Melacak Karya
Kaler, Ridet dan Likes
Pesta Kesenian Bali (PKB)
ke-26 digelar mulai Minggu (20/6) hari ini. Seperti diketahui
PKB merupakan sarana atau ajang penggalian, pelestarian, dan
pengembangan potensi seni budaya Bali yang telah terkenal di
seantero belahan dunia. Salah satu materi yang biasanya menyedot
ribuan penonton yang akan digelar di panggung Ardha Candra
adalah festival gong kebyar. Gong kebyar merupakan seni
pertunjukan bergengsi dari masing-masing daerah yang menampilkan
bibit-bibit unggul seniman tabuh dan tari. Lalu, apa hubungannya
seni gong kebyar dengan seniman Ketut Maria (Mario)? Lebih
mengkhusus lagi, apa hubungannya dengan seniman besar I Nyoman
Kaler?
KEMUNCULAN
gong kebyar sebagai wujud inovasi pengembangan gamelan baru di
Bali Utara tahun 1915, ternyata membawa angin segar bagi
kehidupan jagat kesenian Bali kemudian. Pertumbuhan gong kebyar
berkembang pesat dari segi kuantitas maupun aktivitas dan
memiliki fungsi multidimensi bila dibandingkan dengan gamelan
lainnya. Gong kebyar bahkan kini telah menjadi milik dunia,
dikaji dan dipelajari sebagai musik etnis atau dimainkan sebagai
entertainment karena dapat berkomunikasi secara universal dengan
bangsa-bangsa di dunia dan mengilhami terbentuknya sekaa Sekar
Jaya di AS dan Sekar Jepun di Jepang. Kedua sekaa elite dalam
bidang musik tersebut pernah menampilkan kepiawaiannya dalam PKB
beberapa tahun lalu dan cukup mendapat aplaus dari penonton.
Gending-gending gong
kebyar yang kaya dengan komposisi dan permainan ritme yang lebih
dinamis, dapat merangsang seniman tari untuk menjalinnya ke
dalam alunan gerak tari dalam berbagai bentuk kreasi. Pelopor
dari geliat jiwa kakebyaran itu adalah I Wayan Wandres dari
Jagaraga, Buleleng, dalam ciptaan tari Kebyar Legong dan telah
difestivalkan dalam PKB setahun yang lalu. Istilah kebyar
berasal dari suatu bunyi yang timbul sebagai akibat semua
instrumen dipukul secara serentak -- hal ini nampak pada awal
maupun pertengahan iringan tarian, sesuai ide penciptanya.
Selanjutnya, demam kakebyaran kemudian menyebar ke Tabanan, yang
menggugah ekspresi seni Ketut Maria (Mario) untuk menciptakan
tari Kebyar Duduk sekitar 1925, yang kemudian dikombinasikan
dengan memainkan terompong.
Selanjutnya para "empu"
kesenian Bali tiada henti menumpahkan imajinasinya ke dalam
berbagai bentuk karya seni. Maka muncullah nama I Nyoman Kaler
sebagai seniman yang paling produktif berkarya di antara seniman
lain pada zamannya. Hasil karya ciptanya sebanyak 14 tarian yang
bertema kehidupan alam dan sosial yang berbentuk tari perempuan
dan babancihan, delapan tarian telah digelar dalam acara
festival dan simposium karya Kaler pada Februari 2004, atas
prakarsa Sanggar Warini.
Dalam PKB kali ini, selain
ciptaan Kaler yang akan dibawakan oleh seniman remaja dan dewasa
dalam festival gong kebyar, akan dilombakan pula karya seni I
Nyoman Ridet dan I Wayan Likes yakni tari Tenun yang akan
ditarikan oleh anak-anak. Ridet dan Likes yang berasal dari
Kerobokan dan Gaji ini adalah murid Kaler yang sangat berbakat
dan ciptaannya itu sangat populer di kalangan masyarakat seni
pertunjukan Bali.
