DB
Meningkat, sudah 235 Meninggal
Jakarta
(Bali Post) -
Jumlah penderita dan korban meninggal dunia akibat demam
berdarah (DB) di seluruh Indonesia makin meningkat. Wabah
tersebut tersebar di 19 propinsi. Data yang dikeluarkan
Departemen Kesehatan (Depkes) sejak Januari 2004 hingga
Minggu (22/2) kemarin, tercatat 11.721 orang terserang DB
dan 235 orang di antaranya meninggal dunia. Menurut staf
Humas Depkes Sumardi, angka kematian tertinggi masih ada
di wilayah DKI Jakarta. Berdasarkan laporan yang masuk,
hingga Sabtu (21/2) tercatat korban yang meninggal
mencapai 46 jiwa.
Banyaknya korban
jiwa disebabkan penderita yang dibawa ke RS sudah dalam
kondisi parah dengan kadar trombosit (komponen pembeku
darah-red) rendah. Akibat keterlambatan itu, penderita tak
bisa menyerap cairan infus yang diberikan. Makanya,
dianjurkan kepada masyarakat agar sesegera mungkin
memeriksakan penderita demam berdarah ke RS setempat. ''Terlambat
sedikit saja, risikonya sangat besar,'' tandasnya.
Sementara itu,
menurut Direktur Pemberantasan Penyakit Depkes Thomas
Suroso, jumlah penderita dan korban meninggal dunia akibat
demam berdarah pada tahun ini mengalami peningkatan. Hal
itu terjadi dalam kurun waktu lima tahun belakangan ini.
Tetapi, memasuki 2004 korbannya paling banyak. ''Demam
berdarah juga mengalami siklus peningkatan untuk jumlah
korban. Di beberapa negara tetangga, trend meningkat
terjadi 2-3 tahun sekali. Namun, siklus ini juga tidak
tetap, seperti yang terjadi di Indonesia. Meningkatnya
jumlah korban tahun ini sangat berhubungan dengan
perubahan cuaca yang cukup terasa saat ini. Terutama
dengan tingkat kelembaban, suhu udara serta curah hujan
yang tinggi,'' jelasnya.
Diprediksikan hingga
2-3 bulan mendatang jumlah korban akan meningkat. Tetapi,
berdasarkan hitungan, bisa saja antara 4-5 bulan wabah ini
akan hilang. Cara yang cepat untuk mengatasinya dengan
teknik pengasapan (fogging), tetapi terbentur biaya dan
banyak kelemahan. Sebab, pengasapan efektif untuk dua hari.
Jika pengasapan berhenti, dalam tempo 7-10 hari nyamuk
menjadi dewasa dan siap menyerang. Biaya pengasapan untuk
radius 100 meter saja bahan baku malation berkadar 90
persen sebanyak 15 liter dan solar sebanyak 225 liter
sebagai pencampur, harganya bisa mencapai Rp 3 juta. ''Makanya,
untuk mengatasinya pemerintah lebih memfokuskan pada
kampanye program 3M. Dengan menguras, menutup dan mengubur
barang-barang penampung air yang menjadi tempat
berkembangnya nyamuk pembawa virus deman berdarah, demam
berdarah bisa ditanggulangi sedini mungkin,'' jelas Suroso.
(kmb7/kmb3)
|