kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Pon, 20 Juni 2004 tarukan valas
 

ARSITEKTUR


Melacak Karya Kaler, Ridet dan Likes

Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-26 digelar mulai Minggu (20/6) hari ini. Seperti diketahui PKB merupakan sarana atau ajang penggalian, pelestarian, dan pengembangan potensi seni budaya Bali yang telah terkenal di seantero belahan dunia. Salah satu materi yang biasanya menyedot ribuan penonton yang akan digelar di panggung Ardha Candra adalah festival gong kebyar. Gong kebyar merupakan seni pertunjukan bergengsi dari masing-masing daerah yang menampilkan bibit-bibit unggul seniman tabuh dan tari. Lalu, apa hubungannya seni gong kebyar dengan seniman Ketut Maria (Mario)? Lebih mengkhusus lagi, apa hubungannya dengan seniman besar I Nyoman Kaler?

KEMUNCULAN gong kebyar sebagai wujud inovasi pengembangan gamelan baru di Bali Utara tahun 1915, ternyata membawa angin segar bagi kehidupan jagat kesenian Bali kemudian. Pertumbuhan gong kebyar berkembang pesat dari segi kuantitas maupun aktivitas dan memiliki fungsi multidimensi bila dibandingkan dengan gamelan lainnya. Gong kebyar bahkan kini telah menjadi milik dunia, dikaji dan dipelajari sebagai musik etnis atau dimainkan sebagai entertainment karena dapat berkomunikasi secara universal dengan bangsa-bangsa di dunia dan mengilhami terbentuknya sekaa Sekar Jaya di AS dan Sekar Jepun di Jepang. Kedua sekaa elite dalam bidang musik tersebut pernah menampilkan kepiawaiannya dalam PKB beberapa tahun lalu dan cukup mendapat aplaus dari penonton.

Gending-gending gong kebyar yang kaya dengan komposisi dan permainan ritme yang lebih dinamis, dapat merangsang seniman tari untuk menjalinnya ke dalam alunan gerak tari dalam berbagai bentuk kreasi. Pelopor dari geliat jiwa kakebyaran itu adalah I Wayan Wandres dari Jagaraga, Buleleng, dalam ciptaan tari Kebyar Legong dan telah difestivalkan dalam PKB setahun yang lalu. Istilah kebyar berasal dari suatu bunyi yang timbul sebagai akibat semua instrumen dipukul secara serentak -- hal ini nampak pada awal maupun pertengahan iringan tarian, sesuai ide penciptanya. Selanjutnya, demam kakebyaran kemudian menyebar ke Tabanan, yang menggugah ekspresi seni Ketut Maria (Mario) untuk menciptakan tari Kebyar Duduk sekitar 1925, yang kemudian dikombinasikan dengan memainkan terompong.

Selanjutnya para "empu" kesenian Bali tiada henti menumpahkan imajinasinya ke dalam berbagai bentuk karya seni. Maka muncullah nama I Nyoman Kaler sebagai seniman yang paling produktif berkarya di antara seniman lain pada zamannya. Hasil karya ciptanya sebanyak 14 tarian yang bertema kehidupan alam dan sosial yang berbentuk tari perempuan dan babancihan, delapan tarian telah digelar dalam acara festival dan simposium karya Kaler pada Februari 2004, atas prakarsa Sanggar Warini.

Dalam PKB kali ini, selain ciptaan Kaler yang akan dibawakan oleh seniman remaja dan dewasa dalam festival gong kebyar, akan dilombakan pula karya seni I Nyoman Ridet dan I Wayan Likes yakni tari Tenun yang akan ditarikan oleh anak-anak. Ridet dan Likes yang berasal dari Kerobokan dan Gaji ini adalah murid Kaler yang sangat berbakat dan ciptaannya itu sangat populer di kalangan masyarakat seni pertunjukan Bali.