Kiprah dan Karya
Kaler
Seniman I Nyoman Kaler yang lahir tahun 1892 di Pemogan,
Kecamatan Denpasar Selatan, adalah seniman serba bisa. Dia
seorang pengrawit, guru tari dan pencipta tari. Sejak usia muda
ia telah menguasai berbagai tabuh serta tarian Legong dan Gambuh,
maka benih-benih bakat yang melekat pada dirinya kemudian
berkembang menjadikannya seorang koreografer yang memiliki
kekhasan tersendiri. Kreativitas Kaler yang berbentuk tari
babacihan lebih berkembang di masyarakat sebagai wujud pembaruan,
dengan mengaktualisasi gejala di sekelilingnya. Kiprah Kaler
kemudian dilanjutkan oleh anak-anak didiknya yang cukup andal
dan tenar -- di samping Ridet dan Likes -- seperti Rindi, Berata,
Rembang, Cawan, Darmi, Puspawati dan Arini Alit.
Sejak 1930-an hingga
1950-an, Kaler bak bintang yang cemerlang. Ciptaan pertamanya
yang lahir pada 1935 adalah tari Pengaksama, berbentuk tari
perempuan. Dalam konsep berkarya, karena seni tabuh dominan
keluar mengalir pada dirinya, maka beberapa tari ciptaannya yang
berbentuk babancihan terbawa oleh gending iringannya.
Karya tari babancihan
Kaler yang digelar dalam festival gong kebyar kali ini memiliki
karakter keras dan halus. Ini diciptakan sekitar tahun 1942
sebagai tarian tunggal dan merupakan revitalisasi wujud karya
seni yang pernah berjaya sejak 50 tahun silam. Dalam kurun waktu
itu, jiwa Kaler tetap hidup di tengah-tengah masyarakat karena
ciptaannya yang penuh bobot, agung, manis dan dinamis sehingga
perlu dikenal oleh generasi muda, terutama pencinta seni tari.
Tari babancihan merupakan suatu istilah untuk menyebutkan
sekelompoko tari-tarian Bali yang memiliki karakter antara laki
dan perempuan yang mengandung ungkapan maskulin, serta
mengenakan busana laki-laki inovatif. Bentuk ini dapat
memperluas wawasan kaum perempuan untuk memilih tarian yang akan
dipelajari. Karya seni Kaler sebagai wujud pembaruan ini, sejak
kemunculannya, berkembang pesat. Bahkan, kursus tari di luar
Bali pun hingga kini masih mengajarkannya karena penarinya
nampak bagus dengan memakai hiasan kepala berbentuk
udeng-udengan. Unsur-unsur gerak tarinya memakai unsur tari
palegongan dan pagambuhan.
Tari Mregapati merupakan
karakter babancihan keras yang melukiskan gerak-gerik raja hutan
sedang mengintai mangsa, kemudian dikiaskan dalam
kegagah-perkasaan seorang raja. Tarian ini mula-mula bernama
Kebyar Dang, dibawakan pertama kali oleh Luh Murma asal
Penarungan, Badung, yang kini berdomisili di Denpasar.
Babancihan keras lainnya adalah tari Wiranata yang menggambarkan
kegagah-beranian seorang raja. Kekhasan tarian ini terletak pada
gerakan mata nguler -- gerakan memutar bola mata dengan cepat
dan akan menjadi hebat bila pemerannya memiliki pandangan tajam.
Penari pemulanya adalah Ni Rabeg, sedangkan yang tenar
membawakannya adalah Jero Gadung dari Tabanan, setelah tarian
itu direvisi oleh Ridet.
Ciptaan Kaler yang
termasuk babancihan karakter halus adalah Panji Semirang dan
Demang Miring. Tari Panji Semirang pada mulanya bernama Kebyar
Dung yang memiliki struktur tari hampir sama dengan tari
perempuan Candra Metu. Namun Panji Semirang lebih berkembang dan
dibawakan pertama kali oleh Luh Cawan sebagai murid Kaler yang
sangat cocok memerankannya. Tarian ini mengisahkan pengembaraan
Candra Kirana mencari kekasihnya Panji Inu Kertapati dengan
menyamar berpakaian laki-laki. Tari Demang Miring yang sering
disebut Tabuh Telu, menggambarkan seorang raja berburu ke hutan
yang dalam perjalanannya disambut meriah oleh rakyat karena
keramah-tamahannya. Tarian ini memakai gerak-gerak tari Prabu
dan tayog Demang (patih kerajaan dalam cerita Gambuh). Penari
awalnya adalah Luh Melok Kartini dari Kerobokan, kemudian Darmi
yang terkenal membawakannya.
