih anak pertama dan
kedua 5 tahun tanpa menggunakan program Keluarga Berencana. Di
samping itu, Dina pun pasti senang karena ia akan menikmati
hasil dari apa yang dirintisnya mulai dari tidak ada sampai
hidupnya yang mapan seperti sekarang ini. ia sudah mempunyai
rumah, mobil dan usaha lainnya. Ia tidak rela Dina menikmati
hasil yang diperolehnya dengan susah payah, dengan mengirit
segala keperluan agar bisa membeli rumah, agar bisa menabung.
Akhirnya keinginan bunuh diri bisa ia cegah dan tidak ingin
memikirkan hal itu.
Kadek, suami Rini, bekerja
dalam kantor yang sama dengan pacarnya. Ia setiap hari pulang ke
rumah, namun baru pulang setelah pukul 22.00. Ia memang tetap
menyayangi anak-anaknya dan istrinya, namun menurut pengakuannya
ia tdiak bisa melepaskan diri karena Dina selalu mengancam mau
bunuh diri. Perempuan itu sekarang berumur 30 tahun, lebih muda
dari dirinya. ''Sekarang apa yang mesti saya lakukan? Saya
bingung, saya selalu menangis, marah, jengkel, merasa terhina
dan tidak mempunyai harga diri, namun untuk lepas susah. Apa
sebagiknya saya cerai?'' inilah pertanyaan yang keluar dengan
uraian air mata, dada sesak karena tidak mampu mengutarakan
perasaan marah yang terpendam. Wajah perempuan itu seakan-akan
terus membayangi hidupnya, menghancurkan perasaannya; dan
mencoba memisahkan dirinya dengan suaminya. Karena ia sering
menangis dan melamun, akhirnya teman-teman di kantornya
memintanya untuk berkonsultasi ke psikiater.
Merasa Nyaman
Apa yang dialami oleh Rini dialami oleh banyak perempuan yang
sudah menikah. Banyak hal yang dilakukan, namun tidak membuahkan
hasil. Kadek kelihatannya memanfaatkan posisi Rini dengan
memelas, menyatakan cinta dan tetap pulang walaupun larut malam.
Kadek adalah tipe laki-laki yang ingin mengambil keuntungan
tanpa perlu membayar mahal. Dengan mengumbar janji pada istrinya,
mungkin juga ia melakukan hal sama pada pacarnya, ia merasa
nyaman. Ia dilayani oleh dua perempuan yang dirasakanya sangat
memerlukannya, keduanya seperti tidak bisa lepas dari
ketergantungan dengan dirinya.
Sadarkah kedua perempuan
yang sedang memperebutkan cinta Kadek bahwa mereka hanyalah
digunakan sebagai alat pemuas dirinya tanpa merasakan perasaan
perempuan masing-masing? Mungkin Kadek senang mendengar istrinya
marah atau mungkin senang mendengar pacarnya marah. Dengan
rayuan gombalnya dan menyatakan kelemahan pacarnya ia dapat
menaklukkan Dina sehingga ia mencoba bunuh diri. Namun Kadek
tetap nyaman menikmati kedua kubu yang sedang melayaninya dengan
pelayanan yang memuaskannya. Ia mungkin merasa sebagai raja yang
bisa memperbudak dua perempuan memperebutkan cinta seorang
laki-laki. Mungkin juga Kadek ini mengatakan kepada Dina,
seandainya ia menuntut menikah, ''Sabar, support saya karena
istri saya Rini berulang kali mau bunuh diri''. Kalau kedua
perempuan ini merasa sebagai perempuan, dan kejadian ini sudah
berlangsung enam tahun, dan mau menggunakan logika, tentu akan
berpikir apakah mereka berdua menjadi alat pemuas laki-laki yang
hanya menikmati enaknya dua orang perempuan tanpa mengeluarkan
uang banyak? Karena kedua perempuan ini sama-sama bekerja,
sama-sama mempunyai penghasilan lumayan dan cantik pula.
