kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Pon, 20 Juni 2004 tarukan valas
 

APRESIASI


Suara Rakyat, Suara Tuhan

Judul      : Vox Populi Vox Dei
Penulis   : Benny Susetyo
Tebal     : i-xvii, 194 halaman
Penerbit : Averroes Press

''VOX populi vox dei?" atau "suara rakyat adalah suara Tuhan?" Dalam pengantar buku ini, Franz Magnis Suseno, Sj menjawab, suara rakyat tentu belum pasti sama dengan suara Tuhan. Suara rakyat pun sering out of tune. Tetapi hanya apabila elite yang berkuasa, atas teguran suara-suara dari rakyat, kembali ke akar yang ada di rakyat, Indonesia dapat kembali mengangkat kepala dan membuka hati memberanikan diri untuk bersama-sama menyingsingkan lengan dan mulai dengan pekerjaan raksasa membangun kehidupan bersama yang beradab, adil, damai dan sejahtera. Itulah secuplik kata pengantar buku "Vox Populi Vox Dei" yang ditulis Benny Susetyo yang hingga kini masih aktif di Forum Kajian Demokrasi dan Hak Asasi Manusia Indonesia.

Buku yang dibagi dalam lima bab ini menyorot gerak langkah para elite politik yang dinilai belum memuaskan masyarakat. Taruhlah hingar-bingar pemilihan umum yang masih berlangsung dalam babak pemilihan presiden saat ini menjadi salah satu bahan yang diramu dan dihidangkan di hadapan sidang pembaca dengan penuh perenungan. Ia menyitir pendapat John R. Lucas dalam bukunya "Democracy and Participation" yang merefleksikan demokrasi yang telah mati. Lucas menilai bahwa ada kesenjangan antara teori dan praktik demokrasi.

Ditandas Lucas bahwa rakyat hanya diberi kesempatan pada saat pemilu saja. Padahal itu hanyalah partisipasi minimal saja. Mengapa? Sebab, konsekuensi dari pemilu itu hanya sekadar menghasilkan otokrasi efektif yang berdasarkan pemilihan. Kesempatan yang diberikan demokrasi kepada rakyat untuk berpartisipasi dalam pemerintahan hanyalah pada taraf "mentertawakan" saja. Jadi, yang terjadi saat ini adalah kita hanya bisa "mentertawakan" elite politik saja tanpa mampu meminta pertanggungjawabannya. Jika kekuasaan sudah diraih dan kursi diduduki, maka "selamat tinggal rakyat!"

Pada bab 4 -- Kebijakan tanpa Pretensi Moral, penulis menyorot dialektika penguasa dan rakyat yang mengalami kemunduran yang sangat jauh. Cita-cita negara demokrasi yang seharusnya mengikut-sertakan peran serta rakyat dalam mengambil kebijakan ternyata jatuh. Ironisnya, wakil rakyat yang perannya sangat didambakan dalam masa-masa ini justru tidak bisa memahami kondisi ini. Mereka justru asyik berebut jatah politik untuk kepentingan pemilu 2004. Benny juga mengeluhkan tentang tabiat wakil rakyat yang identik dengan tabiat penguasa. Buktinya, di sisi lain rakyat dipaksa hidup dalam situasi di mana harga-harga yang semakin membumbung yang dianggap sebagai situasi yang lumrah bagi kehidupan wakil rakyat yang memang sejahtera. Sementara itu kemiskinan dijadikan alat bagi elite untuk merebut hati rakyat bagi pemenangan pemilu.

Benny Susetyo atau yang dikenal dengan Romo Beni, dalam bagian lain di ini menyatakan bahwa tanda-tanda matinya moralitas politik ini adalah ketika prinsip-prinsip ketatanegaraan yang sudah menjadi kesepakatan bersama tidak lagi dijadikan pijak oleh pemegang kekuasaan. Moralitas tidak lagi menjadi keutamaan. Padahal politik tanpa keutamaan akan menimbulkan tingkah laku yang membabi buta karena segala keputusan hanya berdasarkan insting, bukan pada rasionalitas dan logika yang sehat.

Insting politik selalu bersifat reaktif dalam memberikan respons, dan akibatnya adalah kecenderungan konservatif. Maka, seringkali kita dengar para pejabat berkata "Ini belum diatur", "Ini bukan wewenang saya", "Ini dasar hukumnya belum ada", dan seterusnya. Padahal, tandas Benny, moralitas politik yang dituntut masyarakat sangatlah sederhana, bahwa "suara rakyat adalah suara Tuhan" (vox pupuli vox dei), maka dengarkanlah dan jangan coba memanipulasinya!
* asti musman

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com