Kontribusi Kaler terhadap
seni pertunjukan lainnya, bersama Lotering dan Ida Bagus Boda,
adalah mengkombinasikan kesenian Arja dengan Topeng dan Legong
Kebyar, yang kemudian dikenal sebagai kesenian Prembon. Bakat
seni Kaler menggelora setelah ia melihat tari Serimpi sewaktu
mengajar di Kokar Solo pada tahun 1952-1959. Dari situ maka
terciptalah tari Bayan Nginte. Setelah pensiun, Kaler turut
mendirikan Kokar Bali pada 1960 dan sekaligus menjadi
pengajarnya. Dasar seniman penuh ide, sekitar 1962 -- karena
terinspirasi oleh permainan badminton yang sedang digandrungi
masyarakat saat itu -- ia menciptakan tari badminton. Atas
pengabdiannya terhadap seni, ia telah menerima penghargaan
tertinggi bidang seni dari pemerintah RI pada 1968 yakni Wijaya
Kusuma dan pada 1980 Dharma Kusuma dari Pemda Bali. Selain itu,
ia pernah mengikuti muhibah ke Singapura, Srilangka dan India.
Figur Ridet dan
Likes
Dalam kiprah Kaler mengajar di berbagai tempat di Badung, ia
menemukan beberapa kader berbakat. Selama mengajar di Kerobokan,
Badung sekitar 1941 misalnya, Kaler bertemu dengan murid yang
amat berbakat menabuh dan menari, yaitu I Nyoman Ridet --
kelahiran 1908. Sebelum berguru pada Kaler, Ridet telah mengajar
tari Gandrung, Legong, Janger, dan Gambuh. Setelah menjadi murid
Kaler, ia pelajari pula melaras gamelan. Selain berekspresi
lewat kesenian, Ridet pernah berprofesi sebagai tukang jahit dan
berjualan palen-palen di Pasar Badung sekitar tahun 1923.
Pada waktu revolusi fisik
tahun 1945, Ridet mengkoordinir para seniman dari berbagai
cabang seni untuk tujuan propaganda perjuangan bersama Likes.
Tahun 1950, Ridet bekerja di DUKT Jakarta bagian seksi kesenian
yang dipimpin Likes, untuk menghibur tentara di Jawa. Setelah
pulang ke Bali, lewat berkesenian Ridet nisa bekerja di RRI
Denpasar sebagai pimpinan kesenian Bali, sejak 1953. Setiap
orang yang mengikuti siaran kesenian Bali pasti pernah mendengar
nama Ridet. Meski telah terikat pekerjaan, ternyata Ridet sempat
pula menjalankan tugas-tugas sosial mengajar tari dan tabuh
hingga akhir hayatnya.
Di tempat tugasnya, Ridet
menghimpun para seniman andal dalam wadah Keluarga Kesenian Bali
(KKB) yang meliputi seni tabuh, tari, arja dan pedalangan. Dalam
kancah berkeseniannya itu, bersama Likes, pada 1961 ia
menciptakan tari Tenun. Tarian ini melukiskan perempuan Bali
dalam tradisi menenun dengan menstilir gerakan memintal dan
mengatur benang hingga menenun. Penari pertamanya adalah Gusti
Ayu Suandewi dari Dalung dan Ketut Artati dari Kayumas.
Pengalaman Ridet yang menonjol, selain mengajar hampir ke
seluruh Bali, adalah menggubah berbagai gending kebyar, seperti
Wiranata, Panji Semirang, Demang Miring dan menciptakan tari
Pancasila. Bersama seniman lainnya, dia pernah melawat ke
Srilangka, Pakistan dan Kanada, serta telah menerima penghargaan
seni Dharma Kusuma dari Pemda Bali tahun 1979.
Ketika mengajar di Desa
Gaji, Sempidi, Kaler berjumpa dengan seniman I Wayan Likes
kelahiran tahun 1912. Selain sebagai seniman, ternyata Likes
adalah sosok pejuang kemerdekaan melalui organisasi kesenian dan
juga sebagai perintis kepariwisataan. Adi Susila, putra kedua
Likes, menuturkan, masa kecil Likes hingga remaja lebih banyak
tinggal di Kerobokan dan dikenal dengan panggilan Tuan Kasim,
sesuai dengan peran yang dibawakan dalam pentas teater Tonil ''Abunawas''
yang sarat kritikan terhadap pemerintah kolonial Belanda saat
itu. Pun dalam organisasi kesenian Janger dan Arja Bon Roras,
terselubung dengan halus berbagai kritikan terhadap penjajah.
