kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Pon, 20 Juni 2004 tarukan valas
 

GEBYAR


Pameran Seni Rupa PKB Ke-26

Kado buat Pelukis Tradisional Bali

Pada Pesta Kesenian Bali (PKB) Ke-26, pameran seni rupa ternyata masih mendapat tempat. Padahal dari tahun ke tahun penyelenggaraan PKB kegiatan yang satu ini selalu menuai kritik. Agaknya, kali ini panitia sudah mulai merespons kritik-kritik tersebut. Ini dibuktikan dengan tampilan pameran seni rupa kali ini yang dikemas sedemikian rupa. Kalau tahun-tahun sebelumnya dalam ruang pameran bisa disaksikan beraneka macam corak lukisan, dari yang klasik, tradisional, sampai modern, sekarang tidak lagi. Pameran seni rupa kali ini hanya menampilkan lukisan-lukisan bercorak tradisional Bali, di mana daerah Ubud menjadi titik tolaknya.

MENURUT ketua panitia seksi pameran Drs. Murdana, M.Sn, menghadirkan seni lukis tradisional Bali di ajang PKB kali ini tidak terlepas dari respons positif atas kritik masyarakat selama ini. Di samping itu, seni lukis tradisional Bali (Ubud dan sekitarnya) dirasakan sangat sesuai dengan tema PKB tahun ini yaitu "Sabda Alam: Kedamaian dan Keindahan dalam Kebhinekaan". Unsur kedamaian dan keindahan, menurut Murdana sangat lekat dengan seni lukis tradisional Bali, sementara unsur kebhinekaan bisa dilihat dari peserta pameran yang terdiri dari beberapa generasi dengan ciri khasnya masing-masing.

Kado istimewa untuk seniman tradisional Bali pada PKB kali ini disamping bermanfaat untuk senimannya, juga sangat berguna untuk masyarakat luas. Setidaknya kini mereka mulai bisa mengenal lukisan tradisional Bali yang pernah disebut sebagai seni lukis modern pada zamannya. Ini dikarenakan belakangan seni lukis tradisional Bali sudah mulai dilupakan, di samping pelukisnya sendiri dengan berbagai alasan juga jarang berpameran. Padahal kebangkitan seni lukis tradisional Bali yang terkena sentuhan modern pada masanya sempat menciptakan trend dan melahirkan pelukis-pelukis ternama seperti Ida Bagus Made, Anak Agung Gde Sobrat, Dewa Putu Leper, Dewa Putu Bedil, I Gusti Ketut Kobot, dll. Atau juga Ketut Soki dan I Wayan Cakra dari Panestanan yang mengusung gaya Young Art.

Karya-karya mereka sampai sekarang memang masih diburu kolektor dan sering dipasarkan di rumah-rumah lelang. Namun perkembangan seni lukis tradisional Bali (Ubud dan sekitarnya) justru mulai memudar, dimana sekarang ini banyak pelukis yang beralih profesi sebagai tukang ojek, buruh bangunan, dan pekerjaan lainnya yang bisa mendatangkan duit dengan cepat.

***

Jauh sebelum pelukis asing seperti Rudolf Bonnet, Walter Spies, Antonio Blanco, Arie Smit atau pun Han Snell datang ke Bali, di Bali masyarakatnya sudah mengenal lukisan. Pada waktu itu mereka melukis wayang pada bagian-bagian tertentu tempat suci seperti pura atau pun pamerajan. Mereka berolah seni dengan dilandasi oleh rasa pengabdian yang tinggi kepada raja dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Pada masa itu mereka bekerja secara kolektif dan pada setiap karyanya selalu tanpa identitas senimannya. Artinya, mereka tidak menuliskan nama mereka pada karya mereka. Lukisan yang dibuat pada masa itu berupa gambar wayang, dimana penggambaran tokoh-tokohnya sudah terpola dengan jelas. Demikian pula dengan pewarnaannya sudah ada patokan yang baku, serta dibuat sendiri dari bahan yang diperoleh di alam. Di samping itu pelukis pada masa itu dalam menciptakan kesan ruang tidak menggunakan perspektif ke dalam, tetapi menumpuk ke atas. Perspektif hierarki ini selalu menempatkan objek yang dekat berada pada bagian bawah bidang kanvas, sementara objek yang jauh diletakkan di atasnya. Di samping itu penggambaran objek-objek manusia yang berbentuk wayang sudah pasti mengabaikan anatomi, sehingga secara keseluruhan kesan yang muncul kemudian adalah lukisan yang datar. Cara melukis seperti ini sampai sekarang masih berlanjut terutama di Desa Kamasan, Klungkung.