Kiprah dan Karya Kaler
Seniman I Nyoman Kaler yang lahir tahun 1892 di Pemogan, Kecamatan Denpasar Selatan, adalah seniman serba bisa. Dia seorang pengrawit, guru tari dan pencipta tari. Sejak usia muda ia telah menguasai berbagai tabuh serta tarian Legong dan Gambuh, maka benih-benih bakat yang melekat pada dirinya kemudian berkembang menjadikannya seorang koreografer yang memiliki kekhasan tersendiri. Kreativitas Kaler yang berbentuk tari babacihan lebih berkembang di masyarakat sebagai wujud pembaruan, dengan mengaktualisasi gejala di sekelilingnya. Kiprah Kaler kemudian dilanjutkan oleh anak-anak didiknya yang cukup andal dan tenar -- di samping Ridet dan Likes -- seperti Rindi, Berata, Rembang, Cawan, Darmi, Puspawati dan Arini Alit.

Sejak 1930-an hingga 1950-an, Kaler bak bintang yang cemerlang. Ciptaan pertamanya yang lahir pada 1935 adalah tari Pengaksama, berbentuk tari perempuan. Dalam konsep berkarya, karena seni tabuh dominan keluar mengalir pada dirinya, maka beberapa tari ciptaannya yang berbentuk babancihan terbawa oleh gending iringannya.

Karya tari babancihan Kaler yang digelar dalam festival gong kebyar kali ini memiliki karakter keras dan halus. Ini diciptakan sekitar tahun 1942 sebagai tarian tunggal dan merupakan revitalisasi wujud karya seni yang pernah berjaya sejak 50 tahun silam. Dalam kurun waktu itu, jiwa Kaler tetap hidup di tengah-tengah masyarakat karena ciptaannya yang penuh bobot, agung, manis dan dinamis sehingga perlu dikenal oleh generasi muda, terutama pencinta seni tari. Tari babancihan merupakan suatu istilah untuk menyebutkan sekelompoko tari-tarian Bali yang memiliki karakter antara laki dan perempuan yang mengandung ungkapan maskulin, serta mengenakan busana laki-laki inovatif. Bentuk ini dapat memperluas wawasan kaum perempuan untuk memilih tarian yang akan dipelajari. Karya seni Kaler sebagai wujud pembaruan ini, sejak kemunculannya, berkembang pesat. Bahkan, kursus tari di luar Bali pun hingga kini masih mengajarkannya karena penarinya nampak bagus dengan memakai hiasan kepala berbentuk udeng-udengan. Unsur-unsur gerak tarinya memakai unsur tari palegongan dan pagambuhan.

Tari Mregapati merupakan karakter babancihan keras yang melukiskan gerak-gerik raja hutan sedang mengintai mangsa, kemudian dikiaskan dalam kegagah-perkasaan seorang raja. Tarian ini mula-mula bernama Kebyar Dang, dibawakan pertama kali oleh Luh Murma asal Penarungan, Badung, yang kini berdomisili di Denpasar. Babancihan keras lainnya adalah tari Wiranata yang menggambarkan kegagah-beranian seorang raja. Kekhasan tarian ini terletak pada gerakan mata nguler -- gerakan memutar bola mata dengan cepat dan akan menjadi hebat bila pemerannya memiliki pandangan tajam. Penari pemulanya adalah Ni Rabeg, sedangkan yang tenar membawakannya adalah Jero Gadung dari Tabanan, setelah tarian itu direvisi oleh Ridet.

Ciptaan Kaler yang termasuk babancihan karakter halus adalah Panji Semirang dan Demang Miring. Tari Panji Semirang pada mulanya bernama Kebyar Dung yang memiliki struktur tari hampir sama dengan tari perempuan Candra Metu. Namun Panji Semirang lebih berkembang dan dibawakan pertama kali oleh Luh Cawan sebagai murid Kaler yang sangat cocok memerankannya. Tarian ini mengisahkan pengembaraan Candra Kirana mencari kekasihnya Panji Inu Kertapati dengan menyamar berpakaian laki-laki. Tari Demang Miring yang sering disebut Tabuh Telu, menggambarkan seorang raja berburu ke hutan yang dalam perjalanannya disambut meriah oleh rakyat karena keramah-tamahannya. Tarian ini memakai gerak-gerak tari Prabu dan tayog Demang (patih kerajaan dalam cerita Gambuh). Penari awalnya adalah Luh Melok Kartini dari Kerobokan, kemudian Darmi yang terkenal membawakannya.

