Akhirnya, dunia pendidikan yang telah dirasuki "premanisme"
hanya akan menghasilkan apa yang disebut
"mafia". Di tingkat birokrat atau pemerintahan,
sudah latah dijalankan operasi mafia melalui KKN. Bentuk
nyata lain dari output dunia pendidikan yang telah
dirasuki praktik premanisme di tingkat birokrat, adalah
apa yang marak terjadi sekarang ini, yakni "calon
legislatif berijazah palsu". Bagaimana itu bisa
terjadi jika memang tidak ada "premanisme" dalam
dunia pendidikan kita?
Premanisme
Masuki Dunia Pendidikan Kita
Oleh
I Nyoman Sugiarta
CATATAN
kelam menoreh dunia pendidikan di Bali. Jumat, 20 Februari
2004 terjadi perkelahian antara pelajar SMPN 1 Denpasar
dan SMPN 3 Denpasar. Selama ini tawuran antarpelajar lebih
sering diberitakan terjadi di Jakarta. Itu pun umumnya
dilakukan pelajar setingkat SMU. Namun, yang terjadi di
Bali malah antarpelajar SMP.
Berbagai pertanyaan
seakan berkecamuk muncul dan memerlukan jawaban segera.
Apa yang sudah terjadi dengan dunia pendidikan di Bali?
Apakah kejadian ini merupakan proses meniru kejadian
sejenis yang kerap ditayangkan media massa khususnya
televisi? Atau lebih jauh lagi, dunia pendidikan kita
sudah dimasuki premanisme yang kini sudah merebak menjadi
penyakit masyarakat?
Jika memang itu
sebagai akibat dari proses meniru kejadian tawuran
antarpelajar yang kerap ditayangkan media massa,
barangkali para pakar pers perlu mengkaji kembali
rambu-rambu untuk penyajian sebuah berita. Dalam hal ini,
mungkin harus dikembalikan kepada salah satu fungsi pers
sebagai media pendidikan masyarakat. Lembaga pers dalam
menyajikan berbagai informasi ke masyarakat luas harus
mempertimbangkan kemungkinan apa-apa yang disajikannya itu
menjadi pelajaran yang mudah ditiru masyarakat luas.
Pertama yang
barangkali patut selalu dicatat, bahwa apa yang
disajikannya itu tidak hanya dibaca, ditonton atau disimak
orang dewasa. Dalam masyarakat luas itu ada remaja bahkan
anak-anak yang menyimak informasi yang mereka sajikan.
Memang, dalam era dunia maya karena kecanggihan teknologi
informasi sekarang ini sulit untuk menyaring apalagi
membendung informasi. Apalagi internet saat ini bisa
diakses dengan mudah hampir di setiap sudut bumi ini. Jika
media massa seperti koran, majalah, tabloid dan sejenisnya
serta radio maupun televisi telah menjalankan fungsi
persnya sebagai media pendidikan dengan baik, bagaimana
dengan media internet ini? Barangkali di sinilah peran
orangtua dan lingkungan sekitar mengawasi, mendampingi dan
mendidik anak-anak mereka. Sebab, harus diingat,
pendidikan itu tidak hanya di sekolah tetapi juga di rumah
dan di lingkungan masing-masing.
Khusus menyangkut
lingkungan ini, perannya sangatlah besar. Terkait hal ini,
jika dihubungkan dengan tawuran antarpelajar SMP itu, ada
satu catatan menggelitik yang pernah terjadi dalam dunia
pendidikan di Denpasar. Barangkali pembaca masih ingat
kasus salah seorang anggota DPRD Kota Denpasar yang
dikeroyok saat memperjuangkan salah satu aspirasi orangtua
siswa. Kasus pengeroyokan itu berdekatan sekali dengan
lokasi kejadian tawuran antara siswa SMPN 1 dan SMPN 3
Denpasar. Bahkan, perkelahian itu sampai ke SD yang
kebetulan berada di sebelah gedung DPRD Kota Denpasar.
Tentu saja adegan kekerasan ini sempat disaksikan dan
menjadi tontonan gratis anak-anak SD di sana, meski itu
semestinya jangan sampai terjadi.
Dari sisi psikologis,
kejadian itu sudah tentu sempat terekam di benak anak-anak
SD tadi. Ini yang sangat miris karena dapat saja kekerasan
itu telah merasuk ke dalam jiwa anak-anak tadi untuk mudah
ditiru di kemudian hari. Tentu saja hal ini sebagi sebuah
pertanda buruk, "jiwa kekerasan" telah merasuki
dunia pendidikan kita.
Seperti yang
diberitakan harian ini, anak-anak SMP yang semestinya
masih lugu itu ternyata telah minum minuman beralkohol
berupa arak dan bir sebelum melakukan tawuran. Bukankah
hal-hal seperti itu umumnya kita jumpai dalam dunia
premanisme, mafia dan sejenisnya? Apakah ini pertanda
bahwa dunia pendidikan kita kini bukan hanya telah
dirasuki "jiwa kekerasan", tetapi juga "jiwa
premanisme" bahkan mungkin mafia. Para pakar
psikologi barangkali perlu melakukan kajian terhadap
kemungkinan hubungan di antara kejadian tadi.
