Beda
Hiperaktif dan Autisme
ANAK saya
laki-laki, sekarang 4,5 tahun dan harusnya masuk TK O Kecil,
tetapi saya ragu-ragu untuk memasukkannya karena dari tulisan
Ibu tentang kematangan sekolahnya belum maksimal terutama
masalah duduk diam dan berkonsentrasi mendengarkan.
Anaknya cenderung mudah
bosan dan cepat beralih perhatiannya. Di rumah sama teman sebaya
juga masih mau menang sendiri, ngomongnya sudah berbentuk
kalimat tetapi sering kurang jelas dan kalau marah suka
menggigit temannya sehingga banyak temannya yang menghindar
kalau dia datang bermain. Tulisannya juga masih seperti benang
kusut Bu.
Apakah anak saya bisa
dikategorikan autisme atau hiperaktif? Apa bedanya? Apakah
hiperaktif perlu diobati dan diterapi secara intensif seperti
autisme? Benarkah kalau tidak diobati bisa berubah menjadi
autisme? Apakah yang harus saya lakukan, memasukkan anak ke TK
atau SLB-C? Apakah anak saya bisa disembuhkan dan masuk sekolah
biasa?
MDK, Gatsu
'Histeria Autisme' akhir-akhir ini memang sering melanda para
orangtua yang anaknya menunjukkan gejala-gejala mirip autis.
Namun, sebagai orangtuanya tentu kita mampu memberikan
pengamatan yang mendetail. Ada beberapa perbedaan mendasar yang
dapat kita amati dari perilaku anak dengan GPPH/ Gangguan
Pemusatan Perhatian & Hiperaktivitas (ADHD/ Attention
Defisit & Hiperactivity Disorder) dengan autisme.
Aktivitas dan
Kemampuan Berkonsentrasinya
Anak autisme cenderung kurang mampu berkonsentrasi dan sangat
sukar diarahkan untuk melakukan tugas-tugas tertentu, aktivitas
yang dilakukan lebih berdasar karena dorongan kemauan dari dalam
dirinya.
Aktivitas bermainnya
biasanya cenderung monoton dan bersifat pasif, tidak mampu
bermain interaktif, kreatif dan imaginatif dengan teman
bermainnya, seperti main dagang-dagangan, perang-perangan,
pura-pura jagi guru, dokter dsb. Mereka juga sangat sukar
berganti mainan, cenderung memainkan mainan dan permainan yang
sama sendirian, diulang-ulang, rutin dan bersifat stereotipik.
Misalnya mobil-mobilan dan hanya dideret-deretkan atau
diputar-putar bannya. Kadang-kadang bermain dengan sesuatu yang
bukan mainan seperti tutup gelas, gelang karet, ujung kain dsb.
Sementara anak hiperaptif
konsentrasinya memang terbatas juga dan sangat mudah sekali
teralih perhatiannya pada aktivitas lain yang lebih baru, tetapi
lebih mudah untuk diarahkan melakukan suatu tugas sederhana
meskipun sering tidak selesai. Aktivitasnya yang seperti
didorong mesin memang menjadi ciri paling khas dari hiperaktif,
seperti tidak mengenal rasa lelah, cenderung tidak dipikir dan
sering impulsif seperti tidak sabaran, segalanya mau serba cepat,
tidak mau menunggu giliran dan semua keinginannya harus diikuti.
Mereka justru sangat mudah bosan dan selalu ingin berganti-ganti
mainan, serta masih mampu bermain interaktif dan imaginative.
Aspek Sosial dan
Emosinya
Anak dengan gejala autisme minta bersosialisasinya sangat rendah,
mereka lebih asyik untuk bermain sendiri dan tidak peduli dengan
lingkungan sosialnya. Biasanya justru terganggu apabila ada
intervensi dari lingkungannya dan cenderung menghindari kontak
mata, merasa tidak nyaman apabila disentuh dan dipeluk. Respons
emosinya sering tidak terduga, kadang-kadang cuek tetapi bisa
suatu saat respons emosinya terlalu berlebihan dan biasanya
kalau sudah marah sangat sukar untuk diredakan, bahkan ada
beberapa anak yang tahan menangis berjam-jam.
