I Made Sukarda
Terinspirasi
MESKI
biasa mencipta tari kreasi baru, ternyata I Made Sukarda merasa
kesulitan menggarap tari Witning Sekah -- salah satu materi
festival gong kebyar anak-anak wakil Kota Denpasar yang akan
dipentaskan di Taman Budaya Denpasar, Selasa (22/6) mendatang.
Kesulitan itu dirasakannya pada saat menuangkan gerak-gerak baru
kepada penari. Padahal, jauh sebelumnya ia sudah memiliki
gerak-gerak yang ditata secara apik. Setelah terbentuk garapan
secara kasar, akhirnya ia mengaku lega juga.
"Kalau sudah
berbentuk secara kasar lebih mudah menatanya. Mudah melakukan
penambahan gerak, pengurangan atau menggantinya. Untung saja,
pendukungnya kebanyakan penari sudah berpengalaman yang biasa
terlibat dalam festival dan lomba. Sehingga tidak terlalu sulit
menerimanya," kata guru tari TK, SMK 5 Denpasar dan pelatih
tari Sanggar Warini Denpasar yang juga sering terlibat sebagai
pelatih di PSR, Porseni dan PKB ini.
Seniman kelahiran Bangli,
31 Desember 1971 yang alumnus STSI (sekarang ISI) Denpasar ini
mengatakan, pada kesempatan ini ia terinspirasi dan mengangkat
cerita dari budaya luar Bali yaitu dari Cina. Dikatakannya, tari
yang berjudul Witning Sekah ini mengisahkan perjalanan hidup
raja Bali dengan Ratu Onte dari Cina. Karena tak memiliki
keturunan, Ratu Onte merasakan kesedihan yang mendalam yang pada
akhirnya meninggal. Namun sebelum meninggal, Ratu Onte ini
sempat memohon kepada raja Bali jika ia tiada agar dibuatkan
Sekah.
"Melalui cerita ini,
saya ingin membuat garapan tari yang belum pernah saya lakukan.
Yaitu mengangkat sekah, salah satu alat upacara ngaben, juga
mencoba mempergunakan properti payung dan kipas," jelas
pelatih tari yang pernah melatih masyarakat Hindu di Lampung
(1996) dan mengikuti pelatihan Assesor di PPG Sawangan Jakarta
(2003) serta aktif sebagai panitia pergelaran seni tari ini.
uami Ni Luh Gde Norma
Astuti, SSn dan ayah dua putri ini mengatakan, gerak-gerak yang
digunakan tetap memakai gerakan tari Bali yang dikreasikan. Ada
juga yang dipadukan dengan gerak tari dari Cina.
"Musik pengiringnya
juga ada yang bernuansa cina, terutama suara sulingnya,"
ujar langganan penggarap tari festival Gong Kebyar duta kota
Denpasar seperti tari Satmya Ruma (1999), Kual (2000), Ekalawya
(2001), Pering Gading (2002), dan pembina tari Kebyar Terompong
(2003) serta penata tari kreasi Siwa Puja sebagai duta kabupaten
Bangli ini. (buda)
|