Tirani
Perasaan miris
bukanlah akan berhenti sampai di situ. Jika dunia
pendidikan tingkat dasar (jika mengacu wajib belajar 9
tahun) telah dirasuki jiwa premanisme, bagaimana jadinya
output yang akan dihasilkan? Praktik premanisme akan terus
berlanjut dan berkembang ke tingkat berikutnya.
Di tingkat SMU,
sudah bukan rahasia lagi banyak terjadi penyalahgunaan
barang haram semacam narkoba. Paling tidak dari beberapa
kasus yang pernah muncul, termasuk sampai dilakukannya
gerakan pembinaan dan penyuluhan oleh pihak kepolisian ke
sekolah-sekolah.
Output berikutnya di
tingkat perguruan tinggi. Dulu dan sampai sekarang marak
diberitakan terjadi jual-beli skripsi, gelar kelulusan dan
sejenisnya di perguruan tinggi. Hanya yang sampai sekarang
belum mendapat jawaban, apakah persyaratan harus
menyerahkan puluhan bahkan sampai ratusan juta rupiah
untuk bisa lolos masuk ke salah satu fakultas, seperti
Fakultas Kedokteran di Unud, termasuk dalam praktik
premanisme atau tidak. Jika iya, itu berarti praktik
premanisme sudah benar-benar merasuki dunia pendidikan
kita. Bahkan, itu dilakukan secara legal karena
jelas-jelas diumumkan sebagai salah satu prasyarat masuk.
Kita memang berharap,
mudah-mudahan itu dilakukan bukanlah sebagai bentuk lain
praktik premanisme di dunia pendidikan. Jika itu benar,
bisa dibayangkan output selanjutnya. Merebaklah apa yang
oleh masyarakat umum disebut-sebut sebagai mafia peradilan,
mafia rumah sakit dan sejenisnya. Akhirnya, dunia
pendidikan yang telah dirasuki "premanisme"
hanya akan menghasilkan apa yang disebut
"mafia". Di tingkat birokrat atau pemerintahan,
sudah latah dijalankan operasi mafia melalui KKN. Bentuk
nyata lain dari output dunia pendidikan yang telah
dirasuki praktik premanisme di tingkat birokrat, adalah
apa yang marak terjadi sekarang ini, yakni "calon
legislatif berijazah palsu". Bagaimana itu bisa
terjadi jika memang tidak ada "premanisme" dalam
dunia pendidikan kita?
Premanisme
sebenarnya berkembang dari kelemahan pemerintah. Kelemahan
itu muncul akibat ketidakpercayaan masyarakat terhadap
pemerintah (termasuk kepolisian). Ketika pemerintah dan
aparat di bawahnya (termasuk aparat kepolisan dan TNI)
terlalu berkuasa, maka hal itu telah menciptakan sebuah
tirani bagi masyarakat. Masyarakat pun berontak menuntut
kebebasan. Namun, ketika kini rakyat terlalu berkuasa atas
kebebasan mereka, maka mereka sendiri terjebak menjadi
tirani melalui praktik premanisme yang mereka jalankan.
Pemerintah, polisi bahkan hukum sudah tidak dipercaya lagi
karena bisa diperjualbelikan oleh yang namanya "mafia
peradilan". Bahkan pelayanan kesehatan pun telah
diperjualbelikan oleh yang namanya "mafia rumah sakit".
Masyarakat memilih hukumnya sendiri, yakni "premanisme."
Ketika pemerintah (termasuk TNI dan kepolisan) demikian
kuat, anak-anak mungkin menokohkan mereka dalam tiap
bentuk permainannya. Mereka senang memakai seragam loreng
layaknya tentara dan bermain pistol atau bedil-bedilan.
Ketika yang berkembang kini premanisme dan kekerasan
jalanan, anak-anak pun tidak lagi terlalu memfavoritkan
seragam loreng. Mereka kini lebih memilih mentato tubuh
mereka, melakukan tawuran di jalanan. Bahkan, ini
dilakukan anak-anak SD, yakni membeli permen yang berisi
hadiah model tato. Meski itu hanya mainan dan bukan tato
permanen, setidaknya jiwa premanisme sudah tertanam dalam
dunia mereka.
Apakah yang terjadi
sekarang ini ada kaitannya dengan masalah tirani itu?
Apakah yang terjadi dalam dunia pendidikan kita sekarang
ini akibat kebebasan dan kekuasaan berlebihan di tangan
siswa, sehingga mereka akhirnya menjadi tirani? Atau, apa
yang terjadi sekarang akibat dunia pendidikan kita
terdahulu yang terlalu menjadi tirani bagi siswa?
Barangkali, ini perlu pengkajian dan pemikiran kita
bersama agar Bali tidak mendapat julukan baru sebagai
"sarang preman" ataupun "sarang
mafia"! Cukup sudah negara ini dituding sebagai
"sarang teroris". Kita memang harus belajar
sepanjang hayat (long live education) karena sepanjang
hidup ini merupakan pendidikan yang sangat berharga (live
long education).
Penulis,
pemerhati masalah pendidikan, anggota Dewan Penasihat
Perguruan Kebatinan Sandhi Murti Indonesia
|