Kontribusi Kaler terhadap seni pertunjukan lainnya, bersama Lotering dan Ida Bagus Boda, adalah mengkombinasikan kesenian Arja dengan Topeng dan Legong Kebyar, yang kemudian dikenal sebagai kesenian Prembon. Bakat seni Kaler menggelora setelah ia melihat tari Serimpi sewaktu mengajar di Kokar Solo pada tahun 1952-1959. Dari situ maka terciptalah tari Bayan Nginte. Setelah pensiun, Kaler turut mendirikan Kokar Bali pada 1960 dan sekaligus menjadi pengajarnya. Dasar seniman penuh ide, sekitar 1962 -- karena terinspirasi oleh permainan badminton yang sedang digandrungi masyarakat saat itu -- ia menciptakan tari badminton. Atas pengabdiannya terhadap seni, ia telah menerima penghargaan tertinggi bidang seni dari pemerintah RI pada 1968 yakni Wijaya Kusuma dan pada 1980 Dharma Kusuma dari Pemda Bali. Selain itu, ia pernah mengikuti muhibah ke Singapura, Srilangka dan India.

Figur Ridet dan Likes
Dalam kiprah Kaler mengajar di berbagai tempat di Badung, ia menemukan beberapa kader berbakat. Selama mengajar di Kerobokan, Badung sekitar 1941 misalnya, Kaler bertemu dengan murid yang amat berbakat menabuh dan menari, yaitu I Nyoman Ridet -- kelahiran 1908. Sebelum berguru pada Kaler, Ridet telah mengajar tari Gandrung, Legong, Janger, dan Gambuh. Setelah menjadi murid Kaler, ia pelajari pula melaras gamelan. Selain berekspresi lewat kesenian, Ridet pernah berprofesi sebagai tukang jahit dan berjualan palen-palen di Pasar Badung sekitar tahun 1923.

Pada waktu revolusi fisik tahun 1945, Ridet mengkoordinir para seniman dari berbagai cabang seni untuk tujuan propaganda perjuangan bersama Likes. Tahun 1950, Ridet bekerja di DUKT Jakarta bagian seksi kesenian yang dipimpin Likes, untuk menghibur tentara di Jawa. Setelah pulang ke Bali, lewat berkesenian Ridet nisa bekerja di RRI Denpasar sebagai pimpinan kesenian Bali, sejak 1953. Setiap orang yang mengikuti siaran kesenian Bali pasti pernah mendengar nama Ridet. Meski telah terikat pekerjaan, ternyata Ridet sempat pula menjalankan tugas-tugas sosial mengajar tari dan tabuh hingga akhir hayatnya.

Di tempat tugasnya, Ridet menghimpun para seniman andal dalam wadah Keluarga Kesenian Bali (KKB) yang meliputi seni tabuh, tari, arja dan pedalangan. Dalam kancah berkeseniannya itu, bersama Likes, pada 1961 ia menciptakan tari Tenun. Tarian ini melukiskan perempuan Bali dalam tradisi menenun dengan menstilir gerakan memintal dan mengatur benang hingga menenun. Penari pertamanya adalah Gusti Ayu Suandewi dari Dalung dan Ketut Artati dari Kayumas. Pengalaman Ridet yang menonjol, selain mengajar hampir ke seluruh Bali, adalah menggubah berbagai gending kebyar, seperti Wiranata, Panji Semirang, Demang Miring dan menciptakan tari Pancasila. Bersama seniman lainnya, dia pernah melawat ke Srilangka, Pakistan dan Kanada, serta telah menerima penghargaan seni Dharma Kusuma dari Pemda Bali tahun 1979.

