kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Kliwon, 23 Pebruari 2004

 Nusatenggara


Terkait Surat Penolakan Iskandar/Izzul

Ketua DPRD Lobar Dilaporkan ke Polda

Mataram (Bali Post) -
Kelompok 24 yang selama ini sebagai pendukung berat Bupati/Wakil Bupati Lombok Barat (Lobar) terpilih Drs. Iskandar/Izzul Islam, Senin (23/2) ini berencana melaporkan Ketua DPRD setempat, H. Abdul Kasim ke Polda NTB, menyusul surat penolakan yang dikeluarkan terhadap pasangan Iskandar/Izzul Islam. Dengan surat penolakan itu, Abdul Kasim dinilai telah memalsukan dokumen DPRD, sekaligus melakukan penghinaan terhadap institusi legislatif. Di samping itu, Kasim dinilai telah melakukan kebohongan publik.

''Senin (hari ini-red) kami bersama 24 teman yang selama ini mendukung paket Iskandar/Izzul berencana melaporkan Pak Ketua ke Polda NTB, terkait surat penolakan yang beliau tanda tangani yang dikirim ke Mendagri melalui Gubernur NTB. Surat tersebut mengindikasikan ada pemalsuan, karena tak pernah ada rapat paripurna, tiba-tiba muncul surat penolakan yang mengatasnamakan paripurna. Kami menilai surat penolakan tersebut juga mencemarkan DPRD Lombok Barat,'' kata Raden Nuna Abriadi, S.Ip., Ketua Fraksi PDI-P DPRD Lobar.

Bukankah Senin libur (Tahun Baru Hijriah-red)? ''Polda tak mengenal libur, kami sudah merencanakannya dan juga telah menunjuk pengacara.''

Raden Nuna menjelaskan, surat penolakan dengan kop DPRD Lombok Barat Nomor 109/Kpts/DPRD/2004 tertanggal 10 Februari 2004 adalah rekayasa. DPRD Lobar tak pernah mengadakan rapat paripurna yang mengagendakan penolakan terhadap hasil penetapan DPRD itu sendiri. Terlebih lagi, Selasa (10/2) anggota DPRD Lobar sedang melakukan kunjungan kerja ke Jakarta. ''Kok tiba-tiba ada surat penolakan seperti itu? Kami tak pernah mengagendakan atau melaksanakan rapat paripurna, atau rapat apa pun namanya pada tanggal 10 Februari. Karena itulah, kami menilai surat itu palsu. Selain itu, surat itu benar-benar melecehkan DPRD sebagai lembaga legislatif,'' katanya.

Indikasi palsu juga terlihat dari nomor surat bersangkutan. Menurut Nuna, selama tahun 2004, DPRD hanya menghasilkan satu keputusan dengan nomor 01/Kep/DPRD/2004 tentang penetapan APBD Lombok Barat tahun 2004. Jika ada keputusan -- setelah itu, nomornya akan menjadi 02/Kep/DPRD/2004. ''Ini, tiba-tiba nomor 109. Dari sini jelas bahwa surat tersebut direkayasa. Kami juga sempat meminta kofirmasi ke Sekretariat Dewan, ternyata tak pernah ada dokumen menyangkut soal surat penolakan tersebut,'' katanya.

Dia menambahkan, setiap rapat DPRD Lobar selalu ada risalah rapat dan notulennya. ''Dalam rapat paripurna yang dikemukakan dalam surat penolakan itu, sama sekali tak ada risalah dan notulennya. Ini jelas palsu. Mau tak mau kami harus melaporkannya ke pihak berwajib,'' tambahnya.

Sementara itu, Ketua DPRD Lombok Barat H. Abdul Kasim, ketika diminta konfirmasinya melalui hand phone-nya, Minggu (22/2) kemarin, enggan memberikan komentar. ''Sebentar, saya masih ada pembicaraan,'' katanya seraya menutup HP-nya.

Pembangkangan
Berlarut-larutnya kemelut Pilkada Lombok Barat, karena sikap Gubernur yang tak konsekuen melaksanakan perintah atasannya -- dalam hal ini Depdagri. Bahkan, Raden Nuna menilai Gubernur NTB HL Serinata telah melakukan pembangkangan terhadap pemerintah pusat, karena tak mau melaksanakan perintah Mendagri untuk melaksanakan pelantikan Bupati/Wakil Bupati Lombok Barat Iskandar/Izzul Islam sesuai surat keputusan Mendagri dan surat kawat yang ditujukan kepadanya. ''Beliau telah melakukan pembangkangan,'' kata Raden Nuna. Padahal, sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), gubernur adalah perpanjangan pusat di daerah, dan harus dengan keputusan pusat. Cara-cara seperti ini harus diwaspadai agar kita tak terpecah-belah. Apalagi sekarang pemilu sudah dekat,'' ujarnya.

Dia menilai beberapa oknum yang mengaku tokoh masyarakat, juga ikut memperkeruh kemelut di Lobar. ''Ada oknum mantan bupati juga ikut-ikutan memperkeruh kemelut ini,'' katanya seraya mengharapkan agar mereka menahan diri dan tidak ikut-ikutan memperkeruh suasana. ''Sudahlah, mari kita carikan solusinya,'' ujarnya. (047)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)