Dalam Arja, Likes berperan sebagai Kartala yang akhirnya
mempertemukannya dengan sang istri yang menjadi Galuh-nya.
Sekitar 1936 Likes pernah
bekerja di Kuta Beach pimpinan Robert Koke untuk menangani
pertunjukan bagi tamu-tamu, sehingga mahir berbahasa Belanda,
Jerman, Inggris dan Jepang. Dalam kancah berkesenian, Likes
pernah memimpin Janger Intaran Sanur, Janger Kedaton dan Legong
Belaluan ke Batavia, tahun 1930. Melalui seni inilah dia bertemu
dengan tokoh-tokoh pergerakan Indonesia seperti Bung Karno, Ki
Hajar Dewantara dll. Diilhami oleh api Sumpah Pemuda, pergesekan
dengan tokoh-tokoh pergerakan dan pengalaman dalam bidang
pemerintahan Desa Gaji di bawah Kontrolir Belanda, maka jiwa
Likes telah terpatri dan bersemi untuk membebaskan Indonesia
dari belenggu penjajah. Setelah airport Tuban dibombandir Jepang,
pejuang Ngurah Rai dan kawan-kawan hijrah ke Gaji dan berlindung
dalam goa di belakang rumah I Wayan Likes. Kondisi dalam zaman
Jepang yang menyebarkan lagu-lagu Jepang kepada masyarakat,
membuka daya imajinasi para seniman untuk mentransfernya ke
dalam tabuh Bali. Lagu kebangsaan Kimigayo kemudian digubah
menjadi tabuh instrumentalia gong Penarungan yang dipimpin
Likes. Demikian pula untuk mengawali iringan tari Puspawarna
ciptaan Kaler, meniru alunan terompet Jepang untuk memanggil
serdadunya berbaris. Masih dalam zaman yang tidak menentu itu,
Likes pernah ditahan NICA pada 1946 hingga 1948 lantaran
pementasan Arja yang berlakon "Kekalahan Raja Putih",
sebagai sindiran kepada penjajah.
Perjalanan karir seni
Likes tak terhenti, tahun 1951 ia kembali memimpin kesenian
Tjintamanik ke Jakarta membawa Janger dan Legong Kebyar.
Selanjutnya bersama Made Suparta dari Tabanan, Likes mendirikan
kursus tari Bali di Jakarta. Sebagai guru tari, ia pernah
mengajar Hazel Chung (juga murid Kakul dalam tari Baris) dan Ni
Ronji (istri pelukis Antinio Blanco). Ditunjang oleh penguasaan
empat bahasa asing, maka atas petunjung Bung Karno, ia terlibat
dalam panitia penerimaan kepala-kepala negara asing untuk seksi
kesenian.
Pengalaman yang menarik,
Bung Karno mengutus Likes dan kawan-kawan mengajar tabuh dan
tari Bali di Peking pada 1959 hingga 1961. Setelah kembali,
kemudian melatih Legong Cina di Tabanan dan bersama Ridet
menciptakan tari Tenun. Tarian ini ikut dipentaskan pada Kongres
Pemuda di Bandung tahun 1962. Berikutnya, tahun 1963 Likes
memperkuat misi kesenian ke Rusia dan sangat tragis, kembali
dari muhibah itu dia meninggal di Jakarta karena sakit yang
dideritanya kambuh. Meski sebagai perintis perjuangan untuk
kemerdekaan melalui kesenian, namun Likes belum tercatat sebagai
anggota veteran, apalagi menerima penghargaan seni dan luput
pula dari publikasi.
Pionir-pionir kesenian
Bali telah tiada, sumbangan penting terhadap kancah seni
pertunjukan Bali cukup besar, berwujud tari-tarian yang
monumental. Karya-karyanya yang adiluhung itu tetap bersemi
dalam taman seni, di pulau kesenian ini.
* aa ayu kusuma
arini
|