kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Paing, 16 Maret 2004

 Nusatenggara


Perjalanan dari Tanah Mbojo

Mungkinkah Bima Jadi Kota Transit?

KOTA Bima baru saja terbentuk. Sebelumnya kota yang berada di ujung timur Propinsi NTB ini berstatus kota administratif (Kotip) dan berada pada rengkuhan Kabupaten Bima. Sejak dikeluarkannya UU No. 13 tahun 2002, Bima resmi berstatus kota penuh yang mewilayahi tiga kecamatan, yaitu RasanaE Barat, RasanaE Timur dan Asakota. Oleh Wali Kota Bima Nur Latif ''si bayi'' Bima dibimbing untuk menjadi kota transit. Kenapa diarahkan ke sana? Bisakah Kota ini menjadi kota transit? Berikut laporannya.

Secara geofrafis Kota Bima atau juga dikenal dengan Tanah Mbojo, berada pada segi tiga emas pariwisata yaitu Bali di sebelah barat, Tanah Toraja Manado (utara) dan Pulau Komodo di wilayah timur. Jika wisatawan asing maupun domestik yang berada di wilayah barat (Bali dan sekitarnya) ingin berpetualang dan menikmati indahnya Pulau Komoda, mau tak mau, ia harus melewati atau singgah di Kota Bima, baik melalui perjalanan udara, laut maupun darat. Begitu juga turis yang datang dari arah utara (Manado), apabila hendak ke Pulau Komodo, mereka juga harus melalui Bima. Dari kota ini dengan menggunakan transportasi laut, berlayar menuju Pulau Komodo. Selain lebih murah, juga lebih dekat dibandingkan melalui Kupang (Ibu Kota NTT-red).

Masih dari segi geografis, Kota Bima juga berada pada daerah yang menjadi lalu lintas perdagangan barang dan jasa dari Barat dan Timur. Barang dan jasa yang diperdagangkan menuju timur -- Kupang termasuk Ujungpandang, bakal melalui Bima. Begitu juga sebaliknya, barang dan jasa yang diberangkatkan dari timur menuju Barat -- Bali, Surabaya dan daerah lainnya di sana, mau tak mau juga melalui kota ini.

Keberadaan Bima sebagai daerah segi emas pariwisata dan lalu lintas perdagangan barang dan jasa Barat dan Timur Indonesia, sudah cukup lama. Tengoklah Pelabuhan Samudera yang dikelola PT Pelindo III, yang diberi nama Pelabuhan Bima. Kapal-kapal besar yang mengangkut barang dan jasa dari/menuju Benoa Bali, Surabaya, Makasar bisa dijumpai di pelabuhan ini. Bima juga memiliki Pelabuhan Udara (Bandar Udara) Moh. Salahuddin. Jadwal penerbangan dari Bima -Denpasar tiap hari. Sementara Bima - Mataram tiga kali dalam seminggu. Tak hanya itu, di Bima terdapat puluhan bus antar kota antar propinsi yang juga siap melayani penumpang sampai ke Sumatera. Selain dilewati pebisnis dan turis, mobilitas masyarakat Bima juga tergolong tinggi. ''Di Jakarta, warga Bima cukup banyak. Bahkan pejabat di sini -- Wali Kota Nur Latif dan Bupati Drs. H. Zaenul Arifin, adalah mantan pejabat di Jakarta,'' kata salah seorang warga setempat. Melihat potensi geografisnya seperti itu, ''si bayi'' yang baru saja dilahirkan sebagai kota penuh, sudah ditata menjadi kota transit. ''Bayangkan apabila wisatawan yang ke/dari Komodo ditahan sehari saja di Bima, jumlah kunjungan wisatawan di daerah ini akan bisa meningkat,'' kata Sunarti, Kasubag Humas Pemkot Bima. Berapa jumlah kunjungan wisatawan ke daerah ini belum terdata. Begitu juga para pengusaha domestik yang memiliki wilayah perdagangan ke timur maupun ke barat, diharapkan transit semalam di Bima untuk kemudian melanjutkan perjalannannya ke daerah yang menjadi tujuannya.

Kota Ditata
Bima belum seperti Mataram, apalagi Bali. Namun jauh lebih ''hidup'' dibandingkan dengan kota/kabupaten lainnya di NTB. Pada pukul 24.00, tanda-tanda kehidupan masih ada di Kota Bima. Berbeda dengan ibu kota lainnya di NTB yang sudah ''mati'' pukul pukul 22.00. Kendati demikian, infrastrukturnya masih banyak yang kurang. Hotel atau penginapan misalnya, bisa dihitung dengan jari. Di antaranya penginapan Lila Graha, Lambitu, Parewa, Losmen Komodo dan sejenisnya. Belum ada hotel berbintang yang memberikan pelayanan sebagaimana di Bali. Di Bima juga tak ada diskotek, panti pijat, karaoke dan hiburan sejenisnya. ''Dulu ada kafe tetapi sudah tutup, sekarang ada satu cuma ramainya hanya malam minggu,'' kata seorang tukang ojek. Selain bisa menyawa rent a car, apabila Anda ingin berputar-putar di Bima, bisa menggunakan ojek yang jumlahnya mencapai puluhan. Begitu berdiri, Anda akan dihampiri pengendara dan siap mengantar ke mana saja Anda mau.

Kondisi seperti itu, tampaknya disadari betul oleh penguasa Bima. Belum segenap setahun kepemimpinan Nur Latif, ''si bayi'' yang kini sedang belajar merangkak, ditata. Kalau sekarang Anda berjalan-jalan di seputar Kota Bima, akan dijumpai jalan-jalan yang sedang dibenahi. Lampu penerangan jalan diperbanyak. Taman-taman kota pun sedang dipersiapkan. Kota seluas 222,25 hektar dengan penduduk sekitar 120.000 jiwa ini benar-benar sedang menggeliat.''Di sini bakal dibangun taman burung, ada juga kijang dan binatang lainnya-seperti layaknya kebun binatang,'' kata Edy, seorang warga Bima.

Taman dimaksud berada di sekitar Gunung Dua, daerah Raba. Beberapa pekerja tampak sedang melakukan perbaikan. Dindingnya dipagar. Di depan kantor wali kota, jalannya juga sedang diperlebar. ''Pak Wali sedang bekerja keras menata kota ini agar benar-benar bisa menjadi kota transit,'' kata Sunarti, juru bicara Wali Kota Bima.

Menurut Sunarti, sebagai kota transit, wajahnya harus cantik, sehingga siapa pun yang datang tertarik dan terkesan. ''Untuk menjadi cantik tentu saja harus bersolek,'' tambahnya.

Di mana kota ini memperoleh dana untuk bersolek? Sunarti menjelaskan, PAD (pendapatan asli daerah) Kota Bima tahun 2003 mencapai Rp 2,4 milyar. Tahun 2004 ditargetkan menjadi Rp 4 milyar. ''Optimis pasti bisa.''

Sebagaimana layaknya kota, sumber-sumber PAD berasal dari pajak dan retribusi, selain sumber-sumber pendapatan lainnya. Oleh wali kota, pendatapan sebesar itu diperuntukkan untuk menata kota. ''Lihat, bagaimana kota ini ditata,'' katanya. (yad)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)