Sementara minat untuk
bersosialisasi yang ditunjukkan anak yang hiperaktif masih
normal, tetapi karena impulsivitas (ketidaksabaran) dan
agresivitasnya mereka sering jadi troublemaker sehingga sering
dihindari dan dijauhi teman-teman bermainnya. Kontak mata
kadang-kadang masih dilakukan, masih mau disentuh masih menyukai
pelukan. Emosinya cenderung meledak-ledak, tetapi masih lebih
mudah untuk diredakan dengan bujuk rayuan.
Komunikasi,
Pervasi dan Perilakunya
Anak autis sering tidak memahami perintah dan tidak mampu
melakukan komunikasi secara aktif, kata-kata yang diucapkannya
terdengar aneh dan mereka sering memakai istilah-istilah yang
tidak lazim digunakan (bahasa planet). Salah satu ciri khas anak
autis adalah rendahnya kemampuan menunjukkan kemauan/pervasif,
jadi anak mungkin lapar tetapi tidak ada keinginan untuk minta
makan, mau kencing juga tidak mampu memberikan isyarat, tidak
menunjukkan rasa takut maupun bagaimana mengekspresikan rasa
senang atau rasa sayang kepada orang lain mereka sering tidak
mampu. Perilaku yang mereka tunjukkan seringkali aneh dan
berlebihan, cenderung menunjukkan perilaku sterotipik seperti
tertawa-tawa sendiri tetapi bukan dalam situasi senang, bertepuk
tangan, berjalan jinjit-jinjit, melompat-lompat yang dilakukan
tanpa tujuan dan rentang waktu yang cukup lama.
Sementara anak hiperaktif
kebanyakan juga menderita kelambatan bicara, ini tidak
mengherankan karena kemampuan berbahasa membutuhkan konsentrasi.
Namun mereka masih mampu menunjukkan kemauan/ pervasi meskipun
dengan bahasa nonverbal, misalnya mereka ingin minum, mungkin
tangan kita akan ditariknya dan dengan isyarat menunjuk tempat
minum sambil berbicara 'ah ah uh' sebagai usaha menjelaskan apa
yang diinginkannya. Perilaku yang ditunjukkan lebih diwarnai
impulsivitas berupa ketidaksabaran, pemaksaan kehendak maupun
rendahnya kontrol diri, keterlambatan banyak berkaitan dengan
koordinasi motorik halus, berkonsentrasi maupun berbahasa.
Terapi dan Hasil
Stimulasi
Tentu saja anak hiperaktif pun perlu diterapi secara intensif
seperti halnya anak autis. Memang gangguan tersebut kalau tidak
diterapi tidak akan mengubah anak menjadi autis tetapi yang
pasti akan menghambat perkembangan kecerdasan sosialnya.
Terapi perilaku, terapi
konsentrasi, terapi wicara, terapi okupasi, terapi obat-obatan
serta diet makanan tertentu sebaiknya diberikan. Bahkan
keluarganya pun perlu mendapat terapi untuk meneruskan terapi di
rumah dan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan
anak-anak hiperaktif. Memang dibutuhkan kesabaran, energi dan
biaya yang tidak sedikit, tetapi biasanya kalau terapi dilakukan
secara intensif maka perkembanganya akan maju secara bertahap.
Tahapan hasil terapi yang intensif yang jelas lebih cepat pada
anak hiperaktif daripada anak autis.
Dengan pendekatan pada
sekolah dan guru akan kondisi dan perkembangan yang baru dicapai
anak, sebaiknya cobalah 'titip' saja di TK biasa Bu, sambil
tetap melakukan terapi yang di atas. Masalah nanti masuk SD atau
SLB tentu sangat tergantung dengan kapasitas kecerdasan yang
ditunjukkan anak. Sebaiknya Ibu segera berkonsultasi ke ahli
perkembangan anak atau tiap Kamis ada klinik Tumbuh Kembang di
RS Sanglah, silakan berkonsultasi ke sana. Salam manis.
|