Suara Rakyat,
Suara Tuhan
Judul
: Vox Populi Vox
Dei
Penulis : Benny Susetyo
Tebal : i-xvii, 194 halaman
Penerbit : Averroes Press
''VOX
populi vox dei?" atau "suara rakyat adalah suara Tuhan?"
Dalam pengantar buku ini, Franz Magnis Suseno, Sj menjawab,
suara rakyat tentu belum pasti sama dengan suara Tuhan. Suara
rakyat pun sering out of tune. Tetapi hanya apabila elite yang
berkuasa, atas teguran suara-suara dari rakyat, kembali ke akar
yang ada di rakyat, Indonesia dapat kembali mengangkat kepala
dan membuka hati memberanikan diri untuk bersama-sama
menyingsingkan lengan dan mulai dengan pekerjaan raksasa
membangun kehidupan bersama yang beradab, adil, damai dan
sejahtera. Itulah secuplik kata pengantar buku "Vox Populi
Vox Dei" yang ditulis Benny Susetyo yang hingga kini masih
aktif di Forum Kajian Demokrasi dan Hak Asasi Manusia Indonesia.
Buku yang dibagi dalam
lima bab ini menyorot gerak langkah para elite politik yang
dinilai belum memuaskan masyarakat. Taruhlah hingar-bingar
pemilihan umum yang masih berlangsung dalam babak pemilihan
presiden saat ini menjadi salah satu bahan yang diramu dan
dihidangkan di hadapan sidang pembaca dengan penuh perenungan.
Ia menyitir pendapat John R. Lucas dalam bukunya "Democracy
and Participation" yang merefleksikan demokrasi yang telah
mati. Lucas menilai bahwa ada kesenjangan antara teori dan
praktik demokrasi.
Ditandas Lucas bahwa
rakyat hanya diberi kesempatan pada saat pemilu saja. Padahal
itu hanyalah partisipasi minimal saja. Mengapa? Sebab,
konsekuensi dari pemilu itu hanya sekadar menghasilkan otokrasi
efektif yang berdasarkan pemilihan. Kesempatan yang diberikan
demokrasi kepada rakyat untuk berpartisipasi dalam pemerintahan
hanyalah pada taraf "mentertawakan" saja. Jadi, yang
terjadi saat ini adalah kita hanya bisa "mentertawakan"
elite politik saja tanpa mampu meminta pertanggungjawabannya.
Jika kekuasaan sudah diraih dan kursi diduduki, maka "selamat
tinggal rakyat!"
Pada bab 4 -- Kebijakan
tanpa Pretensi Moral, penulis menyorot dialektika penguasa dan
rakyat yang mengalami kemunduran yang sangat jauh. Cita-cita
negara demokrasi yang seharusnya mengikut-sertakan peran serta
rakyat dalam mengambil kebijakan ternyata jatuh. Ironisnya,
wakil rakyat yang perannya sangat didambakan dalam masa-masa ini
justru tidak bisa memahami kondisi ini. Mereka justru asyik
berebut jatah politik untuk kepentingan pemilu 2004. Benny juga
mengeluhkan tentang tabiat wakil rakyat yang identik dengan
tabiat penguasa. Buktinya, di sisi lain rakyat dipaksa hidup
dalam situasi di mana harga-harga yang semakin membumbung yang
dianggap sebagai situasi yang lumrah bagi kehidupan wakil rakyat
yang memang sejahtera. Sementara itu kemiskinan dijadikan alat
bagi elite untuk merebut hati rakyat bagi pemenangan pemilu.
Benny Susetyo atau yang
dikenal dengan Romo Beni, dalam bagian lain di ini menyatakan
bahwa tanda-tanda matinya moralitas politik ini adalah ketika
prinsip-prinsip ketatanegaraan yang sudah menjadi kesepakatan
bersama tidak lagi dijadikan pijak oleh pemegang kekuasaan.
Moralitas tidak lagi menjadi keutamaan. Padahal politik tanpa
keutamaan akan menimbulkan tingkah laku yang membabi buta karena
segala keputusan hanya berdasarkan insting, bukan pada
rasionalitas dan logika yang sehat.
Insting politik selalu
bersifat reaktif dalam memberikan respons, dan akibatnya adalah
kecenderungan konservatif. Maka, seringkali kita dengar para
pejabat berkata "Ini belum diatur", "Ini bukan
wewenang saya", "Ini dasar hukumnya belum ada",
dan seterusnya. Padahal, tandas Benny, moralitas politik yang
dituntut masyarakat sangatlah sederhana, bahwa "suara
rakyat adalah suara Tuhan" (vox pupuli vox dei), maka
dengarkanlah dan jangan coba memanipulasinya!
* asti musman
|