Kehadiran beberapa pelukis asing ke Bali membawa perubahan yang cukup berarti dalam perkembanan seni rupa di Bali. Diawali oleh Rudolf Bonnet dan Walter Spies, dua seniman yang menaruh perhatian sangat besar pada perkembangan seni lukis di Bali. Keduanya kemudian bekerja sama dengan Tjokorde Gde Agung Sukawati, penguasa di Ubud pada waktu itu, membentuklah kelompok pelukis dengan nama Pita Maha. Di wadah yang bernama Pita Maha ini pelukis tradisional Bali digembleng oleh Rudolf Bonnet dan Walter Spies. Diperkenalkan dengan konsep-konsep seni lukis Barat (modern), di mana komposisi, warna, dan bentuk menjadi suatu hal yang sangat penting dalam sebuah lukisan. Di sini mereka diperkenalkan dengan anatomi plastis tubuh manusia, warna buatan pabrik, dan perspektif dengan menggunakan titik mata. Yang lebih menarik lagi adalah mereka mulai diarahkan untuk menjadi seniman yang individualis.

Sejak saat itu mereka mulai berani menuliskan nama mereka pada lukisan yang dibuat. Lainnya adalah soal tema lukisan. Kalau sebelumnya yang menjadi tema lukisan mereka selalu berkisar tentang cerita Ramayana, Sutasoma, Mahabharata, ataupun cerita rakyat, namun sekarang mulai ada pergeseran, mereka sudah mulai berani melukis dengan tema kehidupan masyarakat Bali sehari-hari. Oleh karena itu para pelukis tradisional Bali yang dahulunya tidak pernah melukis pemandangan alam secara khusus, mulai melakukan penyekatan di alam bebas secara langsung. Atas arahan Rudolf Bonnet dan Walter Spies, mereka mulai memandang alam dengan lebih serius dan menyeketnya di kertas untuk kemudian dipindahkan ke bidang kanvas masing-masing.

Kehadiran kelompok pelukis Pita Maha pada masa itu berdampak sangat positif. Beberapa pelukis baru kemudian muncul silih berganti. Bukan cuma pelukis saja, juga pematung hebat pun banyak bermunculan. Rudolf Bonnet memang seorang guru yang sangat hebat. Sepertinya di hatinya tidak ada rasa sesal kalau melihat muridnya berhasil. Apalagi menjadi marah dan kemudian mengatakan hal yang tidak-tidak tentang muridnya itu.

Sikap Rudolf Bonnet yang penuh cinta kasih itu membuat ia sangat dihormati sampai akhir hayatnya. Rasa cintanya bukan hanya pada keindahan pulau Bali saja, tetapi kepada seluruh masyarakat di Bali. Ketika meninggal dunia pada tanggal 18 April 1978 di Belanda, ia meninggalkan surat wasiat yang berisi tentang keinginannya agar abu jenasahnya di kirim ke Bali. Di tanah Bali yang dicintainya, tepatnya di Ubud, pada tanggal 31 Januari 1979 abu jenasah dari almarhum Rudolf Bonnet bersama-sama di-aben dengan sahabatnya, almarhum Tjokorde Gde Agung Sukawati.

***

Selanjutnya seni lukis tradisional Bali yang lebih dikenal sebagai seni lukis gaya Ubud ini terus menapak maju walaupun tidak lagi didampingi oleh Rudolf Bonnet maupun Walter Spies. Pelukis generasi pertama dari Pita Maha seperti Lempad, Anak Agung Gde Sobrat, dll. Berlanjut ke generasi kedua, dan kemudian berlanjut lagi ke generasi ketiga. Setelah itu ada kecenderungan bahwa seni lukis tradisional gaya Ubud sudah mulai jenuh di pasaran. Masa keemasannya sudah mulai memudar. Ini bisa jadi karena lukisan bercorak tradisional Ubud sekarang sudah mulai dimarginalkan. Lukisan tersebut sudah mulai dijadikan benda investasi yang menjanjikan keuntungan menggiurkan.