Persaingan
Antarperempuan
Setelah merenungi apa yang dinyatakan di atas, maka sebagai
perempuan mulailah rasakan harga diri Anda. Kenapa situasi tidak
dibalik? Sebagai orang Bali, agar tetap dirasakan sebagai
keluarga oleh keluarga suami, maka usahakan juga hubungan dengan
mertua, dengan ipar dan dengan keluarga besar lainnya agar tetap
baik. Ini merupakan modal untuk mendapatkan simpati dan dukungan
keluarga suami sehingga mereka tidak akan mungkin mengabulkan
kalau Kadek mau menikah secara agama dengan Dina. Walaupun
peraturan menyatakan pernikahan baru boleh dilakukan kalau istri
pertama menyetujui, keluarga kadang-kadang berusaha menceraikan
hubungan suami istri kalau mereka merasakan istri tidak bisa
membina hubungan baik dengan keluarga suami.
Tunjukkan sebagai
perempuan Anda mempunyai harga diri. Tidak bisa hanya dinikmati
saja dan kemudian hati dibiarkan sakit. Oleh karena itu,
memperoleh cinta tidak selalu dengan mengalah. Perbaiki diri
dengan menemukan kekurangan dan kelebihan Anda. Lakukan sesuatu
bukan untuk menarik suami agar mau mencintai Anda. Lakukan
sesuatu karena Anda ingin dan senang melakukannya. Apakah suami
menyenangi atau tidak, hal itu tidak masalah, yang penting Anda
senang melakukannya. Munculkan keanggunan diri dengan melepaskan
beban apakah dengan berteriak di kamar, namun tidak didengar
orang lain, apakah dengan menuliskan semua penderitaan atau
dengan menggambar atau dengan menari. Banyak cara bisa ditempuh
untuk melepaskan beban. Jika setelah itu Anda berhias dengan
wajar maka akan terpancar wajah cerah, tanpa pancaran mata penuh
beban dan penderitaan.
Di samping itu sebaiknya
berhenti memikirkan suami Anda. Kalau ia ada di samping Anda
barulah dirasakan kehadirannya. Isilah waktu senggang dengan
membaca, mengikuti seminar dan aktivitas lainnya untuk belajar
dan menambah ilmu guna meningkatkan penghasilan dan juga untuk
membuka peluang-peluang yang mungkin ada. Lakukan hubungan
seksual kalau Anda menginginkannya. Jangan melakukan hanya untuk
menyenangkan suami. Daripada Anda mencari gigolo yang akan
menjatuhkan martabat diri, lebih baik melakukan dengan suami
sendiri. Kalau ia mau balik bersyukur, kalau tidak anggap saja
ia sudah tidak ada. Anda tetap dengan status istri, sehingga
tidak akan banyak orang menggoda Anda seandainya Anda jadi janda
muda Anda tetap memiliki anak Anda, Anda tetap menjadi keluarga
suami Anda sehingga seandainya Anda meninggal merupakan tanggung
jawab anak-anak Anda dan keluarga suami.
Buat Dina, ingat umur Anda
sudah 30 tahun, kalau Anda ingin mempunyai anak, Anda berpacu
dengan umur karena ada batas umur untuk mempunyai anak. Kalau
Anda terus menjadi perempuan simpanan, masa depan Anda suram.
Apakah Anda mau terus menjadi perempuan simpanan tanpa status
jelas. Kalau istri pertama tidak mau cerai, dan tidak
mengizinkan menikah, Anda tidak akan dapat berbuat banyak.
Undang-undang perkawinan melindungi perempuan agar tidak menjadi
korban laki-laki yang ingin menikmati perempuan lebih dari satu.
Kalau ingin menikah, enam tahun terlalu lama untuk menunggu,
menunggu sia-sia. Anda akan menjadi perempuan layu sebelum
berkembang.
Tentukan sikap Anda
secepatnya. Janganlah bersaing dengan kaum sendiri. Jangan
hancurkan rumah tangga kaum sendiri. Semakin lama Anda menunggu
semakin lama pula Anda menyiksa kaum sendiri. Banyak orang akan
menghujat Anda sebagai perempuan perebut suami orang. Seandainya
Anda hamil dan mempunyai anak di luar nikah, maka di Bali anak
Anda akan dikatakan anak bebinjat. Kasihan anak itu lahir tanpa
perkawinan yang akan menjadi ejekan teman-temannya. Akhirnya
anak itu akan menghujat ibunya, ''Buat apa saya dilahirkan?
Hanya untuk pemuas seks saja?''
* luh ketut
suryani
|