Perjalanan dari Tanah Mbojo
Mungkinkah Bima
Jadi Kota Transit?
KOTA Bima baru saja
terbentuk. Sebelumnya kota yang berada di ujung timur
Propinsi NTB ini berstatus kota administratif (Kotip) dan
berada pada rengkuhan Kabupaten Bima. Sejak dikeluarkannya
UU No. 13 tahun 2002, Bima resmi berstatus kota penuh yang
mewilayahi tiga kecamatan, yaitu RasanaE Barat, RasanaE
Timur dan Asakota. Oleh Wali Kota Bima Nur Latif ''si bayi''
Bima dibimbing untuk menjadi kota transit. Kenapa
diarahkan ke sana? Bisakah Kota ini menjadi kota transit?
Berikut laporannya.
Secara geofrafis
Kota Bima atau juga dikenal dengan Tanah Mbojo, berada
pada segi tiga emas pariwisata yaitu Bali di sebelah barat,
Tanah Toraja Manado (utara) dan Pulau Komodo di wilayah
timur. Jika wisatawan asing maupun domestik yang berada di
wilayah barat (Bali dan sekitarnya) ingin berpetualang dan
menikmati indahnya Pulau Komoda, mau tak mau, ia harus
melewati atau singgah di Kota Bima, baik melalui
perjalanan udara, laut maupun darat. Begitu juga turis
yang datang dari arah utara (Manado), apabila hendak ke
Pulau Komodo, mereka juga harus melalui Bima. Dari kota
ini dengan menggunakan transportasi laut, berlayar menuju
Pulau Komodo. Selain lebih murah, juga lebih dekat
dibandingkan melalui Kupang (Ibu Kota NTT-red).
Masih dari segi
geografis, Kota Bima juga berada pada daerah yang menjadi
lalu lintas perdagangan barang dan jasa dari Barat dan
Timur. Barang dan jasa yang diperdagangkan menuju timur --
Kupang termasuk Ujungpandang, bakal melalui Bima. Begitu
juga sebaliknya, barang dan jasa yang diberangkatkan dari
timur menuju Barat -- Bali, Surabaya dan daerah lainnya di
sana, mau tak mau juga melalui kota ini.
Keberadaan Bima
sebagai daerah segi emas pariwisata dan lalu lintas
perdagangan barang dan jasa Barat dan Timur Indonesia,
sudah cukup lama. Tengoklah Pelabuhan Samudera yang
dikelola PT Pelindo III, yang diberi nama Pelabuhan Bima.
Kapal-kapal besar yang mengangkut barang dan jasa dari/menuju
Benoa Bali, Surabaya, Makasar bisa dijumpai di pelabuhan
ini. Bima juga memiliki Pelabuhan Udara (Bandar Udara) Moh.
Salahuddin. Jadwal penerbangan dari Bima -Denpasar tiap
hari. Sementara Bima - Mataram tiga kali dalam seminggu.
Tak hanya itu, di Bima terdapat puluhan bus antar kota
antar propinsi yang juga siap melayani penumpang sampai ke
Sumatera. Selain dilewati pebisnis dan turis, mobilitas
masyarakat Bima juga tergolong tinggi. ''Di Jakarta, warga
Bima cukup banyak. Bahkan pejabat di sini -- Wali Kota Nur
Latif dan Bupati Drs. H. Zaenul Arifin, adalah mantan
pejabat di Jakarta,'' kata salah seorang warga setempat.
Melihat potensi geografisnya seperti itu, ''si bayi'' yang
baru saja dilahirkan sebagai kota penuh, sudah ditata
menjadi kota transit. ''Bayangkan apabila wisatawan yang
ke/dari Komodo ditahan sehari saja di Bima, jumlah
kunjungan wisatawan di daerah ini akan bisa meningkat,''
kata Sunarti, Kasubag Humas Pemkot Bima. Berapa jumlah
kunjungan wisatawan ke daerah ini belum terdata. Begitu
juga para pengusaha domestik yang memiliki wilayah
perdagangan ke timur maupun ke barat, diharapkan transit
semalam di Bima untuk kemudian melanjutkan perjalannannya
ke daerah yang menjadi tujuannya.
Kota Ditata
Bima belum seperti Mataram, apalagi Bali. Namun jauh lebih
''hidup'' dibandingkan dengan kota/kabupaten lainnya di
NTB. Pada pukul 24.00, tanda-tanda kehidupan masih ada di
Kota Bima. Berbeda dengan ibu kota lainnya di NTB yang
sudah ''mati'' pukul pukul 22.00. Kendati demikian,
infrastrukturnya masih banyak yang kurang. Hotel atau
penginapan misalnya, bisa dihitung dengan jari. Di
antaranya penginapan Lila Graha, Lambitu, Parewa, Losmen
Komodo dan sejenisnya. Belum ada hotel berbintang yang
memberikan pelayanan sebagaimana di Bali. Di Bima juga tak
ada diskotek, panti pijat, karaoke dan hiburan sejenisnya.
''Dulu ada kafe tetapi sudah tutup, sekarang ada satu cuma
ramainya hanya malam minggu,'' kata seorang tukang ojek.
Selain bisa menyawa rent a car, apabila Anda ingin
berputar-putar di Bima, bisa menggunakan ojek yang
jumlahnya mencapai puluhan. Begitu berdiri, Anda akan
dihampiri pengendara dan siap mengantar ke mana saja Anda
mau.
Kondisi seperti itu,
tampaknya disadari betul oleh penguasa Bima. Belum segenap
setahun kepemimpinan Nur Latif, ''si bayi'' yang kini
sedang belajar merangkak, ditata. Kalau sekarang Anda
berjalan-jalan di seputar Kota Bima, akan dijumpai
jalan-jalan yang sedang dibenahi. Lampu penerangan jalan
diperbanyak. Taman-taman kota pun sedang dipersiapkan.
Kota seluas 222,25 hektar dengan penduduk sekitar 120.000
jiwa ini benar-benar sedang menggeliat.''Di sini bakal
dibangun taman burung, ada juga kijang dan binatang
lainnya-seperti layaknya kebun binatang,'' kata Edy,
seorang warga Bima.
Taman dimaksud
berada di sekitar Gunung Dua, daerah Raba. Beberapa
pekerja tampak sedang melakukan perbaikan. Dindingnya
dipagar. Di depan kantor wali kota, jalannya juga sedang
diperlebar. ''Pak Wali sedang bekerja keras menata kota
ini agar benar-benar bisa menjadi kota transit,'' kata
Sunarti, juru bicara Wali Kota Bima.
Menurut Sunarti,
sebagai kota transit, wajahnya harus cantik, sehingga
siapa pun yang datang tertarik dan terkesan. ''Untuk
menjadi cantik tentu saja harus bersolek,'' tambahnya.
Di mana kota ini
memperoleh dana untuk bersolek? Sunarti menjelaskan, PAD (pendapatan
asli daerah) Kota Bima tahun 2003 mencapai Rp 2,4 milyar.
Tahun 2004 ditargetkan menjadi Rp 4 milyar. ''Optimis
pasti bisa.''
Sebagaimana layaknya
kota, sumber-sumber PAD berasal dari pajak dan retribusi,
selain sumber-sumber pendapatan lainnya. Oleh wali kota,
pendatapan sebesar itu diperuntukkan untuk menata kota. ''Lihat,
bagaimana kota ini ditata,'' katanya. (yad)
|