Sebagian besar orang sudah mulai membeli lukisan bukan karena faktor senang pada lukisan tersebut, tetapi melihat siapa pelukisnya. Sebab dengan mengetahui pelukisnya, sudah terbayang keuntungan yang berlipat jika sekian bulan kemudian dipasarkan di rumah lelang. Akibatnya tentu saja berpengaruh pada pelukis yang tidak terkenal. Karya mereka tidak akan mendapat perhatian istimewa. Kalau pun ada yang membeli harganya sudah dapat dipastikan sangat murah. Padahal untuk menyelesaikan sebuah lukisan ukuran sedang, diperlukan waktu minimal satu bulan. Hal yang lebih membuat hati miris adalah adanya anggapan dari sementara orang yang mengatakan bahwa lukisan tradisional seperti lukisan gaya Ubud, secara gengsi sangat tidak menjanjikan. Konon lukisan semacam itu hanya mengandalkan keterampilan semata tanpa adanya rasa seni yang tinggi dari pelukisnya. Namun itu baru pernyataan segelintir orang yang belum kita ketahui pikiran apa yang ada di batok kepalanya.

Hal lain yang menyebabkan ambruknya kejayaan seni lukis gaya Ubud boleh jadi karena teknis pengerjaannya yang sangat rumit dan menuntut waktu yang panjang untuk menyelesaikan sebuah lukisan. Sehingga untuk regenerasi saat ini hampir tidak ada. Malahan anak-anak mereka kalau pun menjadi pelukis, lebih memilih melukis dengan corak modern yang terkadang untuk sebuah lukisan bisa diselesaikan dalam tempo beberapa jam saja. Salah siapa ini? Dalam hal ini tentunya kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Tapi yang jelas zaman sudah berubah dan kecenderungan pun ikut bergeser. Kalau diibaratkan roda pedati, maka seni lukis gaya Ubud dewasa ini sedang berada di lingkaran roda paling bawah.

Terpuruknya lukisan tradisional gaya Ubud di pasaran seni lukis tentunya berpengaruh pada perilaku kehidupan pelukisnya. Dewasa ini sudah banyak pelukis yang terpaksa beralih profesi agar bisa menghasilkan duit secara cepat untuk menghidupi keluarganya. Mereka terpaksa melakukan hal itu karena belakangan ini sudah jarang ada galeri yang mau membeli karya mereka. Atau kalau pun ada yang mau membeli, itu pun ditawar dengan harga yang sangat miring. Malahan belakangan ini banyak galeri yang tidak lagi menyediakan lukisan corak tradisional sebagai barang dagangannya.

Kehadiran seniman tradisional pada pameran lukisan dan patung pada PKB kali ini memang terkesan sangat spesial. Setidaknya ini ibarat anugerah yang sangat luar biasa bagi seniman tradisional Bali. Keberadaan mereka ternyata masih ada yang memperhatikan dan yang paling penting adalah masih dihargai. Sehingga banyak seniman yang merasa menyesal tidak bisa ikut serta dalam pameran kali ini dikarenakan tidak memiliki karya. Padahal menurut Murdana yang juga Pembantu Rektor I di ISI Denpasar, undangan kepada para seniman disampaikan lebih dari sebulan sebelumnya. Pada pameran lukisan dan patung PKB kali ini yang pembukaannya dilaksanakan sehari sebelum upacara pembukaan PKB, hadir sebanyak 63 pelukis dan 8 pematung. Mereka menampilkan corak lukisan yang berbeda seperti tradisional Ubud, tradisional Batuan, corak Young Artist dari Panestanan, dan gaya Pengosekan yang dikenal juga dengan sebutan lukisan flora dan fauna, serta beberapa corak seni patung. Seniman yang hadir pun merupakan seniman yang cukup dikenal di dunia seni rupa seperti I Made Budi, I Wayan Bendi, I Wayan Taweng, Dewa Nyoman Jati, Dewa Biyang Raka, Ida Bagus Rai, I Gusti Made Kwanji, I Wayan Gandra, I Nyoman Daging, I Ketut Soki, I Wayan Cakra, I Nyoman Sumantra, Dwa Nyoman Batuan, I Gusti Made Baret, Dewa Putu Mokoh, I Ketut Liyer, I Wayan Asta, I Wayan Pendet, I Ketut Muja, dll.

Usaha dari pihak panitia seksi pameran seni rupa PKB kali ini patut diacungi jempol. Keberanian menampilkan hanya satu corak lukisan dalam sebuah event yang cukup bergengsi semacam PKB ini merupakan sebuah terobosan berani untuk mendobrak kejenuhan dan merespons secara positif semua kritik dari masyarakat. Malahan menurut Murdana, setiap tahun direncanakan yang tampil dalam pameran seni rupa PKB akan berbeda. Kalau tahun ini corak lukisan tradisional, maka tahun depan bisa saja khusus corak lukisan kontemporer, dan tahun selanjutnya kesempatan diberikan pada lukisan klasik wayang se-Bali. Namun masih menurut Murdana, itu pun kalau dirinya masih diberi kesempatan sebagai panitia seksi pameran.

* gung man

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com