Ketika mengajar di Desa Gaji, Sempidi, Kaler berjumpa dengan seniman I Wayan Likes kelahiran tahun 1912. Selain sebagai seniman, ternyata Likes adalah sosok pejuang kemerdekaan melalui organisasi kesenian dan juga sebagai perintis kepariwisataan. Adi Susila, putra kedua Likes, menuturkan, masa kecil Likes hingga remaja lebih banyak tinggal di Kerobokan dan dikenal dengan panggilan Tuan Kasim, sesuai dengan peran yang dibawakan dalam pentas teater Tonil ''Abunawas'' yang sarat kritikan terhadap pemerintah kolonial Belanda saat itu. Pun dalam organisasi kesenian Janger dan Arja Bon Roras, terselubung dengan halus berbagai kritikan terhadap penjajah. Dalam Arja, Likes berperan sebagai Kartala yang akhirnya mempertemukannya dengan sang istri yang menjadi Galuh-nya.

Sekitar 1936 Likes pernah bekerja di Kuta Beach pimpinan Robert Koke untuk menangani pertunjukan bagi tamu-tamu, sehingga mahir berbahasa Belanda, Jerman, Inggris dan Jepang. Dalam kancah berkesenian, Likes pernah memimpin Janger Intaran Sanur, Janger Kedaton dan Legong Belaluan ke Batavia, tahun 1930. Melalui seni inilah dia bertemu dengan tokoh-tokoh pergerakan Indonesia seperti Bung Karno, Ki Hajar Dewantara dll. Diilhami oleh api Sumpah Pemuda, pergesekan dengan tokoh-tokoh pergerakan dan pengalaman dalam bidang pemerintahan Desa Gaji di bawah Kontrolir Belanda, maka jiwa Likes telah terpatri dan bersemi untuk membebaskan Indonesia dari belenggu penjajah. Setelah airport Tuban dibombandir Jepang, pejuang Ngurah Rai dan kawan-kawan hijrah ke Gaji dan berlindung dalam goa di belakang rumah I Wayan Likes. Kondisi dalam zaman Jepang yang menyebarkan lagu-lagu Jepang kepada masyarakat, membuka daya imajinasi para seniman untuk mentransfernya ke dalam tabuh Bali. Lagu kebangsaan Kimigayo kemudian digubah menjadi tabuh instrumentalia gong Penarungan yang dipimpin Likes. Demikian pula untuk mengawali iringan tari Puspawarna ciptaan Kaler, meniru alunan terompet Jepang untuk memanggil serdadunya berbaris. Masih dalam zaman yang tidak menentu itu, Likes pernah ditahan NICA pada 1946 hingga 1948 lantaran pementasan Arja yang berlakon "Kekalahan Raja Putih", sebagai sindiran kepada penjajah.

Perjalanan karir seni Likes tak terhenti, tahun 1951 ia kembali memimpin kesenian Tjintamanik ke Jakarta membawa Janger dan Legong Kebyar. Selanjutnya bersama Made Suparta dari Tabanan, Likes mendirikan kursus tari Bali di Jakarta. Sebagai guru tari, ia pernah mengajar Hazel Chung (juga murid Kakul dalam tari Baris) dan Ni Ronji (istri pelukis Antinio Blanco). Ditunjang oleh penguasaan empat bahasa asing, maka atas petunjung Bung Karno, ia terlibat dalam panitia penerimaan kepala-kepala negara asing untuk seksi kesenian.

Pengalaman yang menarik, Bung Karno mengutus Likes dan kawan-kawan mengajar tabuh dan tari Bali di Peking pada 1959 hingga 1961. Setelah kembali, kemudian melatih Legong Cina di Tabanan dan bersama Ridet menciptakan tari Tenun. Tarian ini ikut dipentaskan pada Kongres Pemuda di Bandung tahun 1962. Berikutnya, tahun 1963 Likes memperkuat misi kesenian ke Rusia dan sangat tragis, kembali dari muhibah itu dia meninggal di Jakarta karena sakit yang dideritanya kambuh. Meski sebagai perintis perjuangan untuk kemerdekaan melalui kesenian, namun Likes belum tercatat sebagai anggota veteran, apalagi menerima penghargaan seni dan luput pula dari publikasi.

Pionir-pionir kesenian Bali telah tiada, sumbangan penting terhadap kancah seni pertunjukan Bali cukup besar, berwujud tari-tarian yang monumental. Karya-karyanya yang adiluhung itu tetap bersemi dalam taman seni, di pulau kesenian ini.

* aa ayu kusuma arini

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com